Ringkasan Inovasi

Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, berhasil mengembangkan inovasi desa wisata berbasis masyarakat melalui pengelolaan Wisata Arenan Kalikesek oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Inovasi ini mengubah potensi alam lokal menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) yang berkelanjutan dan inklusif. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan seluruh warga desa secara langsung dan merata.

Dampak nyata inovasi ini terasa setiap menjelang Hari Raya Idulfitri, ketika pemerintah desa membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada seluruh kepala keluarga. Pada 2026, sebanyak 255 kepala keluarga menerima THR masing-masing sebesar Rp 1 juta, meningkat dari Rp 750 ribu pada 2025 dan Rp 500 ribu pada 2024. [1]

Nama Inovasi:Wisata Arenan Kalikesek Berbasis BUMDes untuk Kesejahteraan Warga Desa
Alamat:Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Sulistyo (Kepala Desa Sriwulan), Muhk. Aminatur Rohman (Ketua BUMDes Sriwulan Makmur), Arik (Pengelola Wisata Kalikesek)
Kontak:Website: dokar.kendalkab.go.id | Kantor Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal

Latar Belakang

Desa Sriwulan dihuni sekitar 255 kepala keluarga, dengan sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Keterbatasan sumber ekonomi membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan mendasar, terutama menjelang hari-hari besar seperti Idulfitri. [2]

Sebelum inovasi wisata ini hadir, desa tidak memiliki sumber PAD yang signifikan untuk mendanai program kesejahteraan warga. Pemerintah desa menyadari bahwa ketergantungan pada Dana Desa dari pusat saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Kondisi ini mendorong pemerintah desa dan warga untuk berpikir kreatif dalam memanfaatkan potensi alam yang selama ini belum tersentuh secara optimal.

Kawasan Kalikesek sesungguhnya menyimpan daya tarik alam yang kuat: deretan pohon aren yang rindang, aliran sungai jernih, dan udara segar di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Potensi ini belum dikelola secara terstruktur dan hanya dinikmati segelintir warga setempat. Pemerintah Desa Sriwulan melihat peluang besar untuk mengubah kekayaan alam ini menjadi aset ekonomi kolektif yang memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. [3]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari gagasan sederhana namun visioner: mengelola potensi alam Kalikesek secara profesional melalui BUMDes Sriwulan Makmur. BUMDes menjadi tulang punggung pengelolaan wisata dengan melibatkan warga secara langsung sebagai pengelola, tenaga kerja, dan penerima manfaat. Pendekatan ini berbeda dengan model wisata konvensional yang keuntungannya hanya dinikmati pihak tertentu. [4]

Wisata Arenan Kalikesek dikembangkan dengan berbagai fasilitas ramah pengunjung, seperti kolam renang, kolam terapi ikan, gazebo, spot foto alami, penyewaan kuda, jeep wisata, serta area bermain air di tepi sungai. Tarif masuk ditetapkan sangat terjangkau, yakni Rp 2.000 per orang, dengan parkir sepeda motor Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000. [3] Strategi harga murah ini justru mendorong volume kunjungan yang tinggi sehingga pendapatan agregat terus bertumbuh.

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan Wisata Kalikesek dimulai dengan identifikasi potensi alam desa oleh pemerintah desa bersama tokoh masyarakat dan pemuda setempat. Pemerintah desa kemudian memfasilitasi pembentukan BUMDes Sriwulan Makmur sebagai badan hukum pengelola resmi. Langkah awal difokuskan pada pembersihan dan penataan kawasan serta pembangunan fasilitas dasar yang mendukung kenyamanan pengunjung.

Pada fase pengujian, wisata dibuka dengan skala terbatas untuk mengukur antusiasme pengunjung dan mengidentifikasi kebutuhan fasilitas tambahan. Umpan balik pengunjung menjadi bahan evaluasi untuk memperluas wahana dan meningkatkan kualitas layanan. Ketika kunjungan terbukti meningkat secara konsisten, BUMDes mulai mengalokasikan sebagian laba untuk program sosial warga, termasuk THR menjelang Lebaran. [5]

Salah satu pembelajaran penting dari proses ini adalah bahwa keterlibatan aktif warga sejak tahap perencanaan menciptakan rasa kepemilikan kolektif yang kuat. BUMDes juga berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan UMKM lokal agar ekosistem ekonomi desa tumbuh lebih merata. Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal turut memberikan pembinaan teknis yang mempercepat pengembangan wisata. [3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan visioner Kepala Desa Sulistyo menjadi faktor kunci yang menggerakkan seluruh proses inovasi ini. Ia mampu membangun konsensus antara pemerintah desa, BPD, tokoh masyarakat, dan warga sehingga setiap keputusan strategis mendapat dukungan luas. Ketetapan untuk mendistribusikan keuntungan langsung kepada warga dalam bentuk THR menciptakan legitimasi sosial yang memperkuat keberlanjutan program. [1]

Faktor kedua adalah pengelolaan BUMDes yang transparan dan profesional di bawah kepemimpinan Muhk. Aminatur Rohman. Laporan keuangan yang terbuka dan mekanisme musyawarah dalam pengambilan keputusan membangun kepercayaan warga terhadap lembaga desa. Dukungan eksternal dari Disporapar Kabupaten Kendal yang menjadikan Kalikesek sebagai binaan pariwisata juga memperkuat kapasitas pengelolaan wisata secara signifikan. [3]

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara finansial, pendapatan wisata Kalikesek tumbuh pesat dari sekitar Rp 1 miliar pada 2024 menjadi Rp 1,4 miliar pada 2025. Setiap bulan wisata ini mampu menghasilkan antara Rp 80 juta hingga Rp 200 juta, dengan jumlah pengunjung rata-rata 15.000–40.000 orang per bulan. [5] Pada hari biasa, kunjungan harian mencapai 1.000–1.500 orang, dan meningkat drastis pada musim liburan. [2]

Program THR tahunan kini menyentuh 255 kepala keluarga dengan nilai Rp 1 juta per KK pada 2026, naik 100% dibanding nilai THR pertama di 2024. Selain THR, dana PAD juga dialokasikan untuk perbaikan fasilitas wisata, dana sosial bagi warga yang sakit, dukungan pendidikan bagi siswa berprestasi, serta pengembangan aset desa termasuk pembelian lahan baru. [4]

Dampak kualitatif yang dirasakan warga tak kalah bermakna. Warga seperti Khozin mengaku bisa membeli baju baru untuk keluarga tanpa harus berpikir dua kali. Ibu Yatimah yang lanjut usia merasa terbantu memenuhi kebutuhan beras dan kue Lebaran meski musim panen kurang berhasil. Secara sosial, inovasi ini menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) warga terhadap aset desa, mendorong partisipasi aktif dalam menjaga dan mengembangkan destinasi wisata bersama. [2]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah terbatasnya akses infrastruktur jalan menuju kawasan wisata. Jalan di ruas Limbangan menuju Desa Sriwulan dinilai terlalu sempit untuk menampung volume kendaraan wisatawan yang terus bertambah. Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan kunjungan, terutama pada musim liburan ketika antrean panjang kendaraan kerap terjadi. Pengelola wisata, Arik, secara terbuka meminta Pemerintah Kabupaten Kendal untuk memperlebar akses jalan tersebut demi mendukung perkembangan wisata. [4]

Tantangan lain adalah ketergantungan PAD desa yang masih sangat dominan pada satu sektor, yaitu wisata Kalikesek. Meski BUMDes telah memiliki enam unit usaha, kontribusi terbesar tetap berasal dari wisata, sehingga fluktuasi kunjungan—misalnya akibat cuaca ekstrem atau pandemi—dapat berdampak langsung pada kemampuan desa membiayai program kesejahteraan. Diversifikasi sumber pendapatan menjadi agenda strategis yang terus diupayakan pemerintah desa. [1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pemerintah Desa Sriwulan merancang strategi keberlanjutan jangka panjang yang bertumpu pada dua pilar utama: reinvestasi pendapatan dan perluasan program kesejahteraan. Sebagian keuntungan wisata secara konsisten diputar kembali untuk pengembangan fasilitas, pembelian lahan baru, dan peningkatan daya tarik destinasi. Dengan reinvestasi yang terencana, kualitas wisata terus meningkat dan kunjungan diharapkan tumbuh stabil dari tahun ke tahun. [4]

Pada sisi program kesejahteraan, pemerintah desa menargetkan menanggung iuran BPJS Kesehatan seluruh warga sebagai program prioritas tahun berikutnya. BUMDes juga terus mendiversifikasi unit usaha—mulai dari simpan pinjam, pengelolaan sampah, hingga jasa persewaan—untuk memperkuat ketahanan ekonomi desa dari guncangan eksternal. [2] Fondasi keberlanjutan ini juga diperkuat dengan partisipasi aktif lembaga desa seperti BPD, RW, RT, Linmas, dan PKK yang mendapat apresiasi tambahan atas kontribusi mereka.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi Desa Sriwulan telah menarik perhatian luas sebagai contoh konkret pengelolaan desa wisata yang berhasil mendistribusikan manfaat secara merata. Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Kabupaten Kendal, Ahmad Syahrul Falah, secara resmi menyebut Kalikesek sebagai salah satu contoh keberhasilan binaan yang layak direplikasi. [3] Model ini menunjukkan bahwa desa manapun yang memiliki potensi alam, komitmen pemimpin desa, dan BUMDes yang dikelola dengan baik dapat mengikuti jejak Sriwulan.

Untuk mendorong replikasi yang efektif, diperlukan tiga langkah strategis: pertama, dokumentasi model bisnis BUMDes Sriwulan sebagai panduan teknis bagi desa-desa lain; kedua, fasilitasi studi banding dari desa-desa lain ke Sriwulan agar pembelajaran bersifat langsung dan kontekstual; ketiga, dukungan Pemerintah Kabupaten Kendal dalam menyediakan pelatihan manajemen wisata desa dan akses pembiayaan awal. [6] Desa-desa lain di Jawa Tengah yang sudah mengadopsi model serupa, seperti Desa Wunut Klaten dan Desa Berjo Karanganyar, membuktikan bahwa model ini bersifat replikatif dan skalabel. [7]

Daftar Pustaka

[1] Redaksi Detik Travel, “Senyum Lebar Warga Desa Sriwulan: Cuan dari Pariwisata-Dapat THR Rp 1 Juta,” Detik Travel, 10 Mar. 2026. [Online]. Available: https://travel.detik.com. [Accessed: 17 Mar. 2026].

[2] Redaksi Good News From Indonesia, “Cerita Warga Sriwulan Kendal Kembangkan Wisata Kalikesek Sampai Bisa Bagi-Bagi THR,” Good News From Indonesia, 8 Mar. 2026. [Online]. Available: https://www.goodnewsfromindonesia.id. [Accessed: 17 Mar. 2026].

[3] Redaksi Lingkar TV, “Wisata Arenan Kalikesek Kendal: Healing Murah di Bawah Rindang Pohon Aren,” Lingkar TV, 1 Des. 2025. [Online]. Available: https://lingkartv.com. [Accessed: 17 Mar. 2026].

[4] Redaksi Demokrasi News, “BUMDes Sukses Kelola Wisata Kalikesek, Warga Sriwulan Dapat THR Tiap Tahun,” Demokrasi News, 10 Mar. 2026. [Online]. Available: https://demokrasinews.co.id. [Accessed: 17 Mar. 2026].

[5] Redaksi Tribun Banyumas, “Objek Wisata Kalikesek Membawa Berkah, Warga Sriwulan Kendal Terima THR Lebaran Rp750 Ribu Per KK,” Tribun Banyumas, 21 Mar. 2025. [Online]. Available: https://banyumas.tribunnews.com. [Accessed: 17 Mar. 2026].

[6] Redaksi Perwira Satu, “THR Wisata Desa Menggerakkan Perekonomian Warga,” Perwira Satu. [Online]. Available: https://perwirasatu.co.id. [Accessed: 17 Mar. 2026].

[7] Redaksi Indo Politika, “THR Desa dari Wisata Gunung Lawu: Inovasi Ekonomi atau Kebijakan Konsumtif?,” Indo Politika, 14 Mar. 2026. [Online]. Available: https://indopolitika.com. [Accessed: 17 Mar. 2026].

[8] Pemerintah Kabupaten Kendal, “Profil Desa Sriwulan,” Dashboard Desa Kabupaten Kendal. [Online]. Available: https://dokar.kendalkab.go.id. [Accessed: 17 Mar. 2026].

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.