Di tengah narasi besar tentang ketahanan pangan nasional yang seringkali terdengar abstrak, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mustika Cibening mengambil langkah yang sangat konkret dan membumi. Mereka tidak berfokus pada program muluk, melainkan pada sesuatu yang fundamental: membangun kandang kambing.
Inisiatif di Desa Cibening, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi ini, bukan sekadar proyek peternakan biasa. Ini adalah argumentasi kuat bahwa ketahanan pangan sejati dimulai dari unit terkecil, dengan model bisnis yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Langkah awal program ini ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan kandang pada Kamis, 6 November 2025. Bagi BUMDes Mustika Cibening, ini adalah simbol dimulainya sebuah ekosistem baru.
Secara deskriptif, proyek ini tidak main-main. BUMDes telah mendedikasikan lahan seluas 700 meter persegi, area yang cukup signifikan untuk menunjukkan keseriusan menggarap sektor peternakan desa.
Argumentasinya terletak pada desain program, yang bukan sekadar “program penggemukan” musiman. Lahan tersebut akan difungsikan untuk dua tujuan utama yang strategis: breeding (pengembangbiakan) dan pembesaran.
Keputusan melakukan breeding sendiri adalah langkah cerdas. Ini menunjukkan visi jangka panjang BUMDes untuk menjadi produsen mandiri, bukan sekadar reseller. Mereka nantinya mampu mengontrol populasi dan kualitas ternak dari hulu.
BUMDes Mustika Cibening juga membuktikan pemahaman mereka akan tantangan terbesar dalam peternakan: biaya pakan. Di sinilah letak argumentasi terkuat dari model bisnis mereka.
Mereka tidak hanya membangun kandang, tetapi juga menyiapkan lahan tanam jagung dan tanaman hijauan lainnya. Ini adalah strategi closed-loop (siklus tertutup) yang brilian.
Dengan memproduksi pakan alami sendiri, BUMDes secara drastis menekan biaya operasional dan meningkatkan margin keuntungan. Ini menjamin keberlanjutan usaha tanpa bergantung pada fluktuasi harga pakan komersial.
Langkah ini adalah antitesis dari banyak program ketahanan pangan top-down yang sering gagal karena tidak mandiri secara operasional. BUMDes Mustika Cibening berargumentasi bahwa ketahanan pangan berbasis desa harus menguntungkan secara ekonomi.
Tujuan akhirnya pun sangat jelas dan terukur. Selain menjadi model percontohan, ada target pasar spesifik yang dibidik.
BUMDes ingin masyarakat sekitar, khususnya menjelang Iduladha, bisa membeli hewan kurban berkualitas langsung dari BUMDes. Ini adalah langkah jitu yang menangkap peluang pasar tahunan yang pasti, bernilai ekonomi tinggi, dan berdampak sosial-religius kuat.
Target penyelesaian kandang yang dipatok hanya dalam dua bulan menunjukkan urgensi dan keseriusan mereka. Sebelum akhir tahun, kandang tersebut diharapkan sudah siap diisi hewan ternak dan mulai beroperasi.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan BUMDes Mustika Cibening adalah sebuah tesis di lapangan. Mereka berargumentasi bahwa BUMDes tidak seharusnya mengejar bisnis yang “trendi” namun rapuh.
Dengan membangun kandang kambing yang terintegrasi dengan penyediaan pakan, mereka sedang membangun aset produktif riil, membuka peluang ekonomi lokal, dan membuktikan ketahanan pangan bisa ditanam, diternakkan, serta dipanen di halaman belakang desa sendiri.
