Ringkasan Inovasi

BUMDes Masagenae Desa Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, mengembangkan inovasi peternakan itik petelur skala desa dengan memelihara 500 ekor itik sebagai langkah konkret penguatan ketahanan pangan lokal. Inovasi ini memanfaatkan potensi peternakan yang sudah menjadi identitas ekonomi Desa Salobukkang, mendorong transformasi dari peternak subsisten ke unit usaha BUMDes yang terkelola secara profesional. [1]

Didukung kolaborasi aktif dengan mahasiswa KKN Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas), BUMDes Masagenae membangun sistem manajemen kandang yang terstandar dan berbasis ilmu peternakan modern. [2] Inisiatif ini menempatkan Desa Salobukkang sebagai model ketahanan pangan berbasis BUMDes di Kabupaten Sidrap — kabupaten yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sentra pertanian padi.

Nama Inovasi:BUMDes Masagenae — Peternakan Itik Petelur 500 Ekor Berbasis Manajemen Kandang Terstandar untuk Ketahanan Pangan Desa
Alamat:Desa Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan
Inovator:Pengurus BUMDes Masagenae Desa Salobukkang; Pemerintah Desa Salobukkang; didukung mahasiswa KKN Unhas 114 Fakultas Peternakan dan Pemkab Sidenreng Rappang
Kontak:082339325253 (Pemerintah Desa Salobukkang) | 085237777966 (BUMDes Masagenae) | Email: infodesasalobukkang@gmail.com

Latar Belakang

Desa Salobukkang adalah desa di Kecamatan Dua Pitue yang dikenal dengan potensi pertanian dan peternakannya. Aktivitas peternakan sudah lama menjadi bagian dari mata pencaharian warga — mulai dari skala rumahan hingga skala yang lebih besar — namun sebagian besar masih dijalankan secara tradisional tanpa manajemen yang terstruktur. [3]

Peternak lokal menghadapi dua tantangan utama: produktivitas itik yang tidak optimal akibat sistem pemeliharaan tradisional, dan ketidakstabilan pasokan telur yang membuat harga berfluktuasi dan menyulitkan warga mendapat protein hewani dengan harga terjangkau. [2] Di sisi lain, sektor peternakan itik di Kecamatan Dua Pitue Sidrap sesungguhnya menyimpan potensi besar yang belum dioptimalkan melalui pendekatan agribisnis yang sistematis. [4]

Program ketahanan pangan nasional yang mendorong setiap desa membangun kemandirian pangan menjadi momentum bagi BUMDes Masagenae untuk melangkah lebih jauh. Peternakan itik petelur dengan manajemen modern dipilih karena itik memiliki siklus produksi telur yang cepat dan stabil, nilai gizi tinggi, dan biaya pemeliharaan yang relatif lebih terjangkau dibanding unggas lain. [5]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengelolaan peternakan itik petelur 500 ekor oleh BUMDes Masagenae dengan sistem manajemen kandang yang terstandar — berbeda dari pola tradisional yang selama ini berlaku di desa. BUMDes membangun kandang dengan desain yang memperhatikan ventilasi optimal, sanitasi yang teratur, dan tata letak yang memudahkan pengelolaan pakan serta pengumpulan telur setiap hari. [2]

Inovasi ini bekerja melalui sistem manajemen pemeliharaan terpadu: pakan bergizi diberikan secara terjadwal sesuai kebutuhan nutrisi itik petelur, air minum selalu tersedia dan diganti secara berkala, dan sanitasi kandang dilakukan rutin untuk mencegah wabah penyakit. [1] Pendapatan dari penjualan telur masuk ke kas BUMDes, dan sebagian dikembalikan ke Pendapatan Asli Desa (PADes) untuk membiayai program pembangunan desa.

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dari identifikasi potensi peternakan desa oleh pemerintah desa dan pengurus BUMDes Masagenae. Potensi peternakan itik yang sudah ada di masyarakat diorganisasi ke dalam satu unit usaha BUMDes yang lebih terkelola — sebuah transisi dari aktivitas individu ke usaha kolektif berbasis desa. [3]

Momentum penting datang dari kehadiran mahasiswa KKN Unhas 114 dari Fakultas Peternakan pada Juli 2025. Mereka melaksanakan sosialisasi bertajuk “Pengembangan Kandang serta Budidaya Itik Petelur Melalui Penerapan Manajemen Kandang yang Baik” yang dihadiri peternak lokal, tokoh masyarakat, dan pengelola BUMDes. [2] Materi mencakup desain kandang berstandar, pengelolaan ventilasi dan sanitasi, serta sistem pemberian pakan dan air minum secara teratur.

Pengetahuan teknis dari KKN Unhas langsung diterapkan dalam pembenahan sistem kandang BUMDes Masagenae. Pengurus BUMDes mendampingi peternak dalam mengadaptasi standar kandang baru — sebuah proses belajar praktis di lapangan yang mengubah kebiasaan tradisional menjadi praktik peternakan modern berbasis data dan standar ilmiah. [3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah kolaborasi strategis antara BUMDes Masagenae dan akademisi dari Fakultas Peternakan Unhas melalui program KKN. Kolaborasi ini membawa transfer pengetahuan teknis yang sangat dibutuhkan — dari desain kandang, manajemen pakan, hingga pengendalian penyakit — yang sebelumnya tidak dimiliki pengelola BUMDes maupun peternak lokal. [2]

Faktor kedua adalah eksistensi budaya peternakan yang sudah mengakar di Desa Salobukkang. BUMDes tidak membangun dari nol — mereka memperkuat dan memformalisasi tradisi beternak yang sudah ada, sehingga penerimaan masyarakat jauh lebih mudah dan cepat. [3] Dukungan Pemkab Sidrap melalui kebijakan penguatan BUMDes berbasis peternakan — yang juga terlihat dari pengembangan BUMDes Mattappae di Desa Sereang — juga menciptakan ekosistem kebijakan yang kondusif bagi inovasi serupa. [6]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dengan 500 ekor itik dan tingkat bertelur rata-rata 70–85%, BUMDes Masagenae berpotensi menghasilkan 350–425 butir telur per hari atau sekitar 10–12 rak telur. Mengacu pada pengalaman BUMDes Mattappae Sidrap yang mengelola 300 ekor bebek dengan pendapatan kotor Rp630 ribu per hari (9 rak × Rp70 ribu), unit itik BUMDes Masagenae berpotensi menghasilkan pendapatan kotor Rp700 ribu–Rp840 ribu per hari. [7]

Dari sisi ketahanan pangan, ketersediaan telur itik lokal yang melimpah memastikan warga Desa Salobukkang memiliki akses ke sumber protein hewani berkualitas dengan harga lebih terjangkau dari harga pasar luar desa. [5] Program ini selaras dengan keunggulan Desa Salobukkang yang pada Maret 2026 mencatatkan panen padi luas 362 hektare menghasilkan 3.300 ton dengan nilai Rp25 miliar — menunjukkan desa ini membangun kedaulatan pangan dari dua sektor sekaligus: tanaman pangan dan peternakan. [8]

Unit itik petelur BUMDes Masagenae juga membuka lapangan kerja langsung bagi warga desa yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Pendapatan dari penjualan telur yang masuk ke PADes akan memperkuat kemampuan fiskal desa dalam membiayai program sosial dan infrastruktur tanpa bergantung sepenuhnya pada transfer pemerintah pusat. [1]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama adalah menjaga konsistensi kualitas manajemen kandang setelah tim KKN Unhas tidak lagi hadir mendampingi. Pengetahuan teknis yang disampaikan selama KKN perlu benar-benar tertanam dalam rutinitas pengelola BUMDes — dan ini membutuhkan komitmen jangka panjang untuk menjalankan standar yang sudah ditetapkan, tidak hanya saat ada pendampingan. [2]

Tantangan kedua adalah fluktuasi harga pakan itik yang sangat bergantung pada pasokan dedak padi dan konsentrat dari luar desa. Ironisnya, meskipun Desa Salobukkang adalah desa penghasil padi, pemanfaatan dedak sisa gilingan sebagai pakan itik lokal belum terorganisasi secara sistematis — sebuah peluang integrasi usaha yang masih perlu dikembangkan. [8]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang bertumpu pada internalisasi pengetahuan manajemen kandang ke dalam SOP (Standard Operating Procedure) tertulis BUMDes Masagenae. SOP ini akan memastikan bahwa standar kebersihan, pakan, dan pengelolaan tetap terjaga meskipun personel pengelola berganti. [2]

Integrasi rantai nilai pakan lokal menjadi strategi kunci jangka panjang: memanfaatkan dedak dari penggilingan padi Desa Salobukkang yang melimpah sebagai komponen pakan itik akan menekan biaya produksi secara signifikan dan menciptakan ekosistem usaha yang saling mendukung antara sektor pertanian padi dan peternakan itik. [8] Kemungkinan pengembangan hilirisasi seperti telur asin atau olahan telur itik juga terbuka sebagai sumber pendapatan tambahan BUMDes. [7]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes Masagenae sangat relevan direplikasi di desa-desa lain di Kecamatan Dua Pitue yang memiliki tradisi peternakan serupa. Kunci replikasinya adalah menggandeng Fakultas Peternakan Unhas atau perguruan tinggi pertanian lokal untuk program KKN tematik yang membawa transfer pengetahuan teknis ke setiap desa percontohan secara bergilir. [3]

Pemkab Sidrap yang sudah menunjukkan komitmen kuat — termasuk kunjungan Bupati SAR ke BUMDes Mattappae untuk mendorong peternakan unggas petelur berbasis kandang kering — dapat menjadikan Desa Salobukkang dan BUMDes Masagenae sebagai model replikasi resmi untuk seluruh BUMDes di Sidrap. [6] Untuk scale up, penambahan populasi itik dari 500 ke 1.000 ekor dengan modal dari reinvestasi keuntungan akan meningkatkan efisiensi operasional dan memposisikan BUMDes sebagai pemasok telur itik unggulan untuk program MBG di tingkat kabupaten.

Daftar Pustaka

[1] Desa Salobukkang, “BUMDes Masagenae Kelola 500 Ekor Itik Petelur untuk Ketahanan Pangan di Desa Salobukkang,” salobukkang.digitaldesa.id, Jul. 29, 2025. [Online]. Available: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/bumdes-masagenae-kelola-500-ekor-itik-petelur

[2] Desa Salobukkang, “Sosialisasi KKN UNHAS 114: Pengembangan Kandang dan Manajemen Itik Petelur,” salobukkang.digitaldesa.id, Jul. 29, 2025. [Online]. Available: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/sosialisasi-kkn-unhas-114

[3] Desa Salobukkang, “Penguatan Ketahanan Pangan di Desa Salobukkang Melalui Kolaborasi BUMDes dan KKN UNHAS,” salobukkang.digitaldesa.id, Jul. 16, 2025. [Online]. Available: https://salobukkang.digitaldesa.id/berita/penguatan-ketahanan-pangan-kolaborasi-bumdes-kkn-unhas

[4] N. Nurhijjah et al., “Strategi Pengembangan Usaha Ayam Ras Petelur di Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidenreng Rappang,” Jurnal Agribisnis Unigal, 2024. [Online]. Available: https://jurnal.unigal.ac.id/mimbaragribisnis/article/view/11583

[5] Pemdesppa Sidrap, “Program Ketahanan Pangan: Peternakan Itik Petelur di BUMDes,” Instagram @pemdesppa, Jan. 9, 2026. [Online]. Available: https://www.instagram.com/reel/DTSONgdEwP1/

[6] Pemkab Sidrap, “Kandang Kering BUMDes Mattapae, Solusi Tambah Pendapatan dan Ketahanan Pangan,” sidrapkab.go.id, Jan. 27, 2026. [Online]. Available: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita224022

[7] KitaSulsel, “BUMDes Mattappae Sereang Kembangkan Bebek Petelur, Raup Omzet Jutaan Rupiah per Bulan,” kitasulsel.com, Jan. 28, 2026. [Online]. Available: https://kitasulsel.com/2026/01/28/bumdes-mattappae-sereang-kembangkan-bebek-petelur-raup-omzet-jutaan-rupiah-per-bulan/

[8] Pemkab Sidrap, “Panen Padi di Salobukkang, Bupati Sidrap Fokus Peningkatan Pendapatan,” sidrapkab.go.id, Mar. 2, 2026. [Online]. Available: https://sidrapkab.go.id/berita/detail_berita/Berita200731

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.