Ringkasan Inovasi
BUMDes Pesahangan dan BUMDes Negarajati, dua badan usaha milik desa di Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, berkolaborasi membangun kawasan agrowisata durian bernama Aziz’s Paradise. Agrowisata ini berdiri di lahan seluas lima hektare di kawasan Pegunungan Cimanggu, dengan 500 batang durian unggul sebagai komoditas utama. [1]
Inovasi ini bertujuan mengubah potensi pertanian lokal menjadi sumber pendapatan desa yang berkelanjutan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Dengan menggabungkan perkebunan buah, wisata keluarga, dan edukasi pertanian, agrowisata ini menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis sumber daya alam. [2]
| Nama Inovasi | : | Usaha Agrowisata Durian – Aziz’s Paradise |
| Alamat | : | Desa Pesahangan & Desa Negarajati, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah |
| Inovator | : | BUMDes Pesahangan & BUMDes Negarajati; Inisiator: KH. Dr. Fathul Amin Aziz (Ketua Yayasan El Bayan, Majenang) |
| Kontak | : | STMIK Komputama El Bayan, Majenang, Cilacap (pendamping teknis) |
Latar Belakang
Kecamatan Cimanggu merupakan kawasan pegunungan di Kabupaten Cilacap yang kaya akan sumber daya alam. Namun, potensi pertanian buah-buahan lokal belum dikelola secara optimal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Banyak petani menjual hasil panen durian dengan harga rendah kepada tengkulak, tanpa akses langsung ke pasar konsumen. [2]
Di sisi lain, permintaan masyarakat terhadap buah durian terus meningkat setiap tahunnya. Tren wisata kebun dan agrowisata juga semakin diminati keluarga perkotaan yang mencari pengalaman edukatif di alam terbuka. Kondisi ini menciptakan peluang besar yang belum ditangkap oleh pemerintah desa maupun BUMDes setempat. [1]
Selain itu, dua desa bertetangga, Pesahangan dan Negarajati, memiliki lahan dengan karakteristik tanah dan iklim yang sangat sesuai untuk budidaya durian unggul. Kesamaan potensi ini mendorong kedua desa untuk berkolaborasi, daripada bersaing satu sama lain. Kolaborasi antardesa melalui BUMDes menjadi solusi strategis untuk membangun ekosistem agrowisata yang lebih kuat. [3]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi ini lahir dari inisiatif KH. Dr. Fathul Amin Aziz, pembina sekaligus inisiator agrowisata yang juga menjabat Ketua Yayasan El Bayan Majenang. Ia melihat bahwa lahan di pegunungan Cimanggu memiliki potensi besar untuk budidaya durian unggul varietas Bawor, Musangking, dan Ochee. Ketiga varietas ini dipilih karena memiliki nilai jual tinggi di pasaran, yakni antara Rp100.000 hingga Rp300.000 per kilogram. [2]
Kawasan agrowisata seluas lima hektare ini tidak hanya berfungsi sebagai kebun produksi, tetapi juga sebagai destinasi wisata keluarga yang lengkap. Pengunjung dapat memetik durian langsung dari pohonnya, menikmati olahan kuliner durian segar di lokasi, dan memperkenalkan anak-anak pada proses pertanian terpadu. Selain durian, kebun ini juga ditanami jambu kristal, jambu citra, lemon California, manggis, alpukat, dan matoa sebagai tanaman penopang operasional. [1]
Proses Penerapan Inovasi
Proses pembangunan agrowisata dimulai dengan pemetaan lahan dan studi kesesuaian tanah di kawasan Pegunungan Cimanggu. Kedua BUMDes kemudian bersepakat membentuk struktur pengelolaan bersama, dengan pembagian tanggung jawab yang jelas antara BUMDes Pesahangan dan BUMDes Negarajati. Tahap awal penanaman dilakukan secara bertahap, dengan sebagian pohon durian sudah memasuki fase berbuah dan sebagian masih dalam masa vegetatif. [1]
Untuk memperluas skala, kedua BUMDes menjalin kerja sama resmi dengan Perum Perhutani guna mengembangkan kawasan agrowisata terpadu hingga tujuh hektare. Kerja sama ini memberi akses pada lahan yang lebih luas sekaligus dukungan teknis kehutanan untuk menjaga ekosistem kawasan. STMIK Komputama El Bayan Majenang turut hadir sebagai pendamping teknis dalam pengelolaan digital dan branding agrowisata. [3]
Dalam prosesnya, pengelola menghadapi tantangan teknis berupa masa tunggu produktivitas pohon durian yang panjang. Untuk mengatasi hal ini, tanaman buah dengan siklus produksi cepat seperti jambu dan lemon ditanam sebagai sumber pendapatan perantara. Strategi diversifikasi tanaman ini menjadi pembelajaran penting bahwa agrowisata durian memerlukan perencanaan arus kas jangka panjang yang matang. [2]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor paling krusial dalam keberhasilan inovasi ini adalah kepemimpinan visioner KH. Dr. Fathul Amin Aziz yang mampu menggerakkan dua BUMDes sekaligus menggalang kemitraan dengan Perum Perhutani dan lembaga pendidikan. Komitmen kedua pemerintah desa untuk berkolaborasi, bukan bersaing, menciptakan ekosistem kepercayaan yang kuat. Sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, akademisi, dan BUMN menjadi fondasi kokoh bagi keberlanjutan agrowisata ini. [4]
Pemilihan komoditas yang tepat juga menjadi faktor penentu keberhasilan. Durian unggul varietas Bawor, Musangking, dan Ochee memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga pasar yang stabil dan permintaan yang terus meningkat. Dengan potensi hasil panen hingga miliaran rupiah per hektare per tahun, komoditas ini memberikan daya tarik investasi yang kuat bagi pengelola BUMDes. [2]
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara ekonomi, agrowisata ini membuka lapangan kerja langsung bagi warga Desa Pesahangan dan Negarajati sebagai pengelola kebun, pemandu wisata, dan pelayan kuliner. Potensi pendapatan dari panen durian unggul diproyeksikan mencapai miliaran rupiah per hektare setiap tahunnya, terutama saat pohon memasuki usia produktif penuh. Pendapatan Asli Desa (PADes) dari dua desa ini pun berpotensi meningkat signifikan melalui bagi hasil unit usaha BUMDes. [2]
Secara sosial, agrowisata ini menarik kunjungan wisatawan dari seluruh Kabupaten Cilacap dan sekitarnya. Kawasan ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi pertanian bagi siswa sekolah dan masyarakat umum yang ingin belajar tentang budidaya durian unggul. Pembagian lebih dari 100 bibit durian gratis kepada warga di sepanjang jalur menuju lokasi pada Desember 2021 semakin memperluas manfaat langsung bagi komunitas sekitar. [3]
Dari sisi lingkungan, penanaman ratusan pohon buah di lahan seluas lebih dari tujuh hektare memberikan kontribusi nyata pada penghijauan kawasan pegunungan. Penelitian menunjukkan bahwa BUMDes yang aktif berperan secara positif dan signifikan terhadap peningkatan perekonomian desa, termasuk menambah PADes, membuka lapangan kerja, dan membuka akses modal bagi masyarakat. [5] Agrowisata ini juga membantu mengurangi dampak panas ekstrem lokal melalui penambahan tutupan vegetasi hijau di kawasan pegunungan. [6]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama yang dihadapi adalah masa tunggu panjang sebelum pohon durian mencapai produktivitas optimal, yang bisa memakan waktu tiga hingga tujuh tahun setelah tanam. Kondisi ini menuntut pengelola BUMDes menjaga arus kas operasional selama fase pertumbuhan, tanpa dukungan pendapatan utama dari komoditas inti. Strategi tanaman sela berupa buah-buahan bersiklus pendek menjadi solusi pragmatis yang ditempuh pengelola. [1]
Kendala lain muncul dari sisi pengelolaan organisasi antardua BUMDes yang memerlukan koordinasi intensif dan kesepahaman bersama. Penelitian tentang BUMDes serupa menunjukkan bahwa struktur organisasi yang belum optimal dan tumpang tindih deskripsi tugas sering menjadi hambatan dalam pengelolaan unit bisnis agrowisata. [4] Kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang terlatih di bidang pertanian durian unggul dan manajemen wisata juga menjadi tantangan yang terus dibenahi. [2]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan jangka panjang agrowisata ini ditopang oleh kemitraan resmi dengan Perum Perhutani yang memberi jaminan akses lahan hingga tujuh hektare. Pendampingan berkelanjutan dari STMIK Komputama El Bayan memastikan pengelolaan digital, pemasaran online, dan branding kawasan terus berkembang sesuai dinamika pasar. Pengelola juga membangun ekosistem petani durian mandiri di sekitar kawasan agar rantai pasokan komoditas tidak bergantung pada satu sumber semata. [3]
Program pembagian bibit durian gratis kepada warga di jalur wisata menjadi strategi cerdas membangun identitas desa sebagai sentra durian sekaligus memperluas basis produksi secara organik. Dengan misi menjadikan Pesahangan dan Negarajati sebagai desa sentra durian Cilacap, pengelola membangun narasi jangka panjang yang mengikat komitmen seluruh pemangku kepentingan. Penelitian terkait menegaskan bahwa agrowisata yang berjalan berbasis komunitas dan potensi lokal terbukti lebih resiliens dalam jangka panjang. [7]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model kolaborasi antardua BUMDes yang dikembangkan di Pesahangan dan Negarajati dapat direplikasi di desa-desa lain yang memiliki potensi perkebunan buah unggulan. Kunci replikasi terletak pada tiga aspek: identifikasi komoditas unggulan lokal, pembentukan kemitraan antardesa yang solid, dan dukungan pendampingan teknis dari lembaga pendidikan atau BUMN setempat. Kabupaten Cilacap sendiri memiliki banyak desa pegunungan dengan karakteristik lahan serupa yang berpeluang mengadopsi model ini. [3]
Untuk scale up, pengelola mendorong perluasan kawasan dari lima hektare ke tujuh hektare melalui skema kerja sama dengan Perhutani, sembari mengajak desa-desa tetangga masuk dalam jejaring agrowisata terpadu. Replikasi model ini di tingkat provinsi atau nasional membutuhkan dukungan kebijakan dari Kemendes PDTT dalam bentuk fasilitasi kemitraan BUMDes antardesa. Pengembangan berbasis klaster agrowisata seperti ini terbukti mampu menciptakan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan pengembangan desa secara individual. [5]
Daftar Pustaka
[1] Gatra.com, “BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian di Pegunungan,” Gatra, 12 Sep. 2021. [Online]. Tersedia: https://www.gatra.com/news-522540-ekonomi-bumdes-kembangkan-agrowisata-durian-di-pegunungan.html [Diakses: 20 Mar. 2026].
[2] Liputan6.com, “Antara Desa, Cuan Miliaran Agrowisata dan Petani Milenial di Cilacap,” Liputan6, 26 Sep. 2021. [Online]. Tersedia: https://www.liputan6.com/regional/read/4657217/antara-desa-cuan-miliaran-agrowisata-dan-petani-milenial-di-cilacap [Diakses: 20 Mar. 2026].
[3] Liputan6.com, “Bertekad Cilacap Jadi Sentra Durian, Aziz’s Paradise Bagikan Ratusan Bibit Gratis,” Liputan6, 12 Des. 2021. [Online]. Tersedia: https://www.liputan6.com/regional/read/4735267/bertekad-cilacap-jadi-sentra-durian-azizs-paradise-bagikan-ratusan-bibit-gratis [Diakses: 20 Mar. 2026].
[4] R. A. Pratiwi dan D. S. Rokhim, “Strategi BUMDes dalam Optimalisasi Ekonomi Desa Melalui Pengelolaan Agrowisata D’Ganjaran Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo,” Praja: Jurnal Ilmiah Pemerintahan, vol. 10, no. 3, 2022. [Online]. Tersedia: https://aksiologi.org/index.php/praja/article/view/587 [Diakses: 20 Mar. 2026].
[5] Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, “Peran BUMDes terhadap Perekonomian Desa,” Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, Universitas Udayana. [Online]. Tersedia: https://ojs.unud.ac.id/index.php/jaa/article/download/111255/53087 [Diakses: 20 Mar. 2026].
[6] Kanal Desa, “Kolaborasi Dua BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian,” Kanal Desa. [Online]. Tersedia: https://kanaldesa.com/artikel/kolaborasi-dua-bumdes-kembangkan-agrowisata-durian [Diakses: 20 Mar. 2026].
[7] Journal of Governance Innovation, “Pengembangan Pariwisata Agrowisata dan Dampaknya terhadap PADes,” Journal of Governance Innovation, Universitas Islam Raden Rahmat Malang. [Online]. Tersedia: https://ejournal.uniramalang.ac.id/JOGIV/article/download/6606/4116/42094 [Diakses: 20 Mar. 2026].
