Ringkasan Inovasi
Desa Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan inovasi wisata berbasis komunitas melalui destinasi Seakong Agroeduwisata di tepi Waduk Panglima Besar Soedirman. Inovasi ini memadukan potensi alam perairan waduk, sektor pertanian, dan nilai budaya lokal termasuk warisan musisi nasional Ebiet G. Ade yang lahir di desa ini.
Tujuan utama inovasi ini adalah mengangkat ekonomi masyarakat lokal, memberdayakan warga desa, serta menjadikan Wanadadi sebagai destinasi wisata yang dikenal luas di tingkat provinsi. Hasilnya nyata: pada September 2025, Desa Wisata Wanadadi berhasil meraih gelar Juara Favorit dalam ajang Penganugerahan Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025, mengalahkan 29 desa wisata dari seluruh Jawa Tengah.
| Nama Inovasi | : | Seakong Agroeduwisata — Pengembangan Desa Wisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism) |
| Alamat | : | Desa Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Sigit Utoyo (Kepala Desa Wanadadi), Pratama Yudha Santosa (Pengelola Desa Wisata), BUMDesa Wanasejahtera, dan Pokdarwis Wanadadi Berdikari, didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara |
| Kontak | : | Website: jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/wanadadi_1 · Instagram: @destinasipariwisatajateng · Dinas Pariwisata Banjarnegara: wisata.banjarnegarakab.go.id |
Latar Belakang
Dua pertiga wilayah Desa Wanadadi merupakan kawasan perairan Waduk Mrica, sebuah kondisi geografis yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Masyarakat desa mengandalkan mata pencaharian sebagai nelayan tangkap dan pembudidaya keramba jaring apung, namun nilai ekonomi dari sektor ini masih terbatas.
Desa ini juga menyimpan potensi budaya besar sebagai tanah kelahiran musisi nasional Ebiet G. Ade, dengan rumah kelahirannya yang masih terjaga. Potensi alam dan budaya yang melimpah ini justru menjadi peluang besar yang selama bertahun-tahun belum dikelola secara terstruktur sebagai produk wisata yang menarik minat pengunjung luar daerah.
Kebutuhan akan sumber pendapatan alternatif bagi warga desa, dikombinasikan dengan dorongan pemerintah daerah untuk mengembangkan desa wisata di Banjarnegara, menjadi momentum kuat untuk bergerak. Kepala Desa Wanadadi, Sigit Utoyo, menyadari bahwa potensi wilayah ini harus segera diorganisasi secara serius agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi lahir dari inisiatif Kepala Desa Wanadadi yang menggagas pengembangan destinasi bernama Seakong Agroeduwisata, sebuah kawasan wisata terpadu di tepi Waduk Panglima Besar Soedirman. Konsep yang dipilih adalah Community Based Tourism (CBT), yaitu model wisata yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek pembangunan.
Seakong Agroeduwisata menggabungkan tiga dimensi pengalaman wisata secara sekaligus: wisata alam berupa pemandangan waduk dan matahari terbit, wisata edukasi berbasis pertanian dan perikanan, serta wisata budaya melalui pengenalan warisan Ebiet G. Ade. Pengunjung dapat menikmati aktivitas memancing, menyaksikan aktivitas nelayan budidaya keramba, hingga menelusuri jejak musikal sang maestro di desa kelahirannya.
Proses Penerapan Inovasi
Proses pengembangan dimulai sejak 2022 dengan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Wanadadi Berdikari” yang dikukuhkan pada November 2022 di lokasi Seakong. Pembentukan Pokdarwis ini menjadi fondasi kelembagaan agar pengelolaan wisata berjalan secara terorganisasi dan berkelanjutan.
Langkah berikutnya adalah koordinasi intensif antara pengelola, BUMDesa Wanasejahtera, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara, serta perangkat desa untuk memetakan potensi dan kendala yang ada. Pada awal pengembangan, tim menghadapi kendala nyata berupa akses jalan yang masih berlumpur dan kondisi kebersihan lingkungan yang belum memadai.
Puncak peluncuran resmi dilakukan pada November 2023 melalui Seakong Fest, sebuah festival perdana yang menghadirkan Ebiet G. Ade dan menandai penyerahan SK Desa Wisata dari Pj. Bupati Banjarnegara kepada Kepala Desa Wanadadi. Momen peluncuran ini sekaligus menjadi ajang promosi besar-besaran yang langsung menarik perhatian media dan wisatawan.
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan Desa Wisata Wanadadi tidak lepas dari sinergi kuat antara lima aktor utama: pemerintah desa, BUMDesa Wanasejahtera, Pokdarwis Wanadadi Berdikari, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara, serta seluruh warga desa. Setiap pihak memainkan peran yang saling melengkapi, dari pengelolaan kelembagaan, pendanaan, hingga keterlibatan aktif warga dalam menyambut wisatawan.
Faktor penentu lainnya adalah keunikan nilai budaya yang tidak dimiliki desa lain, yaitu identitas sebagai tanah kelahiran Ebiet G. Ade yang menjadi daya tarik emosional bagi wisatawan dari berbagai generasi. Identitas budaya ini, dipadukan dengan keindahan alam waduk yang autentik, menciptakan keunikan kompetitif yang sulit direplikasi secara instan oleh destinasi lain.
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling terukur dari inovasi ini adalah meningkatnya pendapatan masyarakat Desa Wanadadi, terutama bagi pelaku UMKM lokal dan nelayan yang kini memiliki tambahan penghasilan dari sektor wisata. Promosi online yang dikembangkan bersama tim pengabdian masyarakat turut memperluas jangkauan wisatawan ke destinasi Seakong.
Secara kelembagaan, inovasi ini mendorong Banjarnegara memiliki 26 desa wisata aktif, dengan Wanadadi sebagai salah satu contoh terbaik model pengembangan berbasis komunitas. Pengakuan provinsi datang pada September 2025 ketika Desa Wisata Wanadadi dinobatkan sebagai Juara Favorit Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025, setelah melalui seleksi panjang bersama 29 peserta dari berbagai kabupaten dan kota.
Penilaian dewan juri yang terdiri dari akademisi Unisbank Semarang, tokoh pemerhati pariwisata, konsultan pemasaran, dan asosiasi pariwisata mencakup aspek manajemen pengelolaan, daya tarik wisata, inovasi program, serta keterlibatan masyarakat. Wanadadi dinilai unggul dalam inovasi dan pengembangan potensi lokal, khususnya pada destinasi Seakong di tepi waduk.
Tantangan dan Kendala
Salah satu tantangan terbesar pada tahap awal adalah kondisi infrastruktur dasar yang belum siap, terutama akses jalan yang masih berlumpur dan lingkungan yang belum tertata bersih. Kondisi ini sempat menghambat kenyamanan pengunjung dan memperlambat proses promosi destinasi kepada wisatawan dari luar daerah.
Tantangan berikutnya adalah membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat agar benar-benar siap menjadi tuan rumah wisata yang profesional. Pengelola menyadari bahwa prestasi Juara Favorit bukan titik akhir, melainkan pengingat bahwa masih banyak perbaikan yang diperlukan, mulai dari sarana prasarana, kualitas layanan, hingga pengembangan atraksi wisata baru.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pengelola Desa Wisata Wanadadi, Pratama Yudha Santosa, menegaskan bahwa keberlanjutan inovasi akan ditopang oleh perbaikan berkelanjutan pada tiga pilar utama: infrastruktur fisik, mutu pelayanan, dan keragaman daya tarik wisata. Perbaikan ini dirancang secara bertahap agar tidak membebani kapasitas kelembagaan desa yang masih berkembang.
Dukungan struktural dari BUMDesa Wanasejahtera memastikan bahwa pengelolaan wisata memiliki sumber pembiayaan yang berkelanjutan dan tidak semata bergantung pada anggaran pemerintah. Kolaborasi aktif dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara juga memastikan Wanadadi terus mendapat pembinaan teknis dan akses ke jaringan promosi pariwisata daerah.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Seakong Agroeduwisata dapat direplikasi oleh desa-desa lain yang memiliki potensi alam perairan atau pertanian yang belum termanfaatkan, dengan menyesuaikan keunggulan lokal masing-masing desa. Kunci replikasinya terletak pada tiga hal: pembentukan kelompok sadar wisata yang solid, keterlibatan BUMDesa sebagai motor ekonomi, dan identifikasi identitas budaya lokal yang unik sebagai pembeda.
Kepala Disporapar Jawa Tengah, M. Masrofi, berharap keberhasilan Wanadadi mendorong kompetisi sehat antar desa wisata di seluruh Jawa Tengah, di mana setiap desa belajar, memperbaiki diri, dan mengembangkan potensinya dari tahun ke tahun. Ajang Gelar Desa Wisata Jawa Tengah sendiri dirancang sebagai platform pembelajaran bersama yang mendorong scale up kualitas wisata desa secara masif di tingkat provinsi.
