Ringkasan Inovasi
Universitas Negeri Padang (UNP) melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) mendampingi Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, dalam dua inovasi sekaligus: peluncuran website desa interaktif dan pelatihan inovasi olahan pangan lokal. Kedua program ini berjalan pada tahun kedua pengabdian masyarakat yang didanai DPPM Kemendikti Saintek dan diketuai Prof. Dr. Anton Komaini, S.Si., M.Pd. [1].
Tujuan inovasi ini adalah memperkuat promosi digital Desa Matotonan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk pangan khas Mentawai. Dampaknya langsung terasa: desa pedalaman Mentawai kini hadir di ruang digital dunia, sementara 30 pelaku UMKM dari lima dusun memiliki keterampilan baru mengolah sagu, talas, dan pisang menjadi produk bernilai tinggi [2].
| Nama Inovasi | : | Website Desa Interaktif dan Inovasi Olahan Pangan Lokal Desa Matotonan “Bumi Sikerei” |
| Alamat | : | Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat |
| Inovator | : | Prof. Dr. Anton Komaini, S.Si., M.Pd. (Ketua Tim UNP) bersama Ezi Anggraini, M.Pd. (Dosen Tata Boga FPP UNP) dan Perangkat Desa Matotonan |
| Kontak | : | Website: desamatotonan.id LPPM UNP: lppm.unp.ac.id |
Latar Belakang
Desa Matotonan terletak di pedalaman Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, dan dihuni oleh suku Mentawai asli yang kaya tradisi dan budaya. Meski memiliki potensi wisata luar biasa, desa ini nyaris tak terlihat dalam peta wisata digital nasional maupun internasional [3].
Sebelum inovasi ini hadir, Desa Matotonan tidak memiliki platform digital resmi untuk mempromosikan dirinya. Informasi tentang keindahan alam, ritual Sikerei, dan potensi sport tourism hanya tersebar melalui cerita wisatawan yang telah berkunjung, tanpa saluran komunikasi yang terstruktur dan terpercaya [4].
Di sisi ekonomi, produk pangan lokal seperti sagu, talas, dan pisang selama ini hanya dikonsumsi sehari-hari tanpa pengolahan lebih lanjut menjadi produk bernilai jual. Padahal, bahan-bahan ini memiliki keunikan dan potensi besar untuk menjadi oleh-oleh khas yang memperkuat identitas wisata kuliner Mentawai [5].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi pertama adalah peluncuran website resmi Desa Matotonan di desamatotonan.id, yang dirancang sebagai portal informasi interaktif tentang wisata, budaya, pelayanan publik, dan pemerintahan desa. Website ini diluncurkan secara resmi pada 10 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Jadi Desa Matotonan ke-45, dan dihadiri langsung oleh Bupati Kepulauan Mentawai Dr. Rinto Wardana, S.H., M.H. [1].
Inovasi kedua adalah pelatihan pengolahan pangan lokal yang mengubah sagu, talas, dan pisang menjadi produk kuliner bernilai ekonomi tinggi. Dosen Tata Boga UNP, Ezi Anggraini, M.Pd., memandu 30 pelaku UMKM dari lima dusun untuk menguasai teknik pengolahan modern yang mempertahankan cita rasa lokal sekaligus meningkatkan daya saing produk di pasar wisata [2].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dengan asesmen kebutuhan desa pada tahun pertama program PDB UNP, yang mengidentifikasi dua kebutuhan utama: visibilitas digital dan penguatan ekonomi berbasis pangan lokal. Hasil asesmen ini menjadi fondasi perancangan program tahun kedua yang lebih terstruktur dan tepat sasaran [1].
Pada tahap pengembangan website, tim UNP melatih perangkat desa dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam pembuatan video promosi dan pengelolaan konten digital. UNP juga menyerahkan satu unit laptop kepada perangkat desa sebagai sarana operasional mandiri agar website dapat dikelola berkelanjutan setelah tim kampus kembali ke Padang [1].
Pelatihan pangan lokal berlangsung dalam format praktik langsung yang melibatkan 30 peserta UMKM dari lima dusun secara aktif. Pada sesi awal, tim menemukan bahwa sebagian peserta belum terbiasa dengan standar higienitas pengolahan produk untuk konsumsi wisatawan; evaluasi ini kemudian mendorong penambahan modul sanitasi dan pengemasan produk dalam sesi pelatihan lanjutan.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan Prof. Dr. Anton Komaini yang konsisten mendampingi desa selama dua tahun berturut-turut menjadi fondasi kepercayaan antara UNP dan masyarakat Matotonan. Pendekatan berkelanjutan ini memastikan setiap program berpijak pada kebutuhan nyata desa, bukan sekadar kegiatan akademis satu kali yang tidak berbekas [1].
Dukungan Bupati Kepulauan Mentawai Dr. Rinto Wardana beserta jajaran Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan menciptakan legitimasi politik yang kuat bagi program ini. Sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat desa menjadi kunci utama yang membuat inovasi ini berjalan lebih cepat dan berdampak lebih luas [1].
Hasil dan Dampak Inovasi
Peluncuran website desamatotonan.id membuka akses informasi Desa Matotonan ke seluruh penjuru dunia secara digital. Desa yang sebelumnya hanya dikenal dari mulut ke mulut kini dapat menjangkau calon wisatawan mancanegara melalui platform digital yang profesional dan mudah diakses [3].
Dari sisi ekonomi, 30 pelaku UMKM kini memiliki keterampilan mengolah produk pangan lokal yang siap dijual kepada wisatawan sebagai oleh-oleh khas Mentawai. Diversifikasi produk ini berpotensi meningkatkan pendapatan UMKM desa secara signifikan, mengingat Desa Matotonan masuk 300 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 [4].
Secara kualitatif, Bupati Kepulauan Mentawai menyatakan bahwa inovasi ini membuktikan desa di pedalaman pun mampu maju dan dikenal dunia dengan mengangkat budaya asli sebagai kekuatan utama. Kepala Dinas Pariwisata menilai sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat sebagai model pembangunan desa wisata berkelanjutan yang patut dicontoh [1].
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar adalah aksesibilitas geografis Desa Matotonan yang hanya bisa dijangkau dengan sampan pong-pong melewati sungai di pedalaman Siberut. Keterbatasan ini menyulitkan distribusi peralatan, konektivitas internet, dan mobilisasi tim selama pelaksanaan program [5].
Ketersediaan jaringan internet yang sangat terbatas di pedalaman Mentawai juga menjadi kendala dalam pengelolaan website secara real-time. Tim UNP mengatasi hambatan ini dengan membekali perangkat desa kemampuan offline content management dan menyusun jadwal pembaruan konten yang disesuaikan dengan ketersediaan sinyal di desa.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan website desa dijaga melalui penyerahan perangkat laptop dan pelatihan mandiri bagi perangkat desa serta Pokdarwis sebagai pengelola konten resmi. UNP merancang sistem pendampingan jarak jauh yang memungkinkan tim kampus terus membimbing pengelola website desa meski tidak hadir secara fisik [1].
Program pelatihan pangan lokal akan dilanjutkan dengan pendampingan sertifikasi produk dan pembukaan akses pasar ke jaringan wisata Mentawai yang lebih luas. UNP berkomitmen melanjutkan program PDB di Desa Matotonan pada tahun-tahun berikutnya sebagai bentuk tanggung jawab institusi akademik terhadap pembangunan desa mitra [2].
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model kolaborasi UNP dan Desa Matotonan ini berpotensi direplikasi di desa-desa wisata lain di Kepulauan Mentawai maupun wilayah adat terpencil di Sumatera Barat. UNP telah menerjunkan 5.051 mahasiswa KKN ke 159 desa di berbagai kabupaten/kota, membuka peluang luas untuk menduplikasi model serupa di desa-desa lain [6].
Dokumentasi lengkap program, modul pelatihan pangan, dan panduan pengelolaan website desa wisata disusun sebagai paket replikasi yang dapat digunakan oleh perguruan tinggi lain atau pemerintah daerah. Dengan rekam jejak Desa Matotonan masuk 300 Besar ADWI 2023, kisah sukses ini menjadi narasi inspiratif yang mendorong desa-desa lain untuk berani bertransformasi [4].
Daftar Pustaka
- Humas UNP, “UNP Dorong Desa Matotonan ke Panggung Dunia Lewat Website dan Inovasi Pangan Lokal,” unp.ac.id, 17 Agustus 2025. [Online]. Tersedia: https://unp.ac.id
- A. Komaini et al., “Pengembangan Desa Adat ‘Bumi Sikerei’ Matotonan (Desa Suku Asli Pedalaman Mentawai) Sebagai Desa Wisata Kelas Dunia Perpaduan Sport Tourism dan Wisata Budaya,” Garuda Kemendikti Saintek, 2024. [Online]. Tersedia: https://garuda.kemdiktisaintek.go.id
- Desa Matotonan, “Website Resmi Desa Matotonan,” desamatotonan.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://desamatotonan.id
- Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Matotonan – 300 Besar ADWI 2023,” jadesta.kemenpar.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id
- Majalah Intrust, “Ekowisata Desa Matotonan: Potensi dan Tantangan,” majalahintrust.com, 23 Oktober 2024. [Online]. Tersedia: https://majalahintrust.com
- Fajar Sumbar, “UNP Dorong Transformasi Desa Lewat KKN Kampus Berdampak,” fajarsumbar.com, 20 Mei 2025. [Online]. Tersedia: https://www.fajarsumbar.com
