Ringkasan Inovasi
Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) Nagari Taluk, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengembangkan destinasi wisata Pantai Tan Sridano menjadi objek wisata keluarga yang tertata dan berdaya saing. Dengan dukungan dana nagari sebesar Rp 50 juta sebagai modal BUMNag, pembenahan dilakukan secara menyeluruh: pembersihan area, penambahan wahana permainan anak, fasilitas MCK, dan area parkir yang memadai. [1]
Inovasi ini menempatkan Nagari Taluk sebagai salah satu dari dua nagari percontohan pengembangan pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten pada 2020. Pantai Tan Sridano yang dulunya hanya dikenal warga lokal kini mendunia dan menjadi magnet wisata unggulan Kecamatan Batang Kapas yang terus menarik pengunjung dari berbagai daerah. [2]
| Nama Inovasi | : | Wisata Pantai Tan Sridano — Pembenahan dan Pengembangan Destinasi Wisata Bahari Berbasis BUMNag untuk Peningkatan PADes Nagari Taluk |
| Alamat | : | Nagari Taluk (Kenagarian Taluak), Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat |
| Inovator | : | Pemerintah Nagari Taluk; Pengurus BUMNag Nagari Taluk; didukung Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pesisir Selatan |
| Kontak | : | pesisirselatankab.go.id | Disparpora Kabupaten Pesisir Selatan | Kantor Wali Nagari Taluk, Kec. Batang Kapas |
Latar Belakang
Kabupaten Pesisir Selatan adalah salah satu kabupaten terkaya destinasi pantai di Sumatera Barat, membentang di sepanjang jalur lintas Sumatera bagian barat dari Padang hingga Bengkulu. Kecamatan Batang Kapas — salah satu dari 12 kecamatan di Pesisir Selatan dengan luas wilayah 359 km² — memiliki sejumlah kawasan wisata pantai potensial yang belum dikembangkan secara optimal, termasuk Pantai Tan Sridano. [3]
Pantai Tan Sridano sesungguhnya sudah dikenal sejak lama oleh warga lokal sebagai pantai berpasir putih dengan deretan pohon pinus yang rindang — kombinasi alam yang langka dan sangat menarik. Namun tanpa pengelolaan yang baik, potensi ini tidak memberikan manfaat ekonomi apa pun bagi nagari: tidak ada tiket masuk, tidak ada fasilitas dasar, dan tidak ada mekanisme pemeliharaan kawasan. [4]
Keunggulan strategis lokasi Pantai Tan Sridano yang persis berada di sisi jalur lintas Sumatera Padang-Bengkulu dan hanya 40 menit dari Painan — ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan — menjadi peluang besar yang sayang jika terus disia-siakan. [1] Kehadiran wisatawan yang rutin di hari libur menunjukkan bahwa permintaan wisata sudah ada; yang dibutuhkan hanyalah pengelolaan yang terorganisasi oleh BUMNag untuk mengubah arus wisatawan menjadi pendapatan asli nagari.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah penataan dan pengelolaan kawasan Pantai Tan Sridano oleh BUMNag sebagai unit usaha wisata resmi nagari. Dimulai dari pengalokasian Rp 50 juta dari anggaran nagari sebagai modal awal BUMNag, pembenahan dilakukan secara sistematis: pembersihan area pantai, penanaman tambahan pohon pinus, pembangunan MCK, pembangunan area parkir terstandar, dan penambahan wahana permainan anak yang sebelumnya tidak tersedia. [1]
Sistem pengelolaan wisata bekerja melalui mekanisme tiket masuk Rp 2.000 per orang — harga yang sangat terjangkau namun mampu menghasilkan pendapatan signifikan mengingat tingginya arus kunjungan di hari libur. BUMNag juga berperan sebagai pengelola fasilitas wisata dan koordinator pemasaran destinasi secara aktif, termasuk pendaftaran resmi ke Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf untuk meningkatkan visibilitas digital Pantai Tan Sridano di tingkat nasional. [5]
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan diawali dengan pemetaan potensi dan identifikasi kelemahan kawasan Pantai Tan Sridano oleh pemerintah nagari bersama BUMNag. Hasil pemetaan menunjukkan tiga kebutuhan mendesak: kebersihan kawasan yang harus ditingkatkan, ketersediaan fasilitas dasar (MCK dan parkir) yang sama sekali belum ada, dan wahana yang bisa membuat pengunjung betah lebih lama. [1]
Dana nagari sebesar Rp 50 juta digunakan sebagai modal permodalan BUMNag untuk membiayai pembenahan fisik secara prioritas: infrastruktur MCK, area parkir, dan pengadaan wahana permainan anak sebagai daya tarik tambahan bagi segmen keluarga. Penetapan tiket masuk Rp 2.000 per orang dirancang sebagai harga yang inklusif — cukup terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat, namun tetap menghasilkan pendapatan yang bermakna bagi kas BUMNag. [6]
Pengakuan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan yang menetapkan Nagari Taluk sebagai satu dari dua nagari percontohan pengembangan pariwisata pada 2020 menjadi momentum akselerasi yang signifikan. [2] Status percontohan ini membuka akses ke dukungan teknis dan promosi dari Disparpora Kabupaten, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri pemerintah nagari dan BUMNag untuk terus berinovasi mengembangkan kawasan wisata lebih jauh.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah keunikan alam yang tidak bisa dibuat-buat: kombinasi pasir putih, hutan pinus rindang, dan ombak yang tidak terlalu keras menjadikan Pantai Tan Sridano destinasi yang menonjol di antara banyak pantai Sumatera Barat. Keunggulan alam ini memastikan bahwa setiap investasi pembenahan yang dilakukan BUMNag langsung terasa dampaknya dalam meningkatkan kenyamanan dan daya tarik pengunjung. [4]
Faktor kedua adalah posisi geografis strategis pantai ini — berada tepat di sisi jalan lintas Sumatera Padang-Bengkulu yang dilewati ribuan kendaraan setiap harinya. Aksesibilitas tinggi ini secara organik menghasilkan lalu lintas wisatawan yang tidak membutuhkan promosi besar-besaran: cukup dengan pembenahan kawasan yang terlihat dari jalan, pengunjung sudah tertarik untuk singgah. [1]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling nyata adalah transformasi kawasan: dari pantai yang tidak terkelola dan sepi secara ekonomi menjadi destinasi wisata keluarga yang rapi dengan MCK bersih, parkir teratur, dan wahana bermain anak yang menggembirakan. [1] Pengunjung kini datang tidak hanya untuk menikmati alam, tetapi juga untuk merasakan fasilitas wisata yang sudah berkembang jauh dari kondisi awalnya.
Riset yang mengkaji kontribusi wisata pantai terhadap PAD di Kabupaten Pesisir Selatan menunjukkan korelasi positif antara pembenahan fasilitas wisata pantai dan peningkatan kunjungan serta pendapatan daerah. [7] Dengan tiket masuk Rp 2.000 per orang dan asumsi rata-rata 500–1.000 pengunjung per hari libur, BUMNag berpotensi menghasilkan Rp 1–2 juta per hari libur hanya dari tiket masuk — belum termasuk pendapatan dari parkir dan sewa fasilitas.
Dampak sosial juga sangat terasa: warga Dusun sekitar mendapat lapangan kerja baru sebagai petugas tiket, penjaga parkir, penjaga kebersihan, dan pedagang di kawasan wisata. Kehadiran Pantai Tan Sridano sebagai destinasi yang “mendunia” — dikutip langsung oleh Pemkab Pesisir Selatan — juga meningkatkan kebanggaan warga Nagari Taluk dan memperkuat identitas nagari sebagai nagari wisata. [2]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama adalah potensi akses jalan yang belum sepenuhnya optimal untuk semua jenis kendaraan. Pantai Tan Sridano sebenarnya bisa diakses melalui dua jalur, namun salah satu jalur tidak bisa dilalui mobil langsung ke spot paling menarik — sehingga wisatawan kebanyakan hanya menggunakan satu jalur utama yang lebih baik kondisinya. [4]
Tantangan kedua adalah persaingan dengan destinasi wisata pantai lain di Kabupaten Pesisir Selatan yang terus berkembang dan berinvestasi, seperti Pantai Carocok Painan dan Pantai Labuang Baruak di kecamatan yang sama. [8] BUMNag perlu terus berinovasi menambah wahana dan daya tarik baru agar pengunjung memiliki alasan kuat memilih Tan Sridano dibanding destinasi lain yang juga terus berbenah.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan wisata Pantai Tan Sridano bertumpu pada reinvestasi pendapatan BUMNag untuk pengembangan fasilitas secara bertahap — mengikuti model yang sudah terbukti berhasil. Pemerintah Kabupaten sudah mengidentifikasi potensi pengembangan kolam renang alami dari air payau yang ada di kawasan hutan pinus sebagai daya tarik baru yang bisa dikembangkan tanpa merusak ekosistem pantai. [2]
Strategi digital juga menjadi pilar keberlanjutan jangka panjang. Pendaftaran di Jadesta Kemenparekraf sudah memberikan visibilitas nasional bagi Pantai Tan Sridano — strategi yang perlu diperkuat dengan konten media sosial yang konsisten, pengelolaan ulasan wisata secara aktif, dan kolaborasi dengan travel blogger dan influencer wisata Sumatera Barat. [5]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model BUMNag pengelola wisata pantai Nagari Taluk sangat relevan direplikasi oleh nagari-nagari lain di Kecamatan Batang Kapas dan Pesisir Selatan yang memiliki potensi pantai belum terkelola. Kunci replikasinya sederhana: alokasikan dana nagari sebagai modal awal BUMNag, tata kelola kawasan pantai dengan fasilitas dasar, tetapkan tiket masuk yang terjangkau, dan daftarkan ke Jadesta untuk mendapat visibilitas nasional. [1]
Untuk scale up, Nagari Taluk berpeluang menjadi pusat dari paket wisata terintegrasi Kecamatan Batang Kapas yang menghubungkan Pantai Tan Sridano, Pantai Labuang Baruak, Sungai Tawa Indah, dan destinasi lainnya dalam satu jalur wisata sehari penuh. [3] Paket wisata terintegrasi ini akan meningkatkan lama tinggal wisatawan dan nilai belanja per kunjungan, sekaligus memperkuat Kecamatan Batang Kapas sebagai kluster wisata pantai yang kompetitif di Sumatera Barat.
Daftar Pustaka
[1] Jadesta Kemenparekraf, “Desa Wisata Pantai Tan Sridano,” jadesta.kemenpar.go.id. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/pantai_tan_sridano
[2] Pemkab Pesisir Selatan, “Pessel Memiliki Dua Nagari Percontohan Pengembangan Pariwisata,” pesisirselatankab.go.id, Okt. 26, 2020. [Online]. Available: https://pesisirselatankab.go.id/rberita/detail/pessel-memiliki-dua-nagari-percontohan-pengembangan-pariwisata
[3] Tim Penulis, “Profil dan Potensi Wisata Kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan,” Jurnal Diklat Review, Kompetif, 2022. [Online]. Available: https://ejournal.kompetif.com/index.php/diklatreview/article/view/1936/1453
[4] F. Fajari, “Melepas Penat dengan Keelokan Hutan Pinus di Pantai Tan Sridano,” gentaandalas.com, Feb. 3, 2021. [Online]. Available: https://www.gentaandalas.com/melepas-penat-dengan-keelokan-hutan-pinus-di-pantai-tan-sridano/
[5] Jadesta Sumatera Barat, “Desa Wisata Pantai Tan Sridano — Sumbar,” sumbar.jadesta.com. [Online]. Available: https://sumbar.jadesta.com/desa/pantai_tan_sridano
[6] Pemkab Pesisir Selatan, “Pasir Putih yang Menarik Mata,” berita.pesisirselatankab.go.id, Jan. 31, 2018. [Online]. Available: https://berita.pesisirselatankab.go.id/berita/detail/3112018–pasir-putih-yang-menarik-mata
[7] I. Ranggeni, “Kontribusi Objek Wisata Pantai Carocok Painan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat,” Jurnal Mahasiswa, Universitas Bung Hatta. [Online]. Available: https://media.neliti.com/media/publications/198383-kontribusi-objek-wisata-pantai-carocok-p.pdf
[8] Liputan 6, “Eksplorasi Wisata Alam Pesisir Selatan, Ini 5 Surga Tersembunyi di Sumbar,” liputan6.com, Sep. 27, 2024. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/regional/read/5711999/eksplorasi-wisata-alam-pesisir-selatan-ini-5-surga-tersembunyi-di-sumbar
