Ringkasan Inovasi

BUMDes Bumi Raya SP 1, yang berlokasi di Kampung Bumi Raya SP 1, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menerapkan inovasi Agrowisata Terpadu bertajuk “Wisata Nyore” yang menyatukan pesona hamparan sawah transmigrasi, sentra kuliner UMKM, dan peternakan sirkular dalam satu ekosistem ekonomi desa. Inovasi ini lahir dari inisiasi Kepala BUMDes Fransiskus Saverius Kayame bersama warga yang menangkap peluang dari aktivitas sederhana pedagang kopi pinggir sawah yang ternyata menarik ramai pengunjung [1].

Tujuan utama inovasi ini adalah menciptakan sumber pendapatan baru yang mampu menyerap pemuda dan ibu rumah tangga desa, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian lokal. Dampaknya nyata: dua puluh lima lapak UMKM tumbuh, angka pengangguran pemuda turun, dan BUMDes Bumi Raya SP 1 meraih predikat percontohan se-Provinsi Papua Tengah dengan dukungan dana Rp 350 juta dari pemerintah pusat [2].

Nama Inovasi:Agrowisata Terpadu “Wisata Nyore” Sawah Bumi Raya – BUMDes Bumi Raya SP 1
Alamat:Kampung Bumi Raya SP 1, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah
Inovator:Fransiskus Saverius Kayame (Kepala BUMDes Bumi Raya SP 1) bersama masyarakat Kampung Bumi Raya SP 1
Kontak: Website: nabire.net/tag/bumdes-bumi-raya-sp1
Kabupaten Nabire: nabirekab.go.id

Latar Belakang

Kampung Bumi Raya SP 1 berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Nabire dan tumbuh sebagai kantong transmigrasi dengan hamparan lahan sawah yang sangat luas dan subur. Panen raya padi di lahan seluas 250 hektar berlangsung setiap tahun dengan produktivitas mencapai 4,71 ton per hektar gabah kering giling, namun seluruh hasil panen dijual dalam bentuk gabah mentah tanpa pengolahan lebih lanjut [4].

Petani seringkali terjebak fluktuasi harga gabah yang tidak menentu, sehingga kesejahteraan mereka sulit beranjak naik meski panen melimpah. Di sisi lain, pemuda desa tidak menemukan lapangan kerja yang relevan dan bergengsi di kampung halaman, sehingga banyak yang memilih merantau atau menganggur [3].

Peluang besar tersimpan di lokasi strategis kampung yang hanya 15 km dari pusat kota: warga Nabire membutuhkan destinasi rekreasi alternatif yang asri dan terjangkau untuk akhir pekan. Peluang inilah yang kemudian ditangkap Fransiskus Saverius Kayame untuk mengubah wajah pertanian konvensional menjadi atraksi wisata bernilai ekonomi tinggi berbasis potensi lokal yang ada [1].

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir secara organik dari aktivitas sederhana warga yang berjualan kopi di pinggir sawah dan terbukti menarik banyak pengunjung sore hari. BUMDes kemudian menata kawasan tersebut menjadi “Wisata Nyore” — kawasan wisata persawahan senja yang dilengkapi jalur pejalan kaki estetik, gazebo, dan area swafoto instagramable di tengah hamparan padi hijau yang memukau [3].

Inovasi bekerja dalam sistem terpadu: area sawah berfungsi ganda sebagai lahan produksi pangan dan destinasi wisata, sementara lapak-lapak UMKM menyediakan kuliner olahan hasil kebun warga kepada pengunjung. Limbah pertanian diolah menjadi pakan ternak dan kotoran ternak dikembalikan sebagai pupuk organik ke sawah, menciptakan siklus ekonomi sirkular yang efisien dan ramah lingkungan [1].

Proses Penerapan Inovasi

Pengembangan dimulai dengan pemetaan lanskap sawah paling strategis untuk dijadikan titik swafoto tanpa merusak fungsi produksi pangan. BUMDes membangun infrastruktur penunjang seperti gazebo, jalur jogging, area parkir, dan lapak pedagang secara bertahap menggunakan sumber daya yang tersedia, dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan warga di setiap tahap pembangunan [1].

Tantangan awal muncul berupa keterbatasan pendanaan karena pengembangan hanya mengandalkan iuran mingguan yang sangat kecil dari para pedagang. Fasilitas penerangan yang belum memadai juga membatasi jam operasional wisata. Keterbatasan ini justru memicu kreativitas pengelola untuk memaksimalkan daya tarik wisata senja yang eksotis sebagai keunggulan unik yang tidak dimiliki destinasi lain [3].

Kegigihan pengurus dalam melegalkan struktur usaha dan memperbaiki manajemen membuahkan hasil berupa pengakuan resmi dari Kementerian Desa PDT dan Kementerian Koperasi. Penetapan sebagai BUMDes percontohan se-Papua Tengah kemudian membuka akses dana stimulan Rp 350 juta yang dikelola secara profesional untuk pelatihan SDM dan pengembangan infrastruktur lanjutan [2].

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan visioner Fransiskus Saverius Kayame yang berani mengubah paradigma warga dari “sawah hanya untuk padi” menjadi “sawah sebagai aset wisata” menjadi faktor terpenting keberhasilan inovasi ini. Kemampuannya mengorkestrasi partisipasi ibu-ibu, pemuda, dan petani dalam satu ekosistem bisnis yang saling menguntungkan menciptakan rasa kepemilikan yang kuat dari seluruh elemen masyarakat [2].

Pengakuan dari pemerintah pusat melalui kunjungan langsung Menteri Koperasi dan Menteri Desa PDT ke Kampung Bumi Raya menjadi katalis yang memperkuat legitimasi dan kepercayaan diri warga. Sinergi antara pemerintah kampung, BUMDes, dan komunitas warga menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan [5].

Hasil dan Dampak Inovasi

Agrowisata “Wisata Nyore” berhasil membuka peluang usaha baru bagi 25 lapak UMKM yang mayoritas dikelola ibu rumah tangga, memberikan tambahan pendapatan harian yang signifikan. Pedagang yang dulunya kesulitan mencari pembeli kini memiliki pasar pasti yang datang langsung ke lapak mereka setiap sore hari [3].

Dampak sosial terlihat dari keterlibatan aktif pemuda yang kini mengelola parkir, keamanan, dan promosi digital area wisata, sehingga angka pengangguran pemuda di kampung menurun. Transformasi mentalitas warga terjadi: dari yang semula pasif menunggu hasil panen, kini aktif menciptakan nilai tambah dari aset alam yang telah lama mereka miliki [1].

Pengakuan nasional diraih melalui penetapan BUMDes Bumi Raya SP 1 sebagai percontohan se-Provinsi Papua Tengah, menempatkan kampung ini sebagai inspirasi bagi delapan kabupaten lainnya. Dana stimulan Rp 350 juta dari pemerintah pusat diserahkan langsung di Kantor Gubernur Papua Tengah, membuktikan bahwa desa di pelosok Papua mampu menjadi motor penggerak ekonomi kawasan [2].

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama pada fase awal adalah keterbatasan modal dan infrastruktur, di mana pengembangan hanya mengandalkan iuran kecil pedagang tanpa akses permodalan formal. Ketiadaan penerangan yang memadai membatasi jam kunjungan wisata dan mengurangi potensi pendapatan malam hari yang sesungguhnya menyimpan peluang besar [1].

Tantangan lanjutan adalah mempertahankan kualitas pengalaman wisatawan seiring meningkatnya jumlah pengunjung tanpa merusak ekosistem sawah sebagai lahan produksi pangan. Pengelola menjawab tantangan ini dengan zonasi yang ketat antara area wisata dan area pertanian aktif, serta menerapkan SOP kebersihan yang wajib dipatuhi seluruh pedagang dan pengunjung.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan dijaga melalui diversifikasi sumber pendapatan BUMDes yang tidak hanya mengandalkan tiket masuk wisata, tetapi juga mencakup bagi hasil UMKM, penjualan pupuk organik, dan layanan penyediaan pakan ternak yang dibutuhkan petani sepanjang tahun. Model multi-sumber ini memastikan arus kas desa tetap stabil meski terjadi fluktuasi kunjungan wisatawan [1].

Payung hukum operasional diperkuat melalui penerbitan Peraturan Kampung (Perkam) yang melindungi seluruh aset dan mekanisme kerja BUMDes dari sengketa kepentingan. Sebagian laba bersih disisihkan secara disiplin ke kas cadangan untuk perawatan fasilitas, sementara pelatihan manajemen wisata bagi pemuda terus dijalankan untuk menjaga standar pelayanan yang konsisten dan profesional [2].

Replikasi dan Scale Up Inovasi

BUMDes menargetkan digitalisasi promosi melalui media sosial dan penerapan sistem pembayaran QRIS untuk memperluas jangkauan wisatawan sekaligus meningkatkan transparansi keuangan. Rencana pembangunan unit penggilingan padi modern untuk memproduksi beras kemasan premium bermerek “Bumi Raya” sedang disiapkan sebagai langkah hilirisasi yang akan melipatgandakan nilai jual gabah petani setempat [1].

Model agrowisata terpadu ini siap diduplikasi ke delapan kabupaten lain di Papua Tengah melalui program studi banding dan pendampingan antardesa yang difasilitasi Kementerian Desa PDT. Paket wisata edukasi pertanian bagi pelajar dan kemitraan dengan agen perjalanan wisata tengah dirancang untuk memperluas segmen pasar jauh di luar wisata rekreasi keluarga semata [5].

Daftar Pustaka

  1. Inovasi.web.id, “ID 00721: BUMDes Bumi Raya SP 1 Menyulap Sawah Menjadi Agrowisata Terpadu Guna Menggerakkan Kemandirian Ekonomi Nabire Papua Tengah,” inovasi.web.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id
  2. Atiganews, “BUMDes Bumiraya SP 1 Nabire Terima Penghargaan dan Bantuan Rp 350 Juta,” atiganews.com, 11 Agustus 2025. [Online]. Tersedia: https://atiganews.com
  3. RRI, “Wisata Nyore Bumi Raya Dorong UMKM Lokal,” rri.co.id, 30 Januari 2026. [Online]. Tersedia: https://rri.co.id
  4. Pemprov Papua Tengah, “Panen Padi di Kampung Bumi Raya: 250 Hektar Lahan Produktif,” kabarpapua.co, 4 Agustus 2025. [Online]. Tersedia: https://kabarpapua.co
  5. Papua Pos Nabire, “Menkop dan Mendes PDT Kunjungi Kampung Bumi Raya,” papuaposnabire.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://papuaposnabire.com
  6. Nabire.net, “BUMDes Bumi Raya SP 1 Nabire Jadi Percontohan se-Papua Tengah, Terima Dana Rp 350 Juta,” nabire.net, 12 Agustus 2025. [Online]. Tersedia: https://www.nabire.net
  7. S. Suharto, “Model BUMDes Agrowisata sebagai Strategi Peningkatan Ekonomi Pedesaan di Kawasan Transmigrasi,” Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Pedesaan, vol. 12, no. 2, hal. 88–104, 2024.
  8. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Panduan Pengembangan BUMDes Berbasis Potensi Lokal,” Jakarta: Kemendesa, 2023.