Ringkasan Inovasi

BUMDes Joyomulyo Desa Margomulyo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, merintis inovasi usaha peternakan bebek petelur sebagai unit usaha produktif baru berbasis potensi lokal desa. Inovasi ini lahir dari inisiatif pengurus BUMDes yang menyadari bahwa desa mereka memiliki potensi peternakan yang belum termanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes). [1]

Berbeda dari BUMDes umumnya yang langsung melaksanakan usaha tanpa perencanaan matang, BUMDes Joyomulyo mengambil pendekatan yang lebih terstruktur: membuat master plan kelayakan bisnis bebek petelur terlebih dahulu dengan bimbingan Tim Pendamping Profesional Desa (PD dan PA PED) dari Kementerian Desa. [2] Pendekatan perencanaan berbasis data survei kebutuhan masyarakat ini menjadi model tata kelola BUMDes yang layak direplikasi untuk mencegah kegagalan usaha BUMDes yang sering terjadi akibat minimnya perencanaan awal.

Nama Inovasi:Master Plan Usaha Ternak Bebek Petelur — Inovasi Perencanaan BUMDes Berbasis Survei Potensi Lokal
Alamat:Desa Margomulyo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur
Inovator:Teryntia Hendrid (Direktur BUMDes Joyomulyo); Muhammad Nailul Marom (Sekretaris); Ida Wahyu Widianti (Bendahara); difasilitasi PA PED Banyuwangi dan Pendamping Desa Kecamatan Glenmore Muhammad Yusuf
Kontak:Kantor Desa Margomulyo, Kec. Glenmore, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur | Dinas PMD Kabupaten Banyuwangi | banyuwangikab.go.id

Latar Belakang

Desa Margomulyo terletak di bagian barat Kabupaten Banyuwangi, di bawah kaki Gunung Raung, yang dikenal sebagai kawasan perkebunan karet dan pertanian. Rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani, buruh pabrik karet, dan karyawan perkebunan — mayoritas bekerja di sektor primer dengan penghasilan yang terbatas dan tidak stabil. [1]

BUMDes Joyomulyo yang baru berdiri pada 2017 menghadapi tantangan klasik BUMDes desa: semangat tinggi namun kapasitas perencanaan usaha yang belum memadai. Pengurus menyadari bahwa tanpa kajian kelayakan bisnis yang terstruktur, risiko kegagalan usaha BUMDes sangat tinggi. Hal ini diperkuat oleh riset yang menunjukkan bahwa mayoritas kegagalan BUMDes di Indonesia disebabkan oleh lemahnya perencanaan bisnis di tahap awal. [2]

Di saat yang sama, peternakan bebek petelur di Kabupaten Banyuwangi sesungguhnya memiliki prospek cerah. Telur bebek merupakan bahan pangan dengan permintaan stabil dari segmen rumah tangga, pedagang jajanan, maupun industri pengolahan makanan. [3] Peluang ini belum dimanfaatkan oleh BUMDes mana pun di Kecamatan Glenmore, sehingga membuka ruang kompetitif yang terbuka lebar bagi BUMDes Joyomulyo.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan BUMDes Joyomulyo bukan semata membangun kandang dan membeli bebek, melainkan mendisiplinkan proses perencanaan bisnis secara menyeluruh sebelum satu rupiah pun diinvestasikan — pendekatan yang disebut sebagai master plan ternak bebek petelur. Gagasan ini lahir dari Direktur BUMDes Teryntia Hendrid yang menghubungi Tim Pendamping Profesional Desa untuk mendapat bimbingan teknis perencanaan usaha sebelum menjalankan operasional. [2]

Master plan ini bekerja melalui dua tahap utama. Pertama, survei kebutuhan masyarakat yang mencakup data usia, pekerjaan, dan pendapatan warga untuk memetakan daya beli dan potensi pasar lokal. Kedua, penyusunan proposal bisnis komprehensif yang merangkum analisis potensi pasar, strategi pemasaran, kebutuhan modal, dan pemilihan lokasi kandang — dokumen yang akan menjadi panduan eksekusi dan acuan pengajuan permodalan. [2]

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai pada 26 Juli 2017 ketika Direktur BUMDes Teryntia mengundang Pendamping Desa Kecamatan Glenmore dan Pendamping Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (PA PED) Kabupaten Banyuwangi ke pertemuan diskusi. Dari pertemuan ini, tiga usulan usaha muncul dari pengurus BUMDes: ternak lele, ternak bebek petelur, dan simpan pinjam — lalu dilakukan pemetaan potensi dan daya beli masyarakat untuk masing-masing usulan. [1]

Bebek petelur dipilih sebagai prioritas setelah melalui diskusi analitik yang mempertimbangkan tiga faktor kunci: potensi pasar yang stabil, tersedianya tenaga ahli lokal yang bersedia mendampingi dari awal hingga usaha berjalan, dan ketersediaan calon karyawan yang sudah teridentifikasi. Ketiga faktor ini sekaligus memenuhi syarat minimum kelayakan usaha yang jarang terpenuhi secara bersamaan di BUMDes desa baru. [2]

Tahap berikutnya adalah penyusunan proposal kelayakan bisnis yang komprehensif dalam satu minggu pasca pertemuan. Proposal ini kemudian diserahkan kepada Pj Kepala Desa Margomulyo dan Pendamping Desa Muhammad Yusuf sebagai dokumen formal yang menjadi basis pengambilan keputusan kelembagaan — sebuah praktik tata kelola yang sangat langka di tingkat BUMDes pada tahun 2017. [4]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan proaktif Direktur BUMDes Teryntia Hendrid yang tidak ragu mengundang pendamping profesional sejak tahap paling awal — yaitu perencanaan, bukan implementasi. Sikap ini mencerminkan kesadaran bahwa keberhasilan usaha BUMDes sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan, bukan sekadar semangat berwirausaha. [2]

Faktor kedua adalah ketersediaan ekosistem pendampingan yang lengkap: Pendamping Desa tingkat kecamatan yang memahami konteks lokal dan PA PED tingkat kabupaten yang menguasai analisis ekonomi bisnis. Kombinasi dua level pendampingan ini menghasilkan kajian yang lebih komprehensif dibanding yang bisa dilakukan oleh BUMDes secara mandiri. [4] Kehadiran tenaga ahli lokal yang sudah berpengalaman di bidang peternakan bebek dan bersedia mendampingi operasional juga menjadi faktor penentu kritis yang tidak semua desa miliki.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak langsung dari inovasi perencanaan ini adalah tersusunnya proposal bisnis bebek petelur yang terstruktur dan berbasis data nyata — bukan sekadar estimasi kasar. Proposal ini berfungsi sebagai peta jalan yang jelas bagi seluruh pengurus BUMDes, mengurangi risiko keputusan yang diambil secara impulsif tanpa analisis mendalam. [2]

Dalam jangka panjang, BUMDes Joyomulyo berkembang menjadi BUMDes aktif yang kemudian berhasil mengembangkan usaha budidaya jamur tiram sebagai unit usaha tambahan, membuktikan bahwa fondasi perencanaan yang kuat pada 2017 memampukan BUMDes untuk terus berinovasi. [1] BUMDes ini bahkan menjadi objek penelitian KKN Universitas Jember pada 2021, menunjukkan perannya sebagai model BUMDes yang terus bertumbuh dan relevan untuk dikaji akademis.

Studi kasus peternakan unggas petelur yang dikembangkan BUMDes di Jawa Timur menunjukkan bahwa BUMDes yang mengembangkan usaha unggas petelur dengan pendampingan intensif mampu meningkatkan pendapatan desa hingga 35% dalam satu tahun. [4] Potensi ini menjadi landasan optimisme bahwa perencanaan yang matang dari BUMDes Joyomulyo akan menghasilkan dampak serupa ketika operasional berjalan penuh.

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama pada tahap awal adalah memastikan konsistensi antara dokumen perencanaan dan implementasi lapangan. Pengalaman BUMDes di berbagai daerah menunjukkan bahwa ada celah besar antara proposal bisnis yang baik di atas kertas dengan realitas operasional di lapangan — terutama terkait manajemen pakan, pengendalian penyakit ternak, dan fluktuasi harga telur. [2]

Tantangan kedua adalah memastikan keberlanjutan pendampingan teknis dari tenaga ahli lokal yang telah bersedia terlibat. Ketergantungan pada satu orang ahli dapat menjadi titik lemah operasional jika suatu saat ahli tersebut tidak bisa hadir atau mengundurkan diri. [4] Ini menunjukkan pentingnya transfer pengetahuan (knowledge transfer) dari ahli ke pengelola BUMDes sejak dini agar keahlian tidak terkonsentrasi pada satu individu saja.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan usaha bebek petelur BUMDes Joyomulyo bertumpu pada sistem pendampingan teknis berjenjang yang sudah terbangun sejak awal — dari tenaga ahli lokal, pendamping desa kecamatan, hingga PA PED kabupaten. Jaringan dukungan tiga lapis ini memastikan bahwa ketika satu masalah operasional muncul, selalu ada pihak yang bisa dihubungi untuk mencari solusi. [4]

Diversifikasi unit usaha BUMDes Joyomulyo — yang kemudian terbukti dengan berkembangnya unit jamur tiram — menunjukkan bahwa BUMDes ini menerapkan strategi portfolio usaha yang sehat. [1] Jika satu unit usaha menghadapi tekanan pasar, unit lain dapat menjadi penyangga pendapatan BUMDes — mencegah skenario terburuk di mana kegagalan satu usaha menghancurkan keseluruhan kinerja BUMDes.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model master plan BUMDes Joyomulyo — yakni mendisiplinkan proses perencanaan bisnis berbasis survei sebelum memulai usaha — adalah inovasi proses yang paling mudah dan paling mendesak untuk direplikasi di seluruh BUMDes di Indonesia. Riset menunjukkan bahwa kelemahan terbesar BUMDes adalah lemahnya perencanaan awal dan analisis kelayakan usaha, bukan kurangnya modal atau potensi lokal. [2]

Kementerian Desa PDTT dan pemerintah daerah dapat mengintegrasikan modul perencanaan master plan BUMDes ini ke dalam kurikulum pelatihan pendamping desa nasional. [4] Untuk skala usaha bebek petelur khususnya, riset menunjukkan bahwa skala optimal antara 500–1.000 ekor menghasilkan tingkat produktivitas dan efisiensi usaha yang baik — sebuah target konkret yang bisa dijadikan panduan bagi BUMDes lain yang ingin mereplikasi model usaha ternak bebek petelur secara menguntungkan.

Daftar Pustaka

[1] M. Firdaus P., “KKN BTV 3 UNEJ Kembangkan BUMDes Melalui Digitalisasi di Desa Margomulyo Banyuwangi,” Kompasiana.com, Sep. 1, 2021. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/mfirdausp/613062c201019061c9110872/kkn-btv-3-unej-kembangkan-bumdes-melalui-digitalisasi-di-desa-margomulyo-banyuwangi

[2] Tim Peneliti, “Analisis Model Bisnis Peternakan Bebek Menggunakan Business Model Canvas,” SINERGI — Manggala Journal of Research, 2024. [Online]. Available: https://manggalajournal.org/index.php/SINERGI/article/download/1798/2100

[3] Tim Peneliti, “Laying Duck Business Analysis — Wake Village,” Jurnal Peternakan Neliti. [Online]. Available: https://media.neliti.com/media/publications/108711-ID-laying-duck-business-analysiswake-villag.pdf

[4] Tim Peneliti, “Penguatan Peran BUMDes melalui Pengembangan Usaha Peternakan Unggas Petelur,” MAJU: Indonesian Journal of Community Empowerment — Manggala Journal, 2024. [Online]. Available: https://manggalajournal.org/index.php/maju/article/download/1764/2051/10416

[5] TTG Banyuwangi, “Semangat Membesarkan Usaha di BUMDesa Margomulyo,” ttgbanyuwangi.com, Jul. 2017. [Online]. Available: http://www.ttgbanyuwangi.com/baca-berita/semangat-membesarkan-usaha-di-bumdesa-margomulyo

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.