Ringkasan Inovasi

Desa Botubarani di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, mengembangkan inovasi ekowisata berbasis komunitas yang menjadikan kemunculan hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Teluk Tomini sebagai daya tarik wisata alam kelas dunia yang dikelola langsung oleh nelayan dan masyarakat pesisir setempat. [1] Sejak pertama kali terlihat pada 2016, hiu paus yang muncul hanya 25 meter dari bibir pantai ini berhasil mengubah desa nelayan tradisional menjadi destinasi ekowisata internasional yang masuk dalam 75 Besar Desa Wisata Indonesia 2023. [2]

Inovasi pengelolaan wisata berbasis Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Botubarani ini membuahkan pengakuan bergengsi: ASEAN Community Based Tourism Award pada ASEAN Tourism Forum 2025 di Johor Bahru, Malaysia, serta piagam MURI sebagai desa wisata dengan habitat hiu paus terbanyak dekat daratan. [3] Objek wisata ini kini menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar sektor pariwisata di Kabupaten Bone Bolango, sekaligus mendorong transformasi ekonomi nelayan tradisional yang semula hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan. [4]

Nama Inovasi:Ekowisata Hiu Paus Botubarani — Wisata Bahari Berbasis Komunitas Nelayan Teluk Tomini
Alamat:Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo
Inovator:Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Botubarani, didukung Pemerintah Kabupaten Bone Bolango dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo
Kontak:Wahab Matoka | Telp: 085316072025 / 085240090354 | Email: pokdarwisbotubarani@gmail.com

Latar Belakang

Masyarakat Desa Botubarani sejak lama menggantungkan hidup pada hasil laut sebagai nelayan tradisional menggunakan kapal tidak lebih dari 2 GT dengan mesin ketinting berkekuatan di bawah 4.000 rpm. [5] Pendapatan nelayan sangat bergantung pada musim, kalender “bulan terang” dan “bulan gelap”, serta kelimpahan ikan seperti nike (Awaous melancephalus), kembung, dan cakalang yang tidak menentu sepanjang tahun. [5] Ketergantungan pada satu sumber penghidupan membuat masyarakat rentan terhadap fluktuasi musim dan tekanan ekologis yang mengancam keberlanjutan hasil tangkap. [6]

Perubahan besar terjadi ketika nelayan menyadari bahwa kemunculan hiu paus di perairan Botubarani pada 2016 ternyata menarik perhatian luar biasa dari pengunjung yang ingin melihat langsung satwa laut terbesar di dunia itu. [2] Kemunculan hiu paus yang hanya berjarak 25 meter dari bibir pantai dan berlangsung sepanjang hari selama musim kemunculan adalah fenomena langka yang tidak ditemukan di tempat lain dengan aksesibilitas semudah ini. [7] Peluang inilah yang mendorong nelayan dan pemerintah desa untuk berpikir lebih kreatif: bagaimana mengubah fenomena alam ini menjadi sumber pendapatan alternatif yang berkelanjutan tanpa harus merusak ekosistem yang menjadi daya tarik utamanya. [6]

Sebelum pengelolaan terstruktur hadir, wisata hiu paus sempat berkembang menjadi mass tourism yang tidak terkendali, dengan pengunjung yang datang tanpa batas dan tanpa panduan interaksi yang aman bagi satwa maupun wisatawan. [8] Penelitian IPB (2019) menemukan bahwa daya dukung wisata hanya 24 orang per hari, namun saat itu tidak ada mekanisme pembatasan yang efektif. [8] Kebutuhan mendesak akan sistem pengelolaan yang baik, data ilmiah tentang pola kemunculan hiu paus, dan koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi titik tolak lahirnya inovasi tata kelola ekowisata berbasis komunitas. [8]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi inti Botubarani adalah mengorganisir nelayan tradisional menjadi pengelola wisata profesional melalui Pokdarwis yang menjalankan tiga paket wisata terstruktur: wisata melihat hiu paus dari perahu nelayan, snorkeling permukaan, dan penyelaman scuba bagi penyelam bersertifikat. [2] Sistem tiket dan tarif yang terstandar ditetapkan: sewa perahu Rp100.000 untuk tiga orang, paket snorkeling Rp35.000, sewa peralatan snorkeling Rp50.000, sewa gazebo Rp50.000, sewa kamera bawah air dan drone tersedia untuk menambah pengalaman wisatawan. [2] Sebanyak 32 unit perahu nelayan diintegrasikan ke dalam armada wisata resmi yang dioperasikan bergiliran oleh anggota Pokdarwis. [2]

Inovasi juga mencakup pengelolaan ekologis yang bertanggung jawab melalui pembatasan jumlah pengunjung sesuai daya dukung, SOP interaksi dengan hiu paus yang melarang menyentuh atau memberi makan secara berlebihan, serta penetapan kawasan konservasi perairan Botubarani oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. [8] Aspek kelembagaan Pokdarwis yang kuat dengan pembagian peran yang jelas antara pemandu, operator perahu, penyedia katering, dan pengelola tiket menjadi fondasi tata kelola yang diakui oleh ASEAN Tourism Forum sebagai model community based tourism terbaik. [3]

Proses Penerapan Inovasi

Proses bermula dari inisiatif spontan nelayan yang mulai menawarkan jasa perahu kepada pengunjung yang penasaran dengan hiu paus sejak 2016, sebelum ada sistem pengelolaan formal apapun. [2] Pemerintah Kabupaten Bone Bolango kemudian mengintervensi dengan memfasilitasi pembentukan Pokdarwis sebagai badan pengelola resmi, memberikan pelatihan pemanduan wisata, dan mendorong penelitian ilmiah tentang perilaku hiu paus untuk memperkuat dasar pengelolaan. [4] Kolaborasi dengan peneliti dari IPB pada 2019 menghasilkan data ilmiah pertama yang komprehensif tentang kesesuaian kawasan (75% sesuai untuk wisata), daya dukung (24 orang per hari), dan nilai ekonomi wisata yang mencapai Rp7,89 miliar per bulan puncak kemunculan. [8]

Pada masa awal, pengelolaan sempat tidak terkendali ketika jumlah pengunjung melonjak drastis tanpa regulasi yang memadai. [8] Pengunjung yang terlalu banyak dan perilaku yang tidak ramah lingkungan mengancam kesehatan hiu paus dan kualitas pengalaman wisata itu sendiri. [9] Kegagalan awal ini menjadi pelajaran berharga bahwa popularitas wisata tanpa tata kelola yang baik bisa berbalik menjadi bencana ekologi yang menghancurkan aset utama wisata. [9]

Berbekal data riset dan evaluasi mendalam, Pokdarwis bersama Pemkab Bone Bolango menyusun Rencana Induk Pengembangan Daerah Pariwisata (RIPDA) Nomor 2 Tahun 2013 sebagai payung kebijakan pengembangan wisata hiu paus. [9] SOP interaksi wisatawan dengan hiu paus dirumuskan, sistem rotasi perahu nelayan diterapkan agar manfaat ekonomi terdistribusi merata, dan program interpretasi lingkungan dikembangkan untuk membangun kesadaran wisatawan. [4] Pendekatan bertahap dari inisiatif spontan menuju sistem terkelola inilah yang mengantarkan Botubarani ke panggung ASEAN. [3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama adalah keistimewaan alam yang tidak tertandingi: hiu paus yang muncul hanya 25 meter dari bibir pantai, dapat dilihat dari pagi hingga malam selama musim kemunculan, dengan perairan yang jernih dan lokasi yang berjarak hanya 10–12 km dari pusat Kota Gorontalo. [7] Kombinasi kedekatan lokasi, aksesibilitas tinggi, kepastian perjumpaan, dan tiga pilihan paket wisata yang mengakomodasi berbagai kemampuan pengunjung membuat Botubarani sulit ditandingi oleh destinasi wisata hiu paus mana pun di Indonesia. [7]

Faktor kedua adalah kekuatan kelembagaan Pokdarwis sebagai ujung tombak pengelolaan. [3] Pokdarwis yang melibatkan langsung nelayan sebagai operator wisata menciptakan rasa kepemilikan komunal yang kuat, sehingga setiap anggota komunitas memiliki kepentingan langsung untuk menjaga kelestarian hiu paus sebagai sumber penghidupan mereka. [6] Dukungan riset ilmiah dari perguruan tinggi dan kebijakan pemerintah daerah yang pro-konservasi melengkapi tiga pilar keberhasilan yang saling memperkuat: alam, komunitas, dan institusi. [8]

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara ekonomi, nilai wisata hiu paus Botubarani mencapai Rp7,89 miliar per bulan pada puncak musim kemunculan, atau rata-rata Rp123,35 juta per bulan kemunculan berdasarkan penelitian IPB 2019. [8] Objek wisata ini kini menjadi sumber PAD terbesar sektor pariwisata Kabupaten Bone Bolango, membuktikan bahwa ekowisata berbasis konservasi dapat menghasilkan nilai ekonomi yang jauh melampaui nilai tangkap ikan dari perairan yang sama. [4] Pendapatan yang sebelumnya hanya mengalir kepada nelayan yang melaut kini terdistribusi ke 32 operator perahu, pedagang, penyewa peralatan, dan berbagai pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata. [2]

Secara kelembagaan, Botubarani meraih tiga pengakuan besar: masuk 75 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023, piagam MURI sebagai desa wisata habitat hiu paus terbanyak dekat daratan, dan ASEAN Community Based Tourism Award 2025 yang menempatkan Botubarani di level Asia Tenggara. [3] Pengakuan ASEAN ini secara langsung membuka peluang promosi pariwisata ke pasar internasional yang jauh lebih luas. [3]

Dampak sosial-budaya juga signifikan: penelitian kuantitatif tentang dampak wisata hiu paus terhadap sosial budaya masyarakat Botubarani menunjukkan pergeseran identitas komunitas dari “desa nelayan” menjadi “desa ekowisata” yang membanggakan dan mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pengelolaan wisata. [6] Tradisi kelaut yang semakin berkurang akibat penurunan hasil tangkap kini menemukan dimensi baru dalam bentuk pemanduan wisata bahari yang menghidupkan kembali keahlian berenang dan menyelam masyarakat pesisir. [6]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mengelola tekanan wisatawan yang terus meningkat di tengah daya dukung ekosistem yang terbatas. [8] Penelitian IPB menetapkan daya dukung ideal hanya 24 orang per hari, namun pada musim puncak jumlah pengunjung jauh melampaui angka tersebut, sehingga berpotensi mengganggu perilaku dan kesehatan hiu paus sebagai satwa yang dilindungi. [8] Penegakan batas pengunjung membutuhkan komitmen konsisten dan mekanisme monitoring yang tidak mudah dipertahankan tanpa dukungan teknologi pengawasan yang memadai. [9]

Tantangan kedua adalah keterbatasan data dan informasi ilmiah tentang pola kemunculan hiu paus secara real-time, yang membuat wisatawan asing kecewa ketika datang di luar musim kemunculan tanpa informasi yang akurat sebelumnya. [9] Mongabay melaporkan bahwa minimnya informasi berbasis data ilmiah tentang jadwal kemunculan hiu paus sempat menjadi keluhan utama wisatawan mancanegara. [9] Membangun sistem informasi prediktif kemunculan hiu paus berbasis riset oseanografi menjadi agenda penting yang belum sepenuhnya terwujud. [8]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan ekowisata Botubarani bertumpu pada dua pilar yang harus berjalan seiring: pelestarian ekosistem hiu paus dan peningkatan kesejahteraan komunitas nelayan. [8] Kawasan konservasi perairan yang ditetapkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan memberikan perlindungan legal bagi habitat hiu paus, sementara RIPDA menyediakan kerangka kebijakan pengembangan wisata yang memiliki perspektif jangka panjang. [9] Kedua instrumen ini perlu terus diperbarui berdasarkan data riset terkini agar regulasi tetap relevan dan efektif melindungi aset utama wisata. [8]

Penguatan kapasitas Pokdarwis melalui pelatihan manajemen wisata, literasi digital, dan kemampuan berbahasa asing bagi pemandu menjadi investasi SDM yang kritis untuk meningkatkan kualitas layanan wisata internasional. [4] Pengembangan paket wisata off-peak seperti wisata budaya nelayan, penangkapan ikan tradisional, dan wisata kuliner ikan nike perlu diperkuat untuk menjaga arus pendapatan komunitas di luar musim kemunculan hiu paus. [6]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi ekowisata hiu paus Botubarani menunjukkan bahwa pelestarian alam dan pembangunan ekonomi komunitas pesisir bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi mata uang yang saling memperkuat. [6] Model ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan community-based ecotourism mampu mengintegrasikan tujuan konservasi laut, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pengakuan budaya pesisir dalam satu ekosistem pengelolaan yang berkelanjutan. [3]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Ekowisata hiu paus mendiversifikasi sumber pendapatan nelayan tradisional Botubarani yang semula hanya bergantung pada hasil tangkap ikan, menciptakan peluang ekonomi baru bagi seluruh lapisan masyarakat pesisir yang sebelumnya rentan terhadap kemiskinan musiman.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Ekosistem wisata yang melibatkan 32 operator perahu, pemandu, penyewa peralatan, pedagang, dan pengelola gazebo menciptakan lapangan kerja layak yang langsung menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan PAD Kabupaten Bone Bolango sebagai sumber ekonomi terbesar sektor pariwisata daerah.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan:Pengelolaan wisata berbasis komunitas dengan SOP konservasi yang ketat menjadikan Desa Botubarani sebagai model komunitas pesisir berkelanjutan yang memadukan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan alam dan identitas budaya nelayan setempat.
SDGs 14: Ekosistem Lautan:Penetapan kawasan konservasi perairan Botubarani dan SOP interaksi wisatawan dengan hiu paus yang melarang sentuhan dan gangguan berlebihan melindungi habitat Rhincodon typus sebagai spesies dilindungi, sekaligus menjaga keutuhan ekosistem Teluk Tomini untuk generasi mendatang.
SDGs 15: Ekosistem Daratan dan Laut:Model ekowisata yang menempatkan kelestarian hiu paus sebagai prasyarat keberhasilan ekonomi menciptakan insentif langsung bagi komunitas untuk menjaga biodiversitas laut, membuktikan bahwa konservasi dan kemakmuran dapat berjalan dalam satu sistem yang saling menopang.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kolaborasi antara Pokdarwis Botubarani, Pemkab Bone Bolango, Dinas Kelautan dan Perikanan, Institut Pertanian Bogor, dan ASEAN Tourism Forum menciptakan kemitraan multipihak yang mengintegrasikan riset ilmiah, kebijakan pemerintah, dan aksi komunitas dalam satu model pengelolaan ekowisata terpadu.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model ekowisata Botubarani sangat relevan direplikasi oleh desa-desa pesisir di Indonesia yang memiliki fenomena alam laut unik namun belum terkelola secara optimal, terutama di kawasan timur Indonesia yang kaya biodiversitas laut namun masih minim infrastruktur pariwisata. [6] Tiga elemen utama yang dapat ditransfer adalah: pembentukan Pokdarwis sebagai badan pengelola komunitas, penetapan kawasan konservasi berdasarkan riset ilmiah, dan pengembangan paket wisata multi-tier yang mengakomodasi berbagai kemampuan pengunjung. [8]

Untuk scale up, penghargaan ASEAN Community Based Tourism Award 2025 membuka peluang Botubarani menjadi pusat pelatihan regional model community-based ecotourism bagi desa-desa wisata bahari di Asia Tenggara. [3] Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat mengembangkan paket replikasi yang mencakup panduan pembentukan Pokdarwis, SOP konservasi satwa laut, dan sistem berbagi pendapatan yang adil, lalu menyebarluaskannya melalui program Anugerah Desa Wisata Indonesia kepada desa-desa finalist di seluruh nusantara. [2]

Daftar Pustaka

[1] Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, “Hiu Paus Botubarani,” pariwisata.gorontaloprov.go.id. [Online]. Available: https://pariwisata.gorontaloprov.go.id/publik/detail_destinasi/hiu-paus-botubarani

[2] Liputan6, “Hiu Paus Botubarani Bonebol, Penggerak Ekonomi Masyarakat Lokal,” liputan6.com, 19 Sep. 2024. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/regional/read/5704915/hiu-paus-botubarani-bonebol-penggerak-ekonomi-masyarakat-lokal

[3] Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, “Wisata Hiu Paus Botubarani Raih ASEAN Community Based Tourism Award 2025,” berita.bonebolangokab.go.id, 25 Feb. 2025. [Online]. Available: https://berita.bonebolangokab.go.id/wisata-hiu-paus-botubarani-raih-asean-community-based-tourism-award-2025/

[4] Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, “Pesona Hiu Paus dan Dampak Ekonomi Yang Mengikuti,” berita.bonebolangokab.go.id, 25 Feb. 2025. [Online]. Available: https://berita.bonebolangokab.go.id/pesona-hiu-paus-dan-dampak-ekonomi-yang-mengikuti/

[5] Nikè: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Vol. 4 No. 4, “Kajian Nelayan Tradisional di Perairan Botubarani Gorontalo,” ejurnal.ung.ac.id, Des. 2016. [Online]. Available: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/nike/article/download/5074/1827

[6] A. Yusuf et al., “Dampak Wisata Hiu Paus di Botubarani pada Sosial Budaya Masyarakat Pesisir,” ejurnalunsam.id. [Online]. Available: https://ejurnalunsam.id/index.php/jsg/article/download/10836/5086

[7] Penagar.id, “Wisata Hiu Paus Botubarani Bone Bolango Raih Penghargaan Pariwisata ASEAN,” penagar.id, 27 Jan. 2025. [Online]. Available: https://penagar.id/wisata-hiu-paus-botubarani-bone-bolango-raih-penghargaan-pariwisata-asean/

[8] R. Hidayat, “Pengelolaan Wisata Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus) di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo,” Tesis, Institut Pertanian Bogor, 2019. [Online]. Available: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107059

[9] Mongabay Indonesia, “Penelitian: Inilah Pola Kemunculan Hiu Paus di Gorontalo,” mongabay.co.id, 13 Feb. 2019. [Online]. Available: https://mongabay.co.id/2019/02/13/penelitian-inilah-pola-kemunculan-hiu-paus-di-gorontalo/

[10] Antara Gorontalo, “Desa Wisata Botubarani Meraih Rekor MURI Hiu Paus,” gorontalo.antaranews.com, 7 Apr. 2026. [Online]. Available: https://gorontalo.antaranews.com/berita/229011/desa-wisata-botubarani-meraih-rekor-muri-hiu-paus

[11] M. Lamuhu et al., “Strategi Pengembangan Wisata Hiu Paus untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat di Desa Botubarani Kabupaten Bone Bolango,” Jurnal Studi Ekonomi dan Pembangunan, Universitas Negeri Gorontalo, Des. 2023. [Online]. Available: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jsep/article/view/23532

[12] Scribd, “Dampak Pengembangan Objek Wisata Hiu Paus di Botubarani terhadap Sosial Budaya Masyarakat,” id.scribd.com. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/612943158/DAMPAK-PENGEMBANGAN-OBJEK-WISATA-HIU-PAUS-DI-BOTUBARANI-TERHADAP-SOSIAL-BUDAYA-MASYARAKAT

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.