Ringkasan Eksekutif

BUMDes Genem menghadirkan terobosan strategis dalam pengelolaan komoditas nanas yang menjadi tulang punggung ekonomi Desa Lendang Nangka Utara. Inovasi ini bertujuan mengatasi fluktuasi harga pasar dan memotong rantai distribusi yang panjang melalui hilirisasi produk menjadi olahan bernilai tambah tinggi seperti keripik, selai, dan minuman segar. Langkah ini mengubah nasib petani dari sekadar penjual buah segar yang rentan merugi saat panen raya menjadi produsen pangan olahan yang memiliki daya tawar lebih kuat.

Dampak utamanya adalah terciptanya diversifikasi pendapatan bagi ribuan petani nanas di lereng Gunung Rinjani serta terbukanya akses pasar langsung ke sektor pariwisata premium di Lombok. Sinergi antara pemerintah desa, akademisi, dan BUMDes telah meletakkan dasar bagi transformasi ekonomi desa yang lebih tangguh dan mandiri. Model bisnis ini membuktikan bahwa komoditas lokal dapat naik kelas jika dikelola dengan manajemen yang tepat.

Nama Inovasi:Hilirisasi & Diversifikasi Produk Olahan Nanas Masbagik
Alamat:Desa Lendang Nangka Utara, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat
Inovator:Pemerintah Desa Lendang Nangka Utara & BUMDes Genem
Kontak:BUMDes Genem

Latar Belakang dan Masalah

Desa Lendang Nangka Utara di Kecamatan Masbagik dikenal sebagai sentra produksi nanas terbesar di Lombok Timur dengan hamparan perkebunan seluas sembilan ratus hektar. Namun, potensi besar ini seringkali menjadi bumerang bagi petani ketika musim panen raya tiba bersamaan dengan musim hujan, yang menyebabkan harga nanas jatuh ke titik terendah. Ketergantungan pada pengepul besar dan rantai pasar yang panjang membuat margin keuntungan yang diterima petani sangat tipis, padahal merekalah yang menanggung risiko budidaya terbesar.

Masyarakat membutuhkan solusi konkret untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan nilai jual komoditas unggulan mereka agar tidak dipermainkan oleh mekanisme pasar konvensional. Kebutuhan akan diversifikasi produk menjadi sangat mendesak karena penjualan buah segar saja tidak lagi cukup untuk menopang ekonomi keluarga di tengah kenaikan biaya hidup. Peluang pasar pariwisata Mandalika yang sedang berkembang pesat belum tergarap maksimal karena ketiadaan produk olahan nanas yang praktis dan tahan lama sebagai oleh-oleh.

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes Genem menerapkan inovasi hilirisasi dengan mengembangkan unit usaha pengolahan pascapanen yang memproduksi keripik nanas, selai, dan minuman sari buah. Inovasi ini lahir dari kolaborasi antara pemerintah desa dengan Universitas Mataram yang melihat potensi besar nanas Masbagik jika diolah dengan teknologi pangan yang tepat. BUMDes tidak hanya berfokus pada penjualan buah segar, tetapi mulai masuk ke ranah industri kreatif pangan untuk menciptakan nilai tambah.

Penerapan inovasi dilakukan dengan memberikan pelatihan teknis kepada kelompok petani mengenai cara pengolahan nanas yang higienis dan menarik secara kemasan. BUMDes juga mengambil peran sebagai agregator pemasaran yang menghubungkan produk olahan desa langsung ke hotel-hotel dan pusat oleh-oleh di Mataram. Strategi ini bekerja dengan memotong perantara dagang, sehingga keuntungan yang biasanya dinikmati pengepul besar kini bisa beralih ke kas desa dan kantong petani.

Selain produk olahan, BUMDes menerapkan inovasi layanan berupa penyaluran bantuan modal dalam bentuk barang kebutuhan pertanian, bukan uang tunai. Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar digunakan untuk peningkatan produktivitas kebun, bukan untuk keperluan konsumtif. Pendekatan ini mendidik petani untuk lebih disiplin dalam mengelola usaha taninya.

Metodologi dan Proses Inovasi

Pengembangan usaha dimulai dengan penyuntikan modal awal sebesar tujuh puluh lima juta rupiah pada tahun 2017 yang difokuskan untuk pengadaan sarana produksi bagi petani mitra. Pengelola BUMDes melakukan eksperimen pasar dengan membawa sampel nanas segar langsung ke pedagang di Mataram untuk menjajaki respon konsumen terhadap kualitas rasa nanas Lendang Nangka Utara. Tantangan terbesar muncul dari kebiasaan petani yang lebih suka menjual putus ke pengepul karena butuh uang cepat, meskipun harganya rendah.

Proses transformasi pola pikir dilakukan melalui pendampingan intensif dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang mengajarkan pentingnya pengolahan pascapanen. Kegagalan dalam menjaga konsistensi kualitas keripik nanas di masa awal produksi menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki standar operasional penggorengan dan pengemasan. Evaluasi rutin dilakukan untuk memantau serapan pasar terhadap produk olahan baru ini dibandingkan dengan penjualan buah segar konvensional.

Kolaborasi dengan akademisi Universitas Mataram menjadi metode kunci dalam riset pengembangan varian produk agar sesuai dengan selera wisatawan modern. BUMDes juga belajar dari kegagalan masa lalu di mana bantuan tunai seringkali disalahgunakan, sehingga mengubah model bantuan menjadi natural atau barang. Langkah metodologis ini secara bertahap membangun fondasi bisnis yang lebih sehat dan terukur.

Manfaat, Hasil, dan Dampak

Upaya BUMDes Genem mulai menunjukkan hasil dengan terbukanya akses pasar langsung ke beberapa hotel berbintang yang kini menjadi pelanggan tetap nanas segar Masbagik. Petani mulai merasakan stabilitas permintaan meskipun di luar musim panen raya, karena adanya unit pengolahan yang siap menyerap kelebihan produksi. Peningkatan modal desa sebesar tiga puluh tiga juta rupiah pada tahun 2021 membuktikan komitmen pemerintah desa untuk terus membesarkan skala usaha BUMDes.

Secara kualitatif, kesadaran masyarakat akan potensi nilai tambah nanas mulai tumbuh, terlihat dari munculnya kelompok-kelompok usaha kecil yang memproduksi keripik nanas skala rumah tangga. Desa Lendang Nangka Utara kini tidak hanya dikenal sebagai penghasil buah, tetapi mulai membangun citra sebagai desa wisata kuliner berbasis nanas. Kualitas nanas yang terjaga manis membuat produk desa ini memiliki branding kuat di pasar lokal Lombok.

Dampak ekonomi makro desa terlihat dari perputaran uang yang lebih cepat di tingkat petani karena adanya alternatif penjualan selain ke pengepul tradisional. Meskipun masih dalam tahap transisi manajemen, BUMDes telah berhasil meletakkan dasar sistem perdagangan yang lebih adil. Ribuan ton nanas yang dihasilkan setiap tahun kini memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar komoditas pasar tradisional.

Rencana Keberlanjutan

Strategi keberlanjutan BUMDes Genem difokuskan pada penguatan kelembagaan dengan segera membentuk manajemen baru yang profesional pasca-pemilihan kepala desa. Pengelola akan menyusun rencana bisnis jangka panjang yang mengintegrasikan perkebunan nanas dengan sektor pariwisata sebagai paket agrowisata unggulan. Keuntungan usaha akan diinvestasikan kembali untuk pengadaan mesin pengolahan yang lebih canggih guna meningkatkan kapasitas produksi keripik dan selai.

Kerjasama dengan event internasional seperti MotoGP Mandalika akan dijadikan target pasar utama untuk produk olahan nanas kemasan premium. BUMDes berencana membangun sentra oleh-oleh desa di pinggir jalan utama untuk menangkap peluang dari wisatawan yang melintas menuju Gunung Rinjani. Legalitas produk seperti sertifikat halal dan izin edar BPOM akan segera diurus untuk menembus pasar ritel modern.

Pendampingan kepada petani akan terus dilakukan untuk menjaga kualitas buah melalui peremajaan tanaman dan pemupukan berimbang. BUMDes berkomitmen menjadi penyangga harga saat harga pasar jatuh dengan cara membeli hasil panen untuk stok bahan baku industri pengolahan. Visi ke depan adalah menjadikan BUMDes Genem sebagai korporasi desa yang menguasai hulu hingga hilir bisnis nanas di Lombok Timur.

Strategi Replikasi dan Perluasan

Model hilirisasi komoditas perkebunan ini sangat potensial untuk direplikasi oleh desa-desa penghasil buah lain di Nusa Tenggara Barat yang menghadapi masalah fluktuasi harga serupa. BUMDes Genem siap berbagi pengalaman mengenai teknis pengolahan pascapanen dan strategi menembus pasar perhotelan kepada desa-desa tetangga. Kunci suksesnya terletak pada keberanian berinovasi produk dan kegigihan membangun jejaring pasar non-tradisional.

Strategi peningkatan skala usaha (scale up) akan dilakukan dengan menggandeng investor swasta untuk membangun pabrik pengolahan nanas skala menengah di desa. Diversifikasi produk akan diperluas ke limbah kulit nanas yang bisa diolah menjadi pupuk organik atau pakan ternak untuk menciptakan ekonomi sirkular. BUMDes juga berencana memperluas area pemasaran hingga ke luar pulau melalui platform perdagangan digital.

Pemerintah daerah diharapkan memberikan dukungan infrastruktur jalan usaha tani dan fasilitas rantai dingin (cold chain) untuk menjaga kesegaran buah saat pengiriman jarak jauh. Sinergi antar-BUMDes di Kecamatan Masbagik dapat dibangun untuk menciptakan klaster ekonomi nanas yang memiliki posisi tawar kuat di tingkat nasional. Dengan strategi ini, nanas Masbagik akan bertransformasi dari komoditas lokal menjadi produk unggulan nasional.