Ringkasan Inovasi

BUMDes Karya Mukti di Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, melakukan transformasi strategis dari unit usaha kios alat tulis konvensional menuju pengelolaan kawasan pariwisata alam terpadu yang memanfaatkan seluruh kekayaan alam dan budaya desa secara optimal. Inovasi ini menempatkan BUMDes sebagai motor utama pengembangan destinasi wisata, mulai dari pengelolaan parkir, jasa pengamanan, terminal wisata, hingga penataan 23 curug dan situs bersejarah peninggalan kolonial sebagai daya tarik baru [1].

Tujuan utamanya adalah menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi alam yang telah ada, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal. Desa Citengah yang berada sekitar 7–8 km dari pusat Kota Sumedang kini berkembang menjadi destinasi wisata regional yang ramai dikunjungi hingga 1.000 pengunjung setiap akhir pekan [2].

Nama Inovasi:Pengembangan Pariwisata Alam dan Budaya Terpadu Berbasis BUMDes Karya Mukti Desa Citengah
Alamat:Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
Inovator:Deni Safrudin Koswara (Direktur BUMDes Karya Mukti) dan Otong Sumarna (Kepala Desa Citengah)
Kontak: Website Pemerintah Kabupaten Sumedang: sumedangkab.go.id
Referensi profil wisata: sumedangtandang.com

Latar Belakang

Desa Citengah dikelilingi tiga sungai — Cihonje, Citengah, dan Citundun — yang menjadikannya kawasan subur dengan banyak mata air dan 23 air terjun tersebar di wilayahnya. Selain kekayaan alam ini, desa juga menyimpan warisan budaya berupa situs-situs peninggalan masa VOC, kebun teh berumur ratusan tahun di Dusun Cisoka, dan makam para leluhur pendiri Sumedang yang berpotensi besar sebagai destinasi wisata ziarah dan sejarah [1].

Namun, potensi luar biasa tersebut selama bertahun-tahun tidak memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga desa karena sebagian besar dikelola pihak swasta dan Perhutani tanpa melibatkan kelembagaan desa secara aktif. BUMDes yang berdiri sejak 2016 hanya menjalankan unit kios ATK yang sama sekali tidak sesuai dengan karakter desa wisata, sehingga pendapatan BUMDes sangat minim [3].

Kebutuhan mendesak akan transformasi unit usaha BUMDes menjadi sangat nyata: ribuan wisatawan datang setiap pekan namun uang yang beredar nyaris tidak menyentuh kantong warga lokal. Peluang besar untuk mengambil peran dalam ekosistem pariwisata yang sudah terbentuk secara organik inilah yang kemudian mendorong Direktur BUMDes Deni Safrudin Koswara memutar haluan total pada tahun 2018 [1].

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes Karya Mukti mengubah orientasi bisnis secara menyeluruh dengan menerapkan model pengelolaan pariwisata terpadu yang menempatkan warga sebagai pelaku utama rantai ekonomi wisata. Inovasi ini lahir dari evaluasi jujur bahwa potensi Citengah bukan di bidang perdagangan alat tulis, melainkan di sektor jasa pariwisata yang sudah terbukti menarik ribuan kunjungan setiap minggunya [1].

Secara konkret, BUMDes mengembangkan empat pilar unit usaha pariwisata: pengelolaan parkir wisata di sekitar destinasi-destinasi yang sudah ramai, jasa pengamanan kebun teh seluas 146 hektar dan getah pinus yang melibatkan 15 warga lokal, penyewaan kendaraan dan sound system, serta jasa kebersihan lingkungan luar kompleks wisata swasta. Keempat pilar ini bekerja sinergis: BUMDes hadir melengkapi kekurangan layanan yang selama ini menjadi beban pengelola wisata swasta seperti Kampung Karuhun [2].

Proses Penerapan Inovasi

Proses perubahan dimulai pada 2018 ketika Direktur BUMDes baru memutuskan menghentikan unit ATK yang merugi dan mengalihkan fokus ke jasa pengelolaan parkir wisata sebagai titik masuk pertama ke ekosistem pariwisata Citengah. Pemilihan parkir sebagai unit pertama didasarkan pada analisis sederhana namun tajam: setiap akhir pekan minimal 1.000 pengunjung datang menggunakan kendaraan, dan tidak ada yang mengelola parkir secara profesional [1].

Perencanaan terminal desa seluas 1 hektar di tepi Sungai Cihonje menjadi langkah strategis berikutnya, dengan alokasi Rp247 juta dari total dana desa Rp1,4 miliar untuk pembebasan lahan akses jalan. Kepala Desa Otong Sumarna secara sadar memutuskan tidak meminta bantuan APBD kabupaten agar terminal benar-benar menjadi aset dan dikelola BUMDes secara otonom tanpa ketergantungan pihak luar [1].

ITB turut hadir sebagai mitra akademisi melalui program pengabdian masyarakat di Dusun Cisoka pada 2018 dengan fokus pengembangan desa wisata ternak domba dan rencana pembentukan divisi koperasi dalam BUMDes. Kolaborasi lintas sektor ini memperkaya peta jalan pengembangan pariwisata Citengah dengan pendekatan berbasis riset dan partisipasi masyarakat yang terstruktur [4].

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan adaptif Deni Safrudin Koswara yang berani mengakui kegagalan unit ATK dan segera melakukan pivot bisnis menjadi faktor terpenting. Keputusan pragmatis berbasis data lapangan — bukan sekadar asumsi — membuat perubahan haluan BUMDes terjadi dengan cepat dan tepat sasaran tanpa pemborosan sumber daya [1].

Sinergi kuat antara BUMDes dan Pemerintah Desa di bawah kepemimpinan Otong Sumarna menciptakan ekosistem yang kondusif: kebijakan anggaran Dana Desa diarahkan mendukung infrastruktur wisata, sementara BUMDes fokus pada pengembangan unit bisnis yang menghasilkan. Posisi strategis desa hanya 7–8 km dari pusat Kota Sumedang juga menjadi keunggulan komparatif yang tidak dimiliki banyak desa wisata lain [2].

Hasil dan Dampak Inovasi

Dari berbagai unit jasa yang dibuka sejak 2018, BUMDes Karya Mukti berhasil mengumpulkan pendapatan sekitar Rp30 juta dalam waktu relatif singkat. Target ambisius PADes sebesar Rp200 juta pada 2020 ditetapkan sebagai capaian jangka menengah dengan mengandalkan pertumbuhan kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya [1].

Dampak sosial yang nyata terlihat dari terbukanya lapangan kerja bagi 15 warga lokal sebagai tenaga pengamanan kebun teh. Ekosistem ekonomi wisata juga tumbuh organik: warga sekitar curug membuka warung makan, homestay, dan jasa pemandu wisata yang menyerap lebih banyak warga dalam rantai nilai pariwisata yang terus memanjang [3].

Citra Desa Citengah terus meningkat hingga mendapat perhatian Wakil Bupati Sumedang yang kerap berkunjung dan menyebutnya sebagai “Ubud-nya Sumedang.” Curug Gorobog yang menjadi ikon desa kini buka 24 jam dengan tiket masuk Rp5.000–Rp15.000, menjadi salah satu destinasi wisata alam paling populer di Kabupaten Sumedang berkat ekosistem pengelolaan yang semakin profesional [5].

Tantangan dan Kendala

Pengelolaan destinasi wisata yang secara administratif melibatkan tiga pihak sekaligus — Perum Perhutani, BBKSDA Jabar, dan Pemerintah Desa — menciptakan kerumitan koordinasi yang bisa menghambat pengembangan infrastruktur wisata. Ketidakjelasan batas kewenangan antarlembaga sering memperlambat pengambilan keputusan strategis yang dibutuhkan cepat oleh pasar pariwisata [1].

Kemacetan lalu lintas saat puncak kunjungan wisatawan pada akhir pekan menjadi masalah nyata yang belum sepenuhnya terselesaikan sebelum terminal desa terbangun. Kondisi ini berpotensi menurunkan pengalaman wisatawan dan mengurangi minat kunjungan ulang jika tidak segera ditangani dengan infrastruktur transportasi yang memadai.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Seluruh unit bisnis BUMDes direncanakan beroperasi dengan sistem teknologi informasi yang memungkinkan pencatatan pendapatan real-time dan pemantauan kinerja karyawan secara transparan. Sistem manajemen berbasis teknologi ini menjadi fondasi akuntabilitas yang memastikan PADes mengalir ke kas desa tanpa kebocoran dan dapat diaudit kapan saja oleh pemerintah desa [1].

Perekrutan karyawan dari warga lokal secara konsisten menjadi kebijakan sosial yang sekaligus strategi keberlanjutan: warga yang bekerja di BUMDes memiliki kepentingan langsung dalam menjaga kelestarian alam sebagai aset utama ekonomi mereka. Prinsip ekowisata yang mengaitkan keuntungan ekonomi penduduk sekitar hutan dengan pelestarian lingkungan menjadi filosofi yang menopang keberlanjutan jangka panjang [3].

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes Karya Mukti — mengidentifikasi potensi utama desa, meninggalkan unit bisnis yang tidak sesuai karakter desa, lalu membangun ekosistem jasa wisata dari komponen yang sudah ada — sangat relevan untuk direplikasi oleh desa-desa di kawasan hutan dan pegunungan Jawa Barat. Penelitian dari Unisba mengonfirmasi bahwa Desa Citengah memiliki 15 objek wisata potensial yang masih bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata regional berskala lebih besar [6].

Scale up diarahkan pada penataan 23 curug yang belum terkenal — termasuk Curug Kencana sebagai destinasi wisata budaya dengan wahana permainan anak tradisional — dan aktivasi situs peninggalan VOC di Dusun Cisoka sebagai paket wisata edukasi sejarah. Pengembangan produk wisata olahan berbasis madu dan kopi lokal yang telah dirintis bersama Unisba siap memperkuat daya tarik ekonomi kreatif yang melipatgandakan durasi dan nilai belanja wisatawan di Citengah [6].

Daftar Pustaka

  1. Gedhe Nusantara – Tim Kerja Kementerian Desa PDTT, “Desa Citengah Lestari dengan Pariwisata,” gemari.id, 15 Juni 2020. [Online]. Tersedia: https://gemari.id
  2. Redaksi Gemari, “Wisata Desa Citengah Makin Marak,” gemari.id, 31 Maret 2020. [Online]. Tersedia: https://gemari.id
  3. A. H. Fauzi et al., “Pengembangan Desa Wisata: Identifikasi Potensi dan Peran Masyarakat Lokal Desa Citengah,” Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), vol. 4, no. 6, hal. 5210–5218, 2022. [Online]. Tersedia: https://journal.universitaspahlawan.ac.id
  4. LPPM ITB, “Pengembangan Desa Wisata (2018): Dusun Cisoka, Desa Citengah, Kab. Sumedang,” lppm.itb.ac.id, 2020. [Online]. Tersedia: https://lppm.itb.ac.id
  5. Pemerintah Kabupaten Sumedang, “Desa Wisata Citengah Seperti Ubud di Bali,” sumedangkab.go.id, 28 Maret 2022. [Online]. Tersedia: https://sumedangkab.go.id
  6. N. Miftahussurur et al., “Pengembangan Desa Wisata Pengolahan Ikan dan Madu di Desa Citengah Kabupaten Sumedang,” Bandung Conference Series: Economics Studies (BCSES), vol. 3, no. 2, hal. 655–662, 2023. DOI: 10.29313/bcses.v3i2.12509
  7. Kompas.com, “Curug Gorobog di Sumedang: Daya Tarik, Harga Tiket, dan Jam Buka,” bandung.kompas.com, 9 Juli 2024. [Online]. Tersedia: https://bandung.kompas.com

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.