Ringkasan Inovasi
Desa Pemerihan di Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, membangun inovasi ekowisata konservasi berbasis desa penyangga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Inovasi ini memadukan Elephant Camp, jungle tracking, wisata sungai, pengamatan satwa, dan edukasi madu dalam satu pengalaman wisata yang dekat dengan kehidupan warga. [page:1][page:2]
Tujuan utamanya adalah mengubah posisi desa gerbang TNBBS menjadi sumber manfaat ekonomi, pendidikan konservasi, dan kebanggaan lokal. Dampak utamanya terlihat pada pengakuan Desa Pemerihan sebagai Top 500 ADWI 2023, tumbuhnya produk wisata minat khusus, serta menguatnya peran masyarakat dalam menjaga kawasan penyangga yang sensitif secara ekologis. [page:1][web:32]
| Nama Inovasi | : | Ekowisata Konservasi Pemerihan Berbasis Elephant Camp, Jungle Tracking, dan Edukasi Madu |
| Alamat | : | Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Pemerihan bersama pengelola Desa Wisata Pemerihan, masyarakat lokal, Kelompok Tani Hutan, serta pemangku kepentingan kawasan TNBBS |
| Kontak | : | Website: https://jadesta.com/desa/pemerihan; email dan telepon belum tercantum pada sumber yang diakses |
Latar Belakang
Desa Pemerihan berada di jalur strategis menuju Krui dan berbatasan langsung dengan TNBBS, sebuah kawasan hutan tropis yang menjadi bagian dari Warisan Dunia UNESCO. Posisi ini membuat desa tidak hanya menjadi gerbang masuk Pesisir Barat, tetapi juga ruang pertemuan antara manusia, satwa liar, dan bentang alam konservasi. [page:1]
Sebelum inovasi dikembangkan, potensi desa tersebar dalam banyak titik dan belum terangkai sebagai pengalaman wisata yang utuh. Masyarakat hidup berdampingan dengan hutan, sungai, lebah madu, burung, rusa, dan gajah, tetapi nilai ekonomi dari kekayaan itu belum sepenuhnya terkelola secara terpadu. [page:1][page:2]
Di sisi lain, desa penyangga konservasi selalu menghadapi tantangan yang rumit. Kawasan seperti ini membutuhkan sumber pendapatan yang tidak merusak ekosistem, sekaligus memerlukan cara baru agar warga melihat pelestarian hutan sebagai kepentingan sehari-hari, bukan sekadar pesan dari luar. Kajian tentang community-based tourism menunjukkan pariwisata berbasis masyarakat dapat memperkuat partisipasi, lapangan kerja, dan ekonomi lokal di kawasan konservasi. [web:55]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan ekowisata konservasi berbasis koridor pengalaman. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat satu objek, melainkan diajak menelusuri hubungan antara hutan, sungai, gajah, madu, dan kehidupan warga dalam satu narasi perjalanan. [page:1][page:2]
Cara kerjanya tampak pada paket jungle tracking di zona pemanfaatan TNBBS yang menghubungkan Menara Pantau, Rumah Pohon, Batu Putih, dan Elephant Camp. Inovasi ini diperkuat oleh wisata edukasi Kebun Madu Sultan di Dusun Srimulyo II, pengamatan burung dan satwa, serta pengalaman melihat aktivitas mahout memandikan gajah di Way Tempuran pada waktu tertentu. [page:1][page:2]
Proses Penerapan Inovasi
Inovasi lahir dari pembacaan sederhana atas keseharian desa. Apa yang selama ini dianggap biasa oleh warga, seperti sungai jernih, jalur hutan, jejak satwa, atau panen madu, mulai dipandang sebagai aset wisata edukatif yang bernilai tinggi. [page:2]
Tahap awal dimulai dengan memetakan spot yang aman, menarik, dan relevan untuk ekowisata minat khusus. Desa kemudian mengemas titik-titik itu menjadi alur kunjungan yang lebih mudah dikenali wisatawan, sambil menegaskan identitas unggulan Elephant Camp dan jungle tracking sebagai produk utama. [page:1][page:2]
Proses pengujian dilakukan melalui kunjungan media, famtrip, dan promosi desa wisata yang memperkenalkan Pemerihan kepada jurnalis, influencer, operator wisata, dan dinas terkait. Dari proses itu, pengelola belajar bahwa wisata konservasi tidak cukup menjual panorama, tetapi harus menyiapkan cerita, pemanduan, keamanan lintasan, dan pengalaman belajar yang kuat. [page:2]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kekuatan lanskap dan posisi strategis desa. Pemerihan memiliki akses langsung ke TNBBS, dilintasi jalur utama menuju Krui, dan menyimpan keragaman atraksi yang sulit ditiru desa lain, mulai dari gajah, sungai, hingga hutan dan madu. [page:1][page:2]
Faktor kedua adalah keterlibatan masyarakat dan jejaring kelembagaan. Kelompok Tani Hutan, pengelola desa wisata, mahout, pelaku homestay, dan pemangku kepentingan konservasi memainkan peran berbeda dalam merawat atraksi, mengantar pengalaman wisata, dan menjaga agar manfaat ekonomi tetap kembali ke desa. Literatur juga menegaskan bahwa community-based tourism membantu menciptakan pekerjaan, meningkatkan ekonomi lokal, dan mengurangi konflik di kawasan konservasi. [page:2][web:55]
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kelembagaan, hasil paling nyata adalah pengakuan Desa Pemerihan sebagai 500 Besar ADWI 2023 dengan klasifikasi berkembang. Pengakuan ini menunjukkan bahwa desa berhasil menampilkan potensi alam dan pengelolaan masyarakat sebagai kekuatan destinasi yang layak diperhitungkan secara nasional. [page:1][web:32]
Secara kualitatif, inovasi ini membentuk citra Pemerihan sebagai gerbang ekowisata Pesisir Barat. Pengunjung dapat menyaksikan bagaimana masyarakat berbagi ruang dengan hutan dan satwa, melihat proses panen madu, menelusuri sungai, dan belajar bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan penghidupan lokal. [page:2]
Secara kuantitatif, sumber resmi menyebut desa memiliki tujuh dusun, 7.721 jiwa penduduk, luas 1.515,89 hektare, jarak sekitar 97 kilometer dari Krui, dan 150 kilometer dari Bandar Lampung. Data ini menegaskan skala pelayanan dan cakupan wilayah yang menjadi dasar pengembangan wisata desa. Sumber yang tersedia belum memuat angka rinci peningkatan pendapatan atau jumlah kunjungan tahunan, sehingga dampak ekonomi langsung masih perlu didokumentasikan lebih sistematis. [page:1]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama inovasi ini adalah menjaga keseimbangan antara daya tarik wisata dan keselamatan kawasan konservasi. Desa berada di area jelajah gajah liar, sehingga pengembangan wisata harus mempertimbangkan risiko konflik manusia dan satwa serta batas aman bagi pengunjung. Penelitian konflik manusia-gajah di sekitar TNBBS menegaskan bahwa kawasan seperti ini membutuhkan mitigasi yang peka terhadap ekologi dan persepsi masyarakat. [web:54]
Kendala lain adalah kebutuhan kapasitas pengelolaan yang lebih rapi. Wisata minat khusus menuntut pemanduan yang terlatih, standardisasi keselamatan, narasi interpretasi, dan pencatatan dampak ekonomi agar inovasi tidak berhenti sebagai potensi yang menarik, tetapi berkembang menjadi model desa wisata yang matang. [page:2][web:55]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi harus dibangun melalui tata kelola yang menempatkan konservasi sebagai batas utama. Setiap paket wisata perlu disusun dengan jalur resmi, kapasitas kunjungan, pemandu lokal, dan pesan edukasi yang membuat wisatawan memahami bahwa mereka memasuki ruang hidup yang sensitif. [page:1][web:55]
Dalam jangka panjang, desa perlu memperkuat rantai nilai lokal melalui homestay, kuliner rumah tangga, madu, jasa pemandu, dan produk interpretasi lingkungan. Strategi ini akan membuat pendapatan tersebar lebih merata, sekaligus mengurangi tekanan pada hutan karena warga melihat manfaat nyata dari menjaga lanskap tetap lestari. [page:2][web:55]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Pemerihan dapat direplikasi di desa penyangga konservasi lain yang memiliki hubungan kuat dengan taman nasional, hutan lindung, atau koridor satwa. Kuncinya bukan menyalin atraksi, tetapi menata potensi lokal menjadi pengalaman wisata edukatif yang berbasis masyarakat dan taat pada batas ekologis. [web:55][page:1]
Untuk scale up, pemerintah daerah dapat membangun koridor ekowisata terpadu antara gerbang TNBBS, desa penyangga, dan destinasi pesisir Pesisir Barat. Dengan pendekatan ini, wisatawan tidak hanya datang untuk pantai, tetapi juga tinggal lebih lama untuk menikmati hutan, satwa, madu, trekking, dan pembelajaran konservasi yang dikelola desa-desa sekitar. [page:1][page:2]
Daftar Pustaka
[1] Jejaring Desa Wisata, “Desa Wisata Pemerihan 500 Besar ADWI 2023,” Jadesta, 2023. [Online]. Tersedia: https://jadesta.com/desa/pemerihan
[2] M. Anasya, “Pesona Rhino Camp dan Pemerihan di TNBBS,” Wartaniaga.id, 21 Des. 2022. [Online]. Tersedia: https://wartaniaga.id/pesona-rhino-camp-dan-pemerihan-di-tnbbs/
[3] International Journal of Forestry Research, “The Contribution of Community-Based Tourism to Conservation Area Management,” 2023. [Online]. Tersedia: https://ejournal.aptklhi.org/index.php/ijfr/article/view/38
[4] J. Belantara, “Analisis Konflik Manusia dengan Gajah Berdasarkan Persepsi Masyarakat di Sekitar Kawasan TNBBS,” [Online]. Tersedia: https://belantara.unram.ac.id/index.php/JBL/article/download/813/117
