Ringkasan Inovasi
Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan inovasi pemberdayaan pangan lokal berbasis komunitas untuk mempercepat penurunan stunting. Inovasi utamanya adalah Sempol Tahu Daun Katuk — camilan bergizi tinggi yang terjangkau, mudah dibuat, dan efektif sebagai makanan tambahan pendamping ASI. [1] Program ini didukung oleh penguatan peran kader Posyandu dan sosialisasi strategi pencegahan stunting yang dipandu tenaga ahli gizi dari Puskesmas Bayan. [2]
Inovasi ini menjawab tantangan stunting multidimensi di Desa Mumbul Sari yang tercatat memiliki 87 kasus stunting tersebar di 12 dusun. [2] Pendekatan terpadu — memadukan inovasi produk pangan, edukasi gizi, dan pendampingan kader — menghasilkan peningkatan kesadaran masyarakat serta partisipasi aktif dalam kegiatan Posyandu secara berkelanjutan.
| Nama Inovasi | : | Sempol Tahu Daun Katuk — Inovasi Pangan Lokal Anti-Stunting Berbasis Kader Posyandu |
| Alamat | : | Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat |
| Inovator | : | Kepala Desa Mumbul Sari beserta Kader Posyandu, TP PKK Desa Mumbul Sari, didukung KKN Universitas Muhammadiyah Mataram dan Universitas Moch. Sroedji, serta Ahli Gizi Puskesmas Bayan |
| Kontak | : | Pemerintah Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan, Lombok Utara | Email: – | Telepon: – |
Latar Belakang
Kecamatan Bayan merupakan kecamatan dengan angka stunting tertinggi di Kabupaten Lombok Utara, mencapai 27 persen dengan kasus tertinggi di Desa Senaru sebesar 30,8 persen. [3] Desa Mumbul Sari, sebagai bagian dari Kecamatan Bayan, turut menanggung beban stunting yang berat; data menunjukkan 87 balita mengalami stunting yang tersebar di 12 dusun dengan kondisi paling parah di Dusun Bagek Nunggal (16 kasus) dan Mekar Sari (14 kasus). [2]
Akar permasalahan stunting di desa ini bersifat berlapis. Sebagian besar penduduk Desa Mumbul Sari bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani dengan tingkat pendidikan rendah — mayoritas penduduk hanya pernah bersekolah SD namun tidak tamat. [2] Kondisi ini berdampak pada rendahnya pemahaman ibu-ibu muda tentang pentingnya ASI eksklusif, gizi seimbang, dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). [1]
Hambatan kultural juga menjadi kendala serius. Banyak orang tua menganggap stunting sebagai “penyakit yang memalukan,” sehingga mereka enggan membawa anak ke Posyandu. [2] Akibatnya, kegiatan Posyandu yang sudah ada tidak optimal menjangkau keluarga paling rentan. Peluang besar tersimpan dalam potensi pangan lokal desa yang belum diolah secara optimal untuk mendukung gizi anak.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi Sempol Tahu Daun Katuk lahir dari hasil diskusi mendalam antara mahasiswa KKN Universitas Moch. Sroedji dengan perangkat desa dan kader Posyandu saat melakukan survei langsung di lapangan pada Juli 2023. [1] Tim menemukan bahwa tahu — sumber protein nabati murah yang tersedia luas — dan daun katuk — tanaman lokal kaya zat besi, kalsium, vitamin A, asam folat, dan vitamin C — merupakan kombinasi ideal untuk melawan stunting. [1]
Sempol Tahu Daun Katuk dibuat dari bahan sederhana: tahu, daun katuk, tepung kanji, tepung terigu, telur, garam, dan gula. Campuran bahan ini dibentuk menjadi sempol bertusuk seperti sate sehingga mudah dikonsumsi anak-anak. [1] Produk ini dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) saat Posyandu berlangsung, sekaligus diperkenalkan kepada ibu-ibu sebagai ide olahan makanan pendamping ASI di rumah. [1] Paralel dengan inovasi produk, program juga memperkuat kapasitas kader Posyandu sebagai agen perubahan perilaku gizi di tingkat komunitas.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dengan observasi dan pendataan kasus stunting secara menyeluruh di seluruh dusun. Tim KKN mewawancarai perangkat desa dan kader Posyandu, serta melakukan pendataan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita melalui buku KIA. [1] Data ini menjadi peta jalan intervensi yang memastikan program menyentuh keluarga paling rentan.
Tahap berikutnya adalah sosialisasi strategi pencegahan stunting yang digelar pada 25 Agustus 2023 di Aula Kantor Desa Mumbul Sari. Kegiatan ini menghadirkan ahli gizi dari Puskesmas Bayan sebagai pemateri utama, dengan peserta sekitar 40 orang dari kalangan orang tua, ibu hamil, dan ibu menyusui. [2] Materi mencakup pola asuh tepat, pentingnya ASI eksklusif, sanitasi, dan pemeriksaan rutin selama masa kehamilan dan pascamelahirkan.
Demonstrasi pembuatan Sempol Tahu Daun Katuk dilaksanakan pada 9–11 Agustus 2023 di tiga lokasi: Posyandu Kemuning 6, Posyandu Kemuning 10, dan TK PAUD Nurul Huda Dusun Gambiran. [1] Sebelum demonstrasi publik, tim mahasiswa terlebih dahulu melakukan percobaan pembuatan sempol untuk menyempurnakan resep dan memastikan cita rasa yang disukai anak-anak. Kegiatan ini dihadiri sekitar 26 ibu dan balita dan mendapat respon sangat positif dari peserta maupun perangkat desa. [1]
Faktor Penentu Keberhasilan
Dukungan penuh Kepala Desa Mumbul Sari beserta jajarannya menjadi fondasi utama keberhasilan program. Tanpa legitimasi dan fasilitasi pemerintah desa, kegiatan sosialisasi dan demonstrasi tidak akan memperoleh akses ke berbagai dusun serta kepercayaan masyarakat setempat. [2] Kolaborasi tiga pilar — perguruan tinggi, pemerintah desa, dan Puskesmas Bayan — menciptakan sinergi yang memperkuat kualitas konten maupun jangkauan program.
Peran kader Posyandu sebagai penghubung antara program formal dan kehidupan nyata keluarga juga sangat determinan. Riset membuktikan bahwa pemberdayaan kader Posyandu dalam mengolah pangan lokal secara signifikan meningkatkan pengetahuan kader tentang stunting dari 79 persen menjadi 90 persen. [4] Kader yang terampil dan percaya diri menjadi motor penggerak perubahan perilaku gizi di tingkat keluarga secara berkelanjutan.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sosialisasi dan demonstrasi yang digelar berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat Desa Mumbul Sari secara nyata. Masyarakat kini lebih memahami faktor risiko stunting dan mengenali upaya pencegahan yang dapat dilakukan di rumah. [2] Lebih banyak orang tua ikut serta dalam kegiatan Posyandu, pertemuan kelompok ibu-ibu, dan program gizi anak — sebuah perubahan perilaku yang menjadi indikator dampak jangka panjang.
Secara produk, Sempol Tahu Daun Katuk diterima sangat positif oleh masyarakat Desa Mumbul Sari sebagai makanan pendamping ASI yang praktis dan terjangkau. [1] Tenaga kesehatan Puskesmas Bayan turut mengadopsi produk ini sebagai bagian dari Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam kegiatan Posyandu rutin, memperluas skala dampaknya di luar kegiatan sosialisasi awal.
Di tingkat kabupaten, berbagai inovasi desa di Kecamatan Bayan berkontribusi pada penurunan angka stunting Lombok Utara dari 33,8 persen pada 2020 menjadi 13,5 persen pada 2024, melampaui target nasional 14 persen. [5] Kecamatan Bayan tetap menjadi fokus pengembangan agar capaian ini terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar program ini adalah resistensi kultural di masyarakat. Stigma bahwa stunting adalah “penyakit memalukan” membuat sebagian keluarga menutup diri dari intervensi. [2] Diperlukan pendekatan yang tidak menghakimi dan bersifat humanis agar keluarga mau terbuka menerima edukasi dan pendampingan gizi.
Keberlanjutan program juga menjadi tantangan serius setelah masa KKN mahasiswa berakhir. Program yang bergantung pada kehadiran mahasiswa rentan mengalami kevakuman ketika tim pendamping eksternal tidak lagi aktif. [6] Dibutuhkan transferensi pengetahuan dan keterampilan yang efektif kepada kader Posyandu lokal agar inovasi tidak berhenti seiring berakhirnya periode KKN.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan bertumpu pada penguatan kapasitas kader Posyandu sebagai pengelola inovasi secara mandiri. Kader dilatih tidak hanya untuk membuat Sempol Tahu Daun Katuk, tetapi juga untuk melatih ibu-ibu lain di dusun masing-masing. [4] Model “kader melatih kader” ini memastikan pengetahuan terus menyebar tanpa bergantung pada pihak eksternal.
Integrasi resep Sempol Tahu Daun Katuk ke dalam program PMT rutin Posyandu yang difasilitasi Puskesmas Bayan menjadi kunci keberlanjutan jangka panjang. Dengan masuknya produk ini dalam protokol PMT resmi, program mendapatkan dukungan anggaran dari sistem kesehatan formal. [5] Sinergi antara Pemerintah Desa, Puskesmas, dan TP PKK menjadi tulang punggung kelangsungan program ini.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi Desa Mumbul Sari sangat mudah direplikasi karena menggunakan bahan pangan lokal yang tersedia di seluruh pelosok NTB. Desa-desa lain di Kecamatan Bayan — khususnya Desa Senaru yang mencatat angka stunting tertinggi — dapat mengadopsi kombinasi edukasi gizi, demonstrasi produk pangan lokal, dan penguatan kader Posyandu yang sama. [3]
Langkah scale up dapat dilakukan melalui diseminasi SOP pembuatan Sempol Tahu Daun Katuk ke seluruh Posyandu di Kabupaten Lombok Utara melalui program pelatihan kader yang difasilitasi Dinas Kesehatan. Penelitian dari Lombok Utara juga membuktikan bahwa inovasi pangan berbasis umbi lokal dan susu kambing etawa berhasil dikembangkan di Desa Genggelang, menunjukkan bahwa pola ini telah terbukti bekerja di berbagai konteks pangan lokal. [7] Kolaborasi struktural antara pemerintah daerah, perguruan tinggi lokal, dan Puskesmas menjadi infrastruktur penting untuk memperluas dampak inovasi ini secara sistemik.
Daftar Pustaka
[1] L. Pramukyana dan D. N. Hariyanto, “Sempol Tahu Daun Katuk Sebagai Inovasi Makanan Sehat Anti Stunting di Desa Mumbulsari,” Jurnal Pengabdian Indonesia, vol. 1, no. 3, pp. 9–15, 2024. [Online]. Available: https://journal.pubmedia.id/index.php/jpi/article/view/2925
[2] R. Jannah, S. L. Fitri, L. A. Aulia, dan M. Y. Hatami, “Sosialisasi Strategi Penanganan dan Pencegahan Stunting di Desa Mumbul Sari Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara,” JILPI: Jurnal Ilmiah Pengabdian dan Inovasi, vol. 2, no. 2, pp. 365–372, 2023. E-ISSN: 2962-0104. [Online]. Available: https://journal.ikmedia.id/index.php/jilpi/article/download/303/241
[3] Inside Lombok, “Penurunan Stunting di KLU Perlu Kolaborasi Semua Pihak,” Inside Lombok, Sep. 06, 2023. [Online]. Available: https://insidelombok.id/lombok-utara/penurunan-stunting-di-klu-perlu-kolaborasi-semua-pihak/
[4] E. Ningsih et al., “Inovasi Ibu Sehat Anak Bebas Stunting Melalui Pemberdayaan Pangan Lokal Pada Kelompok Kader Posyandu,” SOLMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, Des. 2024. [Online]. Available: https://journal.uhamka.ac.id/index.php/solma/article/view/16416
[5] Inside Lombok, “Penurunan Stunting di KLU Capai Target, Kecamatan Bayan Jadi Fokus,” Inside Lombok, Nov. 18, 2024. [Online]. Available: https://insidelombok.id/lombok-utara/penurunan-stunting-di-klu-capai-target-kecamatan-bayan-jadi-fokus/
[6] Tim KKN, “Inovasi Pangan Lokal Untuk Mendukung Gizi Optimal Dan Pencegahan Stunting,” Jurnal Abdi Hari Hayati, Sep. 2024. [Online]. Available: https://jahe.or.id/index.php/jahe/article/view/1465
[7] Tim Pengabdian UNDIKMA, “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Sumber Pangan Lokal Umbi Talas dan Susu Kambing Etawa untuk Mengatasi Stunting di Desa Genggelang Kabupaten Lombok Utara,” Jurnal Pengabdian UNDIKMA, 2024. [Online]. Available: https://ojspanel.undikma.ac.id/index.php/jpu/article/download/13522/6822
