Ringkasan Inovasi
Di Desa Sejiram, internet tidak hadir sebagai fasilitas pelengkap, tetapi sebagai mesin perubahan ekonomi desa. BUMDesa Maju Bersama mengembangkan INSANAK agar akses internet murah dapat membuka usaha baru, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan kerja lokal.
INSANAK menghubungkan kebutuhan warga dengan model bisnis desa yang sederhana dan inklusif. Melalui penjualan voucher, kemitraan warung, dan perluasan pelanggan, inovasi ini mendorong pendapatan rutin bagi BUMDesa sekaligus memberi keuntungan langsung bagi warga.
Dampak utamanya terlihat pada tumbuhnya jaringan mitra pedagang voucher, terbukanya pekerjaan bagi pemuda desa, dan berkembangnya usaha warga seperti penjualan bibit jeruk secara online. Inovasi ini juga mengubah posisi Desa Sejiram dari desa tertinggal menjadi desa yang bergerak sebagai contoh bagi wilayah lain.
[1][2][1][2][1][2][2][1]
| Nama Inovasi | : | INSANAK (Internet Pedesaan Akomodatif) |
| Alamat | : | Desa Sejiram, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat |
| Inovator | : | BUMDesa Maju Bersama Desa Sejiram |
| Website | : | desasejiram.id dan insanak.desasejiram.id |
Latar Belakang
Desa Sejiram berada di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, wilayah yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses perkotaan dan layanan komunikasi. Dalam kondisi itu, kebutuhan internet murah dan stabil menjadi persoalan nyata bagi warga dan pelaku usaha desa.
Sebelum internet hadir, pemasaran hasil usaha warga masih berjalan secara konvensional dan terbatas oleh jarak. Pedagang bibit jeruk, misalnya, harus berkeliling dari desa ke desa di Kabupaten Sambas untuk menawarkan dagangannya secara langsung.
Keterbatasan akses ini membuat peluang ekonomi desa bergerak lebih lambat dibanding kebutuhan zaman. Warga membutuhkan sarana komunikasi yang murah, mudah dijangkau, dan mampu membuka pasar yang lebih luas bagi produk desa.
BUMDesa Maju Bersama membaca situasi itu sebagai peluang, bukan hambatan. Anak-anak muda yang menggerakkan BUMDesa ingin menjadikan internet sebagai pintu masuk pembangunan ekonomi, inovasi desa, dan ruang tumbuh kreativitas warga.
Dari kebutuhan itulah INSANAK lahir dan dikembangkan. Nama INSANAK merupakan kepanjangan dari Internet Pedesaan Akomodatif, yang dalam bahasa Sambas juga bermakna keluarga, sehingga identitas program ini dekat dengan budaya lokal.
Inovasi yang Diterapkan
INSANAK adalah layanan internet desa yang dibangun BUMDesa Maju Bersama dengan model distribusi voucher dan kemitraan warga. Inovasi ini tidak hanya menyediakan koneksi internet, tetapi juga membentuk rantai usaha yang melibatkan warung dan pedagang kecil desa.
Produk utamanya berupa voucher internet dengan tiga pilihan layanan. Warga dapat membeli akses tiga jam seharga Rp2.000, dua belas jam seharga Rp5.000, atau paket bulanan seharga Rp50.000 sesuai kebutuhan mereka.
Cara kerjanya dirancang sederhana agar mudah direplikasi oleh warga. Mitra cukup membeli voucher di Desa Mart yang dikelola BUMDesa, lalu menerima smartphone untuk membantu transaksi penjualan kepada pelanggan.
Setiap voucher yang terjual memberi keuntungan 20 persen kepada pedagang mitra. Skema ini menarik karena tidak memerlukan pendaftaran rumit, tidak membebani modal besar, dan memberi insentif yang jelas bagi warung kecil desa.
INSANAK juga bekerja sebagai fondasi ekspansi usaha desa yang lebih luas. Setelah unit internet berkembang, BUMDesa memperluas kegiatan ke Desa Mart, gedung olahraga, sablon digital, jasa mobil pick up, dan rencana unit digital.
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan inovasi ini dimulai dari penguatan kelembagaan BUMDesa Maju Bersama yang berdiri pada 2017. Dari awal, pengelolanya ingin BUMDesa menjadi penggerak pembangunan desa, bukan hanya unit usaha kecil yang pasif.
Tahap awal usaha BUMDesa berfokus pada sektor pertanian melalui jual beli sarana produksi. Namun kebutuhan internet yang besar di masyarakat mendorong lahirnya eksperimen baru, yaitu menjadikan layanan konektivitas sebagai unit usaha utama desa.
Dalam prosesnya, BUMDesa tidak memilih model yang eksklusif atau tertutup. Mereka justru membangun sistem kemitraan terbuka dengan pedagang desa, sehingga jaringan distribusi tumbuh dari warung sayur, kios jajanan, dan toko kecil lainnya.
Pilihan terhadap voucher tiga jam menunjukkan bahwa pengelola membaca kebiasaan konsumsi warga dengan cermat. Paket murah itu menjadi yang paling laris, bahkan satu mitra bisa menjual 10 sampai 30 voucher per hari.
Proses pengembangan juga melibatkan kerja sama yang lebih luas. Jaringan INSANAK dibangun melalui kolaborasi dengan penyedia layanan internet dan BAKTI, sehingga akses internet desa memiliki dukungan infrastruktur yang lebih kuat.
Pembelajaran penting muncul dari keberanian desa mengubah keterbatasan menjadi model usaha. Desa yang jauh dari akses kota justru memakai internet sebagai alat untuk memendekkan jarak pasar, mempercepat komunikasi, dan menumbuhkan usaha baru.
Dari sisi pengembangan, keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa inovasi tidak harus dimulai dengan teknologi rumit. Yang paling menentukan adalah model distribusi yang cocok dengan kebiasaan warga dan memberi manfaat ekonomi sejak tahap awal.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kepemimpinan BUMDesa yang digerakkan anak-anak muda dengan visi ekonomi yang jelas. Mereka tidak hanya menyediakan layanan internet, tetapi menatanya sebagai ekosistem usaha yang melibatkan warga secara langsung.
Faktor kedua adalah kemitraan yang inklusif dan mudah diikuti. Warga tidak perlu prosedur panjang untuk menjadi penjual voucher, sehingga partisipasi tumbuh cepat dan jaringan penjualan menyebar luas di desa.
Faktor ketiga adalah keberanian memperluas manfaat internet ke sektor lain. INSANAK tidak berhenti sebagai bisnis voucher, tetapi menjadi penggerak lahirnya unit usaha baru dan penguat pemasaran produk warga secara online.
Faktor berikutnya adalah kolaborasi antara BUMDesa, pemerintah desa, dan mitra teknis. Sinergi itu membuat layanan internet tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan tujuan besar untuk menguatkan ekonomi desa.
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, BUMDesa Maju Bersama mencatat sekitar 800 mitra pedagang voucher internet. Khusus voucher tiga jam, penjualannya mencapai lebih dari 1.100 voucher per hari, sementara tahun sebelumnya jumlah mitra masih sekitar 750 orang.
INSANAK juga membuka lapangan kerja langsung di desa. BUMDesa mampu menggaji tetap enam karyawan dan melibatkan 16 pekerja tidak tetap yang seluruhnya berasal dari pemuda-pemudi Desa Sejiram.
Dampak ekonomi warga terlihat jelas pada usaha bibit jeruk milik Haryanto Arbi atau Anto. Setelah memasarkan lewat Facebook, ia mengirim hampir 1.000 bibit per hari, meraih omzet sekitar Rp10 juta per bulan, dan laba bersih hingga Rp8 juta.
Perubahan ini mendorong ekspansi usahanya hingga lahan kebun mencapai 1 hektare. Penjualan online juga membuat pelanggan datang dari berbagai kota di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan wilayah lain di luar pasar lokal Sambas.
Pada tingkat desa, BUMDesa Maju Bersama sudah memberi kontribusi PAD desa sebesar Rp40 juta pada 2022 dari berbagai unit usaha. Kanal Desa juga mencatat layanan internet INSANAK telah merangkul 12 BUMDes lain dan menyambungkan akses bagi 134 desa atau sekitar 2.000 pelanggan.
Secara kualitatif, inovasi ini mengubah mentalitas usaha warga. Internet tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan konsumtif semata, tetapi sebagai alat dagang, alat komunikasi, dan alat untuk memperluas masa depan ekonomi desa.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan INSANAK dibangun melalui diversifikasi usaha dan perluasan pasar. Ketika unit internet telah stabil, BUMDesa menumbuhkan unit turunan seperti Desa Mart, sablon digital, gedung olahraga, jasa pick up, dan rencana usaha digital.
Langkah berikutnya adalah membangun unit digital yang bergerak pada software development dan multimedia. Unit ini dirancang untuk melayani pembuatan aplikasi, website, video, animasi, grafis, pemetaan, serta pelatihan bagi perorangan dan instansi.
Strategi ini penting karena membuat internet tidak berhenti pada penjualan akses. INSANAK justru dipakai sebagai fondasi ekosistem ekonomi digital desa yang dapat terus berkembang sesuai kebutuhan pasar.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Sejiram dapat direplikasi oleh desa lain yang memiliki masalah akses internet dan pasar terbatas. Kuncinya adalah membangun layanan internet yang murah, memberi margin bagi warga, dan menempatkan BUMDesa sebagai pengelola utama.
Scale up dapat dilakukan melalui kemitraan antar-BUMDes seperti yang sudah dijalankan INSANAK. Saat satu desa menjadi pusat jaringan, desa lain bisa masuk sebagai mitra pelanggan, reseller, atau penyedia layanan lokal di wilayahnya masing-masing.
Pengalaman Sejiram membuktikan bahwa internet desa paling kuat ketika langsung terhubung dengan ekonomi warga. Jika desa lain mengadopsi pola yang sama, manfaatnya tidak hanya memperluas konektivitas, tetapi juga memperkuat PAD desa dan menciptakan kerja baru.
