Ringkasan Inovasi

BUMDes Tawangsari di Desa Ketawang memelopori pengembangan ekonomi kerakyatan melalui unit usaha pengelolaan air bersih dan swalayan [2]. Inisiatif bisnis pedesaan non-pariwisata ini bertujuan utama memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus menciptakan sumber pendapatan asli desa [3]. Lembaga ini dikelola sangat serius demi mewujudkan sebuah kemandirian finansial yang kokoh bagi seluruh penduduk desa setempat.

Kesuksesan operasional BUMDes ini telah membuktikan bahwa desa tanpa potensi wisata alam tetap mampu membangun kekuatan ekonomi hebat [3]. Dampak nyatanya adalah ketersediaan air murah yang merata serta berdirinya swalayan Tawang Gross sebagai pusat belanja termurah [4]. Pengembangan unit usaha ini bahkan sukses membuka keran penyerapan tenaga kerja lokal secara merata setiap tahunnya.

Nama Inovasi:Tawang Gross dan Pengelolaan Air Bersih BUMDes Tawangsari
Alamat:Desa Ketawang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Inovator:BUMDes Tawangsari (Kharisma Kevin Iskandar)
Kontak:malangkab.go.id / +62-341-392039

Latar Belakang

Desa Ketawang pada awalnya menghadapi tantangan berat akibat keterbatasan potensi sumber daya alam untuk sektor pariwisata [3]. Kondisi lingkungan yang serba minim ini sempat membikin laju roda perekonomian wilayah pedesaan berjalan sangat lambat. Sebagian besar warga desa saat itu terpaksa hanya bisa murni bergantung hidup pada rutinitas sektor pertanian konvensional saja.

Masyarakat setempat juga sangat membutuhkan akses layanan sarana air bersih yang murah dan berkualitas untuk kehidupan harian keluarga. Tarif layanan air minum milik pemerintah daerah dinilai masih terlalu membebani porsi pengeluaran uang belanja bulanan masyarakat. Kekeringan rutin saat musim kemarau di masa lalu senantiasa menyulitkan aktivitas domestik puluhan kepala rumah tangga setiap harinya.

Permasalahan berikutnya adalah ketiadaan pusat belanja grosir yang mampu menyuplai kebutuhan stok ratusan warung dagang kecil secara masif. Para pemilik warung kecil sering membuang ongkos transportasi mahal hanya untuk berbelanja kebutuhan jualan di kawasan perkotaan luar. Deretan permasalahan inilah yang kemudian ditangkap cerdik oleh jajaran aparatur pemerintah desa sebagai peluang membangun unit komersial menguntungkan.

Inovasi yang Diterapkan

Pemerintah desa secara sigap merespons pelbagai tantangan tersebut dengan meluncurkan operasional lembaga ekonomi BUMDes Tawangsari secara utuh [2]. Gagasan inovasi pertama berfokus tajam pada pembangunan fasilitas sentra pengeboran sumber air bersih secara amat mandiri dan profesional. Infrastruktur perairan baru ini dirancang cermat untuk sanggup mengalirkan kebutuhan pasokan air jernih ke ratusan rumah penduduk desa.

Inovasi kerakyatan kedua diwujudkan lewat pembentukan toko swalayan desa berkonsep ritel grosir modern bernama keren Tawang Gross [4]. Tawang Gross menerapkan kebijakan diskon harga berjenjang khusus bagi warga lokal yang bermaksud kulakan untuk dagangan warung mereka. Strategi pemasaran ini menjamin kehadiran swalayan sama sekali tidak mematikan usaha warung tetangga melainkan bertindak selayaknya mitra utama [1].

Proses Penerapan Inovasi

Tahapan perintisan unit layanan usaha perairan dimulai berani dengan mengucurkan modal seratus dua puluh juta rupiah dari dana desa. Modal awal raksasa ini dicairkan mutlak guna membiayai pengerjaan sumur bor sedalam enam puluh lima meter menembus mata air. Fasilitas sumur dan tabung tandon air tersebut langsung dikelola oleh lima orang pemuda desa sebagai barisan operator lapangan.

Implementasi pembangunan unit toko swalayan berjalan mulus berkat jalinan kerja sama strategis antara pengurus BUMDes dengan pihak pemasok swasta [2]. Pengurus secara berani mempertaruhkan tagihan utang senilai ratusan juta rupiah kepada rekanan konsultan demi membangun sistem perniagaan ritel mumpuni [1]. Manajer unit swalayan senantiasa rajin menyambangi rumah penduduk setiap harinya guna menyosialisasikan bahwa toko grosir merangkul warung lokal.

Eskalasi pengembangan ragam unit bisnis ini terus berjalan saat BUMDes meluncurkan pula program layanan tata kelola sampah lingkungan pinggiran. Petugas kebersihan gencar mendorong masyarakat desa membiasakan diri mengumpulkan sampah domestik ke dalam kantong plastik yang telah disediakan teratur. Layanan pengangkutan keliling ini sengaja difokuskan sebagai sarana tanggung jawab misi sosial tanpa menuntut pencapaian setoran target pendapatan tinggi.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kapasitas kepemimpinan inovatif direktur jajaran BUMDes dan figur teguh pemerintah desa sukses mengawal jalannya keragaman manuver bisnis yang kompleks [2]. Kejelian para pengurus membaca kebiasaan warga sukses memampukan mereka merancang skema bisnis perdagangan komersial berisiko rendah yang menguntungkan bersama. Sinergi padu antara deretan aparat perangkat pemerintahan desa dan pengelola unit sukses menciptakan iklim investasi komunal yang amat harmonis.

Kesediaan berutang pinjaman kepada pemasok swasta berhasil membuktikan tebalnya mentalitas ketangguhan wirausaha barisan pemuda pengurus lembaga unit desa tersebut [1]. Rumusan aturan tentang skema penggajian berbasis capaian omzet harian rupanya sangat ampuh membakar kobaran semangat kompetitif seluruh pegawai toko. Semakin tinggi frekuensi jumlah transaksi pembeli maka semakin tebal pula perolehan pembagian bonus gaji yang akan mereka kantongi nantinya.

Hasil dan Dampak Inovasi

Kinerja maksimal penyediaan layanan perairan bersih sukses besar memuaskan rutinitas domestik kepunyaan lebih dari dua ratus pelanggan rumah pedesaan. Tarif tagihan pemakaian sengaja ditarik amat sangat terjangkau yakni hanya diwajibkan menyetor dua ribu rupiah pada setiap hitungan meter kubiknya. Deret angka tagihan perairan ini rupanya memakan persentase pengeluaran jauh lebih ringan ketimbang biaya berlangganan milik layanan kawasan perkotaan.

Kehadiran pusat ritel Tawang Gross sukses luar biasa menyedot gelombang transaksi harian menembus belasan juta rupiah semenjak peresmian pertama [4]. Pendapatan putaran uang masif BUMDes ini menyumbang limpahan perolehan Pendapatan Asli Desa hingga berpuluh juta rupiah pada tiap tutup tahun. Segenap keuntungan manis finansial tersebut lantas disalurkan transparan guna merenovasi bangunan infrastruktur puluhan rumah ibadah masjid dan musala warga.

Dimensi kualitatif sukses memperlihatkan pencapaian membanggakan atas terbukanya lapangan rezeki bagi kelompok pengangguran serta kumpulan eks pekerja buruh pabrik. Armada truk jasa pengelolaan sampah BUMDes nyatanya juga sukses menanamkan kebiasaan hidup rapi bersih bagi tiga ratus keluarga pelanggan. BUMDes Tawangsari kini menjulang sebagai kebanggaan segenap warga setelah merebut takhta ketiga penghargaan BUMDes jawara tingkat hamparan Jawa Timur [3].

Tantangan dan Kendala

Langkah merintis pondasi unit swalayan nyatanya sempat tersendat kepanikan tatkala munculnya gelombang aksi protes keraguan dari sekelompok pedagang kecil [1]. Mereka sangat ketakutan memikirkan ancaman potensi kebangkrutan tragis atas lapak jualan sembako kecilnya ketika gedung grosir desa akhirnya dibuka mutlak. Gejolak penolakan mendadak ini menjadi tamparan relasi sosial terberat yang menuntut pengurus kelembagaan agar proaktif menenangkan kecurigaan warganya sendiri.

Kekosongan panduan legal formal secara administratif rupanya sempat membuat kebingungan para perangkat awal tatkala menyusun landasan aturan operasional sistem [2]. Kurangnya injeksi permodalan kas desa senantiasa pula menunda agenda pemborongan pasokan ragam produk yang diminta antusias oleh para pembeli [3]. Tetapi halang rintang berliku itu pelan tapi pasti tertangani seiring melebarnya pintu musyawarah diskusi antar pilar abdi pemerintah daerah.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Arah pelestarian usia unit komersial ditegakkan kukuh lewat komitmen penyelenggaraan penguatan kapasitas literasi administrasi perwakilan sumber daya manusia pengelola [3]. Kualitas kerja seluruh barisan karyawan ditelaah teramat tegas berdasarkan lembar evaluasi pencapaian yang digarap bersama kawalan akademisi perguruan tinggi [2]. Penegakan disiplin manajemen ini membentengi lembaga desa menolak masuknya segala celah penyakit korupsi yang rawan meruntuhkan tumpukan pundi kas.

Manajemen swalayan BUMDes berjanji mengikat rantai loyalitas para agen sekitar dengan menerapkan fasilitas ketetapan harga dasar kulakan teramat murah. Integritas moral membahagikan setoran persentase laba untuk kebutuhan amal lingkungan desa membikin penduduk terus mencintai keberadaan roda unit bisnis. Perawatan alat saringan air secara teknis dipastikan tidak pernah terlambat dilakukan oleh montir teknisi lapangan yang ahli memperbaiki kerusakan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Rentetan catatan emas sejarah keberhasilan unit BUMDes Tawangsari seketika memercikkan teladan wawasan bagi ribuan petinggi pedesaan wilayah pelosok nusantara [2]. Konsep skema pasar kemitraan ritel kolaboratif ini luar biasa direkomendasikan untuk langsung disalin oleh daerah pertanian yang minus destinasi rekreasi [3]. Puluhan kafilah perangkat birokrasi pedalaman silih berganti mampir bertandang melaksanakan studi banding seraya membawa pulang racikan ilmu desa Ketawang.

Target peta perlintasan perluasan wilayah pemasaran kelak difokuskan mengepung serapan rantai transaksi pembeli yang tumpah ruah melintasi kecamatan seberang. Gagasan mendirikan jasa lembaga layanan simpan pinjam permodalan UMKM diproyeksikan segera lahir membantu sokongan pembiayaan bibit wirausahawan baru pedesaan. Desain rapi siklus ekonomi pedesaan utuh ini menyematkan legitimasi desa Ketawang sebagai inkubator peradaban kemakmuran rakyat sejati yang terkemuka.

Daftar Pustaka

  1. Kompas.id, “BUMDes Tawangsari, Oase di Tengah Kerontang,” kompas.id, 26 Jun. 2019. [Online]. Tersedia: https://kompas.id/
  2. R. A. T. Wijaya, S. Zauhar, dan A. Muttaqin, “Collaborative Governance Dalam Pengembangan Bumdes Non Pariwisata Tawangsari Di Kabupaten Malang,” Repository Universitas Brawijaya, 2021. [Online]. Tersedia: https://repository.ub.ac.id/
  3. T. A. P. Ningsih, “Penguatan Kelembagaan BUM Desa Non Pariwisata di Kabupaten Malang (Studi Kasus di BUM Desa Tawang Sari, Desa Ketawang),” Repository Universitas Brawijaya, 28 Feb. 2024. [Online]. Tersedia: https://repository.ub.ac.id/
  4. DPMD Kabupaten Malang, “Katalog Produk Unggulan BUMDes Kab. Malang,” fliphtml5.com, 27 Feb. 2020. [Online]. Tersedia: https://fliphtml5.com/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.