JAKARTA – Inovasi.web.id. Pertumbuhan bisnis e-commerce semakin tak terbendung, menyaingi bisnis konvensional. Tahun ini saja, transaksi dari bisnis e-commerce  telah mencapai kisaran Rp 98,6 triliun sampai Rp 112,7 triliun.

Pendapat tersebut disampaikan pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance, Bhima Yudistira Adhinegara. Menurutnya, kontribusi e-commmerce terhadap perekonomian Indonesia cukup signifikan.

“ Ekonomi digital pada 2016, berkontribusi 7,3 persen terhadap PDB. Hal itu terlihat dari perkembangan nilai e-commerce , yakni rata-rata lebih dari Rp 75 triliun per tahun,” kata Bhima, sebagaimana dikutip dari Jawa Pos edisi Selasa, 12 Desember 2017.

Sementara, pada tahun 2018 yang akan datang, prospek bisnis e-commerce diprediksi akan terus melaju hingga berkontribusi 8,5 persen terhadap PDB.

Dikatakan Bhima, sudah saatnya para pelaku bisnis beralih ke e-commerce, karena peluangnya besar dan mampu menekan beban biaya operasional.

Saat ini, Indonesia menduduki peringkat lima sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia, yakni hampir 132 juta orang, dan pengguna aktif media sosial lebih dari 70 juta orang. Hal tersebut menunjukkan, bahwa pasar bisnis digital terbuka lebar.

“ Kunci untuk meningkatkan daya saing ekonomi digital, adalah perbaikan infrastruktur,” ujarnya.

Namun, lanjut dia, masih banyak ketimpangan yang harus segera dibenahi agar bisnis e-commerce ini bisa merata dan seimbang antara Jawa dan Luar Jawa. Bhima mencontohkan, penetrasi internet di Sumatera, hanya 15 persen, sementara di Kalimantan hanya 7 persen. Sedangkan di Jawa sudah mencapai 65 persen. Berikutnya, adalah regulasi untuk mendukung ekosistem start up digital.

Melalui e-commerce, akan mengubah lanskap industri manufaktur serta UMKM. Sebab, penetrasi produk industri tidak lagi melalui rantai pasokan yang panjang. Selain itu, peluang pasar terbuka lebar.

Bagi pelaku bisnis UMKM, merupakan suatu kesempatan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus pemasaran. Diharapkan, Pemerintah bisa lebih proaktif mendorong UMKM untuk masuk ke platform e-commerce, karena saat ini, 95 persen produk yang dijual di e-commerce barang impor. Sementara produk UMKM kurang dari 2 persen.

( Jgd )