MOJOKERTO, Inovasi.web.id. Di Mojokerto, Jawa Timur, terdapat sentra industri sepatu, dengan desain dan kualitas bermutu. Walau produk sepatu dibuat oleh UKM kelas rumahan  rumahan, namun hasil produksi mampu merambah pasar Asia.

Salah satu sentra industri sepatu yang berada di Mojokerto, berada di kampung Kwali. Karena sebagian besar masyarakatnya memproduksi sepatu, maka kampung Kwali sering disebut Kampung Sepatu.

Haji Samsi, salah satu  pengusaha UMKM yang memproduksi sepatu kulit dengan merek dagang Vandiaz ini mengatakan, bahwa sepatu kulit hasil produksinya, tidak hanya dipasarkan di daerah Mojokerto saja, namun ia rutin mengirim ke beberapa pelanggannya dari luar kota seperti Semarang, Jakarta, Kalimantan, bahkan hingga Malaysia.

Setiap harinya usaha sepatu milik Haji Samsi mampu memproduksi sebanyak 8 kodi, atau 160 pasang sepatu. Berbagai model maupun desain bisa dipesan sesuai keinginan.

Di rumah produksi yang terletak di Kampung Kwali, Gang 3 No. 85, pembeli bisa langsung melihat proses produksi, dari pembuatan desain, pemotongan bahan kulit, proses penjahitan, pengeleman hingga pengecatan.

“ Untuk harga bisa terbilang terjangkau, berkisar Rp 140 ribu hingga Rp 200 ribu per pasang, sesuai model, bahan, warna dan ukuran. Kalau datang ke rumah, saya jual lebih murah, pakai harga rumah. Bisa pesan secara grosiran maupun eceran,” kata Haji Muhajir, anak Haji Samsi yang dipercaya meneruskan usaha.

Untuk grosiran, tiap kodinya atau 20 pasang, dihargai Rp 2 juta. Namun untuk harga eceran, pembeli bisa memesan langsung meskipun hanya satu pasang, dengan desain yang diinginkan.

“ Kalau pesan satu pasang saja, bisa dikerjakan satu hari jadi. Hari ini pesan, besok sudah bisa diambil,” ujarnya.

Awal Merintis Usaha

Mengawali usahanya, Haji Samsi hanya memproduksi sepatu khusus wanita. Usaha yang dirintisnya mengalami kebangkrutan saat terjadi krisis moneter tahun 1998. Namun semangat dan jiwa wirausahanya tak pernah padam.

Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 2002, dengan modal pas pasan, Haji Samsi memulai kembali usaha produksi sepatu. Namun ia tak hanya mengkhususkan diri memproduksi sepatu wanita saja, tetapi juga memproduksi sepatu pria.

“ Dengan modal Rp 25 juta waktu itu, kami memulai usaha, tidak hanya sebatas sepatu wanita, namun juga memproduksi sepatu pria. Dengan modal sebesar itu, hanya cukup untuk membuat contoh sepatu saja,” kata Muhajir.

Usahanya perlahan lahan mulai bangkit, dengan modal kepercayaan.

“ Kami bisa mendapat bahan, tanpa harus membayar terlebih dahulu. Jadi bahan bisa ambil dulu, bayarnya belakangan kalau sepatu sudah laku,” jelasnya.

Dari modal kepercayaan itulah, usahanya terus berkembang hingga saat ini, dengan jumlah pesanan dari berbagai kota di Indonesia yang terus meningkat.

Menurut Muhajir kunci kesuksesannya adalah ulet, jujur, luwes, tepat waktu, dan memiliki inovasi. Dan yang lebih penting menurutnya, selalu bersyukur, dan ringan tangan untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan, serta perbanyak sedekah.

( Sinta : Biro Jawa Timur )