Ringkasan Inovasi
Desa Kumpulrejo di Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menginisiasi Festival Waluh sebagai inovasi promosi produk unggulan desa berbahan labu kuning (Cucurbita moschata). Festival ini mendorong kreativitas warga dalam mengolah waluh menjadi produk pangan bernilai jual tinggi, sekaligus memperkuat identitas desa di tingkat kabupaten [1].
Festival Waluh telah rutin diselenggarakan setiap tahun sejak 2017, bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI. Inovasi ini berhasil mengubah komoditas pertanian biasa menjadi daya tarik wisata desa dan membuka peluang ekonomi bagi UMKM lokal [2]. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pun mengapresiasi festival ini sebagai inovasi yang layak dikembangkan menjadi ikon kabupaten.
| Nama Inovasi | : | Festival Waluh — Inovasi Promosi Produk Unggulan Desa Berbahan Labu Kuning |
| Alamat | : | Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Kumpulrejo (Kepala Desa: Witono/Mitono) bersama warga, ibu-ibu PKK, dan UMKM Desa Kumpulrejo |
| Kontak | : | Kantor Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro | Kode Pos: 62181 |
Latar Belakang
Desa Kumpulrejo adalah desa agraris yang selama ini dikenal sebagai penghasil waluh atau labu kuning. Namun, waluh hanya dijual mentah di pasar lokal dengan harga rendah tanpa pengolahan lebih lanjut [2]. Potensi besar komoditas ini belum tergali karena ketiadaan platform promosi dan minimnya inovasi produk olahan di tingkat desa.
Labu kuning sesungguhnya menyimpan nilai gizi tinggi. Dalam 100 gram labu kuning terkandung energi 32 kkal, karbohidrat 6,6 g, protein 1,1 g, serta kaya beta-karoten, vitamin A, vitamin C, dan antioksidan [3]. Kandungan gizi unggul ini membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.
Kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi adalah wadah kolektif bagi warga untuk berinovasi, berkreasi, dan mempromosikan produk olahan waluh secara terorganisir [4]. Kepala Desa Mitono melihat peluang ini dan menginisiasi festival sebagai cara kreatif mengangkat waluh dari komoditas biasa menjadi identitas desa yang membanggakan [5].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari gagasan Kepala Desa Mitono yang melihat waluh sebagai peluang, bukan sekadar hasil panen biasa. Festival Waluh dirancang sebagai arena kompetisi inovasi produk pangan sekaligus pameran UMKM yang digelar setiap tahun di lapangan desa [5]. Setiap peserta berlomba menciptakan produk olahan waluh paling kreatif, mulai dari dodol, jenang, camilan, hingga minuman berbahan dasar labu kuning.
Festival bekerja dengan menggabungkan tiga elemen sekaligus: kompetisi kuliner, pameran UMKM, dan perayaan kemerdekaan. Warga memasak dodol waluh bersama-sama secara gotong royong, lalu hasilnya dibagikan kepada seluruh masyarakat yang hadir [6]. Stan UMKM di sekeliling lapangan memamerkan dan menjual beragam produk olahan waluh, menciptakan ekosistem pasar lokal yang hidup dan meriah.
Proses Penerapan Inovasi
Festival Waluh pertama kali digelar pada 2017, bertepatan dengan HUT RI ke-72. Panitia awalnya hanya menampilkan dodol waluh sepanjang 16 meter hasil karya ibu-ibu warga desa sebagai daya tarik utama festival [7]. Respons masyarakat sangat antusias sehingga festival segera ditetapkan sebagai agenda tahunan yang wajib dipertahankan.
Pada Festival 2019 yang merupakan penyelenggaraan ketiga, panitia mengangkat tema dodol waluh sebagai produk andalan. Proses persiapan melibatkan seluruh warga secara gotong royong, mulai dari panen waluh, persiapan bahan, hingga memasak bersama di hari festival [8]. Kegiatan ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi warga dalam mengembangkan teknik pengolahan dan inovasi varian produk baru setiap tahunnya.
Setiap tahun festival mengalami perkembangan yang signifikan. Pada 2025, festival menggunakan 1.500 buah waluh hasil panen warga desa untuk gunungan, jauh melampaui skala festival tahun-tahun sebelumnya [9]. Pertumbuhan skala ini mencerminkan meningkatnya kapasitas produksi petani waluh dan partisipasi warga yang semakin meluas.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan adalah kepemimpinan visioner Kepala Desa Mitono yang mampu menggerakkan seluruh elemen masyarakat dalam satu misi bersama [5]. Ia secara konsisten menegaskan bahwa waluh bukan sekadar tanaman biasa, melainkan identitas dan kebanggaan desa yang perlu dirayakan. Kepemimpinan ini memantik semangat gotong royong yang menjadi pondasi kuat setiap penyelenggaraan festival.
Dukungan dari pemerintah kecamatan dan kabupaten juga memainkan peran krusial. Camat Kapas Agus Hardiyanto secara terbuka mengapresiasi Festival Waluh sebagai bentuk kreativitas dan inovasi yang patut diteladani oleh desa-desa lain [8]. Wakil Bupati Bojonegoro hadir langsung membuka festival dengan mengusung tema “Kumpulrejo Bersatu Demi Kemajuan Bangsa dan Negeriku”, memberikan legitimasi politis yang memperkuat keberlanjutan festival [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Festival Waluh berhasil mengangkat nama Desa Kumpulrejo dari desa yang tidak dikenal menjadi destinasi wisata kuliner yang didatangi pengunjung dari berbagai desa sekitar [10]. Ratusan hingga ribuan warga memadati lapangan desa setiap penyelenggaraan festival, menciptakan perputaran ekonomi lokal yang signifikan. Produk olahan waluh kini memiliki pasar yang lebih luas dan harga jual yang lebih baik dibandingkan sebelum festival ada.
Secara ekonomi, festival membuka peluang usaha baru bagi UMKM desa. Stan-stan pameran menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha mikro untuk memperkenalkan produk mereka kepada calon konsumen dari luar desa [11]. Diversifikasi produk olahan waluh juga meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian lokal yang sebelumnya hanya bernilai rendah sebagai bahan mentah.
Dampak terbesar terlihat pada skala kabupaten. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro secara resmi mengakui waluh olahan Desa Kumpulrejo sebagai identitas baru Bojonegoro dan berkomitmen mengembangkan inovasi desa ini menjadi inovasi tingkat kabupaten [1]. Pada festival 2025, sebanyak 1.500 waluh digunakan untuk gunungan, mencerminkan pertumbuhan produksi yang masif dan kepercayaan diri warga yang semakin tinggi [9].
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi inovasi produk setiap tahunnya agar festival tidak monoton dan tetap menarik minat pengunjung baru [12]. Keterbatasan pengetahuan teknik pengolahan pangan dan minimnya akses pelatihan formal bagi pelaku UMKM desa sempat menjadi hambatan dalam menghasilkan produk berkualitas standar pasar yang lebih luas.
Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 memaksa penyelenggaraan festival terhenti sementara, mengancam keberlangsungan tradisi yang sudah terbangun selama tiga tahun [10]. Kendala ini berdampak pada terputusnya momentum pertumbuhan UMKM yang sedang berkembang. Namun, semangat warga tetap terjaga dan festival kembali digelar setelah situasi memungkinkan dengan antusias yang tidak berkurang.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Festival Waluh dijamin melalui penetapannya sebagai agenda tahunan resmi desa yang selalu bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI. Momentum nasional ini memastikan partisipasi luas warga dan dukungan pemerintah di setiap tingkatan [8]. Penganggaran melalui APBDes memberikan fondasi keuangan yang stabil untuk penyelenggaraan festival setiap tahunnya.
Strategi keberlanjutan jangka panjang bertumpu pada pengembangan ekosistem UMKM waluh yang mandiri. Pelatihan pengolahan pangan berbasis pangan lokal terus diperkuat untuk meningkatkan standar kualitas dan variasi produk [13]. Komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk menjadikan waluh sebagai ikon kabupaten membuka peluang dukungan anggaran dan program dari tingkat yang lebih tinggi.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Festival Waluh berkontribusi nyata pada pencapaian beberapa tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang relevan [13]. Integrasi antara pemberdayaan ekonomi, ketahanan pangan, dan penguatan komunitas menjadikan festival ini instrumen pembangunan desa yang multidimensi.
| No SDGs | : | Penjelasan |
|---|---|---|
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | : | Diversifikasi produk olahan waluh memperkuat ketahanan pangan desa berbasis komoditas lokal bergizi tinggi yang kaya beta-karoten, vitamin A, dan antioksidan. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Festival Waluh menciptakan peluang usaha baru bagi UMKM desa, meningkatkan pendapatan petani waluh, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pasar kuliner yang hidup setiap tahun. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | : | Festival mendorong inovasi pengolahan produk pangan lokal secara berkelanjutan, mengembangkan kapasitas industri mikro berbasis bahan baku pertanian desa. |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan | : | Festival Waluh membangun identitas budaya komunitas desa yang kuat, memperkuat rasa kebersamaan warga, dan menjadikan Desa Kumpulrejo destinasi wisata kuliner yang berkelanjutan. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kolaborasi antara pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten mempercepat pengembangan inovasi desa menjadi program skala kabupaten yang berdampak lebih luas. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Festival Waluh mudah direplikasi oleh desa-desa lain yang memiliki komoditas pertanian unggulan namun belum menemukan cara efektif untuk mempromosikannya. Kunci replikasi terletak pada tiga elemen: identifikasi satu komoditas lokal unggulan, pembentukan panitia festival berbasis komunitas, dan penetapan momentum perayaan nasional sebagai pengikat partisipasi warga [4].
Scale up inovasi dapat dilakukan melalui pengembangan branding produk waluh olahan Kumpulrejo ke pasar regional Jawa Timur. Kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro membuka peluang masuknya produk olahan waluh ke jaringan distribusi yang lebih luas, termasuk platform e-commerce dan gerai produk unggulan daerah [11]. Dokumentasi dan publikasi festival melalui media daring juga memperkuat daya tarik wisata kuliner Desa Kumpulrejo secara nasional.
Daftar Pustaka
[2] Berita Bojonegoro, “Desa Kumpulrejo Kecamatan Kapas Gelar Festival Waluh, Ajang Promosi Potensi Desa,” beritabojonegoro.com, 5 Ags. 2017. [Online]. Available: https://beritabojonegoro.com/read/12217
[3] Tim Peneliti, “Analisis Kandungan Gizi Labu Kuning,” Media Gizi Kesehatan, Universitas Airlangga. [Online]. Available: https://e-journal.unair.ac.id/MGK
[4] Tim Abdimas, “Peningkatan Keterampilan Pengelolaan Produk Olahan Pangan Lokal,” Jurnal Abdimas Mahakam. [Online]. Available: https://jamsi.jurnal-id.com
[5] Pemkab Bojonegoro, “Kumpulrejo Pilih Waluh Sebagai Ikon Bojonegoro,” bojonegorokab.go.id, 5 Ags. 2017. [Online]. Available: https://bojonegorokab.go.id/berita/2622
[6] Jurnaba, “Kreasi Unik nan Otentik di Festival Waluh Desa Kumpulrejo Bojonegoro,” jurnaba.co, 15 Ags. 2019. [Online]. Available: https://jurnaba.co
[7] Detakpos, “Dodol Waluh 16 Meter Marakkan Festival Makanan Khas Jonegoroan,” detakpos.com, 6 Ags. 2017. [Online]. Available: https://detakpos.com
[8] Kumparan Bojonegoro, “Festival Waluh Kembali Digelar di Desa Kumpurejo Bojonegoro,” kumparan.com, 15 Ags. 2019. [Online]. Available: https://kumparan.com/beritabojonegoro
[9] Kabarpasti, “Ratusan Warga Meriahkan Festival Waluh di Kumpulrejo Bojonegoro,” kabarpasti.com, 2025. [Online]. Available: https://kabarpasti.com
[10] Tim Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “Desa Kumpulrejo Promosikan Produk Unggulan Desa,” Kementerian Desa PDTT, 2020.
[11] Tim Peneliti, “Inovasi Pangan Fungsional Lokal: Strategi Pasar dan Bisnis Berkelanjutan,” Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan, Politeknik Negeri Bali, vol. 21, no. 3, 2025. [Online]. Available: https://ojs2.pnb.ac.id/index.php/JBK/article/view/2788
[12] Tim Pengabdi, “Optimalisasi Produk Ketahanan Pangan melalui Penerapan Bisnis Kreatif,” Jurnal Creative Student Enterprise, Universitas Putra Bangsa. [Online]. Available: https://jurnal.universitasputrabangsa.ac.id
[13] Tim Peneliti, “Menguatkan Ketahanan Pangan melalui Pangan Lokal,” SAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan, ITKA, Okt. 2025. [Online]. Available: https://ejournal.itka.ac.id
