Ringkasan Inovasi

BUMDes Mekar Jaya Desa Nolokerto, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menerapkan inovasi budidaya melon premium berbasis teknologi greenhouse hidroponik sebagai langkah transformasi pertanian modern di tingkat desa. Inovasi ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Panen perdana digelar pada Senin, 16 Maret 2026, menandai keberhasilan musim tanam pertama dengan estimasi produksi sekitar 1.000 buah melon. Dengan potensi pendapatan mencapai Rp40 juta per siklus panen atau sekitar Rp160 juta per tahun, inovasi ini menjadi model pertanian desa yang produktif dan berkelanjutan [1].

Nama Inovasi:Budidaya Melon Premium Greenhouse Hidroponik BUMDes Mekar Jaya Nolokerto
Alamat:Desa Nolokerto, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Imron Zamzani (Direktur BUMDes Mekar Jaya Nolokerto), didukung Nur Fathoni (Kepala Desa Nolokerto), Asosiasi Juragan Organik Semesta (pendamping teknis), dan PT Zanzibar (mitra off taker)
Kontak:Instagram: @bumdes_mekar_jaya | Desa Nolokerto, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah

Latar Belakang

Desa Nolokerto menghadapi tekanan ganda: berkurangnya transfer dana dari pemerintah pusat dan ketergantungan masyarakat pada pertanian konvensional yang rentan terhadap perubahan iklim dan serangan hama [1]. Produktivitas pertanian tradisional kerap terganggu oleh cuaca ekstrem yang tidak menentu, sehingga hasil panen tidak stabil dan sulit bersaing di pasar modern.

Kondisi ini mendorong BUMDes Mekar Jaya untuk mencari alternatif usaha yang mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) secara signifikan. Riset menunjukkan bahwa teknologi greenhouse memungkinkan pengendalian lingkungan tumbuh secara optimal—termasuk suhu, kelembapan, dan pencahayaan—sehingga tanaman dapat berproduksi optimal sepanjang tahun tanpa terganggu cuaca eksternal [2].

Melon premium, khususnya varietas Intanon dan Sweet Hami, memiliki nilai pasar tinggi dan permintaan yang terus tumbuh di supermarket serta toko buah modern. Peluang pasar ini belum dimanfaatkan secara optimal di tingkat desa karena keterbatasan teknologi dan akses distribusi [3].

Inovasi yang Diterapkan

BUMDes Mekar Jaya mengembangkan greenhouse seluas 300 meter persegi yang menerapkan sistem budidaya hidroponik terkontrol untuk dua varietas melon premium: Melon Intanon (700 tanaman) dan Melon Sweet Hami (300 tanaman) [4]. Sistem hidroponik ini memungkinkan pengelolaan nutrisi tanaman secara presisi, pengaturan kelembapan udara, dan perlindungan menyeluruh dari serangan hama serta cuaca ekstrem.

Inovasi lahir dari gagasan untuk mengubah tantangan pemangkasan anggaran desa menjadi peluang kemandirian ekonomi melalui pertanian bernilai tinggi. Greenhouse dirancang agar setiap tanaman mendapatkan nutrisi dan kondisi tumbuh yang seragam, menghasilkan buah dengan bobot rata-rata 2–2,1 kilogram per buah dengan kualitas rasa, ukuran, dan tingkat kemanisan yang konsisten [1].

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan dimulai pada tahun 2025 ketika BUMDes Mekar Jaya menetapkan budidaya greenhouse melon premium sebagai salah satu dari tiga unit usaha baru yang dikembangkan [5]. Tim BUMDes melakukan studi komparatif terhadap praktik-praktik terbaik budidaya melon greenhouse di berbagai daerah, termasuk praktik yang telah berhasil di desa-desa lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Konstruksi greenhouse dan instalasi sistem hidroponik dilakukan dengan pendampingan teknis intensif dari Asosiasi Juragan Organik Semesta. Pada masa tanam pertama, tim menghadapi tantangan teknis dalam menjaga kestabilan pH larutan nutrisi agar berada pada kisaran ideal 6,0, karena fluktuasi pH dapat mengganggu penyerapan nutrisi tanaman secara optimal [6]. Pemantauan harian menjadi bagian rutin dari protokol pengelolaan.

Paralel dengan pengembangan produksi, BUMDes juga membangun jalur pemasaran dengan menjalin kerja sama off taker bersama PT Zanzibar sebelum musim tanam dimulai. Strategi ini memastikan kepastian penyerapan hasil panen dan menjamin standar kualitas produk sesuai permintaan pasar modern, sehingga petani tidak lagi menanggung risiko ketidakpastian penjualan [7].

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini ditopang oleh tiga pilar utama: kepemimpinan BUMDes yang proaktif, pendampingan teknis berkelanjutan, dan ekosistem kemitraan yang solid. Direktur BUMDes Imron Zamzani memimpin transformasi dengan visi yang jelas untuk menjadikan pertanian modern sebagai mesin pertumbuhan ekonomi desa [8]. Pendampingan teknis dari Asosiasi Juragan Organik Semesta memberikan transfer pengetahuan yang sistematis kepada pengelola BUMDes.

Faktor pembeda yang paling kritis adalah keberadaan mitra off taker PT Zanzibar yang memastikan pasar sudah tersedia sebelum benih ditanam. Wakil Bupati Kendal Benny Karnadi menegaskan bahwa sistem kemitraan ini menghilangkan kekhawatiran petani tentang kemana hasil panen akan dijual, sehingga energi pengelola dapat fokus sepenuhnya pada optimalisasi produksi dan kualitas [1].

Hasil dan Dampak Inovasi

Pada musim tanam perdana, BUMDes Mekar Jaya berhasil membudidayakan 1.060 bibit melon dalam satu siklus tanam sekitar 70 hari. Estimasi produksi mencapai sekitar 1.000 buah melon dengan bobot rata-rata 2–2,1 kilogram per buah, menghasilkan potensi pendapatan Rp40 juta per siklus panen [1]. Dengan frekuensi panen empat kali dalam setahun, total potensi pendapatan tahunan mencapai sekitar Rp160 juta.

Secara kualitatif, kualitas buah yang dihasilkan terbukti lebih seragam dari segi ukuran, rasa, dan tingkat kemanisan dibandingkan budidaya konvensional. Studi pada greenhouse melon hidroponik serupa menunjukkan bahwa teknologi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas secara kuantitas dan kualitas, tetapi juga berdampak positif pada ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan PAD [2].

Dampak strategis yang lebih luas adalah meningkatnya kepercayaan diri Desa Nolokerto dalam menghadapi pengurangan transfer dana pusat. Kepala Desa Nur Fathoni menyatakan bahwa jika PAD meningkat, manfaatnya akan kembali ke warga dalam bentuk pembangunan dan pemberdayaan, memperkuat siklus kemandirian desa yang berkelanjutan [1].

Tantangan dan Kendala

Tantangan teknis utama yang dihadapi adalah pemeliharaan kestabilan kondisi lingkungan di dalam greenhouse, khususnya pengelolaan pH larutan nutrisi yang harus dipantau setiap hari. Fluktuasi pH di bawah angka 4,5 dapat menghambat penyerapan nutrisi tanaman dan berdampak pada kualitas serta kuantitas hasil panen, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang terlatih dan disiplin dalam menjalankan protokol pemantauan harian [6].

Tantangan non-teknis mencakup keterbatasan anggaran desa akibat kebijakan pemangkasan transfer dana pusat, yang membatasi kapasitas perluasan greenhouse secara cepat. Selain itu, diperlukan proses adaptasi bagi pengelola BUMDes dalam menguasai teknologi budidaya hidroponik yang relatif baru bagi ekosistem pertanian desa, sehingga pendampingan intensif dari Asosiasi Juragan Organik Semesta menjadi sangat krusial pada fase awal operasional [1].

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Mekar Jaya merancang keberlanjutan inovasi melalui model bisnis terintegrasi yang menggabungkan produksi, pendampingan teknis, dan kemitraan pemasaran dalam satu ekosistem yang saling menopang. Kerja sama jangka panjang dengan PT Zanzibar sebagai off taker dan Asosiasi Juragan Organik Semesta sebagai mitra teknis dipertahankan sebagai fondasi operasional yang stabil [4].

Diversifikasi unit usaha BUMDes—yang mencakup budidaya jagung, penggemukan kambing berbasis pakan fermentasi, dan pengelolaan air bersih (Pamsimas)—dirancang untuk menyeimbangkan risiko bisnis dan memastikan sumber pendapatan desa tidak bergantung pada satu komoditas tunggal. Hasil dari greenhouse melon direncanakan diinvestasikan kembali secara bertahap untuk perluasan kapasitas greenhouse dan peningkatan teknologi produksi [1].

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Wakil Bupati Kendal Benny Karnadi secara eksplisit menyatakan bahwa keberhasilan Desa Nolokerto harus menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Kendal dan sekitarnya. Pemerintah Kabupaten Kendal berkomitmen memberikan dukungan berkelanjutan agar model ini dapat direplikasi, dengan sistem kemitraan off taker sebagai komponen kunci yang perlu direproduksi di setiap lokasi replikasi [7].

Strategi scale up mencakup tiga tahap: pertama, penguatan dan dokumentasi model operasional BUMDes Nolokerto sebagai prototipe; kedua, sosialisasi dan studi banding bagi BUMDes desa-desa tetangga; ketiga, replikasi bertahap dengan pendampingan dari Asosiasi Juragan Organik Semesta yang memiliki kapasitas untuk mendampingi lebih banyak desa sekaligus. Pengalaman desa-desa lain yang telah menjalankan model serupa, seperti BUMDes Kamulyan Desa Kedunguter dan BUMDes Tirta Rancabala Desa Cimari, menunjukkan bahwa replikasi model greenhouse melon di tingkat desa sangat layak dilakukan dengan dukungan teknis dan kemitraan yang tepat [9][10].

Daftar Pustaka

[1] Tombak Rakyat, “Lawan Pemangkasan Dana Pusat, BumDes Mekar Jaya Nolokerto Genjot PAD Lewat Panen Melon Premium,” tombakrakyat.com, 15 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://tombakrakyat.com/lawan/

[2] A. M. Zain, “Pemanfaatan Greenhouse Sebagai Potensi Desa Meningkatkan Produktivitas Pertanian Dan Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus Desa Kedung Banteng Sukorejo Ponorogo),” Jurnal Sosial Sains dan Agama, Sep. 2024. [Online]. Tersedia: https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/ssa/article/view/5945

[3] Tim Abdimas JISE, “Agribisnis Budidaya Melon Premium Hidroponik bagi Milenial,” Journal of Innovation, Science and Engineering (JISE), Universitas Kuningan, 2023. [Online]. Tersedia: https://jise.uniku.ac.id/pub/article/download/99/68

[4] Halo Semarang, “Panen Perdana, BUMDes Nolokerto Kendal Sukses Budidaya Melon Premium,” halosemarang.id, Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://halosemarang.id/panen-perdana-bumdes-nolokerto-kendal-sukses-budidaya-melon-premium/

[5] RRI Semarang, “BUMDes Mekar Jaya Nolokerto Panen Perdana Greenhouse Melon Premium,” rri.co.id, Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id/semarang/ekonomi/umkm/2267603/bumdes-mekar-jaya-nolokerto-panen-perdana-greenhouse-melon-premium

[6] YouTube, “Tanam Melon Sweet Hami dan Inthanon RZ F1 usia 2 HST,” youtube.com. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=Uy7sbOzhJ3c

[7] Suara Merdeka Kendal, “Panen Perdana Melon Greenhouse Nolokerto Tandai Inovasi Pertanian Desa,” kendal.suaramerdeka.com, 16 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://kendal.suaramerdeka.com/kendal-raya/103616873769/panen-perdana-melon-greenhouse-nolokerto-tandai-inovasi-pertanian-desa-

[8] Radar Bangsa, “BUMDes Mekar Jaya Nolokerto Kembangkan Pertanian Modern Berbasis Desa Lewat Greenhouse Melon,” radarbangsa.co.id, Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://radarbangsa.co.id/bumdes-mekar-jaya-nolokerto-kembangkan-pertanian-modern-berbasis-desa-lewat-greenhouse-melon/

[9] BUMDes Kamulyan Desa Kedunguter, “Penguatan Ketahanan Pangan Desa, BUMDes Kamulyan Tanam Bibit Melon di Greenhouse,” kedunguter.desa.id, Jan. 2026. [Online]. Tersedia: https://kedunguter.desa.id/artikel-detail/penguatan-ketahanan-pangan-desa-bumdes-kamulyan-tanam-bibit-melon-di-greenhouse

[10] Desa Cimari, “Panen Raya Melon di Greenhouse Cimari: Ketahanan Pangan Inovatif dari Tangan Pemuda Tani Milenial,” cimari.desa.id, Nov. 2025. [Online]. Tersedia: https://cimari.desa.id/baca/panen-raya-melon-di-greenhouse-cimari-ketahanan-pangan-inovatif-dari-tangan-pemuda-tani-milenial-ama

[11] A. Z. Purwalaksana dkk., “Optimalisasi Greenhouse melalui Sistem Hidroponik DFT untuk Budidaya Melon,” JPM Sains, Universitas Negeri Jakarta, Okt. 2025. [Online]. Tersedia: https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jpm-sains/article/view/61669

[12] R. Rais dkk., “Greenhouse untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Lokal dalam Menghadapi Perubahan Iklim,” Jurnal Abdira, Agu. 2025. [Online]. Tersedia: http://abdira.org/index.php/abdira/article/view/995

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.