Ringkasan Inovasi

Desa Cibuntu di kaki Gunung Ciremai, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mengembangkan inovasi wisata edukasi berbasis kerajinan gerabah yang memadukan pengalaman belajar langsung dengan kekayaan budaya dan alam desa. Melalui Saung Gerabah yang dikelola BUMDes, desa ini mengundang pelajar dan wisatawan untuk belajar membuat gerabah dari awal hingga jadi produk bernilai seni tinggi. [1][2]

Tujuan utama inovasi ini adalah mendiversifikasi produk wisata Desa Cibuntu agar tidak hanya mengandalkan homestay dan keindahan alam, tetapi juga menawarkan pengalaman budaya yang edukatif dan berkesan. Dampaknya mencakup peningkatan arus kunjungan wisatawan pelajar, tumbuhnya pendapatan pengrajin gerabah lokal, dan semakin kokohnya reputasi Desa Cibuntu sebagai destinasi desa wisata edukatif terbaik di Indonesia. [2][3]

Nama Inovasi:Wisata Edukasi Gerabah Desa Cibuntu
Alamat:Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Inovator:BUMDes Desa Cibuntu; Penanggung Jawab: Ibnu Sungkawa
Kontak:Website: desacibuntu.com; Email: tpk.bumdescibuntu@gmail.com; Telepon: 085353606952; IG: pesonawisatacibuntu; Twitter: pesonacibuntu

Latar Belakang

Desa Cibuntu bukan desa biasa. Terletak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Kuningan dan berbatasan dengan Kabupaten Cirebon, desa ini memiliki panorama alam lereng Gunung Ciremai yang hijau dan udara yang sangat segar. Sejak diresmikan sebagai desa wisata pada 2012, Cibuntu terus membangun diri menjadi destinasi wisata berbasis komunitas yang diakui hingga ke tingkat internasional. [4][5]

Pengakuan internasional sudah diraih ketika Cibuntu dinobatkan sebagai desa wisata terbaik urutan kelima tingkat ASEAN pada 2016 untuk kategori homestay. Pada 2017, desa ini kembali berprestasi sebagai juara dua nasional dalam ajang Community Based Tourism (CBT) yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Capaian ini menempatkan Desa Cibuntu dalam jajaran desa wisata elite Indonesia yang terus didorong untuk berkembang lebih jauh. [3][5]

Di balik gemerlap prestasi itu, Desa Cibuntu masih menyimpan potensi yang belum sepenuhnya tergarap, yaitu tradisi kerajinan gerabah yang sudah mengakar di kalangan warga. Para pengrajin gerabah lokal menghasilkan lebih dari 200 jenis produk mulai dari kendi, pot, cangkir, teko, hingga topeng dan miniatur kendaraan berbahan dasar tanah liat. Namun, potensi ini belum dikemas secara sistematis menjadi produk wisata edukasi yang mampu menarik kunjungan secara rutin dan terprogram. [1][6]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan Saung Gerabah sebagai wahana wisata edukasi terstruktur yang mempertemukan pengunjung dengan pengalaman langsung membuat gerabah dari tanah liat. Gagasan ini lahir dari kesadaran pengelola desa wisata bahwa wisatawan modern, khususnya pelajar, tidak cukup hanya melihat keindahan alam tetapi butuh pengalaman aktif yang meninggalkan memori berharga. Saung Gerabah menjadi ruang kreatif yang menjembatani keahlian pengrajin lokal dengan kebutuhan edukasi pengunjung. [1][2]

Cara kerja inovasi ini sangat sederhana namun terstruktur. Setiap rombongan pelajar atau wisatawan yang datang ke Saung Gerabah disambut oleh tutor lokal yang merupakan pengrajin gerabah berpengalaman. Mereka memandu peserta mulai dari pengenalan jenis tanah liat, teknik pembentukan dasar dengan tangan, penggunaan alat putar (wheel throwing), hingga proses pengeringan dan pembakaran gerabah. Produk yang berhasil dibuat oleh peserta dapat dibawa pulang sebagai suvenir, menambah kesan wisata yang personal dan tak terlupakan. [1][7]

Proses Penerapan Inovasi

Langkah pertama penerapan inovasi dimulai dari konsolidasi para pengrajin gerabah di desa yang difasilitasi oleh pengelola BUMDes Cibuntu. Para pengrajin diajak berdiskusi untuk merancang kurikulum pelatihan gerabah yang cocok untuk berbagai kelompok usia, mulai dari siswa SD hingga orang dewasa. Proses ini menghasilkan modul wisata edukasi bertahap yang disesuaikan dengan waktu kunjungan dan tingkat kemampuan peserta. [1][2]

Saung Gerabah kemudian dibangun sebagai ruang produksi sekaligus ruang belajar yang nyaman dan terbuka. Penelitian dari Institut Pariwisata Trisakti tentang penerapan konsep desa wisata di Cibuntu mengonfirmasi bahwa keberhasilan desa ini terletak pada penguatan produk wisata yang berakar pada kearifan lokal dan melibatkan seluruh komunitas. Kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ke Desa Cibuntu pada 2021 turut memberikan dorongan moral dan promosi nasional yang memperkuat posisi Saung Gerabah sebagai ikon wisata edukasi. [5][8]

Pada tahap awal, kendala yang muncul adalah belum adanya standar tarif dan prosedur pelayanan yang seragam di antara para tutor. Beberapa wisatawan pertama mengeluhkan inkonsistensi pengalaman antar sesi. Dari masukan ini, pengelola menyusun standar operasional prosedur wisata edukasi gerabah yang kini menjadi panduan bagi seluruh tutor agar kualitas pengalaman pengunjung terjaga di setiap kunjungan. [1][2]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah kedalaman tradisi kerajinan gerabah yang sudah mengakar kuat di Desa Cibuntu selama generasi. Para tutor bukan instruktur baru yang belajar dari buku, melainkan pengrajin sejati yang mewarisi pengetahuan dari orang tua dan nenek moyang mereka. Keaslian pengetahuan dan keterampilan inilah yang menciptakan pengalaman belajar yang autentik dan tidak bisa ditiru oleh atraksi wisata buatan. [1][6]

Faktor kedua adalah reputasi desa wisata Cibuntu yang sudah diakui secara nasional dan internasional, sehingga menjadi magnet kunjungan yang terus-menerus. Penghargaan ASEAN, CBT nasional, hingga kunjungan Menteri Sandiaga Uno memberikan kepercayaan kepada sekolah-sekolah dari berbagai kota untuk memasukkan Cibuntu dalam daftar destinasi study tour tahunan. Modal reputasi ini memotong biaya promosi secara signifikan karena kepercayaan pasar sudah terbangun. [3][5]

Hasil dan Dampak Inovasi

Saung Gerabah kini menjadi salah satu daya tarik utama kunjungan wisata pelajar ke Desa Cibuntu, dengan siswa-siswa dari berbagai kota terus berdatangan untuk belajar membuat gerabah secara langsung. Siswa-siswi MTsN 4 Kuningan, misalnya, menjadikan Cibuntu sebagai destinasi belajar yang menggabungkan kegiatan membuat gerabah, menanam padi, dan memberi pakan hewan ternak dalam satu paket wisata edukasi terpadu. Antusiasme peserta yang luar biasa menjadi bukti nyata bahwa produk wisata edukasi ini berhasil menyentuh kebutuhan belajar sambil bermain yang didambakan generasi muda. [7]

Dari sisi ekonomi, Saung Gerabah membuka sumber penghasilan tetap bagi para pengrajin gerabah yang selama ini hanya menjual produk jadi dengan margin tipis. Sebagai tutor wisata edukasi, mereka mendapat honorarium yang lebih stabil dan terprediksi. Pusat Ekraf Cibuntu yang memajang lebih dari 200 jenis produk gerabah juga semakin ramai pengunjung yang membeli produk sebagai suvenir, mendorong omzet penjualan langsung di desa. [6][3]

Pada 2021, Desa Cibuntu meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dalam kategori Desa Wisata Mandiri Inspiratif dari Kemenparekraf, sebuah pengakuan tertinggi yang mencerminkan keberhasilan inovasi wisata edukasi gerabah sebagai salah satu komponen kunci daya tarik desa. Desa Cibuntu juga masuk dalam 8 Besar Desa Brilian dari BRI, membuktikan bahwa inovasi pariwisata berbasis komunitas ini turut mendorong kesehatan keuangan dan kelembagaan desa. [2][3]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas Saung Gerabah dalam melayani rombongan wisatawan bervolume besar secara bersamaan. Lonjakan kunjungan, terutama di musim study tour antara April hingga Oktober, sering kali melebihi kapasitas tutor dan fasilitas yang tersedia. Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas pengalaman peserta jika tidak segera diatasi dengan perluasan fasilitas dan penambahan tutor terlatih. [1][2]

Kendala lain adalah regenerasi pengrajin gerabah yang bergerak lambat karena minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional cenderung menurun. Tanpa regenerasi yang terencana, ketersediaan tutor berpengalaman dalam jangka panjang bisa terancam. Ketergantungan pada beberapa pengrajin senior yang masih aktif menjadi titik lemah yang perlu segera diatasi melalui program pelatihan kader pengrajin muda. [1][6]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijaga melalui pengembangan kurikulum wisata edukasi gerabah yang terus diperbarui sesuai kebutuhan pasar pelajar. BUMDes Cibuntu perlu membuka kelas reguler pembuatan gerabah bagi remaja desa sebagai program regenerasi tutor jangka panjang. Penambahan fasilitas Saung Gerabah yang lebih luas dan modern dengan mempertahankan nuansa tradisional akan meningkatkan kapasitas layanan tanpa mengorbankan keaslian pengalaman. [1][8]

Dalam jangka panjang, Desa Cibuntu perlu mengembangkan paket wisata edukasi terpadu yang menggabungkan gerabah dengan aktivitas lain seperti menanam padi, membuat anyaman bambu, dan pertunjukan angklung dalam satu program kunjungan sehari penuh. Kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan untuk memasukkan Cibuntu sebagai destinasi wajib study tour sekolah akan mengamankan basis kunjungan secara institusional. Pengembangan produk gerabah premium bermerek Cibuntu yang dipasarkan melalui e-commerce akan membuka aliran pendapatan baru bagi pengrajin tanpa bergantung pada kunjungan fisik semata. [2][5]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi wisata edukasi gerabah Desa Cibuntu memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

SDGs 4: Pendidikan Berkualitas:Wisata edukasi gerabah memberikan pengalaman belajar langsung yang memperkuat nilai-nilai kreativitas, keterampilan tangan, dan penghargaan terhadap budaya lokal. Saung Gerabah menjadi ruang pembelajaran non-formal yang melengkapi pendidikan formal yang didapat peserta di sekolah.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Wisata edukasi gerabah menciptakan lapangan kerja layak bagi pengrajin lokal sebagai tutor sekaligus produsen suvenir. Perkembangan sektor pariwisata berbasis komunitas mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan merata di seluruh lapisan warga desa.
SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan:Pengembangan Desa Cibuntu sebagai desa wisata edukasi memperkuat identitas budaya dan rasa memiliki warga terhadap warisan tradisi lokal. Pengelolaan wisata berbasis komunitas menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai budaya tradisional yang hidup di desa.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab:Produk gerabah Cibuntu menggunakan bahan baku tanah liat alami tanpa bahan kimia berbahaya, mencerminkan praktik produksi yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Wisata edukasi ini mendidik pengunjung tentang pentingnya menghargai produk kerajinan tangan lokal sebagai alternatif produk massal yang tidak berkelanjutan.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Desa Cibuntu membangun ekosistem kemitraan kuat yang melibatkan Kemenparekraf, Institut Pariwisata Trisakti, Pemkab Kuningan, dan BRI untuk mengembangkan desa wisata secara berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi model kemitraan desa-pemerintah-akademisi-swasta yang dapat diadopsi desa-desa wisata lainnya.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model wisata edukasi gerabah Desa Cibuntu dapat direplikasi di desa-desa lain yang memiliki tradisi kerajinan tangan kuat namun belum dikemas sebagai produk wisata edukatif. Kunci replikasinya terletak pada tiga komponen: pengrajin lokal berpengalaman yang bersedia menjadi tutor, saung atau ruang workshop yang memadai, dan sistem pemesanan kunjungan yang terorganisir. Desa-desa penghasil gerabah lain seperti Plered di Purwakarta atau Bayat di Klaten dapat mengadopsi model ini dengan penyesuaian pada tradisi lokalnya masing-masing. [1][8]

Untuk scale up, Kemenparekraf dapat menjadikan model wisata edukasi Cibuntu sebagai kurikulum standar pengembangan desa wisata berbasis kerajinan di seluruh Indonesia. Program ADWI yang sudah mengakui Cibuntu sebagai Desa Wisata Mandiri Inspiratif bisa dimanfaatkan sebagai platform promosi nasional yang memperluas jaringan pengunjung. Jika dikombinasikan dengan digitalisasi promosi melalui konten media sosial yang aktif di platform Instagram dan YouTube, daya tarik Saung Gerabah Cibuntu berpeluang menjangkau wisatawan mancanegara yang semakin mencari pengalaman wisata budaya otentik di Asia Tenggara. [2][3]

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal, “ID 00317: Desa Cibuntu Kembangkan Wisata Edukasi Gerabah,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/desa-cibuntu-kembangkan-wisata-edukasi-gerabah/

[2] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Desa Wisata Cibuntu,” jadesta.kemenparekraf.go.id. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/cibuntu

[3] Liputan6, “Desa Wisata Cibuntu di Kuningan yang Pesonanya Diakui Dunia Internasional,” liputan6.com, 13 Des. 2021. [Online]. Tersedia: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4742985/

[4] Kompasiana, “Desa Cibuntu: Desa Wisata Edukatif di Kuningan yang Wajib Dikunjungi,” kompasiana.com, 21 Des. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/firyalnazhifa5178/6768004fc925c40d440e26a4/

[5] Detik News, “Keren! Desa Cibuntu Kuningan Terbaik di ASEAN dan Indonesia,” news.detik.com, 2 Des. 2017. [Online]. Tersedia: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3752876/

[6] Akurat.co, “7 Aktivitas Menarik di Desa Wisata Cibuntu Kuningan,” jakarta.akurat.co, 24 Feb. 2026. [Online]. Tersedia: https://jakarta.akurat.co/wisata/95260/

[7] Instagram Desa Wisata Cibuntu, “Siswa-siswi MTsN 4 Kuningan Belajar Membuat Gerabah di Desa Wisata Cibuntu,” instagram.com/pesonawisatacibuntu, 2025.

[8] Rianto, “Penerapan Konsep Desa Wisata di Desa Cibuntu Kabupaten Kuningan,” Tesis, Institut Pariwisata Trisakti Jakarta. [Online]. Tersedia: https://repository.iptrisakti.ac.id/2846/1/thesis%20pak%20rianto.pdf

[9] Suara.com, “Sandiaga Uno Sosialisasikan Desa Wisata di Desa Cibuntu Kuningan Jawa Barat,” suara.com, 3 Jun. 2021. [Online]. Tersedia: https://www.suara.com/bisnis/2021/06/03/142616/

[10] Detik Travel, “Tak Hanya Indah, Desa Cibuntu Juga Punya Homestay Terbaik,” travel.detik.com, 28 Ags. 2020. [Online]. Tersedia: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5151652/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.