Ringkasan Inovasi

Desa Sijenggung, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, mengembangkan inovasi “Desa Digital Terprogram” yang mengintegrasikan teknologi digital ke dalam seluruh lini tata kelola pemerintahan desa. Inovasi ini mencakup sistem e-arsip, layanan administrasi berbasis smartphone, Anjungan Pelayanan Mandiri, sistem informasi posyandu digital, serta tata kelola data statistik berbasis program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik).​​

Tujuan utamanya adalah mewujudkan pemerintahan desa yang modern, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kesejahteraan warga. Dampaknya luar biasa: Desa Sijenggung berhasil naik kelas dari Desa Berkembang menjadi Desa Maju pada 2023, meraih Juara 1 Lomba Desa Teladan Nasional Regional II 2024, dan menjadi satu-satunya wakil Banjarnegara yang menembus 5 besar Lomba Desa Tingkat Nasional.​​

Nama Inovasi:Desa Digital Terprogram — Integrasi Sistem Layanan Publik, E-Arsip, dan Tata Kelola Data Statistik Berbasis Teknologi
Alamat:Desa Sijenggung, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Suyono (Kepala Desa Sijenggung), didukung Perangkat Desa Sijenggung, BPS Kabupaten Banjarnegara, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Banjarnegara
Kontak:Website: sijenggung-banjarnegara.desa.id · Email: melalui portal resmi desa · Telepon: tersedia di portal sijenggung-banjarnegara.desa.id

Latar Belakang

Pada 2014–2015, Desa Sijenggung masih berstatus blank spot, tidak memiliki infrastruktur komunikasi memadai, dan nyaris tidak dikenal masyarakat luar. Kepala Desa Suyono, yang aktif berorganisasi sejak muda di Karang Taruna, BPD, dan PNPM, menyimpan keprihatinan mendalam melihat kondisi desanya yang tertinggal.​

Sebelum era digitalisasi, pelayanan administrasi desa berjalan lambat, data desa tersebar tidak terstruktur, dan masyarakat kesulitan mengetahui ke mana mereka harus mengurus keperluan administratif. Perangkat desa pun belum memiliki sistem arsip yang andal, sehingga kehilangan dokumen fisik menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan administrasi.​

Perjalanan ke Bogor pada 2021 bersama Dispermades menjadi titik balik penting. Suyono terinspirasi oleh desa di Jawa Barat yang menerapkan anjungan pelayanan digital, dan sejak saat itu ia bertekad menghadirkan inovasi serupa di Sijenggung untuk mengangkat kualitas layanan dan memperluas nama desanya.​

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah sistem Digitalisasi Desa Terprogram, yaitu transformasi menyeluruh dari pelayanan konvensional menuju ekosistem layanan berbasis teknologi digital. Sistem ini bekerja melalui dua kanal utama: Layanan Mandiri Desa berbasis smartphone untuk warga yang melek teknologi, dan Anjungan Pelayanan Mandiri (APM) sebagai terobosan bagi warga yang tidak memiliki smartphone.​​

Di luar pelayanan administrasi, digitalisasi juga menyentuh bidang kesehatan melalui sistem informasi posyandu digital, bidang kewilayahan melalui sistem deteksi bencana, CCTV keamanan lingkungan, dan peta digital desa. Seluruh arsip desa tersimpan dalam sistem e-Arsip digital, menjamin keamanan data sekaligus kemudahan akses bagi perangkat desa kapan pun dibutuhkan.​

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai pada 2021 ketika Suyono pulang dari studi banding ke Bogor dan langsung menyusun rencana implementasi bersama perangkat desa. Ia tidak menunggu anggaran besar—dengan modal semangat gotong royong dan anggaran Dana Desa yang ada, tim perangkat desa bergerak cepat membangun sistem layanan digital tahap demi tahap.​

Pada 2022, Desa Sijenggung ditunjuk sebagai Desa Antikorupsi, yang mendorong tim desa mempercepat pembenahan sistem transparansi dan akuntabilitas. Suyono menggambarkan prosesnya: setelah kunjungan ke desa-desa Antikorupsi di Sulawesi dan Bali untuk belajar praktik terbaik, tim desa hanya membutuhkan dua minggu untuk melengkapi seluruh persyaratan dan meluncurkan program tersebut.​​

Pada 2024, Desa Sijenggung terpilih sebagai desa binaan program Desa Cantik dari BPS Banjarnegara. Perangkat desa menjalani pelatihan intensif tentang pengumpulan, pengolahan, analisis data, hingga penyajian infografis statistik desa, yang semuanya dirancang agar dapat dilakukan secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak luar.​

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini adalah kepemimpinan visioner Kepala Desa Suyono yang konsisten mengedepankan moto “Sijenggung Guyup Rukun Terus” sebagai fondasi kerja bersama. Ia membangun kedisiplinan tim melalui apel pagi setiap Senin dan distribusi kalender desa yang memuat tugas dan kontak setiap perangkat, sehingga warga tahu dengan tepat kepada siapa mereka harus berhadap.​

Faktor kedua adalah kapasitas perangkat desa yang mumpuni dan siap menerima perubahan. Dukungan aktif dari BPS Banjarnegara dalam program Desa Cantik, serta pembinaan teknis dari Dispermades dan pemerintah kabupaten, melengkapi ekosistem pendukung yang membuat transformasi digital berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Hasil dan Dampak Inovasi

Capaian paling nyata adalah lonjakan status desa dari Desa Berkembang menjadi Desa Maju pada 2023 dengan IDM mencapai 0,7. Pada 2024, desa ini meraih rentetan prestasi bergengsi secara beruntun: Juara 1 Lomba Desa Tingkat Kabupaten Banjarnegara (Agustus 2024), Juara 1 Lomba Desa Teladan PKAD Tingkat Nasional Regional II dari Kemendagri (Oktober 2024), serta Peringkat 3 Desa Cantik Tingkat Provinsi Jawa Tengah (April 2025).

Secara kualitatif, pelayanan administrasi kini jauh lebih cepat dan transparan karena warga dapat mengurus surat-menyurat kapan saja melalui smartphone atau APM tanpa antre panjang. Desa Sijenggung juga menjadi satu-satunya desa di Kabupaten Banjarnegara yang menggunakan mesin Anjungan Pelayanan Mandiri, sebuah keunggulan kompetitif yang menarik perhatian nasional.​​

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara memberikan apresiasi berupa 11 unit sepeda motor untuk operasional perangkat desa sebagai bentuk penghargaan atas prestasi Juara 1 Lomba Desa 2024. Kiprah Desa Sijenggung bahkan menarik perhatian TVRI Jawa Tengah yang mengangkatnya dalam program khusus Desa Digital pada November 2025.​

Tantangan dan Kendala

Salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan anggaran yang sangat minim dibandingkan kompetitor di tingkat nasional. Suyono mengungkapkan bahwa desa-desa pesaing di lomba nasional mendapat dukungan anggaran daerah hingga satu miliar rupiah untuk biaya lomba, sementara Sijenggung hanya bermodalkan anggaran Dana Desa untuk jamuan tamu.​

Tantangan lain adalah memastikan seluruh lapisan warga—termasuk yang tidak melek digital—tetap dapat mengakses layanan desa secara setara. Kehadiran Anjungan Pelayanan Mandiri menjawab tantangan ini, namun proses sosialisasi penggunaan teknologi kepada warga memerlukan waktu dan pendekatan yang sabar serta berkelanjutan.​​

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijaga melalui pembenahan fisik yang terus-menerus, termasuk renovasi dan penambahan ruang pelayanan kantor desa agar infrastruktur layanan semakin representatif dan nyaman bagi warga. Suyono menegaskan komitmen untuk mempertahankan seluruh predikat yang telah diraih—Desa Antikorupsi, Desa Teladan, Transparansi Publik, PPID, dan Desa Cantik—dengan semangat istiqomah dan konsisten menjalankan program.

Secara kelembagaan, BPS Banjarnegara terus memberikan pendampingan teknis dalam program Desa Cantik agar kemampuan pengelolaan data statistik desa tidak berhenti di satu titik, melainkan berkembang dari tahun ke tahun. Penguatan kapasitas perangkat desa pun terus berjalan agar sistem digital yang sudah terbangun tidak bergantung pada satu atau dua orang saja.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model digitalisasi desa Sijenggung dapat direplikasi oleh desa-desa lain dengan menyesuaikan skala dan kemampuan anggaran, karena inovasi ini terbukti dapat dijalankan tanpa bergantung pada dana besar. Kunci replikasinya terletak pada tiga hal: komitmen kuat kepala desa sebagai penggerak utama, kapasitas perangkat desa yang terlatih, dan kolaborasi aktif dengan BPS atau instansi teknis terkait untuk pendampingan berkelanjutan.

Kepala Dispermadesppkb Banjarnegara, Hendro Cahyono, mendampingi Desa Sijenggung dalam berbagai ajang nasional dengan harapan pengalaman dan model inovasi ini dapat dibagikan kepada desa-desa lain di Kabupaten Banjarnegara. Ajang Temu Karya Nasional Desa dan Kelurahan Berprestasi dari Kemendagri pun menjadi platform strategis untuk menyebarluaskan praktik baik Sijenggung kepada ribuan desa di seluruh Indonesia.​​