Ringkasan Inovasi
BUMDes Desa Lesung Batu Muda, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara mengembangkan Danau Merung dari bendungan irigasi biasa menjadi destinasi ekowisata berbasis komunitas. Inovasi ini melibatkan Pokdarwis, pengelola wisata, pelaku IKM lokal, dan pemerintah desa sebagai pilar penggerak utama. Tujuan utamanya adalah meningkatkan Pendapatan Asli Desa sekaligus membuka lapangan kerja nyata bagi seluruh warga lokal yang selama ini sangat bergantung pada sektor pertanian.
Danau Merung kini menjadi ikon pariwisata baru Kabupaten Musi Rawas Utara yang menarik kunjungan wisatawan domestik hingga turis mancanegara. Dampak utamanya terasa pada tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif di sekitar kawasan danau serta berkurangnya laju urbanisasi pemuda desa. Desa Lesung Batu Muda bahkan kini terdaftar dalam Jejaring Desa Wisata Kemenparekraf RI sebagai Desa Wisata Danau Batu.
| Nama Inovasi | : | Pengembangan Ekowisata Danau Merung Berbasis Komunitas oleh BUMDes Lesung Batu Muda |
| Alamat | : | Desa Lesung Batu Muda, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan |
| Inovator | : | BUMDes Desa Lesung Batu Muda; Direktur BUMDes dan Kepala Desa Lesung Batu Muda; bermitra dengan Pokdarwis dan Dinas Pariwisata Kabupaten Musi Rawas Utara |
| Kontak | : | Blog: danaumerung.blogspot.com | Kantor Desa Lesung Batu Muda, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan |
Latar Belakang
Selama puluhan tahun, Danau Merung hanya dikenal warga sebagai bendungan irigasi pertanian yang tenang dan tidak produktif secara ekonomi. Air danau dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, namun potensi wisatanya sama sekali tidak tersentuh oleh pembangunan desa maupun pemerintah daerah. Akibatnya, banyak pemuda Desa Lesung Batu Muda memilih merantau ke kota besar karena peluang kerja di desa sangat terbatas.
Dinas Pariwisata Kabupaten Muratara mencatat bahwa Danau Merung memiliki ekosistem danau dan hutan yang sangat potensial dikembangkan sebagai ekowisata, termasuk air terjun dan sumber mata air alami. Namun, keterbatasan fasilitas, infrastruktur jalan, dan sistem pengelolaan yang terstruktur menjadi rintangan besar yang sulit ditembus tanpa inisiatif inovasi dari bawah. Potensi besar ini tertidur panjang karena tidak ada entitas desa yang cukup berani untuk mengambil peran penggerak utama.
Momentum perubahan datang pascaLebaran Idulfitri 1444 H, saat rombongan rider dan turis mancanegara secara organik mulai mengunjungi Danau Merung. Kunjungan spontan itu membuktikan bahwa daya tarik alam danau sudah cukup kuat untuk menarik minat wisatawan tanpa promosi yang terencana sekalipun. BUMDes Lesung Batu Muda segera menangkap momen ini sebagai titik balik untuk membangun tata kelola pariwisata yang profesional dan berkelanjutan.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari inisiatif BUMDes bersama Pokdarwis dan Kepala Desa Lesung Batu Muda untuk mengubah aset alam menjadi unit usaha wisata yang dikelola penuh oleh warga. Model ekowisata berbasis komunitas ini menempatkan warga sebagai pemilik sekaligus pengelola, bukan sekadar penonton pembangunan dari luar. Dinas Pariwisata Muratara turut mendampingi proses pengkajian dan survei awal untuk memastikan pengembangan kawasan berjalan sesuai prinsip keberlanjutan lingkungan.
Inovasi ini bekerja melalui pembagian zona wisata yang mengintegrasikan wahana rekreasi air, spot fotografi estetis, dan gerai kuliner khas lokal dalam satu kawasan terpadu. BUMDes bertindak sebagai pengelola sentral yang menetapkan standar layanan, sistem tiket masuk, dan aturan keamanan pengunjung. Setiap rupiah pendapatan dari tiket wisata masuk ke kas desa sebagai Pendapatan Asli Desa yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh warga.
Proses Penerapan Inovasi
Langkah pertama dimulai dengan pemetaan aset wisata secara partisipatif yang melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, Pokdarwis, dan IKM lokal. Pemerintah Desa mengalokasikan modal awal dari Dana Desa untuk pembersihan area dan pembangunan infrastruktur dasar kawasan danau. Pada fase ini pula Direktur BUMDes berkoordinasi intensif dengan Kepala Bidang Pendapatan Dinas Badan Pendapatan Daerah Muratara untuk menyepakati skema pengelolaan yang sah secara regulasi.
Eksperimen pertama dilakukan melalui penyelenggaraan festival kecil skala lokal guna menguji daya tarik danau secara langsung di mata publik. Minimnya fasilitas sanitasi di awal pembukaan memicu keluhan pengunjung yang menjadi evaluasi penting bagi seluruh tim pengelola kawasan. Kegagalan awal ini justru mempercepat penyusunan standar fasilitas minimum yang wajib tersedia sebelum kawasan dibuka secara resmi kepada publik yang lebih luas.
Strategi promosi digital kemudian diaktifkan dengan dukungan penuh Bupati Musi Rawas Utara H. Devi Suhartoni untuk memperkuat narasi wisata Danau Merung di media sosial. Kolaborasi dengan pegiat konten lokal menghasilkan konten visual yang sukses memperkenalkan keindahan eksotis danau saat sore hari kepada jutaan penonton digital. Setiap hambatan teknis di lapangan selalu diselesaikan melalui musyawarah rutin antara BUMDes, Pokdarwis, dan perwakilan IKM yang bertugas di kawasan setiap harinya.
Faktor Penentu Keberhasilan
Komitmen penuh Kepala Desa Lesung Batu Muda dalam mengalokasikan Dana Desa secara strategis untuk pembangunan infrastruktur wisata menjadi fondasi utama keberhasilan program ini. Kehadiran Pokdarwis sebagai ujung tombak pengelolaan operasional harian memastikan standar layanan wisata terjaga secara konsisten tanpa bergantung pada pihak luar. Dukungan Dinas Pariwisata Muratara dalam pengkajian awal dan kampanye promosi juga memperkuat legitimasi kawasan Danau Merung di tingkat kabupaten.
Kekayaan warisan budaya dan alam sekitar yang melengkapi Danau Merung, seperti Candi Lesung Batu dan Curug Leran, menjadi daya tarik tambahan yang memperkuat ekosistem wisata secara organik. Partisipasi aktif pelaku IKM lokal yang berjualan di kawasan wisata menciptakan rasa kepemilikan kolektif yang kuat di kalangan warga. Keterlibatan lintas aktor, mulai dari pemerintah desa, BUMDes, Pokdarwis, Dinas Pariwisata, hingga masyarakat adat, menciptakan ekosistem pengelolaan yang saling menopang secara harmonis.
Hasil dan Dampak Inovasi
Danau Merung kini resmi menjadi salah satu destinasi wisata terpopuler di Kabupaten Musi Rawas Utara dan menarik kunjungan wisatawan dari luar provinsi. Peningkatan kunjungan wisatawan secara konsisten berkontribusi langsung pada pertumbuhan Pendapatan Asli Desa yang dialokasikan untuk pembangunan fasilitas dan program sosial warga. Puluhan warga desa kini berprofesi sebagai pengelola wahana, pemandu wisata, dan penyedia jasa kuliner di kawasan yang dahulu hanya berupa bendungan sunyi.
Secara kualitatif, terjadi perubahan besar dalam cara pandang warga terhadap potensi sumber daya alam di sekitar mereka. Kesadaran ekologis masyarakat tumbuh secara alami karena warga memahami bahwa kelestarian danau adalah kunci keberlangsungan pendapatan mereka. Desa Lesung Batu Muda kini terdaftar dalam Jejaring Desa Wisata Kemenparekraf RI sebagai Desa Wisata Danau Batu, sebuah pengakuan nasional yang membanggakan.
Keberhasilan ini juga mendorong Pemerintah Kabupaten Muratara mempercepat perbaikan infrastruktur jalan menuju kawasan demi meningkatkan aksesibilitas wisatawan. Laju urbanisasi pemuda desa mulai terasa berkurang karena lapangan kerja baru di sektor pariwisata kini menjadi pilihan karier yang menarik di kampung sendiri. Desa Lesung Batu Muda kini berdiri sejajar dengan destinasi wisata unggulan lain di Muratara seperti Danau Raya dan Sanau Bukit Layang.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
BUMDes Lesung Batu Muda merancang cetak biru pengembangan jangka panjang yang membagi kawasan Danau Merung menjadi beberapa zona wisata khusus sesuai daya dukung lingkungan. Sebagian keuntungan operasional wisata secara rutin diinvestasikan kembali untuk perluasan fasilitas, pemeliharaan infrastruktur, dan pelatihan SDM pengelola kawasan. Regulasi desa yang kuat telah disiapkan agar pergantian kepemimpinan tidak mengganggu kelangsungan operasional bisnis pariwisata desa.
Pengembangan produk ekowisata terus diperluas dengan memanfaatkan potensi air terjun, sumber mata air, dan kawasan agrowisata di sekitar danau. Agenda penanaman bibit pohon endemik lokal menjadi program tahunan wajib sebagai wujud tanggung jawab ekologis bersama seluruh warga. Kolaborasi dengan lembaga pelestarian lingkungan dan perguruan tinggi juga dijajaki untuk memperkuat aspek pengelolaan ekosistem danau secara ilmiah dan berkelanjutan.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Kisah sukses Danau Merung kini menjadi literatur hidup bagi desa-desa lain di Kecamatan Rawas Ulu yang memiliki potensi alam serupa namun belum tersentuh pembangunan. BUMDes Lesung Batu Muda terbuka menerima kunjungan studi banding dari pengurus desa lain untuk berbagi panduan operasional standar pengelolaan ekowisata berbasis komunitas. Seluruh pengalaman dari fase perintisan hingga pengelolaan aktif didokumentasikan sebagai modul replikasi yang siap diadaptasi oleh desa-desa berpotensi wisata di Kabupaten Musi Rawas Utara.
Strategi scale up dilakukan dengan mengintegrasikan Danau Merung ke dalam paket wisata regional terpadu bersama destinasi lain di Muratara. Rencana digitalisasi sistem pemesanan tiket dan pemasaran produk IKM lokal akan memperluas jangkauan pasar wisata ke luar provinsi Sumatera Selatan. Melalui jejaring Desa Wisata Kemenparekraf, Lesung Batu Muda berpeluang mengakses dukungan nasional untuk mempercepat pengembangan dan memperluas dampak ekonomi bagi seluruh masyarakat desa di kawasan Rawas Ulu.
