Ringkasan Inovasi
Desa Paninggaran di Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi aglomerasi desa—model kolaborasi antardesa yang mengintegrasikan potensi lokal, mulai dari perkebunan teh, manggis, peternakan sapi perah, hingga pengembangan SDM melalui BLKK. Inovasi ini bertujuan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADesa), memperkuat tata kelola pemerintahan, dan menciptakan ekosistem ekonomi desa yang mandiri dan berdaya saing.
Pada 24 Februari 2025, Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, La Ode Ahmad P. Bolombo, mengapresiasi langsung keberhasilan Desa Paninggaran dan menyebutnya sebagai salah satu desa terhebat di Jawa Tengah dari 7.810 desa yang ada. [1] Desa ini telah meraih lebih dari 12 penghargaan di tingkat daerah, nasional, dan internasional, menjadikannya model replikasi inovasi desa di Indonesia.
| Nama Inovasi | : | Aglomerasi Desa Paninggaran — Kolaborasi Antardesa Berbasis Potensi Lokal |
| Alamat | : | Desa Paninggaran, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Paninggaran bersama BUMDes Parama dan Koperasi Petani Teh Berdikari Makmur |
| Kontak | : | Website: pekalongankab.go.id | Portal Prokompim: prokompim.setda.pekalongankab.go.id |
Latar Belakang
Desa Paninggaran berada di dataran pegunungan Kabupaten Pekalongan dengan penduduk sekitar 4.100 jiwa dan kekayaan alam berupa hamparan kebun teh, perkebunan manggis, dan sumber air bersih pegunungan. [2] Selama bertahun-tahun, potensi tersebut belum terkelola secara optimal karena desa berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi antardesa maupun antarlembaga.
Permasalahan klasik yang melemahkan desa adalah rendahnya PADesa, terbatasnya lapangan kerja lokal, dan lemahnya kapasitas SDM. [3] Produk unggulan seperti manggis harus diekspor melalui perantara di Tasikmalaya, sehingga nilai tambah ekonomi tidak dinikmati petani lokal secara penuh. [4]
Fenomena mudik tahunan yang membawa jutaan perantau pulang ke Jawa Tengah—lebih dari 60% pemudik nasional—sesungguhnya membuka peluang besar perputaran ekonomi di desa. [1] Namun tanpa daya tarik dan layanan yang memadai, pemudik hanya singgah sebentar lalu pergi berlibur ke kota lain, melewatkan potensi ekonomi desa yang sesungguhnya besar.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Desa Paninggaran adalah aglomerasi desa—sebuah pendekatan kolaborasi antardesa yang menggabungkan potensi wilayah secara terintegrasi. Model ini lahir dari kesadaran bahwa satu desa tidak cukup kuat berdiri sendiri, sehingga kerja sama dengan desa-desa tetangga menjadi kunci pertumbuhan. [5]
Inovasi ini diwujudkan melalui BUMDes Parama yang mengelola berbagai unit usaha, mulai dari pengolahan teh hijau Parama, kolam ikan, peternakan sapi perah, hingga pengelolaan tandon air bersih dan Gedung BLKK (Balai Latihan Kerja Komunitas). [3] BUMDes Parama berfungsi sebagai motor ekonomi desa yang menghubungkan produksi petani lokal dengan pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional melalui Koperasi Petani Teh Berdikari Makmur. [6]
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dengan pemetaan potensi desa secara partisipatif melalui musyawarah desa, melibatkan petani, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa. Pemerintah desa kemudian membentuk BUMDes Parama sebagai kelembagaan pengelola berbagai unit usaha secara profesional, dengan modal awal dari Dana Desa dan partisipasi masyarakat. [3]
Pengembangan produk teh hijau Parama dilakukan melalui serangkaian uji kualitas dan sertifikasi, hingga akhirnya berani mengikuti kompetisi internasional Golden Leaf Awards 2022 di Australia. [7] Proses ini tidak selalu mulus—awalnya petani ragu bahwa teh lokal pegunungan Pekalongan mampu bersaing dengan produk teh dari negara-negara maju—namun keyakinan pada kualitas bahan baku mendorong tim terus melangkah.
Untuk komoditas manggis, Bapperida Kabupaten Pekalongan melakukan kajian pada 2023 dan menemukan bahwa produksi manggis Paninggaran mencapai 1,5 juta kwintal per tahun, dengan 20% di antaranya berkualitas ekspor. [8] Pada Februari 2024 diinisiasi Pilot Project Food Estate Komoditas Manggis di Paninggaran untuk menyentralisasi pengelolaan dari penanaman, panen, grading, hingga distribusi secara mandiri.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan desa yang adaptif dan visioner menjadi fondasi utama keberhasilan inovasi Paninggaran. Pemerintah desa mampu membangun kepercayaan warga dan memobilisasi semua elemen—dari petani, koperasi, BUMDes, hingga OPD kabupaten—untuk bergerak dalam satu arah yang sama. [2]
Dukungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui Sekda M. Yulian Akbar dan berbagai OPD teknis turut memperkuat ekosistem inovasi desa. [1] Kolaborasi antara pemerintah desa, koperasi petani, BUMDes, sektor swasta, dan lembaga internasional menciptakan ekosistem inovasi yang tangguh dan mampu bertahan terhadap dinamika pasar.
Hasil dan Dampak Inovasi
Inovasi aglomerasi Desa Paninggaran menghasilkan dampak yang terukur: BUMDes Parama berhasil menambah PADesa dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. [3] Teh hijau Parama meraih medali perunggu (Juara 3) dalam Golden Leaf Awards 2022 di Australia pada kategori Feature Green Tea, bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai negara. [7]
Koperasi Berdikari Makmur mendapat undangan khusus untuk hadir di Australia Tea Expo 2023 di Melbourne—sebuah pengakuan internasional terhadap kualitas produk desa pegunungan ini. [6] Manggis Paninggaran sudah menembus pasar ekspor ke Tiongkok, Timur Tengah, hingga Belanda, dengan harga kualitas ekspor mencapai Rp 35.000 per kilogram, jauh di atas harga pasar lokal Rp 7.000–8.000 per kilogram. [9]
Secara kelembagaan, Desa Paninggaran meraih lebih dari 12 penghargaan, termasuk predikat Desa Anti Korupsi, dan menjadi satu-satunya desa dari 272 desa di Kabupaten Pekalongan yang mendapat kunjungan apresiasi langsung Dirjen Bina Pemdes Kemendagri. [5]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar adalah mengubah mindset masyarakat desa agar mau berkolaborasi, bukan bersaing. Ego sektoral antardesa dan kurangnya kepercayaan antarlembaga sempat menjadi hambatan awal dalam membangun model aglomerasi yang solid. [1]
Dari sisi produksi, pengelolaan manggis masih belum tersentralisasi dan masih bergantung pada rantai pemasaran melalui tengkulak dari Tasikmalaya, sehingga petani belum sepenuhnya menikmati nilai tambah produk mereka. [8] Keterbatasan kapasitas SDM dan infrastruktur pengolahan produk turunan juga menjadi kendala yang memerlukan intervensi berkelanjutan dari pemerintah kabupaten dan pusat.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi Desa Paninggaran ditopang oleh kelembagaan yang kuat: BUMDes Parama, Koperasi Berdikari Makmur, dan BLKK berfungsi sebagai pilar ekonomi jangka panjang yang tidak bergantung pada satu periode kepemimpinan. [3] Pengelolaan berbasis kelembagaan ini memastikan program tetap berjalan meski terjadi pergantian kepala desa.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan berkomitmen mendukung keberlanjutan melalui Pilot Project Food Estate Manggis dan penguatan BLKK sebagai pusat pelatihan keterampilan warga. [8] Integrasi antara wisata alam kebun teh, agrowisata, dan fasilitas ramah pemudik juga dirancang untuk memastikan aliran ekonomi berlanjut sepanjang tahun, tidak hanya saat musim lebaran.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Dirjen Bina Pemdes Kemendagri mendorong agar “virus inovasi” Desa Paninggaran menyebar ke seluruh 272 desa di Kabupaten Pekalongan melalui mekanisme diseminasi praktik terbaik yang difasilitasi Dinas PMD Provinsi Jawa Tengah. [2] Model aglomerasi desa Paninggaran dapat diadaptasi oleh desa-desa lain dengan menyesuaikan potensi komoditas lokal masing-masing, baik itu kopi, hasil laut, maupun produk kerajinan.
Diskusi lanjutan antara OPD teknis, camat, dan kepala desa se-Kabupaten Pekalongan sudah digagas untuk menjajaki penerapan konsep kerja sama antardesa secara sistematis. [1] Pemerintah berharap percepatan pembangunan desa yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa di Kabupaten Pekalongan dapat terwujud melalui sinergi kolaboratif yang terinspirasi dari Desa Paninggaran.
Daftar Pustaka
[1] Pemerintah Kabupaten Pekalongan, “Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kunjungi Desa Paninggaran, Dorong Inovasi dan Kolaborasi Antar Desa,” pekalongankab.go.id, 26 Feb. 2025. [Online]. Available: https://pekalongankab.go.id
[2] Prokompim Setda Kab. Pekalongan, “Dirjen Bina Pemdes Kemendagri Apresiasi Desa Paninggaran Sebagai Salah Satu Desa Berprestasi di Jawa,” prokompim.setda.pekalongankab.go.id, 24 Feb. 2025. [Online]. Available: https://prokompim.setda.pekalongankab.go.id
[3] E. Anggriani, “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program BUMDes Parama Desa Paninggaran,” Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2022. [Online]. Available: https://eprints.walisongo.ac.id
[4] Suara Keadilan, “Manggis Khas Paninggaran Tembus Pasar Asia dan Eropa,” suarakeadilan.net, 23 Mar. 2018. [Online]. Available: https://suarakeadilan.net
[5] Japos, “Dirjen Pemdes Kemendagri Apresiasi Desa Paninggaran Pekalongan Berhasil Lakukan Aglomerasi Desa,” japos.co, 1 Mar. 2025. [Online]. Available: https://www.japos.co
[6] H. Waluyo, “Teh Paninggaran Kian Mendunia,” Radar Pekalongan, 2022. [Online]. Available: https://radarpekalongan.disway.id
[7] Golden Leaf Awards, “Winner Profile: The Parama Balai Desa Paninggaran,” goldenleafawards.com.au, 2022. [Online]. Available: https://goldenleafawards.com.au
[8] Bapperida Kab. Pekalongan, “Sosialisasi Pilot Project Food Estate Komoditas Manggis di Paninggaran,” bapperida.pekalongankab.go.id, 29 Feb. 2024. [Online]. Available: https://bapperida.pekalongankab.go.id
[9] Jateng Tribunnews, “Manggis Asal Paninggaran Pekalongan Tembus Pasar Timur Tengah hingga Belanda,” jateng.tribunnews.com, 14 Mar. 2019. [Online]. Available: https://jateng.tribunnews.com
[10] T. D. Avrida, “Pengaruh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Profesionalisme Pengelolaan Aset Desa, dan Optimalisasi Pemanfaatan Aset Desa terhadap Pendapatan Asli Desa,” BILANCIA, vol. 8, 2024. [Online]. Available: https://ejournal.pelitaindonesia.ac.id
[1] Pemerintah Kabupaten Pekalongan, “Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kunjungi Desa Paninggaran, Dorong Inovasi dan Kolaborasi Antar Desa,” pekalongankab.go.id, 26 Feb. 2025. [Online]. Available: https://pekalongankab.go.id
[2] Prokompim Setda Kab. Pekalongan, “Dirjen Bina Pemdes Kemendagri Apresiasi Desa Paninggaran Sebagai Salah Satu Desa Berprestasi di Jawa,” prokompim.setda.pekalongankab.go.id, 24 Feb. 2025. [Online]. Available: https://prokompim.setda.pekalongankab.go.id
[3] E. Anggriani, “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program BUMDes Parama Desa Paninggaran,” Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2022. [Online]. Available: https://eprints.walisongo.ac.id
[4] Suara Keadilan, “Manggis Khas Paninggaran Tembus Pasar Asia dan Eropa,” suarakeadilan.net, 23 Mar. 2018. [Online]. Available: https://suarakeadilan.net
[5] Japos, “Dirjen Pemdes Kemendagri Apresiasi Desa Paninggaran Pekalongan Berhasil Lakukan Aglomerasi Desa,” japos.co, 1 Mar. 2025. [Online]. Available: https://www.japos.co
[6] H. Waluyo, “Teh Paninggaran Kian Mendunia,” Radar Pekalongan, 2022. [Online]. Available: https://radarpekalongan.disway.id
[7] Golden Leaf Awards, “Winner Profile: The Parama Balai Desa Paninggaran,” goldenleafawards.com.au, 2022. [Online]. Available: https://goldenleafawards.com.au
[8] Bapperida Kab. Pekalongan, “Sosialisasi Pilot Project Food Estate Komoditas Manggis di Paninggaran,” bapperida.pekalongankab.go.id, 29 Feb. 2024. [Online]. Available: https://bapperida.pekalongankab.go.id
[9] Jateng Tribunnews, “Manggis Asal Paninggaran Pekalongan Tembus Pasar Timur Tengah hingga Belanda,” jateng.tribunnews.com, 14 Mar. 2019. [Online]. Available: https://jateng.tribunnews.com
[10] T. D. Avrida, “Pengaruh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Profesionalisme Pengelolaan Aset Desa, dan Optimalisasi Pemanfaatan Aset Desa terhadap Pendapatan Asli Desa,” BILANCIA, vol. 8, 2024. [Online]. Available: https://ejournal.pelitaindonesia.ac.id
