Ringkasan Inovasi
Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan inovasi tata kelola kesehatan komunitas secara terpadu melalui serangkaian program promotif dan preventif berbasis partisipasi warga. Inovasi ini mencakup Bank Sampah Mandiri, Kawasan Bebas Asap Rokok (KABAR), Taman Gizi dan Toga Desa, Jumantik Mandiri, serta pengelolaan sampah terpadu melalui TPST Dewanata.
Tujuan utamanya adalah membangun lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas hidup masyarakat di kawasan dataran tinggi Dieng. Hasilnya nyata: pada Maret 2025, Desa Dieng Kulon meraih penghargaan prestisius dalam ajang Lomba Desa dan Kecamatan Sehat sebagai kontribusi konkret menuju target Banjarnegara Sehat 2025.
| Nama Inovasi | : | Inovasi Kesehatan Komunitas Terpadu — Bank Sampah Mandiri, KABAR, Taman Gizi Toga, Jumantik Mandiri, dan TPST Dewanata |
| Alamat | : | Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Slamet Boediono (Kepala Desa Dieng Kulon, inisiator TPST Dewanata), Perangkat Desa Dieng Kulon, Kader Kesehatan, PKK, dan Karang Taruna Desa Dieng Kulon, didukung Bank Indonesia KPw Purwokerto, Perhutani, PT Geodipa, dan Pupuk Indonesia |
| Kontak | : | Website: dieng.desa.id | Telepon: 085227030127 | Email: pemdes.diengkulon1@gmail.com |
Latar Belakang
Desa Dieng Kulon merupakan destinasi wisata unggulan yang masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia (ADWI 2021) dan menjadi tuan rumah event nasional Dieng Culture Festival. Tingginya intensitas kunjungan wisatawan menimbulkan tekanan besar terhadap lingkungan desa, terutama pada pengelolaan sampah.
Produksi sampah di Desa Dieng Kulon mencapai 20 ton per minggu dan meningkat tajam saat musim liburan serta event-event besar. Kondisi ini mengancam kebersihan lingkungan, menurunkan kenyamanan wisatawan, dan berpotensi mengorbankan kesehatan warga yang tinggal berdampingan dengan kawasan wisata padat.
Di sisi lain, belum ada sistem kesehatan komunitas yang terstruktur untuk menjawab kebutuhan promotif dan preventif warga secara berkelanjutan. Kader kesehatan, PKK, karang taruna, dan tokoh masyarakat bergerak masing-masing tanpa koordinasi yang solid, sehingga dampak program kesehatan belum terasa secara menyeluruh.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari keresahan Kepala Desa Dieng Kulon, Slamet Boediono, yang menyaksikan penumpukan sampah tak terkelola menghantui kawasan wisata bersejarah ini. Pada Maret 2023, ia menginisiasi pendirian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Dewanata sebagai fondasi pengelolaan lingkungan sehat yang sistematis.
TPST Dewanata bekerja dengan mengolah sampah melalui pemilahan, pencacahan, pengomposan, hingga konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. Di level komunitas, inovasi diperluas menjadi ekosistem kesehatan terpadu yang mencakup Bank Sampah Mandiri untuk mengubah sampah anorganik menjadi nilai ekonomi, KABAR untuk menciptakan ruang publik bebas asap rokok, Taman Gizi dan Toga Desa untuk edukasi gizi dan tanaman obat, serta program Jumantik Mandiri yang menempatkan kader pemantau jentik di setiap rumah warga.
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dengan pembangunan fisik TPST Dewanata pada Maret 2023 yang mendapat dukungan dari berbagai mitra strategis. Perhutani dan PT Geodipa membiayai pembangunan hanggar, pengadaan tabung pupuk organik cair, dan mesin pengolah sampah menjadi BBM, sementara Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Purwokerto menyumbangkan alat pemilah, alat press, alat pencacah, dan kendaraan operasional L300.
Pada tahap selanjutnya, pemerintah desa menggalang keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat—kader kesehatan, ibu-ibu PKK, pemuda karang taruna, dan tokoh masyarakat—untuk bersama-sama menjalankan program kesehatan komunitas. Koordinasi lintas kelompok ini menjadi kunci agar setiap program berjalan serentak dan saling mendukung, bukan berjalan sendiri-sendiri tanpa dampak yang terasa.
Pupuk Indonesia turut berkontribusi dengan mengirimkan sekitar 400 relawan, menyediakan kendaraan roda tiga untuk distribusi, serta memberikan pupuk bagi para petani desa. Keterlibatan multipihak ini mempercepat proses penerapan dan sekaligus menjadi pembelajaran bahwa kolaborasi eksternal sangat memperkuat kapasitas desa dalam mengelola inovasi berskala besar.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini adalah kolaborasi organik antara pemerintah desa, masyarakat, dan mitra eksternal yang bergerak dengan tujuan bersama. Kader kesehatan, PKK, karang taruna, dan tokoh masyarakat memainkan peran sebagai motor penggerak di tingkat komunitas, memastikan setiap program menyentuh lapisan warga paling bawah.
Faktor kedua adalah dukungan multi-mitra yang sangat beragam, mulai dari Bank Indonesia, Perhutani, PT Geodipa, hingga Pupuk Indonesia, yang masing-masing berkontribusi sesuai kapasitas dan keahlian mereka. Keberadaan TPST Dewanata yang dikelola oleh BUMDesa juga memastikan inovasi ini memiliki basis kelembagaan yang mandiri secara finansial dan operasional.
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling langsung terasa pada pengelolaan lingkungan: TPST Dewanata kini mampu mengolah sampah desa secara sistematis, mengurangi penumpukan sampah yang sebelumnya mencapai 20 ton per minggu. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan petani lokal, sementara sampah plastik dikonversi menjadi bahan bakar minyak, menciptakan nilai ekonomi sirkular bagi desa.
Secara kelembagaan, kontribusi Desa Dieng Kulon terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banjarnegara dari sektor pariwisata mencapai Rp 20 miliar pada 2023, menunjukkan bahwa lingkungan yang sehat dan bersih secara langsung mendorong kunjungan wisatawan. Puncaknya, pada Maret 2025, Desa Dieng Kulon secara resmi meraih penghargaan Desa Sehat dalam ajang Lomba Desa dan Kecamatan Sehat Kabupaten Banjarnegara.
Penghargaan ini menjadi pengakuan formal bahwa pendekatan promotif-preventif berbasis komunitas yang dijalankan desa terbukti efektif meningkatkan standar kesehatan lingkungan dan kualitas hidup warga.
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah besarnya volume sampah yang masuk dari luar desa, terutama dari wisatawan yang datang saat musim liburan dan Dieng Culture Festival. Kapasitas TPST Dewanata sempat kewalahan menghadapi lonjakan sampah musiman, sehingga diperlukan perencanaan kapasitas yang lebih adaptif terhadap siklus kunjungan wisata.
Tantangan lain adalah membangun kesadaran dan konsistensi perilaku warga, khususnya dalam memilah sampah dari sumbernya dan mematuhi kawasan bebas asap rokok. Perubahan kebiasaan sosial tidak terjadi dalam semalam—dibutuhkan pendampingan berkelanjutan, edukasi rutin, dan keteladanan dari tokoh-tokoh berpengaruh di desa agar budaya hidup sehat benar-benar mengakar.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi ini bertumpu pada pengelolaan TPST Dewanata oleh BUMDesa, yang memastikan operasional pengolahan sampah memiliki sumber pendanaan mandiri dari penjualan pupuk kompos, plastik daur ulang, dan bahan bakar hasil olahan. Model bisnis sirkular ini menjadikan inovasi tidak bergantung semata pada anggaran Dana Desa atau bantuan pihak ketiga.
Pemerintah Desa Dieng Kulon juga menyusun Musrenbangdes 2026 dengan prioritas penguatan infrastruktur wisata berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan produk lokal berbasis digital. Pendekatan perencanaan partisipatif ini memastikan seluruh program kesehatan dan lingkungan tetap menjadi agenda prioritas jangka panjang desa.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi kesehatan komunitas terpadu Dieng Kulon dapat direplikasi oleh desa-desa wisata lain yang menghadapi tekanan lingkungan akibat tingginya kunjungan wisatawan. Kunci keberhasilan replikasinya terletak pada tiga hal: pembentukan unit pengelola sampah berbasis BUMDesa, mobilisasi kader kesehatan lintas kelompok, dan membangun jejaring kemitraan dengan BUMN serta sektor swasta sejak tahap awal.
Pengalaman Dieng Kulon juga menunjukkan bahwa lingkungan yang sehat adalah investasi wisata—desa-desa yang berhasil menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan terbukti mampu menarik lebih banyak wisatawan dan meningkatkan PAD daerah secara signifikan. Bupati Banjarnegara, Dr. Amalia Desiana, berharap Dieng Kulon menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Banjarnegara untuk mengembangkan potensi lokal berbasis kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
