Ringkasan Inovasi
Desa Sakerta Timur di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, membangun identitas wisata yang memadukan lanskap perdesaan Sunda dengan sentuhan estetika Bali. Inovasi ini tidak hanya menjual pemandangan, tetapi merancang pengalaman wisata yang menyatukan kuliner, budaya, dan panorama Waduk Darma dalam satu cerita desa.
Pemerintah desa bersama masyarakat mendorong gagasan ini untuk menciptakan pembeda yang kuat di tengah persaingan destinasi sekitar Kuningan. Dampak utamanya terlihat pada tumbuhnya magnet wisata baru, terbukanya ruang pemberdayaan warga, dan meningkatnya citra Sakerta Timur sebagai desa wisata yang punya karakter khas.
| Nama Inovasi | : | Pengembangan Wisata Desa Sakerta Timur Berkonsep Sunda-Bali |
| Alamat | : | Desa Sakerta Timur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Sakerta Timur bersama masyarakat, dipimpin Kepala Desa Cucu Sudrajat |
| Kontak | : | Cucu Sudrajat (Kepala Desa Sakerta Timur)- 081394715652 |
| : | sakertatimur2017@gmail.com | |
| Website | : | https://desa-sakerta-timur.kuningankab.go.id |
Latar Belakang
Sakerta Timur berada dekat Waduk Darma, salah satu titik wisata penting di Kabupaten Kuningan. Kedekatan itu memberi peluang besar, tetapi peluang saja tidak cukup bila desa tidak memiliki identitas yang mudah dikenali wisatawan.
Pada 2017, warga dan pemerintah desa sudah berkomitmen menjadikan Sakerta Timur sebagai desa wisata. Komitmen itu lahir karena banyak warga masih bertumpu pada sektor pertanian dan perdagangan, bahkan sebagian harus keluar kota untuk mencari penghidupan.
Di titik inilah kebutuhan utamanya terlihat jelas. Desa membutuhkan model ekonomi yang mampu menggerakkan potensi lokal, membuka lapangan usaha, dan membuat wisatawan tidak hanya singgah, tetapi ingin tinggal lebih lama.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan desa wisata berbasis identitas budaya dan pengalaman ruang. Pemerintah desa dan masyarakat tidak sekadar membuka tempat makan atau titik foto, tetapi membangun narasi “Bali di Kuningan” yang dipadukan dengan ruh budaya Sunda.
Wujud paling nyata dari konsep ini hadir melalui Saung Karuhun di Desa Sakerta Timur. Tempat ini mengusung arsitektur saung khas Sunda, lalu memperkaya suasananya dengan detail visual yang mengingatkan pengunjung pada nuansa Bali. Pengunjung datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk merasakan atmosfer alam terbuka, sawah hijau, dan panorama waduk yang membuat ruang terasa tenang dan berbeda.
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan inovasi ini tidak lahir dalam semalam. Desa lebih dulu membangun kesepahaman warga bahwa pariwisata harus bertumpu pada pemberdayaan masyarakat, bukan hanya pada pembangunan fisik semata.
Setelah komitmen desa wisata terbentuk, seluruh potensi desa mulai digerakkan secara bertahap. Rumah-rumah warga mulai difungsikan sebagai penginapan wisatawan, produk lokal seperti gula aren mulai diposisikan sebagai bagian dari pengalaman kunjungan, dan budaya lokal tetap dipertahankan sebagai ruh utama desa.
Pada tahap berikutnya, desa memperkuat wajah visual dan pengalaman kunjungan melalui destinasi yang lebih spesifik. Saung Karuhun berkembang sebagai pusat kuliner bernuansa Sunda-Bali, sementara Bukit Bagarurung menguat sebagai titik wisata alam berketinggian dengan panorama Waduk Darma dan Gunung Ciremai.
Proses ini juga memperlihatkan bahwa desa tidak memilih jalan yang sepenuhnya mudah. Ketika potensi wisata mulai naik daun, kebutuhan infrastruktur dan akses ikut membesar, terutama untuk menunjang kawasan Bagarurung yang dinilai memiliki pesona kuat tetapi masih memerlukan perhatian jalan menuju lokasi.
Dari sini, pembelajaran pentingnya terlihat. Inovasi wisata desa tidak cukup hanya dengan konsep yang menarik, tetapi harus disertai infrastruktur, konsistensi pelayanan, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara kunjungan wisata dan kehidupan warga sehari-hari.
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan inovasi ini sangat ditentukan oleh kepemimpinan lokal yang berani memberi arah jelas. Cucu Sudrajat, sebagai Kepala Desa Sakerta Timur, konsisten mendorong desa wisata sejak deklarasi 2017 dan ikut menjelaskan identitas budaya di balik Saung Karuhun kepada publik.
Faktor berikutnya adalah keterlibatan warga sebagai pelaku utama. Desa wisata ini dibangun dengan logika pemberdayaan, terlihat dari pemanfaatan rumah warga sebagai penginapan, penguatan produk lokal, serta penggunaan kekayaan budaya seperti babarit sebagai bagian dari daya tarik desa.
Penentu lain adalah kemampuan desa meramu pembeda yang otentik. Konsep Sunda-Bali tidak berhenti pada ornamen, tetapi diperkuat oleh lanskap alam, keramahan pelayanan, pakaian tradisional pelayan, dan kesan ruang yang menurut pengunjung terasa seperti Ubud Bali.
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil paling awal terlihat pada lahirnya citra baru Sakerta Timur sebagai desa wisata dengan identitas yang mudah diingat. Saung Karuhun menjadi buah bibir karena memadukan kuliner, arsitektur, dan pemandangan perdesaan dalam satu pengalaman yang berbeda dari tempat lain di sekitar Waduk Darma.
Dampak kuantitatifnya dapat dibaca dari skala sosial dan dukungan infrastruktur yang mengiringi proses ini. Desa ini memiliki sekitar 700 kepala keluarga dan sekitar 2.700 penduduk, sehingga pengembangan wisata menyentuh basis masyarakat yang cukup besar. Pemerintah juga telah mengalirkan dukungan infrastruktur berupa Rp550 juta dari DAK pada 2018, Rp370 juta pada 2019, dan Rp200 juta dari Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Dampak kualitatifnya bahkan lebih terasa. Warga tidak lagi hanya melihat desa sebagai tempat tinggal dan bertani, tetapi sebagai ruang usaha bersama yang bisa menghadirkan penginapan, kuliner, produk gula aren, kopi, dan jasa wisata lainnya.
Bukit Bagarurung memperluas dampak itu dari sisi wisata alam. Lokasi ini disebut tengah naik daun, menampilkan panorama dari ketinggian dengan pemandangan Gunung Ciremai dan Waduk Darma, bahkan pernah dipakai untuk retreat pejabat eselon II Pemerintah Daerah Kuningan. Fakta ini menunjukkan bahwa destinasi desa mulai dipercaya untuk kegiatan yang menuntut kenyamanan, pemandangan, dan pengalaman ruang yang kuat.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi ini harus dijaga dengan cara mempertahankan identitas, bukan sekadar menambah bangunan. Selama Sakerta Timur terus menautkan wisata dengan budaya lokal seperti babarit, produk lokal seperti gula aren dan kopi, serta keramahan warga, desa akan memiliki karakter yang tidak mudah ditiru.
Strategi berikutnya adalah memperkuat ekosistem penunjang kunjungan. Akses menuju titik wisata perlu terus dibenahi, rumah warga yang dijadikan penginapan perlu dijaga mutunya, dan promosi desa harus konsisten agar lama tinggal wisatawan terus meningkat.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Sakerta Timur layak direplikasi oleh desa lain karena berangkat dari modal yang sebenarnya banyak dimiliki desa-desa Indonesia. Alam, budaya, produk lokal, dan rumah warga bisa menjadi fondasi wisata bila dirangkai dalam identitas yang jelas dan dikelola bersama masyarakat.
Untuk scale up, pengalaman Sakerta Timur memberi pelajaran bahwa desa harus berani memilih tema yang spesifik dan konsisten. Ketika tema itu didukung infrastruktur, kepemimpinan, dan partisipasi warga, desa bisa berkembang dari tempat singgah menjadi destinasi yang memperpanjang kunjungan dan memperbesar perputaran ekonomi lokal.
