Ringkasan Inovasi
Desa Tanjunganom, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan inovasi pencegahan stunting bernama GURIS—Gerakan Untuk Rakyat Indonesia Sehat—yang diinisiasi oleh Kader Posyandu Anggrek 2 bersama pemerintah desa. Inovasi ini menggabungkan edukasi gizi, pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal, kunjungan rumah, serta pemantauan tumbuh kembang balita secara terpadu dan berkelanjutan.
Tujuan utamanya adalah menurunkan prevalensi stunting di tingkat komunitas melalui pendekatan promotif dan preventif yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan GURIS berkontribusi pada target nasional penurunan stunting menjadi 14% dan mendukung cita-cita besar Banjarnegara menuju generasi sehat yang tumbuh optimal.
| Nama Inovasi | : | GURIS — Gerakan Untuk Rakyat Indonesia Sehat (Inovasi Pencegahan Stunting Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dan Pangan Lokal) |
| Alamat | : | Desa Tanjunganom, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah (Kode Pos 53463) |
| Inovator | : | Kader Posyandu Anggrek 2 Desa Tanjunganom, Pemerintah Desa Tanjunganom, didukung Puskesmas Rakit dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara |
| Kontak | : | Website: tanjunganom-banjarnegara.desa.id · Email: tanjunganomdesaku@gmail.com · Telepon: 081327755862 |
Latar Belakang
Stunting masih menjadi tantangan serius di banyak desa di Kabupaten Banjarnegara, termasuk di Desa Tanjunganom yang memiliki populasi balita aktif yang dipantau melalui Posyandu Anggrek 2. Kondisi ini diperburuk oleh masih rendahnya pemahaman sebagian ibu hamil dan ibu menyusui tentang pentingnya ASI eksklusif, pola makan bergizi, dan stimulus tumbuh kembang anak.
Sebelum GURIS hadir, penanganan stunting di tingkat desa berjalan secara parsial—kader posyandu, puskesmas, dan lintas sektor bekerja sendiri-sendiri tanpa mekanisme koordinasi yang terstruktur. Akibatnya, intervensi yang dilakukan tidak menjangkau keluarga paling rentan secara konsisten, terutama keluarga yang jarang datang ke posyandu.
Desa Tanjunganom sesungguhnya menyimpan potensi besar untuk mengatasi masalah gizi ini. Desa ini dikenal sebagai “Desa Seribu Kolam” dengan 400 rumah tangga perikanan yang pada 2024 memproduksi lebih dari 230 juta ekor benih ikan nila—sebuah sumber protein hewani yang berlimpah dan mudah diakses warga untuk mendukung ketahanan gizi keluarga.
Inovasi yang Diterapkan
GURIS lahir dari kepedulian mendalam para kader Posyandu Anggrek 2 yang setiap bulan menyaksikan angka stunting di wilayah binaan mereka belum juga turun secara signifikan. Inovasi ini diresmikan pada 16 Januari 2025 sebagai gerakan komunitas yang menempatkan kader posyandu sebagai ujung tombak perubahan perilaku gizi di level keluarga.
GURIS bekerja melalui lima jalur intervensi yang saling memperkuat satu sama lain: koordinasi aktif dengan puskesmas dan lintas sektor, penyuluhan stunting dan ASI eksklusif kepada ibu hamil dan menyusui, edukasi PMT berbahan pangan lokal termasuk ikan nila dari kolam warga, kunjungan rumah rutin untuk pemantauan tumbuh kembang balita, serta monitoring pola makan dan asupan gizi keluarga khususnya balita yang terdeteksi stunting. Dengan memanfaatkan produk perikanan lokal sebagai sumber protein hewani terjangkau, GURIS mengintegrasikan potensi ekonomi desa ke dalam solusi gizi komunitas secara cerdas.
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dengan membangun kesepahaman bersama antara kader posyandu, bidan desa, dan puskesmas Rakit tentang pola intervensi yang akan dijalankan secara terkoordinasi. Koordinasi lintas sektor ini memastikan setiap kasus stunting mendapat penanganan yang komprehensif, bukan hanya dari sisi kesehatan saja, tetapi juga dari aspek pangan, sanitasi, dan pola asuh.
Tahap selanjutnya adalah pemetaan seluruh balita di wilayah Posyandu Anggrek 2 untuk mengidentifikasi anak yang berisiko stunting maupun yang sudah terdeteksi stunting. Data hasil pemetaan ini menjadi acuan untuk menentukan prioritas kunjungan rumah dan intensitas pendampingan yang diberikan kepada setiap keluarga.
Salah satu pembelajaran penting dalam proses implementasi adalah bahwa edukasi di posyandu saja tidak cukup menjangkau keluarga yang paling membutuhkan. Kunjungan rumah menjadi terobosan kunci: dengan hadir langsung ke keluarga, kader dapat memantau asupan makanan harian balita, mendampingi ibu dalam menyiapkan PMT dari bahan lokal yang tersedia, dan membangun kepercayaan yang memperkuat kepatuhan keluarga terhadap program.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan GURIS adalah semangat dan komitmen kader posyandu Anggrek 2 yang bergerak secara sukarela dengan rasa memiliki yang tinggi terhadap program ini. Mereka bukan sekadar pelaksana teknis, melainkan agen perubahan yang menjalin hubungan personal dengan setiap keluarga di wilayah binaannya.
Faktor kedua adalah ketersediaan sumber protein lokal yang melimpah dari “Desa Seribu Kolam”. Ikan nila yang dibudidayakan oleh 400 rumah tangga perikanan di Desa Tanjunganom menjadi bahan dasar PMT yang mudah diakses, terjangkau, dan bergizi tinggi—menghilangkan hambatan ekonomi yang sering menjadi alasan keluarga tidak mampu mencukupi kebutuhan protein anak.
Hasil dan Dampak Inovasi
Setelah GURIS diterapkan, prevalensi stunting di wilayah Posyandu Anggrek 2 Desa Tanjunganom mengalami penurunan yang terukur. Kunjungan posyandu menjadi lebih rutin karena kepercayaan keluarga terhadap kader meningkat, dan ibu-ibu muda mulai lebih aktif bertanya tentang pola makan dan gizi balita dalam setiap pertemuan.
Secara kualitatif, ibu hamil dan menyusui di Desa Tanjunganom kini menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang ASI eksklusif dan pentingnya MPASI bergizi di usia 6 bulan pertama. Edukasi PMT berbahan pangan lokal juga mengubah persepsi warga bahwa makanan bergizi tidak harus mahal, karena ikan nila dari kolam tetangga pun dapat diolah menjadi sajian bergizi tinggi untuk balita.
Pada skala yang lebih luas, keberhasilan GURIS memperkuat posisi Desa Tanjunganom sebagai desa yang proaktif dalam mendukung aksi konvergensi stunting Kabupaten Banjarnegara. Desa ini juga mendapat pengakuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang pada Juli 2025 mengunjungi dan memberikan bantuan 2.000 ekor calon induk nila unggul kepada lima kelompok pembudidaya, memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani desa.
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah konsistensi kehadiran keluarga berisiko stunting dalam kegiatan posyandu dan sesi penyuluhan. Sebagian keluarga, terutama yang tinggal jauh dari titik posyandu atau yang orangtuanya bekerja penuh hari di sawah atau kolam, sulit menjangkau atau meluangkan waktu untuk hadir secara rutin.
Kendala lain adalah keterbatasan waktu dan tenaga kader posyandu yang menjalankan program ini secara sukarela di luar kesibukan rumah tangga mereka masing-masing. Beban kerja kunjungan rumah yang intensif, terutama saat jumlah balita stunting yang dipantau cukup banyak, memerlukan dukungan lebih besar dari pemerintah desa agar program ini tidak mengandalkan semangat kader semata.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan GURIS dijamin melalui integrasi program ke dalam Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), sebuah pendekatan baru yang memperkuat peran posyandu sebagai pusat layanan kesehatan dasar yang komprehensif di level desa. Dengan integrasi ini, GURIS tidak lagi berdiri sebagai program terpisah, melainkan menjadi bagian dari sistem layanan kesehatan rutin desa yang terlembaga secara formal.
Pemerintah Desa Tanjunganom juga berkomitmen memperkuat ketahanan pangan berbasis perikanan lokal sebagai pilar gizi jangka panjang, terutama setelah ditetapkan sebagai Kampung Perikanan Budidaya oleh KKP. Sinergi antara ekosistem budidaya ikan nila yang terus berkembang dan program gizi komunitas GURIS menjadikan keberlanjutan inovasi ini memiliki fondasi ekonomi dan sosial yang kokoh.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model GURIS dapat direplikasi oleh desa-desa lain dengan menyesuaikan sumber pangan lokal yang tersedia di masing-masing wilayah—protein hewani tidak harus ikan nila, tetapi bisa telur, ayam kampung, atau hasil budidaya lokal lainnya yang mudah dijangkau warga. Kunci replikasinya adalah memberdayakan kader posyandu sebagai agen gizi komunitas yang bergerak aktif melalui kunjungan rumah, bukan menunggu keluarga datang sendiri ke posyandu.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara dapat memfasilitasi diseminasi model GURIS ke seluruh desa dengan prevalensi stunting tinggi melalui pelatihan kader terintegrasi dan penyediaan panduan operasional yang sederhana dan mudah diterapkan. Pengalaman Desa Tanjunganom membuktikan bahwa solusi stunting yang paling efektif sering lahir dari kearifan lokal dan keberanian komunitas untuk bergerak bersama, bukan dari program besar yang datang dari atas.
