Reportase : Deddy Todongi – Biro Morowali, Sulteng

Morowali, Inovasi.web.id. SELAIN kaya akan berbagai  potensi tambang dan pertaniannya, Morowali juga menyimpan kekayaan wisata yang tak kalah menarik dan mempesonakan hati. Daya tariknya, bahkan jauh lebih memukau jika di banding dengan objek-objek wisata lain yang ada di pulau Sulawesi khususnya.

Bahkan karena kecantikan dan keindahannya itu, sehingga oleh Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi, Eko Putro Sandjoyo, BSEE, MBA, pulau ini kemudian disebutnya sebagai perwakilan dari keindahan yang dimiliki oleh Raja Ampat, Bunaken dan Wakataobi.

”Saya sangat kagum dan terpesona dengan panorama alam yang dimiliki oleh pulau ini. Keindahannya bahkan mewakili keindahan yang dipunyai Raja Ampat, Bunaken dan Wakatobi,” ungkap sang menteri pada sebuah kunjungannya ke Sombori akhir tahun kemarin.

Secara geografis pulau yang terdapat di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah ini di apit oleh 2 Kecamatan, yakni Kecamatan Bungku Selatan dan Kecamatan Menui Kepulauan.

Ibarat sebuah magnet,  pulau ini memiliki daya tarik yang sangat kuat, bahkan bisa membuat para pelancong terlena dan kembali datang dan tinggal berlama-lama di kepulauan terpencil dan terisolir dari hiruk pikuk keramaian dan hingar bingar modernisasi yang sedang mengglobal saat ini.

Pengakuan para pelancong yang sudah pernah melakukan kunjungannya ke sana membenarkannya. Di akui, pulau ini memang telah mampu menyedot perhatian dan mempengaruhi mereka untuk betah dan tinggal berlama-lama di pulau tersebut.

“Awalnya saya hanya pengen tinggal satu hari saja tapi setelah melihat kecantikannya, jadinya malah tiga hari. Pulau itu bagai sepetak surga yang sengaja dijatuhkan ke bumi,” ungkap Dila, salah seorang pengunjung asal Kendari yang ikut di aminkan oleh rekan-rekannya yang lain.

Sebutan pulau khayangan sendiri merupakan sebuah istilah dan apresiasi publik yang awalnya berangkat dari pengakuan pelancong yang sudah pernah melakukan kunjungannya ke pulau tersebut.

Apresiasi itu hingga kini makin tersebar dan meluas bahkan telah sampai ke telinga para pengatur perjalanan dan wisatawan mancanegara.

Namun karena masih kurangnya tenaga pemanduan khusus berbahasa asing dan ketiadaan akomodasi perhotelannya sehingga kedatangan wisatawan asing ke pulau khayangan ini masih terbatas.

Namun demikian, keterbatasan fasilitas ini rupanya tidak membuat animo para pelancong menjadi surut sebaliknya mereka yang ingin membuktikan keberadaan pulau khayangan ini semakin penasaran dan berbondong-bondong datang ke sana.

Buktinya tak sedikit dari para pelancong yang memutuskan datang dan mendirikan tenda di sisiran pantai atau tinggal di rumah pertemuan yang ada di Desa Mbokita yakni sebuah perkampungan kecil yang jaraknya hanya sepesepuluhan menit dari pulau khayangan tersebut.

“Mulanya kami tidak percaya seperti apa sih yang di bilang orang pulau khayangan Sombori itu? Tapi setelah kami datang dan melihat  ternyata apa yang dibilang orang itu memang benar. Pulau Sombori ini ibarat surga yang dijatuhkan ke bumi,” ungkap salah satu wisatawan asal Perancis yang ikut diaminkan oleh rekan-rekannya yang lain.

Sementara hasil survei Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPC-HPI) Kabupaten Morowali menyebutkan, selain biota alam lautnya, terdapat puluhan objek lain yang dapat dikembangkan  sebagai spot dan destinasi kunjungan yang ada di sekitar pulau khayangan ini, antara lain, gua gurita, gua berlian, pulau dua, sumber air tawar, dan sebuah pulau kecil yang hanya di huni oleh seorang nenek dan keluarganya.

”Kalau yang namanya pulau nenek itu pemandangannya memang sangat luar biasa bahkan tidak dapat saya gambarkan dengan kata-kata. Yang sudah pernah datang kesana pasti merasa tidak ingin pulang dan pengennya tinggal saja di pulau itu. So amazingly. Semuanya telah kami data dan dokumentasikan sebagai promosi ke mancanegara,” jelas Ketua DPC HPI Morowali, Hamadong dengan mimik serius.

Selain pulau nenek, puncak bukit khayangan merupakan sebuah objek spektakuler dan menjadi tujuan utama bagi para pengunjung. Pulau yang terletak tak jauh dari Desa Lambokita ini dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 10 menit menggunakan perahu tempel.

Untuk mencapai puncaknya para pengunjung sebelumnya harus menapaki karang setinggi kurang lebih 30 hingga 50 an meter yang dapat dicapai dalam waktu 20 an menit.

Setibanya di puncak, para pengunjung pasti akan terpesona dan merasa takjub karena segera akan melihat sebuah pemandangan yang dipastikan belum pernah dilihat sebelumnya.

Sebuah loyang raksasa berwana hijau kebiru-biruan dan sebuah lubang berbentuk lingkaran di tengah samudera akan menjadi dua pemandangan yang akan menjadi kesan pertama yang tak akan pernah dilupakan seumur hidupnya.

( Jgd )