Ringkasan Inovasi
Desa Cingkrong di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, membangun destinasi edukasi dan wisata bernama De Bale Cingkrong di atas lahan seluas 3.000 meter persegi menggunakan Dana Desa senilai Rp500 juta yang dikelola oleh BUMDes Cingkrong Makmur. [1] Mengusung konsep Fun and Education, De Bale menyajikan wahana outbond, taman lalu lintas, pembuatan batik tulis, permainan air, perahu bebek, spot selfie, dan gerai kuliner warga dalam satu kawasan yang sejuk dan rindang tepat di belakang kompleks Balai Desa. [2]
Diresmikan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni pada 10 April 2019, De Bale Cingkrong langsung disambut antusiasme wisatawan yang membludak saat akhir pekan dan hari libur. [3] Inovasi ini berhasil mengubah lahan desa yang sebelumnya hanya menjadi halaman balai desa menjadi mesin penghasil Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga yang mayoritas sebelumnya bekerja sebagai petani dengan akses ekonomi yang terbatas. [4]
| Nama Inovasi | : | De Bale Cingkrong — Wahana Edukasi dan Wisata Berbasis BUMDes dengan Konsep Fun and Education |
| Alamat | : | Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah (di belakang kompleks Balai Desa Cingkrong) |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Cingkrong (Kepala Desa Jasmi) bersama BUMDes Cingkrong Makmur, difasilitasi Pemerintah Kabupaten Grobogan |
| Kontak | : | Jadesta Kemenpar: jadesta.kemenpar.go.id/desa/de_bale_cingkrong | Jalan Desa Cingkrong Belakang Balai, Kec. Purwodadi, Kab. Grobogan, Jawa Tengah 58114 |
Latar Belakang
Sebelum De Bale Cingkrong berdiri, mayoritas warga Desa Cingkrong menggantungkan hidup pada sektor pertanian yang pendapatannya tidak menentu dan bergantung musim. [4] Lapangan kerja di desa sangat terbatas, mendorong banyak warga usia produktif untuk mencari penghasilan di luar desa, sementara potensi lahan dan sumber daya desa belum dioptimalkan secara ekonomis. [4] Kompleks Balai Desa beserta lahan di belakangnya terbengkalai, tidak memberikan manfaat ekonomi apapun bagi masyarakat. [3]
Ketika Dana Desa mulai bergulir, pemerintah desa dihadapkan pada pilihan strategis: menggunakan dana untuk pembangunan fisik semata atau merancang investasi yang menghasilkan pendapatan jangka panjang. [1] Kepala Desa Jasmi dan pengurus BUMDes Cingkrong Makmur menangkap peluang bahwa Kabupaten Grobogan minim destinasi wisata keluarga yang edukatif dan terjangkau, sementara permintaan masyarakat terhadap wahana rekreasi berbasis alam semakin meningkat. [2] Kombinasi antara ketersediaan lahan desa, Dana Desa yang bisa dioptimalkan, dan ceruk pasar wisata keluarga yang belum terisi mendorong lahirnya gagasan De Bale Cingkrong. [1]
Studi banding menjadi titik penting dalam merumuskan konsep De Bale. [5] Penasihat BUMDes Cingkrong Makmur memiliki jaringan dengan PT Bangkit Jaya, kontraktor yang sebelumnya berhasil membangun Geopark Karangsari dan Kampung Semar, dua destinasi wisata yang sudah berhasil di Jawa Tengah. [5] Dari pengalaman dan jaringan inilah ide mengintegrasikan edukasi, permainan tradisional, outbond, dan kuliner lokal dalam satu kawasan terpadu mulai dikristalisasikan menjadi konsep yang konkret. [5]
Inovasi yang Diterapkan
De Bale Cingkrong adalah destinasi eduwisata terpadu yang secara harfiah mengubah halaman belakang balai desa menjadi taman bermain dan belajar yang terbuka untuk umum. [2] Wahana utamanya meliputi taman lalu lintas untuk edukasi berkendara anak-anak, workshop batik tulis yang mengajarkan seni budaya lokal, area outbond seluas 1.500 meter persegi yang menyediakan permainan tali, jembatan gantung, dan fly fox, serta kolam air dengan fasilitas perahu bebek dan perahu rakit yang bisa disewa pengunjung. [2] Kolam besar di tengah kawasan juga dilengkapi dermaga yang berfungsi ganda sebagai panggung pertunjukan seni saat ada acara komunitas. [6]
Sistem pengelolaan berjalan dengan BUMDes Cingkrong Makmur sebagai operator utama yang merekrut karyawan dari warga desa sendiri, mulai dari petugas tiket, keamanan, pemandu outbond, hingga pengelola fasilitas. [4] Gerai kuliner dikelola langsung oleh warga yang menyewa lapak, sementara lahan outbond merupakan lahan warga yang disewa BUMDes secara berkala, sehingga manfaat ekonomi menyebar ke lebih banyak keluarga di luar struktur karyawan formal. [6] Model ini memastikan bahwa De Bale bukan sekadar unit usaha BUMDes, melainkan ekosistem ekonomi mini yang menggerakkan seluruh lapisan masyarakat desa. [4]
Proses Penerapan Inovasi
Proses pembangunan De Bale Cingkrong berjalan sangat cepat — hanya empat bulan dari Januari 2019 hingga peresmian April 2019 — berkat jaringan BUMDes dengan PT Bangkit Jaya sebagai mitra pembangunan yang berpengalaman. [5] Kecepatan pembangunan ini tidak mengorbankan kualitas karena PT Bangkit Jaya membawa pengalaman langsung dari proyek Geopark Karangsari dan Kampung Semar yang konsepnya menjadi referensi utama De Bale. [5] Proses ini membuktikan bahwa kemitraan strategis dengan pihak yang tepat dapat mengakselerasi pembangunan desa secara signifikan. [3]
Sebelum pembukaan, seluruh karyawan De Bale — mulai dari petugas tiket, keamanan, hingga pemandu outbond — menjalani pelatihan intensif yang melibatkan Camat Tegowanu Yunus Suryawan, seorang praktisi outbond berpengalaman yang juga terlibat dalam pengembangan wahana Cindelaras. [5] Pelatihan mencakup keterampilan teknis outbond, public speaking, dan tata boga untuk pengelola gerai kuliner, memastikan bahwa karyawan yang direkrut dari warga desa memiliki kompetensi profesional yang sesuai. [4] BUMDes bahkan menyediakan fasilitas latihan mandiri di dalam kawasan De Bale sehingga pengembangan kapasitas SDM berlangsung berkelanjutan setelah pelatihan formal selesai. [5]
Pada tahap awal, terdapat tantangan dalam membangun kepercayaan warga untuk terlibat sebagai penyewa lapak kuliner dan pemilik lahan outbond yang disewa BUMDes. [4] BUMDes menyikapi hal ini dengan transparansi pembagian hasil dan skema sewa yang adil, serta membuka ruang bagi warga berbakat seni untuk tampil di kawasan De Bale tanpa biaya bahkan dengan imbalan. [5] Pendekatan inklusif ini secara bertahap mengubah persepsi warga dari penonton menjadi pelaku aktif dalam ekosistem wisata desa. [4]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor paling menentukan adalah kepemimpinan visioner Kepala Desa Jasmi yang berani mengalokasikan Rp500 juta dari APBDes untuk investasi unit usaha BUMDes — sebuah keputusan yang tidak lazim di banyak desa yang lebih memilih pembangunan fisik infrastruktur. [1] Keberanian ini didukung oleh keyakinan bahwa wisata berbasis komunitas memiliki multiplier effect yang jauh lebih besar dibandingkan pembangunan fisik satu kali pakai, karena menghasilkan arus pendapatan yang berkelanjutan bagi BUMDes dan PADes. [3] Apresiasi langsung dari Bupati Sri Sumarni saat peresmian yang menyebut De Bale sebagai inspirasi bagi desa lain di Grobogan juga memberikan dorongan moral dan legitimasi politik yang memperkuat keberlanjutan program. [3]
Faktor kedua adalah kemitraan strategis dengan PT Bangkit Jaya dan Camat Tegowanu yang membawa keahlian teknis pembangunan wisata dan pelatihan SDM yang tidak dimiliki desa secara mandiri. [5] Penelitian tentang pengembangan desa wisata berbasis outbond menunjukkan bahwa kualitas pemandu dan fasilitas merupakan faktor utama kepuasan pengunjung yang mendorong kunjungan ulang dan rekomendasi dari mulut ke mulut. [7] Investasi awal pada pelatihan SDM inilah yang menjadi fondasi reputasi De Bale sebagai destinasi wisata keluarga yang ramah dan profesional. [4]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak ekonomi De Bale Cingkrong terasa langsung pada kehidupan warga: masyarakat yang sebelumnya hanya bekerja sebagai petani kini mendapat pekerjaan sebagai karyawan BUMDes, mendapat pelatihan tata boga profesional, mendapat pelatihan public speaking, dan mendapat pelatihan outbond yang meningkatkan nilai jual diri mereka di pasar tenaga kerja. [4] Pengelola warung makan, penjual suvenir, pemilik lahan parkir, dan produsen keripik yang disuplai ke De Bale merasakan peningkatan pendapatan signifikan seiring dengan bertumbuhnya kunjungan wisatawan. [4] Penelitian UIN Walisongo Semarang (2021) tentang pemberdayaan ekonomi melalui De Bale menyimpulkan bahwa wisata ini berhasil meningkatkan taraf hidup mandiri, memperluas lapangan kerja, dan mempererat kohesi sosial masyarakat Desa Cingkrong. [4]
Secara operasional, De Bale mencatat lonjakan kunjungan yang konsisten pada akhir pekan dan hari libur nasional, menjadikannya salah satu destinasi wisata keluarga baru yang diperhitungkan di Kabupaten Grobogan. [2] Visit Jawa Tengah memasukkan De Bale Cingkrong dalam direktori resmi destinasi wisata Kabupaten Grobogan, meningkatkan visibilitas dan aksesibilitasnya bagi wisatawan luar daerah. [8] Inovasi ini juga terdaftar dalam platform Jadesta milik Kementerian Pariwisata sebagai desa wisata aktif yang menjadi referensi pengembangan desa wisata nasional. [9]
Dari sisi tata kelola, keberhasilan De Bale memperkuat kapasitas kelembagaan BUMDes Cingkrong Makmur sebagai entitas bisnis yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pemberdayaan. [4] BUMDes yang kuat ini pada gilirannya menjadi modal sosial dan kelembagaan yang mendukung pengembangan unit usaha baru di luar sektor pariwisata, memperluas sumber PADes dan mengurangi ketergantungan desa pada transfer pemerintah pusat. [1]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi kualitas layanan dan perawatan fasilitas seiring meningkatnya volume kunjungan wisatawan tanpa dukungan sumber daya manusia dan anggaran yang proporsional. [7] Wahana outbond yang melibatkan peralatan fisik seperti tali, jembatan gantung, dan fly fox membutuhkan inspeksi keselamatan rutin yang intensif, sementara kapasitas teknis SDM BUMDes dalam pengelolaan keselamatan wisata petualangan perlu terus ditingkatkan. [7]
Tantangan kedua adalah persaingan dengan destinasi wisata baru yang terus bermunculan di Grobogan dan sekitarnya, terutama destinasi berbasis alam atau tematik yang menawarkan pengalaman baru. [2] De Bale perlu terus berinovasi dalam menambah atraksi, memperbarui wahana, dan meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung agar tidak tergerus oleh tren wisata yang berubah cepat, sebuah tantangan yang membutuhkan investasi berkelanjutan dari PADes dan BUMDes. [4]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan De Bale Cingkrong bertumpu pada model bisnis BUMDes yang sehat, di mana pendapatan dari tiket masuk, sewa lapak, penyewaan wahana, dan layanan outbond diputar kembali untuk pemeliharaan fasilitas, pengembangan wahana baru, dan pelatihan SDM secara berkala. [4] Sebagian keuntungan BUMDes juga disetor sebagai PADes yang dapat digunakan untuk membiayai program sosial desa, menciptakan siklus ekonomi yang mandiri dan tidak bergantung terus-menerus pada Dana Desa. [1]
Penguatan pemasaran digital melalui platform Jadesta, media sosial, dan kolaborasi dengan platform perjalanan daring seperti Trip.com membuka jangkauan promosi De Bale ke pasar wisatawan yang lebih luas di luar Grobogan. [9] Konsep Fun and Education yang sejalan dengan tren wisata edukatif pasca-pandemi memberi De Bale posisi yang relevan dan bertahan lama, karena kebutuhan orang tua akan destinasi wisata yang sekaligus mendidik anak terus meningkat di berbagai lapisan masyarakat Indonesia. [7]
Kontribusi Pencapaian SDGs
De Bale Cingkrong merupakan bukti nyata bahwa Dana Desa yang diinvestasikan secara strategis dapat secara serentak berkontribusi pada berbagai dimensi SDGs — dari pengurangan kemiskinan, pendidikan berkualitas, hingga penguatan kelembagaan desa yang akuntabel. [1] Model BUMDes wisata edukatif ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak harus memilih antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai sosial-budaya, karena keduanya dapat berjalan beriringan dalam satu desain inovasi yang inklusif. [4]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | De Bale membuka sumber penghasilan baru bagi warga yang sebelumnya hanya bergantung pada pertanian musiman, melalui lapangan kerja sebagai karyawan BUMDes, penyewa lapak kuliner, pengelola parkir, dan pemasok produk UMKM ke kawasan wisata. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | : | Wahana taman lalu lintas dan workshop batik tulis di De Bale memberikan pengalaman belajar berbasis praktik yang memperkaya pendidikan anak di luar kelas, menjadikan wisata sebagai media pembelajaran yang menyenangkan dan terjangkau bagi keluarga. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | BUMDes Cingkrong Makmur sebagai pengelola De Bale menciptakan lapangan kerja layak bagi warga desa dengan pelatihan profesional tata boga, public speaking, dan outbond, mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan berbasis potensi lokal. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | : | Model distribusi manfaat De Bale yang menyertakan pemilik lahan warga, penyewa lapak, dan pengrajin UMKM lokal memastikan pertumbuhan ekonomi desa tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak, melainkan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat Desa Cingkrong. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | : | Transformasi lahan balai desa yang terbengkalai menjadi ruang publik edukatif dan rekreatif bagi seluruh warga menciptakan lingkungan desa yang lebih inklusif, produktif, dan nyaman sebagai tempat tinggal sekaligus tujuan wisata yang membanggakan. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, PT Bangkit Jaya sebagai mitra pembangunan, Camat Tegowanu sebagai pelatih SDM, dan Pemkab Grobogan sebagai fasilitator membuktikan kemitraan multipihak sebagai kunci percepatan pembangunan desa wisata yang berkualitas. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model De Bale Cingkrong sangat relevan direplikasi oleh desa-desa di Jawa yang memiliki lahan desa yang belum dioptimalkan dan Dana Desa yang cukup untuk investasi awal unit usaha BUMDes berbasis wisata. [1] Tiga elemen inti yang dapat ditransfer secara langsung adalah: konversi lahan balai desa menjadi destinasi eduwisata, pembentukan BUMDes sebagai operator profesional dengan pelatihan SDM berbasis kompetensi, dan model distribusi manfaat yang menyertakan warga sebagai penyewa lapak dan pemilik lahan. [4] Bupati Grobogan Sri Sumarni pun secara eksplisit menyebut De Bale sebagai inspirasi yang perlu dicontoh desa-desa lain di Kabupaten Grobogan dalam pidato peresmiannya. [3]
Untuk scale up, Kementerian Desa PDTT dapat mengembangkan modul “Desa Eduwisata BUMDes” berbasis pengalaman De Bale Cingkrong yang mencakup panduan perencanaan anggaran APBDes untuk investasi wisata, template pengelolaan BUMDes unit usaha wisata, dan kurikulum pelatihan SDM berbasis kompetensi wisata desa. [1] Konsep Fun and Education yang diterapkan De Bale memiliki relevansi universal karena hampir setiap desa dapat mengidentifikasi unsur budaya, kearifan lokal, atau potensi alam yang dapat dikemas sebagai atraksi edukasi yang menarik bagi keluarga dan wisatawan. [7]
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Desa PDTT, “Desa Cingkrong Kembangkan Wahana Wisata dan Edukasi,” Katalog Inovasi Desa, Perkumpulan Gedhe Nusantara, 2020. [Internal Document]
[2] Travelspromo, “De Bale Cingkrong — Tiket Masuk & Daya Tarik 2026,” travelspromo.com, 24 Jun. 2024. [Online]. Available: https://travelspromo.com/htm-wisata/de-bale-cingkrong-grobogan/
[3] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “D’ Bale Cingkrong Diresmikan Bupati,” jatengprov.go.id, 10 Apr. 2019. [Online]. Available: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/d-bale-cingkrong-diresmikan-bupati/
[4] D. R. Nurizzati, “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Wisata De Bale di Desa Cingkrong Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan,” Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2021. [Online]. Available: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/14630/
[5] 123dok, “Proses Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Desa Wisata De Bale di Desa Cingkrong,” 123dok.com. [Online]. Available: https://123dok.com/article/pemberdayaan-masyarakat-cingkrong-kecamatan-purwodadi-kabupaten-cingkrong-kecamatan.z1d7n2lv
[6] Scribd, “Danin Rahma Nurizzati — Skripsi Pemberdayaan Ekonomi Melalui Wisata De Bale,” id.scribd.com. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/702140892/Danin-Rahma-Nurizzati-1601046039-full-Skripsi
[7] Proceeding UNPK Kediri, “Pengembangan Pariwisata Berbasis Outbond di Kampung Keren Wisata Air Sumber Banteng,” proceeding.unpkediri.ac.id. [Online]. Available: https://proceeding.unpkediri.ac.id/index.php/ncce/article/download/5736/4168/21268
[8] Visit Jawa Tengah, “Destinasi Wisata: DE BALE CINGKRONG,” visitjawatengah.jatengprov.go.id. [Online]. Available: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/regency/kabupaten-grobogan/destinasi-wisata/de-bale-cingkrong
[9] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata De Bale Cingkrong,” Jadesta.kemenpar.go.id. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/de_bale_cingkrong
[10] Kompasiana, “Wisata Pedesaan De Bale Cingkrong,” kompasiana.com, 28 Ags. 2019. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/taniq/5d67225b097f362113096d92/wisata-pedesaan-de-bale-cingkrong
[11] Trip.com, “Harga Tiket De Bale Cingkrong [2026],” id.trip.com. [Online]. Available: https://id.trip.com/travel-guide/attraction/grobogan-regency/de-bale-cingkrong-141703726/
