Ringkasan Inovasi
Desa Loleo di Kecamatan Morotai Jaya, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, mendirikan BUMDes berbasis perikanan pada tahun 2017 untuk mengoptimalkan potensi laut yang selama ini hanya dinikmati tengkulak, bukan nelayan. [1] BUMDes Desa Loleo mengoperasikan empat kapal tangkap skala kecil yang melibatkan 50 nelayan secara bergiliran, menampung seluruh hasil tangkapan, lalu memasarkannya langsung ke kota besar di Maluku hingga mengekspor tuna ke Vietnam dan Jepang. [2]
Inovasi ini memotong rantai tengkulak yang selama bertahun-tahun menekan harga ikan di tingkat nelayan dan memungkinkan nelayan mendapat pendapatan mingguan sekitar Rp 2 juta—sebuah lompatan kesejahteraan yang signifikan di wilayah kepulauan terpencil Maluku Utara. [1] BUMDes Desa Loleo membuktikan bahwa model bisnis perikanan berbasis desa yang sederhana namun dikelola dengan serius mampu menembus pasar internasional dan mengangkat martabat ekonomi nelayan kecil. [2]
| Nama Inovasi | : | BUMDes Perikanan Tuna Desa Loleo — Penampungan, Pemasaran, dan Ekspor Tuna Berbasis Komunitas Nelayan untuk Melindungi Petani Ikan dari Tengkulak |
| Alamat | : | Desa Loleo, Kecamatan Morotai Jaya, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara |
| Inovator | : | BUMDes Desa Loleo, diprakarsai oleh Kepala Desa Loleo Romli Marjan bersama komunitas nelayan Desa Loleo |
| Kontak | : | Romli Marjan (Kepala Desa Loleo) | Desa Loleo, Kecamatan Morotai Jaya, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara |
Latar Belakang
Kabupaten Pulau Morotai adalah kabupaten kepulauan di ujung utara Maluku Utara yang menyimpan potensi perikanan tuna yang luar biasa—ekspor tuna Morotai tumbuh dari 496 ton pada 2017 menjadi 2.612 ton pada 2021, menjadikannya salah satu sentra produksi tuna terpenting di Indonesia. [3] Namun di balik angka ekspor yang terus meningkat, para nelayan tradisional yang menangkap tuna dengan alat pancing tangan (handline) di pulau-pulau terpencil justru tidak menikmati nilai ekonomi komoditas yang mereka hasilkan sendiri. [3] Keterpencilan geografis membuat nelayan tidak memiliki akses langsung ke pasar kota, menciptakan ketergantungan penuh pada tengkulak yang mendikte harga.
Sebelum BUMDes hadir, para nelayan di Desa Loleo dan wilayah pesisir Morotai Jaya hanya bisa menjual tangkapan kepada tengkulak dengan harga yang sangat murah. [2] Tengkulak pun tidak mau membeli semua jenis ikan—hanya ikan dengan nilai jual tinggi seperti tuna yang diminati, sementara tangkapan lain terbuang sia-sia. [1] Kondisi ini menjebak nelayan dalam siklus kemiskinan: bekerja keras di laut dengan risiko tinggi, tetapi nilai yang diterima jauh di bawah harga riil pasar.
Riset tentang keterkaitan produksi tuna Maluku Utara dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat mengkonfirmasi bahwa meskipun perairan Maluku Utara menghasilkan 378.111 ton ikan pada 2022, banyak nelayan lokal masih menghadapi rendahnya daya saing dan pendapatan akibat lemahnya infrastruktur pengolahan, pemasaran, dan akses modal. [4] Kebutuhan akan lembaga penampungan dan pemasaran yang berada di pihak nelayan—bukan di pihak tengkulak—menjadi urgensi nyata yang mendorong Kepala Desa Romli Marjan dan komunitas Desa Loleo untuk mendirikan BUMDes perikanan. [5] Peluang yang ditangkap adalah memposisikan desa sebagai agregator yang menghubungkan nelayan langsung dengan rantai pasok ekspor tuna internasional.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari visi sederhana namun revolusioner: menempatkan BUMDes sebagai entitas bisnis yang bertindak sebagai “tengkulak desa” yang berada di pihak nelayan, bukan melawan mereka. [2] BUMDes Desa Loleo mengoperasikan empat kapal tangkap ikan skala kecil yang secara bergantian digunakan oleh 50 nelayan desa—memastikan seluruh nelayan memiliki akses ke armada penangkapan tanpa harus memiliki kapal sendiri. [1] Seluruh hasil tangkapan ditampung oleh BUMDes di fasilitas penampungan desa, kemudian dipasarkan ke kota-kota besar di Maluku dan diekspor ke pasar internasional di Vietnam dan Jepang.
Mekanisme ini bekerja dalam tiga tahap berkesinambungan: penangkapan kolektif menggunakan armada milik BUMDes, penampungan terpusat di gudang desa yang memungkinkan akumulasi volume yang cukup untuk memasok eksportir, dan distribusi ke mata rantai ekspor tuna melalui perusahaan pengolah ikan yang beroperasi di Morotai. [2] Dengan mengakumulasi tangkapan dari 50 nelayan yang bisa mencapai 800 kg per hari, BUMDes memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dibanding satu nelayan individu yang hanya bisa menjual 10–20 kg sekaligus. [1] Volume inilah yang membuka pintu ke pasar ekspor yang sebelumnya tidak bisa diakses oleh nelayan secara individual.
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari penggunaan Dana Desa untuk membiayai pengadaan kapal tangkap pertama—sebuah keputusan investasi yang berani karena mengalokasikan sebagian besar Dana Desa untuk aset produktif jangka panjang. [1] Pada fase awal, tantangan terbesar adalah membangun kepercayaan nelayan bahwa BUMDes akan benar-benar memberikan harga yang lebih baik dibanding tengkulak yang sudah mereka kenal selama bertahun-tahun. [1] Kepala Desa Romli Marjan mengambil pendekatan langsung: mengundang nelayan ke musyawarah desa, menjelaskan mekanisme BUMDes secara transparan, dan berkomitmen bahwa seluruh keuntungan yang dihasilkan akan kembali mengalir ke komunitas nelayan.
Dalam proses perkembangan, BUMDes membangun sarana penampungan ikan dari nelayan di luar desa—memperluas jangkauan agregasi tangkapan melampaui batas Desa Loleo sendiri. [2] Perluasan ini meningkatkan volume yang dapat dipasok ke eksportir, memperkuat posisi tawar BUMDes dalam negosiasi harga dengan perusahaan pengolah dan eksportir. [2] Dari sinilah mata rantai ekspor tuna ke Jepang dan Vietnam terhubung—BUMDes Desa Loleo menjadi salah satu simpul dalam rantai pasok tuna internasional yang sebelumnya hanya dikuasai pengusaha besar.
Proses ini tidak lepas dari tantangan teknis pengelolaan: kapasitas SDM pengelola BUMDes pada awalnya belum memadai untuk mengelola bisnis perikanan berskala ekspor. [5] BUMDes Desa Loleo belajar dari pengalaman bahwa model bisnis harus dipilih sesuai kapasitas yang ada—tidak terlalu rumit di awal, kemudian berkembang secara bertahap seiring meningkatnya kompetensi pengelola. [1] Prinsip “mulai sederhana, berkembang bertahap” ini menjadi pembelajaran berharga yang membedakan BUMDes yang bertahan dari yang bangkrut karena terlalu ambisius di awal.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan adalah keselarasan sempurna antara model bisnis dan potensi alam desa: Desa Loleo terletak di kawasan perairan yang kaya ikan tuna berkualitas ekspor, sehingga bisnis perikanan adalah pilihan paling logis dan paling mungkin berhasil tanpa membutuhkan transformasi besar pada cara hidup masyarakat. [1] Kepemimpinan Kepala Desa Romli Marjan yang berani menginvestasikan Dana Desa untuk aset kapal—bukan untuk proyek infrastruktur fisik yang lebih “aman” secara politis—adalah keputusan berani yang menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. [2]
Faktor kedua adalah ekosistem ekspor Morotai yang semakin matang: kehadiran perusahaan pengolah dan eksportir tuna yang beroperasi di Morotai—seperti PT Amy Pacific Morotai yang pada 2026 mengekspor 18 ton tuna ke Jepang—menciptakan infrastruktur pasar yang memungkinkan BUMDes desa kecil terhubung ke rantai pasok ekspor internasional tanpa harus membangun kapasitas ekspor sendiri. [6] Riset perikanan pancing ulur tuna skala kecil di Maluku mengkonfirmasi bahwa nelayan handline tuna Maluku sesungguhnya sudah memiliki efisiensi teknis yang tinggi—persoalannya bukan pada produksi tetapi pada akses pasar yang adil. [7] BUMDes Loleo menyelesaikan persoalan akses pasar inilah yang menjadi faktor paling kritis.
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling terukur dan langsung adalah peningkatan pendapatan nelayan: dengan BUMDes sebagai penampung dan pemasar, nelayan Desa Loleo mendapat pendapatan mingguan sekitar Rp 2 juta—sebuah angka yang bermakna bagi keluarga nelayan di pulau terpencil yang sebelumnya menjual ikan dengan harga jauh di bawah nilai pasarnya. [1] BUMDes bahkan menargetkan peningkatan pendapatan nelayan menjadi Rp 2,7 juta per minggu—komitmen yang menunjukkan bahwa kesejahteraan nelayan adalah KPI utama yang dikelola secara serius. [1]
Kemampuan BUMDes Desa Loleo menembus pasar ekspor ke Jepang dan Vietnam adalah capaian yang melampaui ekspektasi wajar dari sebuah BUMDes desa kepulauan yang berdiri baru dua tahun. [2] Capaian ini menempatkan Desa Loleo dalam ekosistem perdagangan internasional tuna yang bernilai miliaran rupiah, dan membuktikan bahwa nelayan kecil berbasis desa pun bisa menjadi bagian dari rantai pasok global jika diberi infrastruktur kelembagaan yang tepat. [3] Secara tidak langsung, BUMDes Loleo berkontribusi pada pertumbuhan ekspor tuna Morotai yang meningkat drastis dari 496 ton (2017) menjadi 2.612 ton (2021)—meskipun tidak seluruhnya berasal dari Loleo, BUMDes seperti ini adalah simpul-simpul agregasi yang membuat angka ekspor itu mungkin.
Dari sisi pemberdayaan kelembagaan desa, BUMDes Loleo menjadi contoh konkret bagaimana Dana Desa dapat diinvestasikan pada aset produktif—bukan sekadar infrastruktur fisik—untuk menghasilkan pendapatan berkelanjutan. [5] Keberhasilan ini mendorong Bupati Pulau Morotai untuk mendukung pembentukan 88 BUMDes dan Koperasi Nelayan di seluruh kabupaten—sebuah efek demonstrasi yang memperluas dampak inovasi Loleo ke skala kabupaten. [5]
Tantangan dan Kendala
Kendala SDM menjadi hambatan utama BUMDes perikanan di Morotai secara umum: tiga hal yang paling dibutuhkan adalah tenaga pendamping manajemen BUMDes yang kompeten, sistem teknologi informasi, dan infrastruktur pergudangan yang memadai. [5] Keterbatasan kapasitas penyimpanan berpendingin (cold storage) di tingkat desa membatasi volume tangkapan yang bisa disimpan sebelum dipasarkan—risiko pembusukan ikan selalu mengancam jika proses distribusi ke kota terlambat. [3] Infrastruktur cold chain yang andal adalah prasyarat teknis yang tidak bisa diabaikan untuk bisnis perikanan ekspor yang bertumpu pada kualitas produk.
Tantangan kedua adalah volatilitas harga tuna di pasar internasional yang langsung berdampak pada margin keuntungan BUMDes dan pendapatan nelayan. [4] Ketika harga tuna global turun—akibat oversupply musiman atau perubahan permintaan pasar Jepang—BUMDes tidak bisa langsung menyesuaikan biaya operasional, menciptakan tekanan finansial yang dapat mengancam keberlanjutan usaha. [3] Diversifikasi produk dan pasar menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas dan satu pasar ekspor saja.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan BUMDes Desa Loleo membutuhkan investasi berkelanjutan pada dua area: peningkatan armada kapal dari empat menjadi lebih banyak untuk meningkatkan kapasitas tangkap, dan pembangunan fasilitas cold storage di tingkat desa untuk mengatasi keterbatasan penyimpanan yang selama ini menjadi bottleneck. [5] Rencana BUMDes untuk meningkatkan pendapatan nelayan dari Rp 2 juta menjadi Rp 2,7 juta per minggu menunjukkan komitmen untuk terus mengoptimalkan kinerja bisnis—bukan sekadar mempertahankan status quo. [1] Target peningkatan pendapatan yang dikomunikasikan secara terbuka kepada nelayan juga berfungsi sebagai mekanisme akuntabilitas publik yang menjaga motivasi pengelola.
Sinergi dengan PT Amy Pacific Morotai dan perusahaan eksportir lain yang sedang membangun kapasitas ekspor tuna Morotai ke Jepang membuka peluang kemitraan jangka panjang yang menguntungkan kedua belah pihak. [6] Sertifikasi standar internasional untuk produk tuna—yang menjadi syarat mutlak masuk pasar Jepang—adalah investasi yang perlu ditempuh BUMDes Loleo untuk memastikan keberlanjutan akses ekspor. [6] Dukungan Bea Cukai Ambon dan BKHIT Maluku dalam memfasilitasi ekspor tuna Morotai memberikan jalur birokrasi yang lebih lancar bagi BUMDes seperti Loleo untuk memperluas volume ekspornya. [8]
Kontribusi Pencapaian SDGs
BUMDes Desa Loleo membuktikan bahwa sumber daya laut yang selama ini hanya menguntungkan perantara dapat, melalui inovasi kelembagaan yang tepat, langsung mensejahterakan nelayan yang paling rentan. [4] Dari satu BUMDes perikanan di kepulauan terpencil, dampak yang dihasilkan menjangkau lima tujuan SDGs sekaligus. [2]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | BUMDes memotong rantai tengkulak dan menjamin harga yang adil bagi nelayan, meningkatkan pendapatan mingguan nelayan Desa Loleo secara terukur dan langsung mengurangi kemiskinan keluarga nelayan di kepulauan terpencil Maluku Utara. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | : | Dengan meningkatkan pendapatan nelayan, BUMDes memperkuat ketahanan pangan keluarga nelayan yang sebelumnya hidup dalam ketidakpastian ekonomi—keluarga dengan penghasilan lebih baik memiliki akses lebih baik terhadap pangan bergizi. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Empat kapal BUMDes menciptakan pekerjaan berkelanjutan bagi 50 nelayan desa dengan sistem bergiliran yang adil, menjamin akses lapangan kerja bermartabat di sektor perikanan bagi seluruh nelayan Loleo tanpa diskriminasi. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | : | Penggunaan alat tangkap pancing ulur (handline) yang ramah lingkungan oleh nelayan BUMDes Loleo memastikan penangkapan tuna yang selektif dan tidak merusak ekosistem laut—praktik yang selaras dengan standar keberlanjutan yang dipersyaratkan pasar ekspor Jepang. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | : | Dengan menghapus peran tengkulak dan memberi nelayan kecil akses langsung ke rantai pasok ekspor internasional, BUMDes Loleo secara aktif mengurangi kesenjangan antara nelayan tradisional dan pelaku ekonomi besar dalam rantai nilai perikanan tuna. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kemitraan BUMDes dengan perusahaan eksportir tuna, dukungan Dana Desa dari pemerintah pusat, dan fasilitasi Bea Cukai serta BKHIT Maluku membuktikan bahwa kemitraan multipihak adalah kunci membuka akses pasar global bagi komunitas nelayan terpencil. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model BUMDes perikanan berbasis penampungan dan pemasaran kolektif seperti Desa Loleo sangat relevan untuk direplikasi di ratusan desa nelayan kepulauan di Maluku Utara, Maluku, NTT, Papua Barat, dan kepulauan Indonesia lainnya yang memiliki sumber daya laut melimpah namun nelayanya terjebak dalam siklus kemiskinan akibat dominasi tengkulak. [3] Kemendes PDTT dapat menyusun panduan BUMDes Perikanan Berbasis Ekspor berdasarkan pengalaman Desa Loleo yang mencakup: skema pengadaan kapal dari Dana Desa, mekanisme penampungan kolektif, dan strategi menghubungkan BUMDes dengan jaringan eksportir tuna. [1] Bupati Pulau Morotai sendiri sudah mengambil langkah scale up dengan mendukung pembentukan 88 BUMDes dan Koperasi Nelayan di seluruh Morotai—sebuah skala replikasi yang impressive.
Untuk scale up di tingkat nasional, model Desa Loleo membutuhkan satu ekosistem pendukung: akses permodalan untuk kapal dan cold storage melalui KUR Nelayan atau BUMDes Bersama, pelatihan manajemen bisnis perikanan bagi pengurus BUMDes, dan fasilitasi akses ke platform sertifikasi ekspor tuna. [5] Dengan target DKP Morotai memproduksi 2.000 ton tuna handline pada 2024, model agregasi BUMDes seperti Loleo adalah infrastruktur kelembagaan yang paling kritis untuk memastikan produksi itu mengalir ke nelayan, bukan ke tengkulak. [3]
Daftar Pustaka
[1] Kemendes PDTT / Rmol.id, “Desa Loleo Berikan Kiat Sukses Kelola BUMDes,” rmol.id, 24 Apr. 2019. [Online]. Available: https://rmol.id/read/2019/04/24/387419/desa-loleo-berikan-kiat-sukses-kelola-bumdes
[2] KanalDesa.com, “BUMDes Desa Loleo Menggali Potensi Laut,” kanaldesa.com, 14 Jul. 2022. [Online]. Available: https://kanaldesa.com/artikel/bumdes-desa-loleo-menggali-potensi-laut
[3] Mongabay Indonesia, “Mengurai Benang Kusut Perikanan Tuna di Morotai,” mongabay.co.id, 13 Mar. 2025. [Online]. Available: https://mongabay.co.id/2025/03/14/mengurai-benang-kusut-perikanan-tuna-di-morotai/
[4] I. A. Latuapo et al., “Keterkaitan Antara Produksi Tuna di Maluku Utara dengan Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat melalui Analisis SWOT,” Jurnal Pendidikan Perikanan Kelautan, Universitas Pendidikan Indonesia, 2025. [Online]. Available: https://ejournal.upi.edu/index.php/JPPK/article/view/90806
[5] DJPB Kemenkeu Kanwil Maluku Utara, “Meningkatkan Ekonomi Perdesaan melalui Penguatan Badan Usaha Milik Desa — Pernyataan Bupati Morotai Benny Laos,” djpb.kemenkeu.go.id. [Online]. Available: https://djpb.kemenkeu.go.id/kanwil/malut/id/data-publikasi/berita-terbaru/2893-meningkatkan-ekonomi-perdesaan-melalui-penguatan-bumdes
[6] JPNN.com, “Mantap! 18 Ton Tuna dan Balobo Asal Maluku Berhasil Tembus Pasar Jepang oleh PT Amy Pacific Morotai,” jpnn.com, 13 Mar. 2026. [Online]. Available: https://m.jpnn.com/news/mantap-18-ton-tuna-dan-balobo-asal-maluku-berhasil-tembus-pasar-jepang-1302067
[7] N. Badrudin et al., “Efisiensi Perikanan Pancing Ulur Tuna-Skala Kecil di Gugus Pulau 7 Maluku,” Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Balitbang KKP, Mei 2021. [Online]. Available: https://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/jkpi/article/view/9772
[8] Bea Cukai Ambon, “Ekspor Perdana Tuna ke Jepang, PT Amy Pacific Morotai Siap Lanjutkan Ekspor Berskala Besar,” ambon.beacukai.go.id, 23 Jan. 2026. [Online]. Available: https://ambon.beacukai.go.id/berita/ekspor-perdana-tuna-ke-jepang

SEMOGA DESA KAMI DI NATUNA BISA MENCONTOH KESUKSESAN DESA INI,,,MAJU TERUS DESA DI INDONESIA