Ringkasan Inovasi

Di Desa Sukamulia, wisata tidak dibangun sebagai tempat bermain air semata. Kebon Telaga dirancang sebagai destinasi yang menggabungkan kolam renang, perahu bebek, edukasi pertanian, dan dukungan bagi ketahanan pangan desa.

Inovasi ini lahir dari cara pandang yang sederhana tetapi tajam. Desa melihat persawahan, perkebunan, mata air, dan ruang desa yang tenang sebagai modal ekonomi yang bisa diolah bersama lewat BUMDes. Tujuan utamanya ialah meningkatkan PADes, memberi ruang rekreasi murah, dan menghadirkan wisata yang mendidik.

Nama Inovasi:Destinasi Wisata Kebon Telaga
Alamat:Desa Sukamulia, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Inovator:Pemerintah Desa Sukamulia bersama BUMDes Sukamulia
Kontak:belum tercantum

Latar Belakang

Sukamulia berada di Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dengan pusat pemerintahan kecamatan berada di Desa Sukamulia. Lanskap desa yang dikelilingi persawahan dan perkebunan memberi suasana alam pedesaan yang asri dan sejuk.

Sebelum Kebon Telaga berkembang, desa belum memiliki destinasi yang benar-benar mengintegrasikan rekreasi keluarga, edukasi pertanian, dan manfaat ekonomi desa dalam satu tempat. Padahal, kebutuhan warga terhadap ruang wisata murah dan dekat sangat besar, terutama untuk keluarga dan anak-anak saat akhir pekan.

Di sisi lain, desa juga membutuhkan aset produktif yang dapat dikelola bersama, bukan hanya bangunan yang selesai dibangun lalu berhenti memberi nilai. Karena itu, sebagian Dana Desa diarahkan untuk membangun unit usaha wisata yang bisa menghasilkan pendapatan berulang bagi desa.​

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah Destinasi Wisata Kebon Telaga, sebuah unit usaha BUMDes yang memadukan wisata air, agrowisata, dan program ketahanan pangan. Konsep ini sengaja dibuat berbeda dari kolam renang biasa agar pengunjung tidak hanya datang untuk berenang.

Di dalam kawasan ini terdapat tiga kolam utama. Dua kolam dipakai untuk berenang, sedangkan satu kolam digunakan untuk wahana perahu bebek dan sekaligus menjadi media pelepasan ikan air tawar. Ikan-ikan itu dibudidayakan untuk dipanen berkala sebagai bagian dari dukungan ketahanan pangan lokal.

Kebon Telaga juga dilengkapi green house yang berfungsi sebagai ruang belajar pertanian modern. Anak-anak dan pengunjung dapat melihat budidaya sayur dalam lingkungan terkontrol, sehingga pengalaman wisatanya terasa lebih kaya daripada sekadar bermain air.

Proses Penerapan Inovasi

Proses inovasi ini dimulai dari pembacaan potensi desa yang sangat dekat dengan kehidupan warga. Pemerintah desa melihat mata air alami, lahan pertanian, dan kebutuhan rekreasi keluarga sebagai unsur yang bisa dipadukan dalam satu model usaha desa.

Setelah gagasan terbentuk, pembangunan dilakukan bertahap dengan dukungan anggaran desa dan pengelolaan kolektif oleh BUMDes. Pendekatan ini penting karena desa ingin memastikan tempat wisata tersebut benar-benar menjadi aset bersama, bukan usaha individual yang terpisah dari tujuan pembangunan desa.

Tahap penerapan berikutnya adalah menata fungsi tiap fasilitas agar saling mendukung. Kolam renang menarik pengunjung keluarga, perahu bebek memberi pengalaman santai, dan green house menghadirkan sisi edukatif yang menjadi pembeda utama.

Perjalanan ini belum sepenuhnya tanpa hambatan. Pengelola mengakui promosi masih kurang masif dan akses jalan menuju lokasi belum sepenuhnya memadai, sehingga kunjungan dari luar desa belum optimal. Dari situ, desa belajar bahwa produk wisata yang baik tetap memerlukan pemasaran dan akses yang sama kuatnya.

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan Kebon Telaga sangat ditentukan oleh keberanian desa memilih model wisata yang punya banyak fungsi. BUMDes tidak hanya mengejar keramaian sesaat, tetapi membangun tempat yang bisa mendidik, menghibur, dan menghasilkan manfaat ekonomi secara bersamaan.

Faktor penting lain adalah kualitas sumber daya alam yang dimiliki desa. Air kolam bersumber dari mata air alami yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi, sehingga kejernihan dan kesegarannya menjadi keunggulan yang langsung dirasakan pengunjung.​

Penentu berikutnya adalah harga yang sangat terjangkau. Tiket masuk hanya Rp2.000 per orang, sedangkan wahana perahu bebek dikenakan tambahan Rp5.000 per putaran, sehingga tempat ini mudah diakses keluarga desa dan warga sekitar.

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling nyata terlihat pada cepatnya Kebon Telaga menjadi tujuan favorit warga sekitar. Kombinasi harga murah, fasilitas lengkap, dan suasana persawahan yang tenang membuat tempat ini ramai terutama saat hari libur.

Secara kuantitatif, pengelola menyebut pendapatan kotor pada akhir pekan yang ramai bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari. Angka ini menunjukkan bahwa wisata desa yang sederhana pun bisa memberi kontribusi ekonomi nyata ketika konsep dan pasarnya tepat.

Dampak lainnya tampak pada fungsi sosial dan pendidikan. Anak-anak tidak hanya berenang, tetapi juga dikenalkan pada teknologi pertanian di green house dan pada gagasan bahwa kolam wisata dapat sekaligus mendukung budidaya ikan.

Dari sisi desa, inovasi ini memperkuat posisi BUMDes sebagai motor ekonomi lokal. Keuntungan operasional tidak berhenti pada pengelola, tetapi diarahkan kembali menjadi bagian dari PADes dan program pembangunan desa lainnya.

Dampak kualitatifnya juga terasa pada citra desa. Sukamulia mulai dikenal bukan hanya sebagai wilayah agraris, tetapi sebagai desa yang mampu mengubah potensi air dan pertanian menjadi pengalaman wisata yang relevan dengan kebutuhan keluarga masa kini.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Kebon Telaga bergantung pada perawatan fasilitas, kualitas air, dan ketertiban pengelolaan BUMDes. Selama ketiga unsur itu dijaga, tempat ini akan tetap menarik bagi warga lokal yang menjadi pasar utamanya saat ini.

Strategi berikutnya ialah menyelesaikan fasilitas penunjang yang masih dalam tahap pengerjaan, lalu memperkuat promosi digital dan promosi dari mulut ke mulut. Pengelola sendiri optimistis bahwa ketika fasilitas sudah lengkap, kunjungan akan meningkat dengan sendirinya.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Kebon Telaga sangat mungkin direplikasi oleh desa lain yang memiliki sumber air, lahan terbuka, dan BUMDes yang aktif. Kuncinya bukan membangun tempat besar, melainkan merangkai potensi lokal menjadi pengalaman yang punya fungsi ekonomi, edukasi, dan sosial sekaligus.

Untuk scale up, Sukamulia perlu memperluas pasar dari pengunjung sekitar kecamatan menuju wisatawan dari luar Lombok Timur. Perbaikan akses jalan, promosi yang lebih terarah, dan penguatan paket wisata keluarga dapat membuat Kebon Telaga berkembang dari favorit lokal menjadi rujukan wisata desa yang lebih luas.