Ringkasan Inovasi

Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan inovasi Sambang Bebeaq — sebuah program kunjungan langsung ke rumah keluarga berisiko stunting. Program ini menggabungkan edukasi gizi, literasi pola makan sehat, dan pemberian makanan bergizi secara langsung kepada anak-anak sasaran. Sejak diluncurkan pada tahun 2024, program ini berhasil menurunkan angka stunting di desa dan menjadi model pendampingan berbasis komunitas yang efektif. [1]

Kata Sambang Bebeaq berasal dari bahasa Sasak yang berarti “mengunjungi anak.” Program ini lahir dari kebutuhan nyata masyarakat Desa Pemenang Barat yang selama bertahun-tahun bergumul dengan tingginya angka stunting. Melalui pendekatan langsung dan pendampingan berkelanjutan, program ini melampaui intervensi konvensional dengan menyentuh langsung kehidupan keluarga rentan. [1]

Nama Inovasi:Sambang Bebeaq (Kunjungan Langsung Anak Berisiko Stunting)
Alamat:Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Inovator:Asma’at (Kepala Desa Pemenang Barat), Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS): Kader Posyandu dan TP PKK Desa Pemenang Barat
Kontak:Website: pemenangbarat.digitaldesa.id | Email: – | Telepon: –

Latar Belakang

Kabupaten Lombok Utara pernah mencatat angka stunting sebesar 33,8 persen pada tahun 2020, salah satu yang tertinggi di Nusa Tenggara Barat. [2] Desa Pemenang Barat termasuk wilayah dengan tingkat stunting tinggi; data tahun 2021 mencatat 241 anak mengalami stunting, dengan 56 di antaranya terkonsentrasi di Dusun Telaga Wareng saja. [3]

Akar masalah stunting di desa ini bersifat multifaktorial. Penelitian di Puskesmas Pemenang menunjukkan bahwa riwayat anemia kehamilan, pola pemberian makan yang tidak tepat, dan status ekonomi rendah berkontribusi signifikan terhadap kejadian stunting. [4] Sebanyak 45,1 persen anak di wilayah Puskesmas Pemenang mengalami stunting pada September 2024, sementara 74,7 persen keluarga berpenghasilan di bawah UMR. [4]

Sebelum inovasi ini hadir, intervensi yang ada masih bertumpu pada kegiatan posyandu konvensional yang sifatnya pasif dan menunggu kehadiran masyarakat. Banyak keluarga rentan tidak datang ke posyandu karena kendala jarak, rasa malu, atau minimnya kesadaran. [5] Kebutuhan akan pendekatan proaktif — yang mendatangi keluarga, bukan menunggu mereka datang — menjadi peluang nyata yang ingin ditangkap oleh Pemerintah Desa Pemenang Barat.

Inovasi yang Diterapkan

Program Sambang Bebeaq adalah inovasi kunjungan rumah (home visit) berbasis tim, dirancang khusus untuk menjangkau keluarga yang memiliki anak berisiko atau sudah mengalami stunting. Ide program ini lahir dari refleksi Kepala Desa Asma’at bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang menyadari bahwa intervensi berbasis posyandu saja tidak cukup menjangkau semua sasaran. [1]

Dalam setiap kunjungan, tim TPPS yang terdiri dari kader posyandu dan pengurus TP PKK mendatangi langsung rumah keluarga sasaran. Tim memberikan edukasi literasi gizi, menyampaikan panduan pola makan sehat bergizi seimbang, serta menyerahkan paket makanan bergizi kepada anak. Pendampingan berlangsung secara berkelanjutan, bukan sekadar kunjungan sekali jalan, sehingga keluarga mendapatkan bimbingan yang konsisten dan terukur. [1]

Proses Penerapan Inovasi

Langkah pertama program dimulai dengan pendataan dan pemetaan anak-anak berisiko stunting di seluruh wilayah desa. TPPS mengidentifikasi keluarga sasaran berdasarkan data posyandu, laporan kader, dan hasil pengukuran tumbuh kembang anak. Proses ini memastikan sumber daya terbatas desa tersalurkan secara tepat sasaran. [1]

Setelah data terkumpul, tim menyusun jadwal kunjungan dan mempersiapkan materi edukasi serta paket gizi. Setiap kunjungan mengikuti protokol terstruktur: pengukuran antropometri anak, pemberian edukasi kepada orang tua, penyerahan makanan bergizi, dan pencatatan perkembangan. Pendekatan ini sejalan dengan riset ilmiah yang membuktikan bahwa home visit oleh kader terlatih secara konsisten meningkatkan pengetahuan ibu dan perilaku kesehatan dalam pengasuhan anak. [6]

Pada fase awal, tim menghadapi tantangan teknis dalam penjadwalan kunjungan karena luasnya wilayah desa dan keterbatasan jumlah kader aktif. Dari pengalaman tersebut, tim belajar untuk memprioritaskan kunjungan berdasarkan tingkat risiko anak, sehingga anak dengan kondisi paling kritis mendapat perhatian pertama. Mekanisme evaluasi berkala juga diterapkan untuk memantau perkembangan setiap anak dan menyesuaikan intervensi sesuai kebutuhan. [7]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan program ini adalah kepemimpinan aktif Kepala Desa Asma’at yang tidak hanya memberi arahan, tetapi juga memastikan dukungan anggaran dari Dana Desa. Komitmen kepala desa untuk melanjutkan program bahkan di tengah pemotongan dana menjadi sinyal kuat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan seremonial. [1]

Peran kader posyandu dan kader TP PKK sebagai ujung tombak di lapangan juga sangat krusial. Riset menunjukkan bahwa kader kesehatan masyarakat yang terlatih mampu menurunkan angka stunting secara signifikan melalui edukasi gizi yang berkelanjutan. [8] Kader yang berasal dari komunitas sendiri memiliki kedekatan sosial dan kepercayaan dari keluarga sasaran, sehingga pesan-pesan kesehatan lebih mudah diterima dan dipraktikkan.

Hasil dan Dampak Inovasi

Sejak program Sambang Bebeaq diluncurkan tahun 2024, angka stunting di Desa Pemenang Barat menunjukkan tren penurunan yang nyata. Penurunan ini berkontribusi pada pencapaian Kabupaten Lombok Utara yang berhasil menekan angka stunting dari 33,8 persen (2020) menjadi 13,5 persen pada Agustus 2024 — melampaui target nasional sebesar 14 persen. [2] Hingga Agustus 2025, angka stunting KLU semakin membaik mencapai 13,57 persen. [9]

Secara kualitatif, program ini mengubah pola pikir keluarga sasaran tentang pentingnya gizi seimbang sejak dini. Kepala Desa Asma’at menyampaikan bahwa pendekatan langsung lebih efektif karena tidak hanya memberikan bantuan material, tetapi juga membangun kesadaran dan kapasitas keluarga dalam merawat anak. [1]

Literatur ilmiah memperkuat temuan ini: intervensi home visit terbukti meningkatkan berat badan, tinggi badan, skor perkembangan anak, serta rata-rata IQ dan fungsi eksekutif anak. [6] Artinya, dampak program Sambang Bebeaq melampaui sekadar penurunan angka statistik — program ini membangun fondasi kualitas sumber daya manusia jangka panjang.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang dihadapi program ini adalah keterbatasan anggaran, terutama setelah kebijakan pemotongan Dana Desa yang mempengaruhi alokasi untuk program-program sosial. Pemerintah Desa Pemenang Barat harus menyesuaikan pelaksanaan program dengan kemampuan anggaran yang ada, termasuk kemungkinan pengurangan frekuensi kunjungan atau jumlah paket gizi yang dibagikan. [1]

Selain itu, koordinasi lintas sektor yang belum sepenuhnya optimal menjadi hambatan struktural. Penelitian di Kabupaten Lombok Utara menemukan bahwa kendala koordinasi antar aktor dan keterbatasan sumber daya manusia menjadi faktor yang memperlambat percepatan penurunan stunting. [10] Kondisi ini menuntut inovasi dalam pengelolaan tim kader agar beban kerja terdistribusi merata dan keberlanjutan program tidak bergantung pada satu atau dua orang saja.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Untuk menjamin keberlanjutan program, Pemerintah Desa Pemenang Barat telah menyatakan komitmen melanjutkan Sambang Bebeaq dengan penyesuaian anggaran yang fleksibel. Strategi ini mencakup efisiensi operasional dengan memprioritaskan kunjungan berdasarkan tingkat risiko anak, serta menggali potensi pendanaan alternatif seperti kolaborasi dengan program Kabupaten, Puskesmas, atau lembaga swasta. [1]

Penguatan kapasitas kader melalui pelatihan berkala menjadi investasi jangka panjang yang kritis. Program percepatan penurunan stunting yang berhasil di Lombok Utara menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor dan komitmen bersama semua pemangku kepentingan. [10] Dengan mendokumentasikan standar operasional prosedur (SOP) kunjungan, program ini dapat berjalan secara mandiri bahkan ketika terjadi pergantian kepemimpinan desa.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Sambang Bebeaq memiliki potensi replikasi yang tinggi karena desainnya yang sederhana, berbasis komunitas, dan tidak memerlukan teknologi mahal. Desa-desa lain di Kecamatan Pemenang maupun di Kabupaten Lombok Utara dapat mengadopsi pendekatan ini dengan menyesuaikan kearifan lokal masing-masing wilayah. Riset sistematis di Indonesia mengonfirmasi bahwa program berbasis kader dengan komponen edukasi gizi dan kunjungan rumah adalah intervensi stunting paling efektif yang dapat direplikasi. [8]

Langkah scale up dapat dimulai dengan mendokumentasikan program sebagai best practice di tingkat kabupaten, lalu mengusulkannya masuk dalam program replikasi inovasi desa melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lombok Utara. Kolaborasi dengan perguruan tinggi setempat seperti Universitas Mataram — yang pernah melaksanakan KKN tematik stunting di desa ini — dapat memperkuat basis riset dan monitoring evaluasi program. [3] Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Sambang Bebeaq dapat menjadi gerakan nasional mempercepat Indonesia bebas stunting.

Daftar Pustaka

[1] LombokPost, “Desa Pemenang Barat Turunkan Stunting melalui Program Sambang Bebeaq,” Lombok Post – Jawa Pos, Feb. 03, 2026. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/tanjung/1507152104/desa-pemenang-barat-turunkan-stunting-melalui-program-sambang-bebeaq

[2] TIMES Bajawa, “Lombok Utara Berhasil Turunkan Angka Stunting hingga 13,5 Persen,” TIMES Indonesia, Des. 08, 2025. [Online]. Available: https://bajawa.times.co.id/news/berita/ma2dp3bdyl/Lombok-Utara-Berhasil-Turunkan-Angka-Stunting-hingga-135-Persen

[3] Universitas Mataram, “Proposal KKN Tematik Unram 2021–2022: Pencegahan Stunting di Pemenang Barat,” 2021. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/571493203/Proposal-KKN-Tematik-Unram-2021-2022-Desa-Pemenang-Barat

[4] N. A. Rahmawati et al., “Hubungan Anemia Kehamilan, Status Ekonomi dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting pada Anak di Puskesmas Pemenang, Kabupaten Lombok Utara,” Jurnal Manuju: Malahayati Nursing Journal, Feb. 2025. DOI: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/manuju/article/view/18710

[5] Tim Pengabdian, “Penurunan Angka Stunting Melalui Penyuluhan Pencegahan di Desa Waru,” Jurnal Kolaborasi Pengabdian Masyarakat, 2025. [Online]. Available: https://journal.inspira.or.id/index.php/kolaborasi/article/download/576/356/3100

[6] A. Pratiwi et al., “Literature Review: Manfaat Intervensi Home Visit oleh Tenaga Kesehatan Terhadap Pencegahan Stunting,” Jurnal Medula, vol. 14, no. 8, Feb. 2025. DOI: https://doi.org/10.53089/medula.v14i8.1259

[7] Tim Peneliti, “Implementasi Program Penurunan Stunting,” Jurnal Kesehatan Terpadu, 2024. [Online]. Available: https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/download/28297/26077

[8] D. A. Putri et al., “The Effectiveness of Stunting Prevention Programs in Indonesia,” Jurnal Pijar MIPA – UNRAM, Des. 2023. [Online]. Available: https://jppipa.unram.ac.id/index.php/jppipa/article/view/5850

[9] Inside Lombok, “Stunting di KLU Turun ke 13,57 Persen Secara Signifikan,” Inside Lombok, Okt. 30, 2025. [Online]. Available: https://insidelombok.id/lombok-utara/stunting-di-klu-turun-ke-1357-persen-secara-signifikan/

[10] A. H. Amry, “Implementasi Kebijakan Penanggulangan Stunting di Kabupaten Lombok Utara,” Skripsi, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), 2025. [Online]. Available: http://eprints.ipdn.ac.id/23709/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.

a