PALU – INOVASI.WEB.ID,  Gubernur Sulawesi Tengah Drs. H Longki Djanggola, M Si,  menerima kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI.

Rombongan yang dipimpin oleh Drs. H. Roem Kono dari fraksi partai Golkar diterima langsung oleh Gubernur di lobby VIP Bandar Udara Mutiara SIS Al Jufri, pada Senin (19/2).

Rombongan komisi yang membidangi masalah pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan serta perum Bulog, tersebut meninjau penangkaran kura-kura Lestari di Desa Mpanau Kecamatan Sigi Biromaru.

Halim Lowi, penangkar kura-kura menerangkan, bahwa ia melihat peluang ekonomi yang cukup bagus pada penangkaran kura-kura yang dirintisnya saat ini. Meski demikian ia tidak   mengesampingkan peraturan pemerintah terkait perlindungan hewan.

Halim mengatakan, ia telah beberapa kali menjual kura-kura hasil dari penangkarannya ke Jakarta, yang kemudian akan dijual kembali ke China maupun Hongkong, untuk dijadikan makanan maupun bahan obat-obatan.

Untuk mengembangkan penangkaran kura-kura, saat ini ia tengah menunggu izin dari BKSDA terkait  budidaya kura-kura tersebut.

“Kita jual ke Jakarta terus ke Cina, Hongkong untuk makan dan obat. Harga bagus di 30 ribu. Saya juga tunggu ijin 1.500 kura-kura lagi dari BKSDA. Usahanya masih mandiri,” tutur Halim.

Halim saat ini membudidayakan kura kura rawa, baning Sulawesi, kura kura daun Sulawesi, kura kura ambon dan Labi-labi.

Anggota DPR RI Drs. H Roem Kono menyambut baik budi daya tersebut, dan mendorong kepada pemilik budi daya agar membentuk koperasi, guna mengembangkan potensi usaha yang sedang dirintis.

Menurut Roem jika budidaya tersebut dapat memberdayakan masyarakat luas secara ekonomi, ia memastikan pemerintah akan hadir untuk membantu usaha tersebut.

“Ini salah satu usaha yang bagus, coba dibentuk koperasi agar lebih maju” katanya.

Peningkatan Perkebunan Kakao Sigi

Ft. Angga Humas Pemprov Sulteng.

Pada hari yang sama, rombongan melanjutkan kunjungan ke desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi.

Dengan dipandu Dr. Bunga Elim Somba, M.Sc, rombongan Komisi IV DPR RI melakukan dialog dengan kelompok tani Harapan Jaya, dan Bupati Sigi Irwan Lapata, SE.

Dalam kesempatan itu, petani berharap kepada pemerintah agar memberi dukungan secara optimal untuk meningkatkan perkebunan kakao.

Harapan tersebut disampaikan oleh Sudirman selaku ketua kelompok tani Harapan Jaya, agar di wilayahnya dibangun unit pengelola hasil (UPH), untuk meningkatkan produktifitas pertanian kakao serta meningkatkan nilai ekonomi.

“Kami meminta UPH dan bantuan dana untuk meningkatkan produktifitas kami,” kata Sudirman.

Anggota DPR Mukhtar Lutfi Mutty dalam kesempatan dialog dengan petani di hadapan Bupati Sigi mengatakan, perlunya penguatan terhadap petani kakao.

Menurutnya, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membentuk sanggar tani, yang di dalamnya secara berkala dilakukan penelitian, diskusi mendalam dan evaluasi perihal kakao.

Yang tak kalah penting menurutnya adalah peran penyuluh pertanian, ia mengatakan akan memastikan peningkatan anggaran untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan penyuluh.

“ Wajib ada sanggar tani, perlu ada SLPBK. Selain itu anggaran penyuluhan, berapa banyak anggaran, kalau cukup insya Allah mereka akan cukup. Kalau hanya mengandalkan PPL berat, karena jumlah mereka terbatas. Kita pastikan bantuan kedepan, tidak hanya alat, kita tingkatan dengan menambah dana penyuluhan. Kita perlu mengevaluasi pola bantuan fisik tetapi juga penyuluhan”, kata Mukhtar.

Bupati Sigi, Irwan Lapata mengucapkan terima kasih atas saran serta masukan yang disampaikan oleh rombongan komisi IV.

Disampaikan Bupati, pihaknya akan segera menindaklanjuti apa yang telah disampaikan sebelumnya.

Irwan Lapata berharap agar apa yang menjadi pengamatan dan pembicaraan   anggota dewan yang terhormat dalam kesempatan kunjungan ini, dapat diperjuangkan sekembalinya ke Jakarta.

“Benar seperti dikatakan tadi. Untuk teman Dinas Pertanian dan kami terus dorong peningkatan. Terkait hal tersebut, saya berharap juga kepada ketua komisi, harapan dan bantuan dan juga Dirjen. Insya allah saran dan masukan akan kami tindak lanjut,” kata Irwan Lapata.

Ketua rombongan Drs. H Roem Kono menambahkan, bahwa kehadirannya merupakan pelayanan terhadap petani, karena merasa prihatin dengan kondisi petani saat ini.

Menurutnya petani yang secara nyata memberi pengaruh terhadap pembangunan bangsa, khususnya di bidang pangan dan perkebunan perlu mendapatkan perhatian bersama dan serius.

“Sebagai pelayan maka kami hadir disini. Bagaimana anggaran pemerintah, yang sama sama kami bahas bersama pemerintah. Sampai disini, kami prihatin karena kehidupan petani yang berpengaruh kepada kehidupan bangsa,” katanya.

Ia juga berharap agar dana Rp 200 miliar dari Rp 23 Triliun dana APBN yang khusus untuk kakao dapat dialokasikan 20 persen untuk Sulawesi Tengah. Karena provinsi ini menurutnya merupakan yang paling luas menanam kakao.

Petang hari, rombongan beranjak kembali ke Palu. Di restoran kampung nelayan dengan melanjutkan audiensi bersama sekretaris provinsi Drs. HM Hidayat Lamakarate, M Si, mewakili gubernur.

Hidayat mengucapkan terimakasih kepada rombongan sekaligus selamat datang di Sulawesi Tengah, ia mengatakan, selain pertanian dan perkebunan, wilayah Sulteng juga dianugerahi luas wilayah laut yang 3 kali luas daratannya.

Hal tersebut menurutnya juga menjadi penting untuk dilakukan pengawasan. Selain itu ia pun melaporkan sempat terjadi kelangkaan pupuk. Kesemua hal diatas dikatakannya agar DPR RI dapat menanggapinya.

“ Saya mewakili gubernur mengucapkan terimakasih dan selamat datang kepada rombongan.  Harga pupuk pernah sangat tinggi dan terjadi kelangkaan,  kiranya DPR RI dapat merespon sehingga dapat lancar. Selain itu DPR RI bersama mitra kerja dapat menyampaikan apa saja hambatannya, dan memberi masukan kepada kami, sehingga pengembangannya dapat kami penuhi”, kata Hidayat.

Dalam audiensi tersebut anggota DPR RI Indira Chunda Thita Syahrul sempat melontarkan pertanyaan, mengapa Sulteng yang pertumbuhan ekonominya tinggi di lain sisi angka pengangguran dan kemiskinan juga tinggi.

Atas pertanyaan tersebut, Asisten Elim Somba menjawab bahwa persoalan kemiskinan dan pengangguran merupakan permasalahan yang kompleks. Untuk itu perlu kerjasama semua pihak. Ia menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi diraih sebagian besarnya dari sektor pertambangan.

Oleh karena itu gubernur, sudah menyiapkan jalan keluar guna menanggulangi pengangguran dan kemiskinan. Diantaranya adalah tidak hanya terfokus di sektor tambang saja, tetapi juga peningkatan di sektor lain, yaitu pertanian, agribisnis, perikanan dan pariwisata yang sesuai dengan karakter dan lanskap Sulawesi Tengah.

“ Gubernur menyiapkan agro bisnis dan pariwisata. Kita menyadari itu. Kita tidak menginginkan tambang sudah habis tapi masyarakatnya belum juga sejahtera.  Kami target 2 persen penurunan angka kemiskinan dapat diturunkan. Ini pekerjaan berat. Maka kami menekankan dan menghasilkan di pertanian dan perikanan. Exit strategi ini dapat dibantu komisi 4,” kata Elim.

Sementara itu, anggota dewan Felicitas Talulembang mengungkapkan bahwa Sulawesi Tengah sangat kaya. Menurutnya daerah ini memiliki komoditas ekspor yang apabila ditangani secara baik dan bersama-sama maka secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia mengatakan sepanjang jalan yang ia lewati banyak terhampar kelapa dalam dan kakao.

(HSN/Humas Provinsi/ Ft. Angga)