Ringkasan Inovasi

BUMDes Mada Ole di Desa Wetana, Kecamatan Lamboya Barat, Kabupaten Sumba Barat, NTT, menghadirkan terobosan ekonomi desa dengan mengolah potensi lahan kering menjadi sentra produksi beras gogo wangi bernilai premium. Inovasi ini bertujuan memutus dominasi tengkulak, mengoptimalkan nilai jual komoditas pertanian lokal, dan mewujudkan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal Sumba.​

Hasilnya melampaui ekspektasi: enam ton beras gogo wangi berhasil diluncurkan pada tahap pertama dengan harga jual Rp13.000 per kilogram ke berbagai instansi pemerintah, termasuk RSUD Waikabubak. Kepala Dinas PMD Provinsi NTT bahkan memproyeksikan BUMDes Mada Ole sebagai salah satu BUMDes unggulan NTT yang patut dijadikan inspirasi bagi desa-desa lainnya.​

Nama Inovasi:Produksi Beras Gogo Wangi Premium oleh BUMDes Mada Ole Desa Wetana
Alamat:Desa Wetana, Kecamatan Lamboya Barat, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Inovator:Petrus Raga Uma (Kepala Desa Wetana); Pengelola BUMDes Mada Ole
Kontak:

Latar Belakang

Desa Wetana terletak di kawasan dataran tinggi Sumba Barat yang didominasi lahan kering, sehingga pilihan komoditas pertanian warga sangat terbatas. Mayoritas masyarakat desa mengandalkan pertanian subsisten selama bertahun-tahun, bergantung pada hasil ladang hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga sendiri. Kondisi geografis ini seringkali dianggap sebagai hambatan, padahal di baliknya tersimpan keunikan ekologis yang tak ternilai.

Petani Wetana sesungguhnya telah lama mengenal padi gogo sebagai tanaman warisan yang sangat adaptif terhadap kondisi lahan kering tanpa irigasi. Namun hasil panen mereka selalu berakhir di tangan tengkulak dengan harga murah karena tidak ada fasilitas pengolahan maupun pembeli tetap di tingkat desa. Komoditas istimewa bercita rasa wangi pandan khas ini kehilangan nilai tambahnya sebelum sempat menjangkau tangan konsumen akhir.

Keistimewaan padi gogo Desa Wetana sangat unik: aroma wangi pandannya hanya muncul bila ditanam di wilayah desa itu saja — varietas yang sama tidak menghasilkan aroma serupa bila dibudidayakan di tempat lain. Peluang emas berupa keunikan geografis dan cita rasa inilah yang mendorong perangkat desa untuk segera mendirikan wadah kelembagaan yang mampu menangkap nilai luar biasa dari komoditas istimewa ini. Kesadaran akan potensi terpendam inilah yang menjadi pemantik lahirnya BUMDes Mada Ole.​

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi ini lahir pada tahun 2018 ketika Kepala Desa Wetana, Petrus Raga Uma, bersama perangkat desa mendirikan BUMDes Mada Ole dengan memanfaatkan dana desa sebagai modal awal. BUMDes dirancang secara khusus dengan visi menjadi agregator tunggal yang menampung seluruh hasil panen gabah petani desa sekaligus agen pemasaran produk beras olahan premium. Kelembagaan ini hadir untuk mengambil alih peran tengkulak yang selama ini merugikan petani lahan kering Sumba.​

BUMDes bekerja sebagai offtaker yang menjamin stabilitas harga beras gogo di tingkat petani, memutus rantai distribusi tidak adil yang mengeksploitasi keringat para peladang. Gabah yang terkumpul diproses melalui tahapan penggilingan terkontrol, penyortiran kualitas bulir, dan pengemasan standar premium sebelum didistribusikan ke pasar institusional. Beras gogo wangi yang telah dikemas higienis ini kemudian dipasarkan ke instansi pemerintah daerah, termasuk RSUD Waikabubak sebagai konsumen tetap pertama yang membeli dalam jumlah besar.

Proses Penerapan Inovasi

Langkah awal pengembangan dimulai dengan pemetaan kapasitas produksi petani dan pendataan kelompok tani aktif yang menanam padi gogo di lahan kering Desa Wetana. BUMDes kemudian melakukan uji coba penyerapan panen skala kecil untuk mengukur volume produksi aktual dan memvalidasi kualitas gabah yang layak diolah menjadi beras premium. Pemetaan awal ini menjadi fondasi data sebelum BUMDes berani melangkah ke pasar yang lebih luas dan kompetitif.

Proses pengolahan awal sempat menghadapi kendala teknis saat alat penggilingan standar merusak persentase bulir utuh dan mengurangi aroma khas beras gogo. Kegagalan mekanis ini menjadi pelajaran berharga yang mendorong pengelola segera meningkatkan kalibrasi mesin agar menghasilkan beras kelas premium yang terjaga keutuhannya. Pengalaman pahit ini memperkuat keyakinan pengelola bahwa kualitas produk adalah satu-satunya tiket masuk ke pasar institusional.​

Bank NTT Cabang Waikabubak kemudian hadir sebagai mitra strategis dalam mengakselerasi pengembangan BUMDes Mada Ole, termasuk mendorong kolaborasi pemasaran beras premium lokal. Program Desa Binaan Bank NTT memperkuat jaringan distribusi BUMDes sekaligus membuka akses ke Festival Desa Binaan sebagai ajang promosi produk unggulan. Pendampingan berkelanjutan dari Bank NTT melalui agen Laku Pandai juga memperluas literasi keuangan petani desa secara nyata.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kunci keberhasilan inovasi ini terletak pada kepemimpinan visioner Kepala Desa Petrus Raga Uma yang sejak awal menempatkan BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi desa, bukan sekadar formalitas kelembagaan. Peran BUMDes sebagai offtaker tunggal yang konsisten menjamin harga beli petani menciptakan kepercayaan sosial yang menjadi pondasi utama keikutsertaan warga dalam ekosistem inovasi ini.

Kemitraan strategis dengan Bank NTT Cabang Waikabubak menjadi akselerator pertumbuhan yang membuka akses pasar institusional sekaligus memperkuat fondasi finansial BUMDes. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat melalui Kunjungan Kerja Bupati ke Desa Wetana secara langsung memberikan legitimasi politis dan dorongan moral yang memperkuat kepercayaan diri pengelola. Dukungan lintas institusi inilah yang mengubah usaha kecil desa menjadi model pemberdayaan yang diperhitungkan di tingkat provinsi.

Hasil dan Dampak Inovasi

Peluncuran enam ton beras gogo wangi perdana menandai babak baru kebangkitan ekonomi Desa Wetana dengan transaksi beras premium seharga Rp13.000 per kilogram yang berhasil menembus pasar institusional. Kepastian serapan pasar dari RSUD Waikabubak dan instansi pemerintah daerah memberikan stabilitas pendapatan yang sebelumnya tidak pernah dirasakan oleh petani lahan kering Sumba. Padi gogo Desa Wetana yang dulunya hanya dikonsumsi sendiri kini resmi berstatus produk premium berdaya saing tinggi.​

Secara kualitatif, kehadiran BUMDes sukses menumbuhkan kembali gairah bertani warga karena hasil panen mereka kini dihargai dengan adil dan bermartabat. Penelitian tentang keragaman plasma nutfah padi gogo lokal Sumba Barat mengonfirmasi bahwa varietas padi gogo lokal menyimpan potensi genetik unggul yang belum sepenuhnya tereksploitasi secara ekonomi (Balai Penelitian Tanaman Padi, dalam media.neliti.com). Desa Wetana kini masuk dalam jaringan 115 peserta Festival Desa Binaan Bank NTT, sebuah pengakuan atas daya inovasi desa yang nyata.

Dampak sosial-ekonomi inovasi ini juga meraih pengakuan resmi dari Kepala Dinas PMD Provinsi NTT yang menyatakan BUMDes Mada Ole masuk dalam proyeksi 100 BUMDes unggulan NTT. Program Nusatani dari SurfAid yang mendampingi petani di kawasan Sumba Barat turut memperkuat ekosistem pertanian desa dengan pendekatan Good Agricultural Practices (GAP) yang meningkatkan kualitas hasil panen secara berkelanjutan. Desa Wetana kini disorot sebagai lokasi demo farm agribisnis yang menjadi rujukan pemberdayaan pertanian di kawasan lahan kering Flobamora.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah keterbatasan infrastruktur pengolahan dan jauhnya jarak desa dari pusat distribusi perkotaan, yang meningkatkan biaya logistik dan mempersulit jangkauan pasar yang lebih luas. Kendala teknis pada mesin penggilingan di tahap awal sempat menurunkan kualitas produk dan menghambat konsistensi standar yang dibutuhkan pasar institusional.

Minimnya diversifikasi usaha BUMDes juga menjadi catatan kritis dari dewan juri Festival Desa Binaan Bank NTT, yang menyarankan BUMDes untuk segera mengembangkan unit usaha penyedia sarana produksi pertanian (saprodi) dan kebutuhan pokok warga. Ketergantungan pada satu komoditas utama membuat BUMDes rentan terhadap fluktuasi hasil panen akibat anomali cuaca yang kerap melanda kawasan lahan kering Sumba. Kedua tantangan ini menjadi agenda perbaikan yang terus dibenahi oleh pengelola demi memperkuat fondasi keberlanjutan usaha.​

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Mada Ole menerapkan prinsip bisnis profesional dalam mengatur arus kas kelembagaan, di mana sebagian keuntungan penjualan dikembalikan sebagai modal kerja untuk memastikan kelangsungan pembelian gabah petani pada musim panen berikutnya. Kerja sama jangka panjang dengan instansi pemerintah daerah sebagai konsumen tetap menjadi jangkar pelindung usaha dari guncangan fluktuasi harga komoditas nasional.​

Rencana diversifikasi usaha ke arah penyediaan saprodi pertanian dan kebutuhan pokok warga desa tengah dikembangkan sebagai strategi memperluas basis pendapatan BUMDes. Kolaborasi berkelanjutan dengan Bank NTT melalui program Desa Binaan terus diperkuat, termasuk pemanfaatan agen Laku Pandai untuk meningkatkan akses keuangan digital petani. Pendampingan teknis pertanian organik berkelanjutan juga direncanakan untuk menjaga kesuburan lahan kering dan mempertahankan keunikan aroma khas padi gogo Wetana yang menjadi keunggulan kompetitif utama produk.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Keberhasilan Desa Wetana menawarkan cetak biru konkret yang dapat direplikasi oleh desa-desa dataran tinggi lain di Sumba dan wilayah lahan kering NTT yang memiliki komoditas pertanian unggulan serupa. Strategi awal replikasi mencakup pembukaan ruang inkubasi bagi pengurus BUMDes tetangga yang ingin mempelajari sistem manajemen tata niaga offtaker berbasis komoditas lokal. Transfer pengetahuan antardesa ini diyakini mempercepat lahirnya lumbung-lumbung ketahanan pangan baru di kawasan lahan kering Flobamora.

Pemerintah daerah didorong untuk memfasilitasi jalur integrasi pemasaran antardesa agar kapasitas pasokan beras gogo wangi semakin stabil memenuhi permintaan yang terus meningkat. Padi gogo sendiri telah mendapat perhatian nasional sebagai komoditas strategis ketahanan pangan, dengan Kementerian Pertanian mendorong perluasan areal tanam di berbagai daerah lahan kering Indonesia. BUMDes Mada Ole tengah menatap visi ambisius membangun gudang penyimpanan komunal berteknologi modern guna menyerap pasokan dari desa-desa penyangga dan mengkristalkan kemandirian kawasan secara utuh.

Daftar Pustaka

ANTARA News Kupang. (2019, 11 Juni). BUMDes Mada Ole rintis usaha produksi beras gogo wangi. https://kupang.antaranews.com/berita/19453/bumdes-mada-ole-rintis-usaha-produksi-beras-gogo-wangi

ANTARA News Kupang. (2024, 12 Desember). Kisah petani Sumba Barat berdaya berkat Nusatani. https://kupang.antaranews.com/berita/144061/kisah-petani-sumba-barat-berdaya-berkat-nusatani

Ranaka News. (2022, 28 April). Panen raya padi gogo, wangikan Sumba Barat dari Wetana.https://ranakanews.com/panen-raya-padi-gogo-wangikan-sumba-barat-dari-wetana/

Ranaka News. (2022). Bank NTT Cabang Waikabubak terus mendorong tumbuhnya inovasi berkelanjutan di desa dan BUMDes. https://ranakanews.com/36267-2/

Seputar NTT. (2022, 28 November). Padi gogo andalan Desa Wetana yang dibina Bank NTT.https://www.seputar-ntt.com/padi-gogo-andalan-desa-wetana-yang-dibina-bank-ntt/

Selatan Indonesia. (t.t.). Wangi padi gogo dari Wetana, desa binaan Bank NTT Waikabubak siap berkompetisi di festival. https://selatanindonesia.com/wangi-padi-gogo-dari-wetana-desa-binaan-bank-ntt-waikabubak-siap-berkompetisi-di-festival/

Pemerintah Kabupaten Sumba Barat. (t.t.). Bupati Sumba Barat melakukan kunjungan kerja dan monitoring di Desa Wetana. https://sumbabaratkab.go.id/home/bupati-sumba-barat-melakukan-kunjungan-kerja-dan-monitoring-di-desa-wetana/

Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. (2025, 24 Agustus). Lumbung pangan baru: Lewat tanam padi gogo, jadikan Landak tonggak swasembada. https://ditjenbun.pertanian.go.id/lumbung-pangan-baru-lewat-tanam-padi-gogo-jadikan-landak-tonggak-swasembada/

 

___________________________________________

DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.