Ringkasan Inovasi
Kelompok Wanita Tani (KWT) Berlian Desa Jalatrang menginisiasi gerakan produktif yang mengubah pekarangan rumah warga menjadi lahan budi daya bawang merah, cabai rawit, dan tomat secara mandiri. Program Pekarangan Pangan Lestari ini bertujuan memutus kebiasaan konsumtif warga dan menciptakan kemandirian pangan berbasis sumber daya desa sendiri. Inovasi ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan keluarga sekaligus memperkuat ekosistem Desa Wisata Jalatrang yang telah meraih berbagai penghargaan nasional.
Dampak utama program ini sangat terukur dan terasa langsung oleh 1.000 rumah tangga peserta aktif. Pengeluaran warga untuk tiga komoditas bumbu dapur utama berhasil ditekan hingga Rp72 juta per bulan secara kolektif. Lebih dari sekadar menghemat uang, program ini berhasil mengubah pola pikir masyarakat dari konsumtif menjadi produktif.
| Nama Inovasi | : | Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) KWT Berlian Desa Jalatrang |
| Alamat | : | Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat |
| Inovator | : | KWT Berlian Desa Jalatrang; Ketua KWT: Aam Amirah; Kepala Desa: Dadi Haryadi; PPL: Inding Supriadi, S.P. |
| : | pemerintahdesajalatrang@gmail.com | |
| Website | : | https://jalatrang.id |
Latar Belakang
Kepala Desa Jalatrang, Dadi Haryadi, menemukan fakta mengejutkan saat melakukan survei kebutuhan dasar masyarakat desa. Dari sekitar 1.000 rumah tangga, uang senilai Rp72 juta per bulan mengalir keluar desa hanya untuk membeli tiga komoditas bumbu dapur, yaitu bawang merah, cabai rawit, dan tomat. Fakta ini menjadi alarm keras bahwa desa belum mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri secara mandiri.
Lahan pekarangan rumah yang luas dan tersebar di seluruh penjuru desa justru dibiarkan kosong dan tidak produktif oleh mayoritas warga. Potensi sumber daya perempuan desa juga belum terberdayakan secara optimal untuk kegiatan ekonomi produktif yang nyata. Dua potensi besar ini, yakni lahan pekarangan dan kekuatan perempuan desa, menjadi akar dari lahirnya inovasi KWT Berlian.
Peluang semakin terbuka lebar saat Jalatrang berkembang menjadi desa wisata unggulan dengan kebutuhan menampilkan lingkungan yang asri. KWT Berlian menangkap peluang itu dengan menjadikan pekarangan produktif sebagai bagian integral dari wajah Desa Wisata Jalatrang. Desa yang terletak 13 kilometer dari pusat Kota Ciamis ini memiliki iklim ideal untuk budi daya aneka hortikultura secara konsisten.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi ini lahir dari keputusan Kepala Desa Dadi Haryadi untuk menggunakan Dana Desa membeli bibit dari KWT Berlian lalu mendistribusikannya langsung ke rumah-rumah warga. KWT Berlian yang diketuai Aam Amirah berperan sebagai pelaksana teknis lapangan, mulai dari penyemaian bibit hingga pendampingan warga secara intensif. Setiap anggota KWT memegang tanggung jawab membina sekitar 15 rumah tangga binaan di wilayah tempat tinggalnya.
Mekanisme inovasi ini bekerja melalui sistem distribusi polybag terisi bibit siap tanam langsung ke tangan warga. Setiap rumah tangga peserta menerima 20 polybag berisi bibit bawang merah, cabai rawit, dan tomat untuk dirawat secara mandiri. Hasil panen dikonsumsi sendiri oleh keluarga, dan sisa panen yang berlebih sebagian ditanam kembali untuk menjaga siklus produksi tetap berjalan berkelanjutan.
Proses Penerapan Inovasi
Proses diawali dengan Sekolah Lapang Pertanian yang dibiayai Dana Desa sebagai wadah pendidikan teknis bagi seluruh anggota KWT. PPL Desa Jalatrang, Inding Supriadi, S.P., hadir memberikan penyuluhan langsung mengenai teknik penyemaian bibit, pemupukan organik, dan cara panen yang benar. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis juga menyerahkan bantuan sarana produksi pertanian untuk memperkuat kapasitas operasional KWT Berlian di Kampung Bungur.
Tantangan muncul di awal pelaksanaan ketika partisipasi warga masih sangat rendah karena banyak yang belum percaya bahwa bertanam di polybag bisa menghasilkan pangan bermakna. Tim KWT kemudian mengubah pendekatan dengan menunjukkan hasil nyata dari pekarangan percontohan di rumah pengurus kelompok secara langsung. Strategi demonstrasi berbasis bukti ini jauh lebih efektif mengajak warga bergabung dibanding sekadar sosialisasi bersifat informatif.
Fase pengujian berikutnya menguji ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan cuaca yang tidak menentu. Pengalaman kegagalan panen di awal menjadi pembelajaran berharga untuk memperbaiki teknik perlindungan tanaman secara alami tanpa pestisida kimia. Hasilnya, standar budi daya semakin terkonsolidasi dan kualitas panen menjadi lebih seragam setiap siklusnya.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan visioner Kepala Desa Dadi Haryadi dalam mengalokasikan Dana Desa secara strategis menjadi fondasi utama keberhasilan program ini. Keputusan beliau untuk menjadikan KWT Berlian sebagai pelaksana teknis lapangan, bukan sekadar penerima manfaat, membuat program berjalan dengan rasa kepemilikan yang tinggi. Komitmen pemerintah desa yang konsisten sepanjang proses implementasi membuat program tidak berhenti hanya di tataran wacana.
Modal sosial yang kuat dari KWT Berlian menjadi kekuatan penggerak keterlibatan warga secara organik dan tulus. Kepercayaan warga kepada sesama perempuan desa memudahkan proses pendampingan dari pintu ke pintu secara personal. Dukungan teknis dari PPL Inding Supriadi dan Dinas Pertanian Ciamis memastikan seluruh proses budi daya berjalan di atas landasan ilmiah yang kokoh.
Hasil dan Dampak Inovasi
Program ini berhasil menekan pengeluaran belanja dapur warga Desa Jalatrang hingga Rp72 juta per bulan secara kolektif dari sekitar 1.000 rumah tangga peserta aktif. Setiap keluarga kini memiliki akses langsung ke bawang merah, cabai rawit, dan tomat segar tanpa harus mengeluarkan uang tunai setiap hari. Dari total 2.150 rumah di desa, seribu rumah pertama sudah berhasil bergabung sebagai target awal fase pertama program.
Secara kualitatif, perubahan perilaku yang paling terasa adalah pergeseran pola pikir warga dari konsumtif menjadi produktif. Kepala Desa Dadi Haryadi menyebut perubahan mental ini sebagai “hasil terbesar” yang melampaui nilai nominal penghematan uang belanja. Lingkungan desa juga semakin hijau dan estetis karena pekarangan produktif menjadi pemandangan umum di seluruh penjuru Jalatrang.
Inovasi ini turut berkontribusi mengantarkan Desa Jalatrang masuk dalam 10 desa terbaik nasional pada ajang Deepening Desa BRILiaN 2025 dari Bank BRI dan Atourin. Penghargaan bergengsi nasional itu merupakan hasil seleksi ketat dari 106 desa wisata di seluruh Indonesia. Sebelumnya, Jalatrang juga meraih Juara 1 Lomba Desa Wisata Kabupaten Ciamis 2023 dan mendapat predikat desa wisata binaan Kemenparekraf RI.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
KWT Berlian memastikan kelangsungan program melalui sistem pembibitan mandiri di mana sebagian hasil panen warga dikembalikan menjadi benih untuk siklus tanam berikutnya. Setiap anggota KWT secara konsisten mendampingi 15 rumah binaan masing-masing agar program tidak terputus saat bantuan awal dari Dana Desa telah habis. Pola pembinaan berbasis komunitas ini menjadi mekanisme keberlanjutan paling organik dan tidak bergantung pada pendanaan dari luar desa.
Untuk jangka panjang, desa berencana memperluas cakupan program ke 1.150 rumah tangga tersisa yang belum bergabung. Pengembangan produk turunan seperti olahan sayuran kering dan bumbu siap pakai mulai dijajaki untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen. Kawasan Eduwisata Kampung Bungur juga terus dikembangkan sebagai laboratorium pertanian terbuka yang menghasilkan pendapatan wisata sekaligus mendukung ketahanan pangan desa.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pemanfaatan pekarangan KWT Berlian kini menjadi rujukan aktif bagi desa-desa lain di Kecamatan Cipaku dan Kabupaten Ciamis. Kawasan Eduwisata Kampung Bungur berfungsi sebagai ruang demonstrasi terbuka yang bisa dikunjungi dan dipelajari secara langsung oleh siapa saja. Desa Jalatrang terbuka menerima kunjungan studi banding untuk berbagi modul Sekolah Lapang Pertanian dan pengalaman praktis mereka kepada desa-desa yang berminat.
Strategi replikasi mencakup pendokumentasian seluruh alur kerja, mulai dari survei kebutuhan dasar, mekanisme pembelian bibit via Dana Desa, pola pembinaan rumah binaan, hingga sistem distribusi polybag. Penghargaan Deepening Desa BRILiaN 2025 membuka pintu kolaborasi dengan Bank BRI dan Atourin untuk mendukung digitalisasi pemasaran produk olahan desa. Kolaborasi ini akan memperluas jangkauan pasar produk Jalatrang ke luar kota dan membuka peluang kemitraan dengan pihak swasta skala nasional.
