Ringkasan Inovasi

BUMDes Mandiri Desa Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, NTB, menginisiasi transformasi ekonomi desa dengan memadukan sistem pascapanen kakao berbasis fermentasi dan pengembangan agrowisata terpadu. Inovasi ini bertujuan memutus dominasi tengkulak yang merugikan petani sekaligus menciptakan nilai tambah tinggi bagi komoditas lokal yang selama ini terjual mentah dan murah.​

Hasilnya sungguh fenomenal: harga biji kakao melesat dari Rp20.000 menjadi Rp50.000 per kilogram berkat standar fermentasi ketat yang diterapkan. Ratusan keluarga petani di lereng Gunung Rinjani kini menikmati stabilitas pendapatan bulanan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, dengan perputaran transaksi tahunan BUMDes menembus angka setengah miliar rupiah.​

Nama Inovasi:Integrasi Fermentasi Kakao dan Agrowisata BUMDes Mandiri Selelosn
Alamat:Desa Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Inovator:Judin (Kepala Desa Selelos); Pengelola BUMDes Mandiri Selelos
Kontak:https://selelos.nusadesa.id/

Latar Belakang

Desa Selelos menyimpan rekam jejak panjang sebagai wilayah penghasil kakao unggulan sejak tahun 1980-an, ketika pemerintah mendistribusikan bibit kakao secara gratis kepada warga. Keberhasilan panen kala itu melambungkan predikat bergengsi “haji kakao” bagi masyarakat, karena banyak warga mampu menunaikan ibadah haji dari hasil perkebunan. Kualitas cokelat Desa Selelos bahkan sempat dikenal hingga ke pasar mancanegara.​

Memasuki era 2000-an, harga biji kakao kering anjlok drastis, bahkan pernah menyentuh angka Rp500 per kilogram — sebuah titik terendah yang mencekik denyut nadi ekonomi masyarakat. Kondisi ini berdampak langsung pada 90 persen warga desa yang menggantungkan hidup sebagai petani, dengan 467 kepala keluarga mengelola lahan kakao seluas 550 hektar. Mereka sangat mendambakan sistem tata niaga alternatif yang mampu memotong jalur tengkulak dan memberikan nilai tambah nyata.​

Persoalan kian pelik karena minimnya pemahaman petani tentang teknik pemeliharaan kebun yang sesuai Good Agricultural Practice (GAP). Para petani meyakini bahwa semakin lebat tanaman, semakin berlimpah hasil panen, padahal kerapatan tajuk justru menghambat sirkulasi udara dan memicu serangan hama. Ketergantungan berlebih pada pestisida kimia sintesis memperparah kondisi ini, merusak kesuburan tanah dan meningkatkan resistensi hama terhadap berbagai racun kimia (Jannah et al., 2024).​

Inovasi yang Diterapkan

Berangkat dari krisis panjang tersebut, Pemerintah Desa Selelos bersama BUMDes Mandiri merumuskan sistem pengelolaan kakao profesional dan terintegrasi. BUMDes mengambil peran strategis sebagai pusat penyerapan, pengolahan pascapanen, dan agen pemasaran tunggal, menggantikan posisi tengkulak yang selama ini mendominasi rantai distribusi.​

Inovasi ini bekerja dengan merombak total kebiasaan lama petani yang menjemur biji kakao basah di atas terpal plastik secara sembarangan. Biji kakao segar kini wajib melalui proses fermentasi terukur selama empat hingga lima hari sebelum memasuki fase pengeringan matahari di atas alas kayu khusus. Proses ini terbukti menjaga integritas aroma dan profil cita rasa autentik cokelat lokal yang diminati pasar premium. Menyempurnakan ekosistem ini, sektor perkebunan kemudian ditautkan dengan potensi wisata alam — wisatawan yang mengunjungi air terjun Tiu Saong, Tiu Frendo, dan mata air Kakong dapat menikmati pengalaman minum cokelat murni langsung di tengah kebun (Salkiah, 2023).​

Proses Penerapan Inovasi

Langkah awal bertumpu pada pemetaan potensi kewilayahan yang mengonfirmasi lahan produktif seluas 550 hektar dengan 467 kepala keluarga petani sebagai aktornya. BUMDes kemudian menjalin kemitraan strategis dengan PT OFI (Olam Food Ingredients) untuk menyelenggarakan pelatihan teknik pemangkasan, pemupukan, dan penyemprotan yang tepat sasaran bagi para pekebun desa. Mahasiswa KKN Universitas Mataram turut dilibatkan sebagai pendamping lapangan yang turun langsung ke kebun-kebun petani menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) (Jannah et al., 2024).

Penerapan di lapangan tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika petani masih ceroboh menangani pengeringan awal dengan alas terpal yang merusak struktur kualitas biji. Tim pengelola bergegas merumuskan ulang prosedur operasional standar secara ketat, dan sosialisasi mengenai ketepatan durasi fermentasi terus digencarkan tanpa henti. Pengembangan produk kakao di Kecamatan Gangga membuktikan bahwa optimalisasi pengeringan dan diversifikasi produk merupakan faktor kunci peningkatan daya saing dan keberlanjutan usaha (Wanita et al., 2024).​

Demi menekan biaya produksi dan memulihkan kesuburan lahan, program ini mengajarkan pembuatan pupuk kompos dari limbah kulit kakao menggunakan aktivator mikroba Trichoderma harzianum dan bahan organik pendukung. Warga dibimbing memproses limbah kulit kakao selama dua pekan hingga material organik terurai sempurna dan siap diaplikasikan ke lahan. Kandungan hara kompos dari limbah kakao terbukti kaya Nitrogen, Kalium, dan C-Organik yang bermanfaat memulihkan produktivitas tanah perkebunan (Goenadi & Away dalam Jannah et al., 2024).​

Faktor Penentu Keberhasilan

Kunci utama keberhasilan inovasi ini terletak pada kuatnya kelembagaan BUMDes Mandiri dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel sebagai wadah kepercayaan bersama antara pemerintah desa, petani, dan mitra swasta. Kepemimpinan visioner Kepala Desa Judin dalam mendorong transformasi pengelolaan kakao menjadi fondasi yang menjaga seluruh momentum inovasi tetap bergerak maju.​

Kolaborasi lintas sektor antara BUMDes, PT OFI, Universitas Mataram, dan kelompok sadar wisata setempat memperkuat kapasitas teknis petani secara berkelanjutan. Studi kasus di Kecamatan Gangga menunjukkan bahwa identifikasi kebutuhan pasar, penerapan teknologi pengolahan modern, serta penguatan sumber daya manusia merupakan pilar utama yang mendorong daya saing usaha berbasis kakao (Wanita et al., 2024). Kolaborasi lintas sektor inilah yang mengubah gagasan menjadi gerakan nyata yang dirasakan seluruh lapisan warga desa.​

Hasil dan Dampak Inovasi

Integrasi pascapanen modern dan agrowisata menghadirkan lompatan finansial yang luar biasa bagi masyarakat Desa Selelos. Harga biji kakao meroket dari Rp20.000 menjadi Rp50.000 per kilogram, dan petani kini mengamankan pendapatan bulanan stabil di kisaran Rp3–4 juta per bulan. Perputaran transaksi tahunan yang dikendalikan BUMDes Mandiri berhasil menembus angka Rp500 juta, dengan pembeli dari kota besar seperti Surabaya dan Bali.​

Dari sisi makro wilayah, Kecamatan Gangga tercatat sebagai kawasan dengan areal kakao terluas di NTB, mencapai 1.485,55 hektar dengan produksi tertinggi sebesar 577,85 ton dan rata-rata produktivitas 508,58 Kg/Ha (Dinas Pertanian KLU, 2016 dalam Jannah et al., 2024). Jerat ketergantungan warga terhadap tengkulak menurun drastis seiring semakin kokohnya fondasi kelembagaan BUMDes sebagai agregator penjualan tunggal. Masyarakat kini berdiri sebagai pelaku ekonomi kreatif yang berdaulat atas komoditas warisan leluhurnya.​

Dampak kualitatif tak kalah bermakna: intensitas penggunaan pestisida kimia menurun signifikan berkat program kompos organik berbasis limbah kakao yang terintegrasi dalam standar keanggotaan BUMDes. Integrasi pariwisata memantik lahirnya usaha mikro baru seperti industri rumahan pisang sale dan kopi lokal olahan warga, memperluas basis pendapatan keluarga tani. Pembentukan kelompok sadar wisata yang mengelola tiga destinasi air terjun — Tiu Saong, Tiu Frendo, dan mata air Kakong — semakin memperkuat ekosistem agrowisata desa (Salkiah, 2023).

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan bertani yang telah mengakar puluhan tahun, terutama keyakinan bahwa pohon yang lebat identik dengan panen yang berlimpah. Resistensi awal petani terhadap standar fermentasi dan pengeringan baru sempat memperlambat adopsi dan mempengaruhi konsistensi kualitas produk di tahap-tahap awal program.

Kendala struktural berupa keterbatasan pendidikan, minimnya pelatihan, dan migrasi tenaga kerja muda ke kota juga menjadi hambatan nyata dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao secara berkelanjutan (Wanita et al., 2024). Curah hujan tinggi yang khas kawasan lereng Rinjani meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit, terutama Vascular Streak Dieback yang ditandai bercak hitam pada buah kakao, sehingga memerlukan pengelolaan kelembapan yang ekstra cermat.​

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Mandiri Selelos merancang keberlanjutan melalui diversifikasi unit usaha, termasuk fasilitas simpan pinjam dan distribusi kebutuhan pokok, sebagai penyangga likuiditas di luar musim panen kakao. Langkah ini memastikan BUMDes tetap beroperasi melayani petani meski komoditas utama menghadapi tekanan cuaca atau fluktuasi permintaan pasar.​

Pengurus BUMDes tengah merancang strategi pemasaran digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk segmen milenial yang makin melirik produk cokelat premium artisanal. Implementasi pertanian organik berbasis kompos kakao dipertahankan sebagai syarat keanggotaan, memastikan kelestarian lingkungan dan kualitas produk berjalan beriringan. Program literasi keuangan dan manajemen usaha bagi anggota petani dipatenkan sebagai agenda pengembangan kapasitas sumber daya manusia tahunan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Kisah gemilang Desa Selelos menyimpan potensi besar untuk direplikasi oleh kawasan pedesaan lain yang memiliki komoditas unggulan serupa. Pengalaman pengembangan agrowisata berbasis kakao di kawasan Gangga, seperti model Kampung Coklat Senara di Desa Genggelang, membuktikan bahwa integrasi perkebunan dan pariwisata mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara ke Lombok Utara (Salako et al., 2018). Strategi awal replikasi mencakup penyusunan modul panduan komprehensif tentang teknik fermentasi standar dan tata kelola BUMDes berbasis komoditas lokal.​

Pemerintah Desa Selelos aktif menjalin forum pertukaran antardesa untuk menularkan pengalaman mengelola agrowisata perkebunan yang terintegrasi. Inisiatif ini bermuara pada penciptaan rute wisata terpadu antardesa sehingga manfaat kunjungan wisatawan tersebar lebih merata bagi seluruh komunitas tani. Visi jangka panjang Desa Selelos adalah mendirikan fasilitas pengolahan cokelat batangan skala menengah milik komunitas — sebuah model hilirisasi agraris yang diharapkan menginspirasi desa-desa agraris lain di seluruh nusantara untuk berani melangkah menuju hilirisasi penuh.​

Daftar Pustaka

Jannah, F. F., Scabra, A. R., Mantika, A. A., Fidhun, M., & Ummam, K. (2024). Optimalisasi tanaman kakao di Desa Selelos Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara melalui pengendalian hama dan penyakit serta pembuatan pupuk kompos dari limbah kakao. Jurnal Pepadu, 5(1), 115–122. https://doi.org/10.29303/pepadu.v5i1.4050

Kanaldesa.com. (2022). Haji kakao dari Desa Selelos.https://kanaldesa.com/artikel/haji-kakao-dari-desa-selelos

Salako, S., Santoso, B. B., & Hadi, A. P. (2018). Pengembangan agrowisata Kampung Coklat Senara Kabupaten Lombok Utara pra dan pasca bencana alam. Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility. https://prosiding-pkmcsr.org/index.php/pkmcsr/article/view/88

Salkiah, B. (2023). Identifikasi potensi desa wisata Selelos Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara. Jurnal Agroinovasi dan Lingkungan Tropis Nusa Tenggara.https://ejournalunwmataram.org/index.php/jaltn/article/download/437/905

Wanita, Y. P., et al. (2024). Analisis pengembangan produk lokal berbasis kakao di Kecamatan Gangga Provinsi Nusa Tenggara Barat. AGROFORETECH, 2(4), 1792–1808. https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/1630

 

___________________________________________

DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.