Ringkasan Inovasi

BUMDes Makmur Rejo, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berhasil mengembangkan usaha budidaya ayam petelur yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat desa. Inovasi ini mengubah lahan kas desa yang sebelumnya tidak produktif menjadi unit bisnis unggulan yang mampu menghasilkan omset hingga Rp 3,2 juta per hari.​

Tujuan utama inovasi ini adalah memperkuat kemandirian ekonomi desa sekaligus memenuhi kebutuhan telur di wilayah sekitar Bojonegoro. Keberhasilan BUMDes Makmur Rejo menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah desa, perusahaan, dan masyarakat mampu melahirkan usaha desa yang berkelanjutan.

Nama Inovasi:Budidaya Ayam Petelur BUMDes Makmur Rejo
Alamat:Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur
Inovator:Nyamirin (Ketua BUMDes Makmur Rejo), Pemerintah Desa Bandungrejo, PT Pertamina EP Cepu (PEPC), IDFoS
Kontak:bojonegorokab.go.id

Latar Belakang

Desa Bandungrejo berada di ring satu wilayah operasi Lapangan Gas Jambaran–Tiung Biru (JTB) yang dikelola Pertamina EP Cepu (PEPC). Kepala Desa Bandungrejo, Sapani, menyadari bahwa proyek migas tidak akan berlangsung selamanya dan masyarakat perlu memiliki sumber penghidupan mandiri. Kebutuhan ekonomi warga desa yang bergantung pada sektor migas mendorong pemerintah desa mencari alternatif usaha yang berkelanjutan.

Kebutuhan telur ayam di wilayah Bojonegoro cukup tinggi, namun tidak semua daerah memiliki usaha budidaya ayam petelur yang terorganisir. Kondisi ini membuka peluang bagi Desa Bandungrejo untuk mengisi ceruk pasar yang belum terlayani sekaligus memberdayakan warga setempat. Lahan kas desa seluas 2.450 meter persegi yang belum dimanfaatkan secara optimal menjadi modal awal yang sangat potensial untuk dikembangkan.​

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi BUMDes Makmur Rejo lahir dari kemitraan antara Pemerintah Desa Bandungrejo, PEPC, dan lembaga pendamping Indonesian Development of Society (IDFoS). Ketiganya menandatangani nota kesepakatan pada Januari 2018 dalam program Peningkatan Mata Pencaharian Masyarakat Berbasis Pertanian, Peternakan, dan Perikanan.​

Inovasi ini berupa pengelolaan kandang ayam petelur secara kolektif di atas tanah kas desa, dikelola langsung oleh pengurus BUMDes bersama warga anggota. Setiap hari ayam-ayam dipanen telurnya, kemudian didistribusikan ke pedagang pasar dan program sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), sehingga rantai nilai produksi hingga distribusi terkelola oleh desa sendiri.

Proses Penerapan Inovasi

Pada awal 2018, Pemerintah Desa Bandungrejo menyertakan modal awal sebesar Rp 20 juta dan menyediakan lahan kas desa sebagai lokasi kandang. PEPC kemudian menyuntikkan dana tambahan sebesar Rp 296.106.428 yang dialokasikan untuk pengadaan 1.500 ekor ayam petelur, pembangunan dua kandang, pakan, obat-obatan, dan kebutuhan operasional lainnya.​

Sebelum usaha beroperasi penuh, calon peternak menjalani pelatihan intensif yang mencakup pemilihan bibit ayam, pembuatan kandang, pengelolaan pakan dan minum, pemeliharaan harian, hingga teknik pengambilan telur. Pelatihan ini melibatkan praktisi dan konsultan peternakan, drh. Suparto, yang menegaskan potensi besar usaha ini apabila dikelola dengan disiplin dan konsisten. Pada fase awal, BUMDes menjalankan pilot project dengan 1.000 ekor ayam untuk menguji kelayakan sistem sebelum memperbesar skala produksi.​

Pada 2019, produksi telur sudah mencapai 60 kilogram per hari, lalu meningkat pesat menjadi 160 kilogram per hari dari 4.500 ekor ayam. Pertumbuhan produksi ini membuktikan bahwa skema pengelolaan berbasis BUMDes dengan pendampingan teknis mampu mendorong peningkatan kapasitas secara signifikan.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kemitraan strategis antara Pemerintah Desa Bandungrejo, PEPC, IDFoS, Dinas Peternakan, dan Kecamatan Ngasem menjadi fondasi utama keberhasilan inovasi ini. Setiap pihak memainkan peran yang saling melengkapi: desa menyediakan lahan dan legitimasi kelembagaan, PEPC mengucurkan modal, IDFoS mendampingi secara teknis, dan dinas peternakan memastikan standar budidaya terpenuhi.​

Kepemimpinan Ketua BUMDes, Nyamirin, yang responsif terhadap peluang pengembangan usaha turut mempercepat pertumbuhan bisnis. Apresiasi dan dukungan aktif dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui bantuan dana Rp 100 juta juga memperkuat kepercayaan diri pengelola dalam melakukan ekspansi usaha.

Hasil dan Dampak Inovasi

Pada 2019, BUMDes Makmur Rejo memproduksi 160 kilogram telur per hari dari 4.500 ekor ayam, menghasilkan omset harian Rp 3,2 juta dengan harga telur Rp 20.000 per kilogram. Proyeksi pada 2023 menunjukkan potensi panen mencapai 170 kilogram per hari dengan omset hingga Rp 4,8 juta apabila harga telur sedang tinggi.​​

Selain dampak finansial, inovasi ini menciptakan lapangan kerja langsung bagi warga Desa Bandungrejo yang terlibat sebagai pengelola dan peternak BUMDes. Pasokan telur yang stabil juga berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan lokal, termasuk mendukung program sosial PKH di sekitar wilayah Kecamatan Ngasem.

Tantangan dan Kendala

Salah satu tantangan utama yang dihadapi BUMDes Makmur Rejo adalah kapasitas produksi yang belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar yang terus tumbuh. Kondisi ini memaksa pengelola segera merencanakan ekspansi kandang dan penambahan populasi ayam agar tidak kehilangan peluang pasar yang sudah terbuka.​

Tantangan lain adalah pergantian ayam yang tidak produktif setelah mencapai usia 1,5 tahun, yang membutuhkan perencanaan modal yang matang dan berkelanjutan. Fluktuasi harga telur di pasar juga berpengaruh langsung pada omset harian, sehingga pengelola perlu memiliki strategi manajemen risiko harga yang adaptif.​​
Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Makmur Rejo menjaga keberlanjutan usaha dengan memperbarui populasi ayam secara berkala dan menambah kapasitas kandang sesuai pertumbuhan permintaan. Dana bantuan Rp 100 juta dari Pemkab Bojonegoro pada 2020 dialokasikan untuk membangun kandang baru berukuran 4×15 meter dan menambah 400 ekor ayam, sehingga total kandang menjadi tiga unit.

Kemitraan jangka panjang dengan PEPC menjadi pilar keberlanjutan yang memastikan akses terhadap pendampingan teknis dan dukungan modal secara berkelanjutan. Pengelolaan berbasis BUMDes juga memastikan keuntungan usaha kembali ke kas desa dan dapat direinvestasikan untuk pengembangan usaha maupun layanan sosial bagi warga.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes Makmur Rejo terbukti layak direplikasi, terbukti dengan PEPC yang sudah mendukung empat BUMDes di Bojonegoro untuk menjalankan usaha budidaya ayam petelur serupa. Desa-desa seperti Kacangan, Kaliombo, dan Dolokgede telah mengadopsi model yang sama dengan memanfaatkan lahan kas desa masing-masing.​​

Kunci keberhasilan replikasi terletak pada tersedianya pendampingan teknis oleh konsultan peternakan, dukungan permodalan dari mitra perusahaan atau pemerintah daerah, serta komitmen pengelola BUMDes yang kuat. Model ini sangat relevan untuk desa-desa di kawasan industri energi yang membutuhkan alternatif ekonomi pasca-proyek dan memiliki lahan kas desa yang belum dioptimalkan.