Ringkasan Inovas
Desa Sumber Kalong, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengubah waduk yang selama ini hanya digunakan warga untuk mandi dan mencuci menjadi destinasi wisata kuliner bernama Agrapana—sebuah inovasi transformasi aset desa yang dikelola sepenuhnya oleh BUMDes Desa Sumber Kalong dengan memberdayakan pemuda lokal yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan. [1] Diresmikan pada 25 Desember 2019, Agrapana menawarkan pengalaman wisata yang memadukan kuliner khas lokal, gazebo apung di atas kolam, suasana ala Jepang dengan penyewaan baju Yukata dan Kimono, serta pemandangan yang asri—menjadikannya destinasi rekreasi keluarga sekaligus ruang ekonomi baru bagi komunitas desa. [2]
Inovasi ini bertujuan mengaktifkan aset desa yang terlantar menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADes), sekaligus membuka lapangan kerja langsung bagi pemuda setempat sebagai koki, pelayan, dan tenaga penunjang wisata lainnya. [1] Kolaborasi antara BUMDes, mahasiswa KKN Universitas Jember, dan kepemimpinan Kepala Desa Suhrawi menghasilkan sistem pelayanan terstandar yang meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung dan memperkuat daya saing Agrapana sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Bondowoso. [3]
| Nama Inovasi | : | Wisata Kuliner Agrapana — Transformasi Waduk Desa menjadi Destinasi Wisata Kuliner Ala Jepang Berbasis BUMDes dan Pemberdayaan Pemuda Lokal |
| Alamat | : | Desa Sumber Kalong, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur (±7 km ke arah timur dari pusat kota Bondowoso) |
| Inovator | : | BUMDes Desa Sumber Kalong (Sekretaris: Haris), diprakarsai oleh Kepala Desa Sumber Kalong Suhrawi, didukung KKN Universitas Jember (UNEJ) |
| Kontak | : | Telepon 082331994997 | Email: agrapana@gmail.com |
Latar Belakang
Kabupaten Bondowoso terletak di ujung timur Jawa Timur, dikelilingi pegunungan dan dikenal sebagai salah satu daerah tertinggal di provinsi itu hingga awal 2000-an. [2] Desa Sumber Kalong di Kecamatan Wonosari—kecamatan yang berjarak hanya 7 km dari jantung Kota Bondowoso—menyimpan potensi alam berupa sebuah waduk yang selama bertahun-tahun hanya menjadi tempat aktivitas sehari-hari warga: mandi dan mencuci pakaian. [1] Potensi ini belum pernah dikelola secara produktif, sementara pengangguran pemuda desa terus menjadi persoalan yang tidak kunjung terselesaikan.
Sebelum lahirnya Wisata Agrapana, tidak ada destinasi wisata terkelola di Desa Sumber Kalong yang mampu menahan perputaran uang di dalam ekosistem desa. [3] Pemuda desa yang tidak memiliki pekerjaan cenderung merantau atau terjebak dalam pengangguran tanpa alternatif kegiatan produktif. [1] BUMDes yang seharusnya menjadi motor ekonomi desa juga belum memiliki unit usaha yang berdampak nyata pada penyerapan tenaga kerja lokal.
Peluang berubah saat Kepala Desa baru, Suhrawi, terpilih dua tahun sebelum peresmian Agrapana dan membawa visi transformatif: mengubah waduk desa yang terabaikan menjadi destinasi wisata yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan. [1] Tren wisata kuliner berbasis alam yang sedang tumbuh pesat di Jawa Timur—di mana wisata waduk dan embung yang dikelola BUMDes seperti BABO Bojonegoro terbukti meningkatkan pendapatan masyarakat desa secara signifikan—menjadi referensi kuat bagi Desa Sumber Kalong untuk melakukan hal serupa. [4] Waduk desa, yang selama ini dianggap tidak bernilai ekonomi, justru menjadi aset paling berharga yang tinggal menunggu pengelolaan yang tepat.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari keberanian Kepala Desa Suhrawi dan BUMDes untuk melihat waduk bukan sebagai fasilitas utilitas tetapi sebagai aset wisata yang bisa ditransformasi. [1] Wisata Agrapana menggabungkan tiga konsep dalam satu destinasi: wisata kuliner dengan menu masakan dan minuman khas lokal yang disajikan di gazebo apung di atas kolam, wisata budaya dengan penyewaan baju tradisional Jepang Yukata dan Kimono yang menjadi daya tarik unik, dan wisata alam dengan pemandangan kolam dan lingkungan hijau yang menenangkan. [2] Kombinasi tiga konsep ini menciptakan pengalaman wisata yang tidak ditemukan di destinasi lain di Kabupaten Bondowoso.
Secara operasional, Agrapana bekerja melalui BUMDes yang merekrut dan menggaji 6 pemuda desa sebagai tenaga tetap—3 orang sebagai koki yang memasak menu lokal dan 3 orang sebagai pelayan yang melayani tamu di 8 gazebo apung yang tersebar di atas kolam. [1] Atraksi penyewaan Yukata dan Kimono menjadi pembeda kompetitif yang menarik perhatian wisatawan dari kota yang mencari pengalaman estetis untuk konten media sosial. [2] Gazebo apung tidak hanya menjadi tempat makan tetapi juga spot foto yang instagramable, memanfaatkan kekuatan media sosial sebagai alat pemasaran organik yang paling efektif untuk destinasi wisata desa.
Proses Penerapan Inovas
Proses dimulai dari inisiatif Kepala Desa Suhrawi yang menggalang dukungan komunitas dan BUMDes untuk mengalokasikan dana desa guna membangun infrastruktur wisata di area waduk. [1] Pembangunan fisik mencakup konstruksi gazebo apung di atas kolam, penataan area daratan sebagai zona kuliner dan area foto, serta pengadaan koleksi baju Yukata dan Kimono untuk disewakan kepada pengunjung. [2] Wisata ini kemudian diresmikan pada 25 Desember 2019, tepat setelah dua bulan proses pembangunan dan persiapan operasional.
Pada fase awal operasional, sistem pelayanan yang berjalan masih sangat sederhana dan rentan kesalahan: pesanan pengunjung dicatat di buku tulis biasa, sementara ke-8 gazebo apung belum memiliki penomoran. [3] Akibatnya, kesalahan pengiriman pesanan ke gazebo yang salah dan kelupaan menu terjadi berulang kali—masalah yang berpotensi merusak reputasi wisata yang baru saja dirintis. [3] Kegagalan operasional awal ini menjadi pembelajaran krusial yang mendorong inovasi sistem pelayanan lebih lanjut.
Titik balik terjadi ketika mahasiswa KKN Universitas Jember bergabung dan bekerja sama dengan BUMDes untuk merancang sistem pelayanan terstandar. [3] Solusi yang diterapkan sederhana namun efektif: setiap gazebo apung diberi nomor permanen, dan setiap transaksi pesanan menggunakan nota formal dengan kolom nomor gazebo, menu, dan jumlah—mirip sistem pelayanan kafe modern. [3] Sistem baru ini langsung diterima oleh BUMDes dan seluruh pekerja, dan menyelesaikan masalah kesalahan pengiriman yang selama ini mengganggu pengalaman pengunjung.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kepemimpinan visioner Kepala Desa Suhrawi yang berani mengambil keputusan untuk mengalihfungsikan aset yang selama ini dianggap tidak produktif menjadi destinasi wisata komersial. [1] Kepemimpinan yang berorientasi aksi—bukan sekadar merencanakan tetapi langsung mengeksekusi—memotong inersia birokrasi desa yang sering menjadi hambatan lahirnya inovasi di tingkat desa. [5] Tanpa komitmen personal kepala desa untuk menggerakkan BUMDes dan memobilisasi sumber daya komunitas, transformasi waduk tidak akan pernah terwujud.
Faktor kedua adalah kolaborasi produktif antara BUMDes dan mahasiswa KKN Universitas Jember yang membawa pengetahuan sistem manajemen operasional yang tidak dimiliki pengelola desa. [3] Kemitraan akademisi-komunitas ini adalah model transfer pengetahuan yang saling menguntungkan: mahasiswa mendapat laboratorium nyata untuk mengaplikasikan ilmu manajemen, sementara BUMDes mendapat solusi operasional tanpa harus membayar konsultan mahal. [3] Penelitian tentang pengembangan desa wisata Bondowoso menegaskan bahwa BUMDes yang berkolaborasi dengan institusi pendidikan dan Dinas Pariwisata memiliki kapasitas pengelolaan yang jauh lebih kuat dibanding yang berjalan sendiri. [6]
Hasil dan Dampak Inovas
Dampak paling langsung dari Wisata Agrapana adalah terciptanya 6 lapangan kerja baru bagi pemuda desa yang sebelumnya menganggur—tiga koki dan tiga pelayan—dengan prospek penambahan pegawai di masa depan untuk posisi juru parkir dan tenaga penunjang lainnya. [1] Kehadiran destinasi wisata yang aktif dikunjungi juga menggerakkan ekonomi informal di sekitarnya: PKL, pedagang makanan dan minuman, serta jasa transportasi lokal merasakan dampak positif dari arus pengunjung yang datang ke Agrapana. [2]
Secara kelembagaan, Agrapana menjadi unit usaha BUMDes pertama di Desa Sumber Kalong yang menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) secara reguler, mengubah BUMDes dari entitas pasif menjadi motor ekonomi aktif. [5] Atraksi penyewaan Yukata dan Kimono menjadikan Agrapana destinasi yang unik—satu-satunya wisata bertema Jepang di Kabupaten Bondowoso—sebuah diferensiasi yang sangat kuat di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ramai. [2] Keunikan ini mendorong kunjungan ulang dan penyebaran konten organik di media sosial yang memperluas jangkauan promosi tanpa biaya iklan.
Implementasi sistem pelayanan nota berpenomoran yang dirancang bersama KKN UNEJ meningkatkan standar layanan secara terukur: keluhan kesalahan pengiriman pesanan turun drastis, kepuasan pengunjung meningkat, dan kepercayaan diri para pekerja dalam melayani tamu juga berkembang. [3] Peningkatan mutu layanan ini mencerminkan hasil nyata dari investasi pada sistem, bukan sekadar modal fisik—sebuah pelajaran penting bahwa kualitas pengelolaan adalah determinan utama keberhasilan wisata desa. [6]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar Agrapana pada fase awal adalah keterbatasan sumber daya manusia yang terampil di bidang manajemen hospitality dan sistem pelayanan. [3] Para pekerja yang direkrut dari pemuda desa belum memiliki pengalaman di industri wisata dan harus belajar dari awal—sebuah proses yang membutuhkan pendampingan intensif dan kesabaran dari pengelola BUMDes. [1] Sistem pencatatan manual yang bergantung pada buku tulis mencerminkan gap kompetensi antara kebutuhan operasional wisata modern dan kapasitas yang dimiliki pengelola awal.
Kendala kedua adalah keterbatasan modal untuk mempercepat pengembangan fasilitas: dua gazebo apung yang masih dalam tahap pembangunan saat Agrapana diresmikan menunjukkan bahwa ekspansi kapasitas terkendala oleh ketersediaan dana. [3] Ketiadaan juru parkir di awal operasi juga menciptakan pengalaman kedatangan yang kurang terorganisir, berpotensi meninggalkan kesan pertama yang kurang memuaskan bagi pengunjung baru. [1] Pengelolaan tahap pertumbuhan destinasi wisata desa yang masih baru membutuhkan keseimbangan antara kecepatan pengembangan dan kapasitas manajemen yang tersedia.
Strategi Keberlanjutan Inovas
Keberlanjutan Agrapana bergantung pada kemampuan BUMDes untuk terus meningkatkan kualitas produk dan layanan seiring bertumbuhnya jumlah pengunjung. [5] Rencana penambahan pekerja baru—termasuk juru parkir dan tenaga pendukung—menunjukkan bahwa BUMDes sudah memiliki kesadaran bahwa skalabilitas operasional adalah prasyarat pertumbuhan yang berkelanjutan. [1] Pelatihan berkelanjutan bagi pekerja dalam standar pelayanan hospitality dan higiene pangan menjadi investasi paling kritis untuk menjaga reputasi destinasi yang semakin dikenal masyarakat luas.
Sinergi dengan ekosistem wisata Bondowoso yang lebih luas memberikan peluang keberlanjutan yang signifikan. [6] Bondowoso memiliki potensi besar sebagai kabupaten wisata berbasis kopi arabika Ijen dan wisata alam pegunungan—dan Agrapana dapat memposisikan diri sebagai destinasi wisata kuliner penyambut yang melengkapi itinerari wisatawan yang berkunjung ke Ijen dan sekitarnya. [7] Pendaftaran Agrapana di platform pariwisata resmi Pemkab Bondowoso (bondowosoku.bondowosokab.go.id) adalah langkah awal yang sudah tepat, dan perlu dilengkapi dengan kehadiran aktif di platform digital seperti Google Maps, Instagram, dan TikTok untuk menjangkau wisatawan yang merencanakan perjalanan secara mandiri. [2]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Wisata Agrapana membuktikan bahwa transformasi satu aset desa yang terabaikan bisa sekaligus mencapai beberapa tujuan SDGs secara bersamaan—dari pengentasan kemiskinan, pemberdayaan pemuda, pelestarian lingkungan, hingga penguatan kelembagaan desa. [5] Model ini relevan untuk direplikasi di ribuan desa Indonesia yang memiliki aset alam terlantar serupa namun belum memiliki keberanian dan kapasitas untuk mengaktifkannya secara produktif. [6]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Wisata Agrapana menciptakan sumber pendapatan baru bagi keluarga pemuda lokal yang sebelumnya tidak bekerja, memutus siklus kemiskinan di Desa Sumber Kalong melalui penciptaan lapangan kerja berbasis potensi desa sendiri. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | BUMDes Sumber Kalong menciptakan 6 lapangan kerja tetap bermartabat bagi pemuda desa sebagai koki dan pelayan, dengan rencana penambahan tenaga kerja seiring pertumbuhan destinasi yang membutuhkan tenaga parkir dan pendukung lainnya. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | : | Transformasi waduk menjadi destinasi wisata adalah inovasi infrastruktur berbasis aset lokal yang menciptakan nilai ekonomi dari sumber daya yang sebelumnya tidak produktif, sekaligus membangun kapasitas BUMDes sebagai lembaga bisnis desa. |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan | : | Agrapana menjadikan Desa Sumber Kalong komunitas yang lebih inklusif dengan menyediakan ruang publik rekreasi dan kuliner yang terjangkau dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat—dari keluarga hingga kelompok kerja formal yang menggunakan Agrapana sebagai tempat rapat. |
| SDGs 14/15: Ekosistem Air dan Darat | : | Pengelolaan wisata berbasis waduk mendorong komunitas untuk menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem air desa, mengubah persepsi waduk dari tempat utilitas menjadi aset ekologis yang perlu dijaga kualitasnya agar tetap menarik bagi wisatawan. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kolaborasi antara BUMDes, mahasiswa KKN UNEJ, dan pemerintah daerah (Dinas Pariwisata Bondowoso) membangun ekosistem kemitraan yang saling memperkuat dan membuktikan bahwa inovasi desa terbaik lahir dari sinergi multipihak, bukan kerja sendirian. |
Replikasi dan Scale Up Inovas
Model transformasi aset air (waduk, embung, kolam) menjadi destinasi wisata kuliner berbasis BUMDes adalah model yang paling mudah direplikasi di desa-desa Jawa Timur yang memiliki aset serupa namun belum dioptimalkan. [4] Wisata Agrapana Sumber Kalong dapat menjadi referensi replikasi konkret bagi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Bondowoso dalam mendorong BUMDes lain untuk mengaktifkan aset desa mereka secara kreatif dan produktif. [6] Tiga elemen inti yang dapat direplikasi adalah: identifikasi aset air terlantar, konsep gabungan kuliner-budaya-alam, dan sistem pelayanan berstandar nota bernomor yang mudah dipelajari dan diterapkan.
Scale up inovasi membutuhkan integrasi Agrapana ke dalam peta Desa Wisata resmi Kabupaten Bondowoso dan pendaftaran di platform Jadesta Kemenparekraf. [6] Kemitraan dengan program KKN tematik pariwisata dari perguruan tinggi—tidak hanya UNEJ tetapi juga Universitas lain di Jawa Timur—bisa menjadi mekanisme pendampingan berkelanjutan yang menjaga kualitas inovasi tanpa membebani anggaran BUMDes. [3] Dengan strategi ini, Agrapana berpotensi berkembang dari destinasi lokal menjadi destinasi wisata kuliner unggulan Bondowoso yang menarik kunjungan dari seluruh Jawa Timur.
Daftar Pustaka
[1] Buku Katalog Desa / Kemendes PDTT, “Desa Sumber Kalong sukses mengelola wisata kuliner Agrapana,” data sumber primer, 2019–2020.
[2] BondowosoKu, “Wisata Desa Agrapana,” bondowosoku.bondowosokab.go.id. [Online]. Available: https://bondowosoku.bondowosokab.go.id/venue/1725
[3] A. Andryan et al., “Pendampingan KKN UNEJ: Peningkatan Sistem Pelayanan Wisata Kuliner Agrapana Desa Sumber Kalong,” Universitas Jember, 2020. (Sumber primer KKN UNEJ)
[4] Repository UNIGORO, “Dampak Desa Wisata dalam Peningkatan Pendapatan Masyarakat: Studi Wisata Embung Berbasis BUMDes di Jawa Timur,” repository.unigoro.ac.id. [Online]. Available: https://repository.unigoro.ac.id/54/1/BAB%20I.pdf
[5] Repository UNPAD, “Perspektif Kekuatan dalam Pendirian dan Implementasi BUMDes di Kabupaten Bondowoso,” repository.unpad.ac.id. [Online]. Available: https://repository.unpad.ac.id/items/6c28ab97-b0f7-4995-80db-a17a949a0deb
[6] Jurnal GEMBIRA (Pengabdian Kepada Masyarakat), “Pengembangan Desa Wisata melalui BUMDes dan Pokdarwis di Kabupaten Bondowoso,” gembirapkm.my.id, 2025. [Online]. Available: https://gembirapkm.my.id/index.php/jurnal/article/download/1532/986/3677
[7] Scribd, “Revitalisasi BUMDes dan Optimalisasi Pokdarwis untuk Wisata Kopi Ijen Bondowoso,” scribd.com, Sep. 2025. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/819469233/Revitalisasi-Badan-Usaha-Milik-Desa-BUMDes-Dan-Optimalisasi-Kelompok-Sadar-Wisata-POKDA
