Perilaku manusia yang mengabaikan lingkungan sering berbuah bencana, seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Untuk menekan tingkat kerusakan lingkungan telah dikembangkan Gerakan Desa Berbudaya Lingkungan atau yang dikenal pula dengan istilah “ecovillage”. Suatu ekosistem dimana masyarakat yang ada didalamnya memiliki kesadaran dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan berusaha mengintegrasikan kelestarian lingkungan sosial pada aspek ekologi, ekonim, sosial-budaya, dan spiritual dengan cara hidup berdampak rendah untuk mencapai kehidupan yang berkelanjutan.

Nama inovasi:  Ecovillage KDW Beriman
Pengelola:Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi
Lokasi/alamat:Desa Kedungwaringin, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat
Contact person:Indra Jaya (Ketua)
Telepon/HP/email:+62 877-8558-4721

Pada tingkat dunia, gerakan telah didesain secara tradisional melalui swadaya masyarakat..Di Jawa Barat, bertransformasi menjadi Gerakan Sawala Eco-village yang memiliki beberapa tujuan. Pertama, mengajak masyarakat luas untuk berbudaya ramah lingkungan dalam keberlanjutan kehidupan. Kedua, membangun sinergitas dalam perbaikan lingkungan Jawa Barat, khususnya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Ketiga, memberikan ruang diskusi Peran Serta Semua Pihak dan Sinergitas dalam Mewujudkan Lingkungan yang Bersih, Sehat, Indah, dan Lestari.

Desain Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan didahului dengan riungan warga yang berlangsung secara partisipatif dengan beberapa tahapan. Pertama, bina Suasana untuk mencairkan suasana agar lebih terbuka tanpa sekat, dinamis dan sinergis. Kemudian dilakukan penggalian potensi dan masalah. Warga desa diharapkan bisa mengenali siklus air melalui research action, pendalaman, inventarisasi permasalahan dan potensi serta pemetaan secara swdaya.

Berdasarkan paparan dari Bapak Indra Jaya selaku Ketua Jangkar Ecovillage Kabupaten Bekasi dan tokoh penggerak lokal, setelah kondisi eksisting aliran air dan pengaruhnya terhadap kondisi alam diketahui, selanjutnya dilakukan Survey Kampung Sendiri, Analisa Kecenderungan dan Kalender Musim, serta Analisa  modal dan jaringan pasar. Hasil menjadi bahan perumusan masalah dan penyusunan dokumen rencana aksi (DRA). Pasca perumusan DRA, dilakukan lokakarya pada tingkat desa.

Lebih lanjut, Bapak Indra menjabarkan aksi kongret yang dilakukan berupa pengelolaan sampah organic, konservasi dan penataan percontohan. Dari pengelolaan sampah organic sampah rumah tangga maupun peternakan, dihasilkan produk berupa pupuk organic cair . Karena produksi yang belum stabil dan belum ada pengujian di laboratorium, sementara ini memang masih terbatas dimanfaatkan untuk keperluan kelompok atau warga desa setempat. Kebanyakan pemanfaatan sampah rumah tangga dan limbah peternakan

Langkah berikutnya adalah pembuatan lubang biopori. Lubang memiliki fungsi ganda, yaitu untuk pemanfaatan sampah organic dan konservasi air. Konservasi juga dilakukan melalui pembibatan dan penanaman Suren, Manglid, Mahoni,, dan tanaman keras lainnya. Sedangkan wilayah percontohan mencakup Kawasan Rumah Pangan Lestari, Tanaman Obat Keluarga, Taman, Pengelolaan sampah, dan beberapa lokasi lain yang digunakan dalam mendukung pengelolaan lingkungan.

Sinergi dengan KBA

Sejak Agustus 2019, Kampung Berseri Astra (KBA) telah mendukung pelatihan-pelatihan dan pendampingan pengelolaan lingkungan. Melalui skema ini, Ecovillage Kampung Desa Wisata Bersih Indah dan Nyaman (KDW Beriman) Kedungwaringin diharapkan bisa berkembang sebagai Kampung ProKlim. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berupaya meningkatkan partisipasi dan kapasitas adaptasi masyarakat terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui Kampung ProKlim ini.

Menurut Bapak Indra Jaya, telah dilakukan pelatihan penguatan kapasitas pengurus bank sampah, pelatihan penyemaian dengan menggunakan media rockwool, pelatihan UKM produk unggulan olahan ikan patin serta pengadaan sarana dan prasarana (Paratag dan Gapura) dan penguatan kelembagaan dari aspek administrasi maupun keuangan pada tahap pertama. Rangkaian kegiatan ini bisa dikatakan berjalan lancar sesuai target.

Pelatihan pembuatan media rockwool untuk tanaman hidroponik dilakukan melalui praktek langsung pada Oktober 2019. Masyarakat desa yang terlibat berjumlah 14 orang. Selain meningkatkan kepedulian warga akan pemanfaatan lahan yang terbatas untuk berkebun, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong penggunaan lahan, pupuk dan air yang lebih efisien serta kuantitas dan kualitas berkebun hidroponik yang lebih tinggi dan bersih. Peserta pun mampu menggunakan media rockwool dalam penyemaian dan penanaman.

Meskipun ada hambatan pandemi corona virus disease 2019 (covid-19), kegiatan tahap II berupa Pembuatan Rumah Kompos Sederhana tetap dilaksanakan melalui pola padat karya pada bulan Mei 2020. Sebanyak 10 orang warga desa melaksanakan pekerjaan ini selama 8 hari. Selain membantu meningkatkan ekonomi keluarga, rumah kompos ini diharapkan juga membantu penataan kawasan yang lebih asri serta berpotensi menjadi usaha desa dengan menghasilkan produk unggulan desa. Lahan yang dipakai merupakan bekas pembuangan sampah, tanahnya pun gembur dan basah.

Kementerian dan lembaga lain, termasuk Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) diharapkan dapat mendukung keberlanjutan dan pengembangan Ecovillage KDW ini. Wisata sehat sebenarnya bisa dilakukan selama masa pandemic ini dengan memanfaatkan lingkungan yang bersih dan taman desa yang dipenuhi aneka tanaman, termasuk tanaman obat keluarga berupa jenis rempah-rempah yang bisa dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas tubuh. Semoga unit-unit kerja di lingkungan Kemendes PDTT bisa mengakselerasi terwujudnya hal ini.

******