Ringkasan Inovasi

Desa Tambaksumur mengadopsi teknologi penakar hujan otomatis untuk memperkuat kesiapsiagaan banjir. Inovasi ini lahir dari kerja sama desa dengan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya melalui kegiatan KKN.

Teknologi yang diterapkan mencakup Automatic Rainfall Recorder dan Automatic Water Level Recording. Keduanya membantu warga memantau curah hujan dan muka air saluran secara lebih cepat dan lebih akurat.

Tujuan utama inovasi ini adalah memperbaiki mitigasi banjir di lingkungan permukiman padat. Dampaknya terlihat pada meningkatnya kemampuan warga membaca risiko genangan dan mengambil tindakan lebih dini.

Nama Inovasi:Adopsi Teknologi Penakar Hujan Otomatis ARR dan AWLR
Alamat:Desa Tambaksumur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur
Inovator:Pemerintah Desa Tambaksumur bersama Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya
Kontak:Belum tersedia

Latar Belakang

Desa Tambaksumur berada di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Wilayah ini menghadapi persoalan banjir yang dipengaruhi kepadatan permukiman dan perubahan kondisi saluran drainase.

Masalah tersebut tidak berdiri sendiri. Limbah cair rumah tangga, sedimentasi, dan kenaikan muka air di saluran membuat lingkungan semakin rentan terhadap genangan.

Dalam kondisi seperti itu, warga membutuhkan sistem pemantauan yang lebih praktis dan lebih cepat. Pemantauan manual tidak selalu cukup untuk membaca perubahan curah hujan dan ketinggian air secara tepat waktu.

Kebutuhan itu menjadi semakin mendesak ketika elevasi rumah dan kondisi drainase terus berubah. Desa memerlukan cara baru agar pembersihan saluran dan langkah antisipasi banjir dapat dilakukan lebih terarah.

Di sisi lain, hadir peluang besar dari kemitraan desa dengan perguruan tinggi. Kolaborasi ini membuka jalan bagi transfer teknologi yang langsung menjawab kebutuhan warga di lapangan.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah adopsi teknologi Automatic Rainfall Recorder dan Automatic Water Level Recording. Kedua alat ini dirancang untuk membantu warga memantau risiko banjir melalui data berbasis sensor.

Automatic Rainfall Recorder dipasang untuk mencatat curah hujan secara otomatis. Alat ini menampung air hujan, lalu mengirimkan data melalui aplikasi pada gawai warga.

Melalui teknologi tersebut, warga dapat melihat informasi tentang curah hujan, durasi hujan, dan tinggi genangan. Informasi itu memberi dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan saat hujan deras terjadi.

Sementara itu, Automatic Water Level Recording dipasang pada salah satu saluran drainase warga. Fungsinya memantau muka air saluran secara realtime melalui sistem berbasis Internet of Things.

Cara kerja inovasi ini cukup sederhana bagi pengguna. Sensor membaca kondisi hujan dan muka air, lalu data dikirim melalui internet ke aplikasi yang dapat dipantau warga kapan saja.

Dengan model itu, warga tidak perlu selalu datang ke lokasi alat untuk memeriksa situasi. Mereka bisa memantau perubahan kondisi melalui telepon pintar dan bersiap lebih cepat bila risiko meningkat.

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan inovasi ini dimulai dari kerja sama antara Desa Tambaksumur dan ITS Surabaya. Kolaborasi itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan KKN yang melibatkan dosen dan mahasiswa lintas fakultas.

Kegiatan ini melibatkan 10 dosen dan 32 mahasiswa dari beberapa fakultas terkait. Keterlibatan lintas bidang menunjukkan bahwa masalah banjir membutuhkan pendekatan teknis dan sosial secara bersamaan.

Sebelum alat dipasang, tim terlebih dahulu melakukan survei lokasi bersama warga. Mereka juga melakukan pengukuran topografi untuk memahami kondisi lingkungan dan menentukan titik paling efektif.

Tahap pemetaan ini sangat penting karena lokasi pemasangan menentukan akurasi manfaat alat. Penempatan yang tepat membuat data yang dihasilkan lebih relevan bagi kebutuhan mitigasi warga.

Setelah lokasi ditetapkan, ARR dipasang di salah satu atap rumah warga. AWLR kemudian dipasang pada salah satu saluran drainase yang mewakili kondisi aliran air lingkungan.

Proses ini juga mengandung pembelajaran penting bagi desa. Teknologi mitigasi tidak cukup hanya dipasang, tetapi harus disesuaikan dengan karakter wilayah dan kebiasaan warga.

Tantangan yang mungkin muncul berada pada adaptasi penggunaan teknologi oleh masyarakat. Warga perlu memahami cara membaca data, menafsirkan kondisi, dan menghubungkannya dengan tindakan di lapangan.

Dari sini terlihat bahwa inovasi teknologi desa memerlukan dua hal sekaligus. Alat yang baik harus disertai pendampingan agar benar-benar menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan warga.

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini sangat ditentukan oleh kolaborasi yang kuat antara desa dan perguruan tinggi. Desa menyediakan konteks masalah, sementara kampus membawa pengetahuan dan teknologi yang sesuai.

Peran ITS sangat penting dalam merancang, menguji, dan mendampingi penerapan teknologi ini. Keterlibatan dosen dan mahasiswa memastikan bahwa inovasi berbasis kebutuhan nyata, bukan sekadar demonstrasi alat.

Pemerintah desa dan warga juga memegang peran penting dalam keberhasilan program. Mereka menjadi pengguna utama sistem, penjaga keberlanjutan alat, dan pihak yang merasakan langsung manfaatnya.

Faktor lain yang menentukan adalah proses pemetaan sebelum pemasangan. Survei lokasi dan pengukuran topografi membuat alat ditempatkan pada titik yang benar-benar efektif.

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling nyata dari inovasi ini adalah hadirnya sistem pemantauan banjir yang lebih modern di Desa Tambaksumur. Warga kini dapat memantau curah hujan dan muka air tanpa bergantung pada pengamatan manual.

Secara kuantitatif, program ini melibatkan 10 dosen dan 32 mahasiswa dalam proses adopsi teknologi. Keterlibatan tersebut menunjukkan skala kolaborasi yang cukup kuat untuk pengembangan solusi desa.

Secara operasional, warga memperoleh akses data curah hujan, durasi hujan, tinggi genangan, dan muka air saluran secara realtime. Akses ini mempercepat respons warga terhadap potensi banjir di lingkungan mereka.

Secara kualitatif, inovasi ini meningkatkan rasa siaga masyarakat terhadap bencana. Warga tidak lagi hanya menunggu air naik, tetapi mulai memiliki dasar data untuk membaca tanda bahaya lebih awal.

Inovasi ini juga mengubah cara pandang desa terhadap penanganan banjir. Mitigasi tidak lagi hanya berfokus pada pembersihan saluran, tetapi juga pada pemantauan berbasis data.

Dampak lainnya terlihat pada terbukanya ruang belajar bersama antara warga dan perguruan tinggi. Desa menjadi laboratorium sosial yang menunjukkan bahwa teknologi dapat bekerja dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi ini bergantung pada pemeliharaan alat dan penggunaan data secara rutin. Desa perlu memastikan sensor, jaringan, dan aplikasi tetap berjalan baik dari waktu ke waktu.

Pemerintah desa juga perlu menyiapkan mekanisme pengelolaan data oleh warga atau petugas lingkungan. Dengan begitu, informasi dari alat tidak berhenti sebagai angka, tetapi berubah menjadi tindakan antisipatif.

Dalam jangka panjang, desa dapat mengintegrasikan data ARR dan AWLR dengan sistem tanggap darurat lokal. Langkah ini akan membuat informasi cuaca dan saluran air menjadi bagian dari keputusan kolektif warga.

Desa juga dapat memperkuat program melalui pelatihan berkala kepada warga. Pelatihan ini penting agar penggunaan teknologi tetap dipahami meski terjadi pergantian pengurus atau relawan lingkungan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Tambaksumur sangat mungkin direplikasi oleh desa lain yang menghadapi banjir berulang. Kekuatan utamanya terletak pada kemitraan desa dengan perguruan tinggi dan penerapan teknologi yang sesuai kebutuhan lokal.

Desa lain tidak harus memakai skema yang sama persis. Mereka dapat menyesuaikan jenis alat, lokasi pemasangan, dan pola pemantauan berdasarkan kondisi wilayah masing-masing.

Untuk scale up, pemerintah daerah dapat mendorong kerja sama serupa antara desa dan kampus di wilayahnya. Pola ini akan mempercepat lahirnya solusi berbasis data untuk berbagai persoalan kebencanaan desa.

Jika pendekatan ini diperluas, manfaatnya akan sangat besar bagi kawasan rawan banjir. Desa-desa dapat membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih murah, lebih cepat, dan lebih dekat dengan warga.